Kamis, 30 Juli 2015
CERITA MALAM
ini cerita malam hari .....
kadang aku suka bertanya ?apa sebenernya yang terjadi ? ketika semua sudah pernah terjadi tapi perasaan ini tetap terjadi .
aku bingung... bagaimana seharusanya aku ? tidak ada kata salah dengan apa yang terlahir .tapi ketika semua yang terjadi selalu membuat mu menangis disitu letak nya .
kadang juga aku berfiir ...
apa hanya aku saja yang merasakan ini? banyak sekali yang ingin ku tuangkan pada saat malam
tapi entah menapa diri ini pun tak kuat ketika melihat cermin dan berbicara pada diri ini.
mengeluh dan terus membiarkan air mata jatuh mungkin hal yang seharus nya aku pilih tap tentu saja aku punya perasaan yang sangan sensitif jika mengenai dia (nama yang tak boleh di sebut).
ntah dia tercipta dari apa ? tercipta untuk siapa ? yang jelas aku benar benar di buat bingung oleh nya.
dia yang tau siapa aku(selain tuhan yang menciptakan ku )dan tentu saja mengenal aku lebih jauh.
hingga terlalu jauh.
aku pernah berfikir bahwa dia hanya selembar kertas putih yang sanga mulus atau kayu coklat nan mengkilat.. tapi di balik itu semua dia akan rapuh serapuh rapuhnya.
seperti yang sekarang kita jalanin. sudah lama kita mengenal tapi menurut dia aku hanya tong yang kosong.aku sempat memberontak.aku selalu berusaha membela diri ku. karna aku pikir pengorbanan ku slama ini tidak salah. ternyataa apa yang dia tunjukan itu membuat ku sadar dan banyak blajar .
tapi taukah kalian ...dia juga yang membuat ku blajar dari sebuat kesakitan.
banyak sekali penghianatan dia... begitu juga aku .. karna aku kesal dan dendam padanya.
tapi setelah aku tau bahwa apa yang aku lakukan itu semakin membuatku sama sepeti dia. dia yang tak pernah melihat aku ada.aku tau ini hanyalah cooretan yang tak bergunua untuk dibaca. tapi taukah bahwa ketika aku menulis ini aku sedang ingin mencurahkan waktu ku untuk mengenang nya.
to be continue...
Senin, 20 Juli 2015
The Kane Chronicles 2 : THE THRONE OF FIRE
| SINOPSIS BUKU - The Kane Chronicles 2 : THE THRONE OF FIRE |
Pertarungan
melawan Kekacauan terus berlanjut. Sejak Dewa-Dewa Mesir terlepas ke
dunia modern, Carter dan Sadie Kane terlibat banyak masalah. Dan kini,
Dewa Apophis, musuh mereka yang paling berbahaya, akan segera bangkit.
Satu-satunya cara untuk menghentikan Apophis adalah dengan membangkitkan
Ra. Masalahnya, tidak ada yang tahu di mana Ra. Bukan hanya itu, untuk
membangkitkan Ra mereka juga harus menemukan tiga gulungan dari Kitab Ra
dan mempelajari mantra yang tepat untuk bisa membacanya.
Narasi Sadie dan Carter Kane, humor-humor unik ala mereka dan petualangan ke seluruh dunia akan membuat kalian tenggelam dalam Petualangan Kane bersaudara yang sensasional.
1.CARTER
BERSENANG
SENANG DENGAN LEDAKAN TIDAK TERDUGA
DENGAN CARTER DI SINI. Begini, kami tidak punya waktu untuk
perkenala lebar. Aku hams menyampaikan cerita ini dengan cepat ,atau kita semua
akan mati. Jika kau belum mendengar rekaman kami yang pertama yaa…. senang
bertemu denganmu; begini, dewa-dewa Mesir sebenarnya berkeliaran di dunia
modern; sekelompok penyihir bernama Dewan Kehidupan berusaha menghentikan
mereka; membenci Sadie dan aku; dan seekor ular raksasa ingin matahari serta
menghancurkan dunia ini. [Aw! Untuk apa itu?] Sadie bare raja menonjokku. Dia
bilang aku bakal membuat terlalu ketakutan. Aku harus menahan diri, tenang, dan
mulai dari awal. Baiklah. Namun, kalau aku boleh jujur, kurasa memang sudah
seharusnya kau merasa takut. Rekaman ini akan menyampaikan padamu apa yang
sesungguhnya telah terjadi dan apa yang menyebabkan semua persoalan itu. Kau
bakal mendengar banyak orang berkata buruk
tentang kami, tapi bukan kami yang menyebabkan semua
kematian itu. Sementara soal ular, itu juga bukan salah kami. Ya, bukan
benar-benar salah kami. Semua penyihir di dunia ini harus bersatu. Itu
satu-satunya kesempatan kita. Jadi, berikut ini adalah ceritanya. Putuskan
sendiri. Semuanya bermula ketika kami memicu kebakaran di Brooklyn.
Pekerjaan itu seharusnya sederhana: menyelinap masuk ke
dalam Museum Brooklyn, meminjam artefak Mesir tertentu, dan meninggalkantempat itu tanpa tertangkap. Bukan, ini bukan perampokan.
Kami pasti akan mengembalikan artefak itu.
Namum, kurasa kami memang terlihat mencurigakan: empat anak berpakaian ninja di atas atap museum. Oh, dan
seekor haliun, yang juga berpakaian ninja. Jelas-jelas mencurigakan. Hal
pertama yang kami lakukan adalah mengirim murid kami, Jaz dan Walt, untuk
membuka jendela samping, sementara Khufu, Sadie, dan aku memeriksa kubah kaca
di bagian tengah atap, yang seharusnya akan menjadi jalan keluar kami. Jalan
keluar kami tidak terlihat sangat bagus. Saat itu sudah larut malam, dan museum
seharusnya sudah tutup. Namun, ternyata kubah kaca itu bersinar terang. Di
dalamnya, dua belas meter di bawah, ratusan orang yang mengenakan tuksedo dan
gaun malam berkumpul dan menari dalam sebuah ballroom(Ballroom: ruangan besar
di dalam sebuah gedung yang biasa digunakan untuk mengadakan acara formal. Dulu
ballroom digunakan untuk menyelenggarakan pesta dansa, tapi sekarang ballroom
digunakan untuk acara-acara lain selain pesta dansa. —peny )seukuran hanggar
pesawat. Sebuah orkestra bermain, tapi dengan angin menderu di telingaku dan
gigi bergemeletuk, aku tak bisa mendengar suara musiknya. Aku menggigil
kedinginan dalam balutan piama linenku.
Penyihir seyogianya mengenakan kain linen karena bahan itu
tidak mengganggu sihir, yang barangkali merupakan kebiasaan yang tepat jika
diterapkan di gurun Mesir, tempat suhu dingin dan hujan jarang melanda. Di
Brooklyn, pada bulan Maret — penggunaan linen sepertinya kurang tepat. Adik
perempuanku, Sadie, tampaknya tidak terganggu oleh hawa dingin. Dia sedang membuka kunci
kubah seraaya bersenandung mengikuti
sesuatu dari iPod-nya. Mak sudku yang benar saja—siapa sih yang mendengarkan
iPod sambil museum? Dia memakai pakaian yang sama sepertiku dengan tambahan combat boots. Rambut pirangnya bersemburat
merah—sangat cocok untuk misi
penyelinapan. Dengan mata biru dan warna kulit yang terang, dia sama sekali
tidak mirip denganku, sesuatu yang bukan masalah menurut kami. Selalu
menyenangkan rasanya .punya pilihan untuk menyangkal bahwa gadis sinting di
sebelahku ini adalah saudara perempuanku. "Katamu museumnya kosong,"
aku mengeluh. Sadie tidak mendengar suaraku sampai aku menarik earbud iPodnya
dan mengulang pertanyaanku. "Ya, museumnya memang seharusnya kosong."
Sadie akan menyangkal ini, tapi setelah tinggal di Amerika Serikat selama tiga
bulan terakhir, dia mulai kehilangan aksen Inggrisnya. "Menurut situs
Web-nya, museum tutup pukul lima. Bagaimana aku bisa tahu bakal ada pesta
pernikahan di sini?" Pesta pernikahan? Aku menjenguk ke bawah dan melihat
bahwa Sadie benar. Beberapa wanita mengenakan gaun pengiring pengantin berwarna
peach. Di salah satu meja terdapat sebuah kue tumpuk warna putih yang berukuran
sangat besar. Dua kelompok tamu yang terpisah telah mengangkat mempelai wanita
dan mempelai pria ke atas kursi dan membawa mereka melintasi ruangan sementara
teman-teman mereka berputar sambil menari
dan bertepuk tangan di sekeliling mereka. Semua itu
mengesankan bohwa sebentar lagi akan terjadi tabrakan keras antar perabot.
Khufu mengetuk kaca. Bahkan dengan pakaian hitam, sulit haginya untuk membaur
dalam bayang-bayang dengan bulunya yang keemasan, belum lagi pantat dan
hidungnya yang berwarna pelangi. "Aghl." geramnya. Karena dia adalah
babun, itu bisa berarti apa saja dan Lihat, ada makanan di bawah sana, sampai
Kaca ini kotor atau Hei, orang-orang itu melakukan hal bodoh dengan kursi-kursi
itu. "Khufu benar," Sadie menerjemahkan, "kita bakal kesulitan
menyelinap keluar dari pesta itu. Barangkali jika kita pura-pura menjadi km
pemeliharaan—" "Tentu saja," tukasku, Empat anak akan lewat
dengan membawa patung seberat tiga ton. Cuma hendak menerbangkan patung
melewati atap. Jangan hiraukan kami.'" Sadie memutar bola matanya. Dia
mengeluarkan tongkat sihirnya—sebatang gading melengkung yang dihiasi ukiran
gambar-gambar monster—dan mengarahkannya pada bagian dasar kubah. Sebuah
hieroglif, tulisan Mesir kuno, menyala, dan gembok terakhir meletup terbuka.
"Well, jika kita tidak akan menggunakan ini sebagai jalan keluar,"
kata Sadie, "untuk apa aku membukanya? Tak bisakah kita keluar dari tempat
kita masuk—melalui jendela samping?" "Sudah kubilang. Patung itu
besar sekali. Tidak akan muat melewati jendela samping. Ditambah lagi,
perangkap—" "Coba lagi besok malam, kalau begitu?" Tanyanya. Aku
menggelengkan kepala. "Besok semua benda pameran di sini akan dikemas dan
dikirim keluar negeri untuk tur." mengangkat alis dengan caranya yang
menjengkelkan. " pika seseorang memberi kita lebih banyak informasi sebelumnya
bahwa kita harus mencuri patung ini—"
"Lupakan saja." Aku tahu ke mana percakapan ini
mengarah, dan tidak ada gunanya jika Sadie dan aku berdebat di atas atap
sepanjang malam. Dia benar, tentu saja. Aku tidak banyak memberinya banyak
informasi. Namun, hei—sumberku tidaklah terlalu
bisa diandalkan. Setelah
berminggu-minggu meminta bantuan akhirnya aku mendapat petunjuk dari temanku,
Horus si dewa perang berwujud elang,
yang berbicara dalam mimpiku: oh omong, artefak yang selama ini kau cari-cari?
Yang mungkin menyimpan kunci untuk
menyelamatkan planet ini? Artefak itu sudah berada di dekat sini di Museum
Brooklyn selam30 tahun terakhir, tetapi besok artefak itu akan berangkat, ke
eropa Jadi, sebaiknya kau bergegas! Kau
punya waktu 5 hari untk mencari tahu
cara menggunakannya, atau kita semua akan mati. Semoga berhasil! Aku bisa saja
meneriakinya karena tidak memberitahu ku lebih cepat, tapi tidak akan ada bedanya. Dewa hanya
bicara ketika mereka sudah siap, dan
mereka tidak punya pemahaman yang baik mengenai waktu manusia. Aku tahu hal ini
karena Hornus pernah menempati sebagian ruang di kepalaku beberapa bulan silam.
Aku masih memiliki sebagian kebiasaan antisosialnya – seperti dorongan sesekali untuk berburu hewan pengerat
kecil herhnlii atau menantang orang untuk bertarung sampai mati. "Mari
kita bertahan dengan rencana semula," kata Sadie, "masuk lewat jendela
samping, mencari patung itu, dan menerbangkannya keluar melalui ruang dansa.
Akan kita pikirkan bagaimana cara menangani pesta pernikahannya ketika kita
sudah sampai sejauh itu. Mungkin menciptakan pengalih perhatian." Aku
mengerutkan kening. "Pengalih perhatian?" "Carter, kau terlalu
khawatir," kata Sadie, "semuanya akan lancar-lancar saja. Kecuali kau
punya gagasan lain?" Masalahnya adalah—aku tidak punya gagasan lain. Kau
pasti mengira sihir membuat berbagai hal menjadi mudah. Sebenarnya, sihir
biasanya malah membuat berbagai hal
.bertambah rumit .selalu ada sejuta alasan mengapa mantra
ini atau ,itu tidak dalam situasi
tertentu. Atau ada sihir lain yang menghalangimu —seperti mantra perlindungan
pada museum ini. Kami tidak yakin siapa yang memasangnya. Mungkin salah
..eorang staf museum adalah penyihir yang menyamar, sesuatu yang bukan tidak
lazim. Ayah kami sendiri menggunakan gelar doktornya dalam bidang Egyptology
sebagai penyamaran untuk mendapatkan akses ke berbagai artefak. Selain itu,
Museum Brooklyn memiliki koleksi gulungan naskah sihir Mesir terbesar di dunia.
Itulah sebabnya paman kami, Amos, menempatkan markasnya di Brooklyn. Banyak
sekali penyihir yang mungkin punya alasan untuk memasang jebakan dan melindungi
isi museum yang berharga. Apa pun kasusnya, pada pintu dan jendela museum itu
ada beberapa kutukan yang mengerikan. Kami tak bisa membuka portal sihir ke
dekat artefak itu, juga tak bisa menggunakan shabti pengambil kami—patung tanah
hat ajaib yang melayani kami di perpustakaan kami—untuk meminjam artefak yang
kami perlukan itu. Kami terpaksa masuk dan keluar dengan cara yang sulit, dan
jika kami melakukan kesalahan, talc ada yang tahu kutukan macam apa yang akan
kami lepaskan: monster penjaga, wabah penyakit, kebakaran, keledai yang meledak
(jangan tertawa, kutukan itu sangat mengerikan). Satu-satunya jalan keluar yang
tidak dipasangi perangkap adalah kubah di bagian atas ruang dansa. Tampaknya si
penjaga museum tidak khawatir ada pencuri yang akan melayangkan artefak keluar
dari bukaan setinggi dua belas meter di udara. Ataumungkin sebenarnya ada perangkap di kubah itu, dan
perangkap disembunyikan dengan sangat baik sehingga tidak terlihat kami. Apa
pun itu, kami tetap harus mencoba. Hanya malam ini kesempatan kami untuk
mencuri—maaf, meminjam—artefak
itu. Setelah itu kami punya waktu lima hari untuk mencari
tahu bagaimana cara menggunakannya. Aku suka sekali pada tenggat waktu.
"Jadi, kita lanjutkan saja dan berimprovisasi'" Tanya Sadie. Aku
menatap ke bawah ke arah pesta perikahan itu .berharap kami tidak akan
menghancurkan malam istimewa ., mereka .Kurasa begitu." "Bagus,"
kata Sadie, "Khufu, tetap di sini dan berjagalah. Buka kubah jika kau
melihat kami datang, ya?" "Argh!" jawab si babun. Tengkukku
terasa gatal. Aku punya perasaan pencurian ini tidak akan berlangsung mulus.
"Ayo," kataku pada Sadie, "mari kita lihat bagaimana keadaan Jaz
dan Walt." Kami turun ke langkan di luar lantai ketiga yang memuat koleksi
artefak-artefak dari Mesir. Jaz dan Walt telah melakukan tugas mereka dengan
sempurna. Mereka telah membungkus empat patung Putra-Putra Horus di sekitar
pinggiran jendela dengan lakban dan menggambar hieroglif di kaca untuk
menetralkan kutukan dan sistem alarm manusia. Saat Sadie dan aku mendarat di
sebelah mereka, mereka tampaknya sedang berbincang-bincang dengan serius. Jaz
memegangi tangan Walt. Itu membuatku terkejut, tetapi Sadie lebih terkejut
lagi. Dia mengeluarkan suara memekik seperti seekor tikus yang terinjak. [Oh,
ya, kau memang melakukannya. Aku kan ada di sang] Mengapa Sadie peduli? Oke,
persis setelah tahun bars, ketika aku dan Sadie mengirim suar azimat djed kami
untuk menarik anak-anak yang memiliki potensi sihir ke markas kami, Jaz dan
Walt adalah yang pertama merespons. Mereka berlatih dengan kami selama tujuh
minggu, lebih lama daripada anak-anak lain. Jadi, kami mengenal mereka dengan
cukup baik.
Jaz adalah seorang pemandu sorak dari Nashville. Namanya
adalah kependekan dari Jasmine, tetapi jangan pernah memannggilnya dengan nama
itu kecuali kau ingin diubah menjadi semak-semak. Dia cantik, tipe pemandu
sorak yang cantik dan berambut pirang—bukan benar-benar tipeku—tetapi kita
pasti menyukainya karena dia baik pada semua orang dan selalu siap membantu.
Dia juga punya bakat sihir penyembuh. Jadi, dia adalah orang yang sangat tepat
untuk diajak pergi kalau-kalau ada masalah, yang selalu menimpaku dan Sadie
pada sekitar sembilan puluh sembilan persen kesempatan. Malam ini dia menutupi
rambutnya dengan bandana hitam. Di ptindaknya terselempang tas penyihirnya, yang
dihiasi lambang Dewi Smga, Sekhmet. dia ham saja mengatakan kepada Walt,
"Akan kita lihat nanti," ketika Sadie dan aku meluncur turun ke
sebelah mereka. Walt tampak male. Walt itu hmm, bagaimana, ya, aku harus
menggambarkan Walt? [Tidak, terima kasih Sadie. Aku tidak akan menggambarkan
Walt sebagai cowok seksi. Tunggu giliranmu] Walt berusia empat belas tahun,
sama denganku, tetapi dia cukup tinggi untuk menjadi pemain depan tim olahraga
universitas. Dia punya potongan tubuh yang pas untuk itu—ramping dan
berotot—dan kaki cowok itu besar sekali. Kulitnya secokelat biji kopi, sedikit
lebih gelap daripada kulitku, dan rambutnya cepak sehingga terlihat seperti
bayangan di kulit kepalanya. Meskipun udara dingin, dia mengenakan kaus tanpa
lengan berwarna hitam dan celana pendek untuk olahraga—bukan pakaian standar
penyihir—tetapi tak ada yang mempertanyakan Walt. Dia adalah murid kami yang
pertama datang, jauh-jauh dari Seattle, dan cowok itu adalah seorang
sau—pembuat jimat—alamiah. Dia mengenakan serenceng kalung rantai emas berjimat
sihir yang dia buat sendiri.
Pokoknya, aku yakin Sadie cerriburu pada Jaz dan menyukai
Walt, meskipun Sadie tidak akan pernah mengakuinya karena dia menghabiskan
beberapa bulan terakhir ini untuk meratapi cowok lain—dewa sebenarnya—yang dia
taksir. [Ya, baiklah, Sadie. Aku akan berhenti untuk saat ininamun, kulihat kau
tidak menyangkalnya.] Ketika kami menyela pembicaraan mereka, Walt cepat cepat melepaskan tangan Jaz dan menjauh. Mata Sadie memandangi
mereka berdua bergantian, berusaha memahami apa yg terjadi. Walt berdeham.
"Jendela sudah siap." "Bagus sekali." Sadie menatap Jaz.
"Apa maksudmu “akan kita lihat
nanti'?" Jaz membuka dan menutup mulutnya seperti seeker yang berusaha
bernapas. Walt yang menjawab untuk Jaz: "Itu lho. Kitab Ra. Kami akan melihatnya nanti." "Ya!"
timpal Jaz. "Kitab Ra." Aku tabu mereka berbohong, tetapi kurasa
bukan urusanku jika mereka saling
menyukai. Kami tidak punya waktu untuk drama. "Oke," ujarku sebelum
Sadie sempat meminta penjelasan lebih lanjut,
"mari kita mulai bersenang-senang." Jendela berayun membuka dengan
mudah. Tidak ada ledakan sihir. Tidak ada alarm. Aku mengembuskan napas lega
dan melangkah memasuki ruangan yang khusus memamerkan artefak-artefak dari
Mesir, sambil bertanya-tanya dalam hati apa mungkin entah bagaimana kami bisa
melakukan misi ini dengan sukses.Artefak-artefak Mesir membangkitkan segala
macam kenangan. Hingga tahun lalu, kuhabiskan sebagian besar hidupku untuk
berpergian keliling dunia bersama ayahku sementara dia
mendatangi museum demi museum, memberi kuliah mengenai Mesir
Kuno. Itu sebelum aku tabu dia adalah penyihir—sebelum dia membebaskan
segerombolan dewa, dan hidup kami menjadi runyam. Sekarang aku tak bisa melihat
karya seni Mesir tanpa merasakan m lath ikatan batin dengan benda-benda itu.
Aku menggigil ketika kami melewati patung Horus—Dewa Berkepala Elang yang
menghuni tubuhku Natal silam. Kami berjalan melewati sebuah sarkofagus, dan aku
ingat bagaimana Set, si Dewa yang Jahat, mengurung ayah kami dalam sebuah peti
mati emas di British Museum. Di mana-mana ada gambar Osiris, Dewa Orang Mati
yang memiliki kulit berwarna biru, dan aku teringat bagaimana Ayah telah
mengorbankan diri untuk menjadi tubuh perantara Osiris yang baru. Saat ini, di
suatu tempat di alam sihir Duat, ayah kami adalah raja dunia bawah itu. Aku
bahkan tidak dapat menggambarkan betapa aneh rasanya melihat lukisan berusia
lima ribu tahun berisi sesosok dewa Mesir berkulit biru dan berpikir,
"Yap, itu ayahku." Semua artefak itu terlihat seperti kenang-kenangan
keluarga: sebatang tongkat sihir persis seperti punya Sadie, gambar
serpopards(Serpopards: monster ular-macan tutul, salah satu monster yang pernah
berta-rung dengan Carter dan Sadie di buku sebelumnya. —peny) yang pernah
menyerang kami, sebuah halaman dari Kitab Orang Mati yang menampilkan
iblis-iblis yang pernah kami temui secara langsung. Kemudian ada pula shabti,
patung-patung sihir kecil yang seharusnya bisa hidup ketika dipanggil. Beberapa
bulan lalu, aku jatuh cinta pada seorang gadis bernama Zia Rashid, yang
ternyata adalah shabti. Jatuh cinta untuk pertama kalinya sudah cukup sulit.
Akan tetapi, ketika gadis yang kita sukai ternyata adalah keramik dan
hancur berkeping-keping di depan mata kita —ya, itu memberi
makna baru pada ungkapan "hancur hatiku." Kami berhasil melewati
ruangan pertamamelintas di bawah sebuah mural zodiak bergaya Mesir yang
berukunin di langit-langit. Bisa kudengar perayaan berlangsung di ruang mama di
koridor sebelah kanan kami. Suara musik dan tawa menggema di seluruh bangunan
itu. Di ruangan Mesir yang kedua, kami berhenti di depan hiasan batu seukuran
pintu garasi. Gambar sesosok monster sedang menginjak beberapa manusia terpahat
di permukaan "Apa itu seekor
griffin?" Tanya Jaz. Aku mengangguk. "Versi Mesirnya, ya." Hewan
itu memiliki tubuh singa dan kepala elang, tetapi sayap-sayapnya tidak seperti
sebagian besar gambar griffin yang biasa kau lihat. Sebagai ganti sayap burung,
sayap monster ini terentang di sepanjang bagian atas punggungnya—panjang, horizontal,
dan dipenuhi bulu kaku yang berdiri tegak seperti sikat baja. Jika monster
tersebut bisa terbang dengan benda itu, kurasa past gerakannya seperti sayap
kupu-kupu. Hiasan itu dulu dicat. Bisa kulihat bintik-bintik warna merah dan
emas pada bulu makhluk itu, tetapi bahkan tanpa warna, si Griffin tampak
mengerikan, terlihat sangat hidup. Matanya yang seperti manik-manik seolah
mengikutiku. "Griffin adalah penjaga," ujarku, mengingat sesuatu yang
pernah disampaikan Ayah kepadaku, "mereka menjaga harta karuh dan
benda-benda berharga lain." "Hebat," kata Sadie. "Jadi,
maksudmu mereka menyerang ... oh, pencuri, misalnya, yang membobol museum dan
rnencuri artefak?" "Itu cuma hiasan dinding," kataku. Tetapi aku
tidak yakin perkataanku membuat semua orang merasa lebih baik. Inti Sihir Mesir
adalah mengubah kata-kata dan gambar menjadi kenyataan. "Di sana."
Walt menunjuk ke seberang ruangan. "Itu, kan?"
Kami mengitari Griffin tadi dan berjalan ke sebuah patung
yang berada di bagian tengah ruangan. Patung dewa itu menjulang dengan tinggi
sekitar dua setengah meter. Dia terpahat dan batu hitam dan berpenampilan khas
Mesir: telanjang dada, hanya memakai kilt (Kilt: rok pendek ala Mesir —peny 4
Jentera: alas berbentuk lingkaran yang mempunyai sumbu dan bisa diputar.
Bi-asanya pembuat tembikar meletakkan tanah liat di atas jentera yang berputar
dan membentuknya di sana. —peny )dan sandal. Dia memiliki wajah seekor domba
jantan dan tanduk yang sebagian telah patah seiring berlalunya abad. Di
kepalanya terdapat mahkota berbentuk Frisbee—sebuah cakram matahari, yang
terjalin dari beberapa ular. Di depannya berdirilah sesosok manusia yang jauh
lebih kecil. Dewa itu sedang mengulurkan kedua tangan di atas kepala si
manusia, seolah-olah tengah memberkatinya. Sadie menyipitkan mata memandangi
prasasti hieroglif yang ada. Sejak dia menjadi tubuh perantara bagi roh Isis,
sang Dewi Sihir, Sadie memiliki kemampuan misterius untuk membaca hieroglif.
"KNM," dia membaca. "Itu dibaca Khnum, kurasa. Berima dengan
Ka-boom?" "Ya," aku setuju, "ini patung yang kita perlukan.
Kata Horus, patung ini menyimpan rahasia untuk menemukan Kitab Ra."
Sayangnya, Horus tidak terlalu rinci dalam memberi keterangan. Setelah kini
kami menemukan patungnya, aku sama sekali tak tahu bagaimana benda ini bisa
membantu kami. Aku memeriksa sekilas hieroglifnya, berharap mendapat petunjuk.
"Siapa manusia kecil di depannya itu?" Tanya Walt, "seorang
anak?" Jaz menjentikkan jari. "Bukan, aku ingat inil Khnum
menciptakan manusia di atas jentera4 pembuat tembikar. Aku
bertaruh itulah yang dilakukannya di sini—membentuk manusia
dari tanah hat." Jaz menatapku untuk mendapat persetujuan. Sebenarnya, aku
sendiri lupa cerita itu. Sadie dan aku seharusnya mei ijadi guru, tetapi
Jaz-lah yang seringkali mengingat lebih liva Int daripada aku. "Ya,
bagus," ujarku, "manusia dari tanah liat "
Sadie mengerutkan kening ke arah kepala dornba Khnum "Agak mirip dengan
tokoh kartun lama ... Bullwinkle, nukan?bisa saja ini Dewa Rusa."
"Dia bukan Dewa Rusa," bantahku. "Jika kita mencari Kitab
Ra," katanya, "dan Ra adalah Dewa Matahari, mengapa kita mencari
rusa?" Sadie bisa bersikap menjengkelkan. Apakah aku sudah mengatakan itu?
"Khnum adalah salah satu aspek dari Dewa Matahari," jelasku, "Ra
memiliki tiga kepribadian yang berbeda. Dia adalah Khepri, Dewa Scarab di pagi
hari, Ra di siang hari, dan Khnum, dewa berkepala domba jantan, saat matahari
terbenam, ketika dia masuk ke dunia bawah tanah." "Itu
membingungkan," kata Jaz. "Tidak terlalu," timpal Sadie, "Carter
memiliki tiga kepribadian yang berbeda. Dia berubah dari Zombie di pagi hari
menjadi siput di sore hari lalu menjadi—" "Sadie," tukasku,
"tutup mulutmu." Walt menggaruk-garuk dagunya. "Kurasa Sadie
benar. Itu terlihat seperti rusa." "Terima kasih," kata Sadie.
Walt tersenyum setengah hati, tetapi dia masih terlihat memikirkan sesuatu,
seolah-olah ada pikiran yang mengganggunya. Aku memergoki Jaz tengah mengamati
Walt dengan ekspresi khawatir, dan aku bertanya-tanya, kira-kira apa yang
mereka bicarakan tadi.
"Cukup soal rusa," kataku, "kita harus
membawa patung ini ke rumah Brooklyn. Patung ini menyimpan sejenis
petunjuk—" "Tapi bagaimana cara kita menemukannya?" tanya Walt,
"kau juga belum memberi tahu kami mengapa kita sangat memerlukan Kitab Ra
itu." Aku bimbang. Banyak hal yang belum kami sampaikan kepada murid-murid
kami, bahkan Walt dan Jaz—seperti bagaimana dunia mungkin akan berakhir dalam
waktu lima hari. Hal semacam itu bisa mengganggu pelajaran. "Akan
kujelaskan setelah kita kembali," aku berjanji, "sekarang, mari kita
pikirkan bagaimana cara memindahkan patung ini." Jaz mengerutkan alis.
"Kurasa benda itu tidak akan muat di tasku." "Oh, khawatir
sekali sih," kata Sadie, "begini, kita pasang mantra apung pada
patung itu. Kita ciptakan pengalih perhatian besar-besaran untuk mengosongkan
ballroom—" "Tunggu." Walt mencondongkan badan ke depan dan
mengamati sosok manusia yang berukuran lebih kecil. Pria kecil itu tengah
tersenyum, seolah-olah diciptakan dari tanah hat itu amat sangat menyenangkan.
"Dia mengenakan jimat. Jimat scarab." "Itu lambang yang
umum," ujarku. "Ya ...." Walt meraba koleksi jimatnya sendiri.
"Tapi scarab adalah lambang kelahiran kembali Ra, bukan? Dan patung ini
menggambarkan Khnum tengah menciptakan kehidupan baru. Mungkin kita tidak
memerlukan seluruh patung. Mungkin petunjuknya adalah—" "Ahl"
Sadie mengeluarkan tongkat sihirnya. "Brilian." Aku sudah hendak
berkata, "Sadie, janganl." tetapi tentu saja itu tidak akan ada
gunanya. Sadie tak pernah mendengarkanku. Dia mengetuk jimat si Manusia Kecil.
Kedua tangan Khnum bersinar. Kepala patung yang lebih kecil membuka menjadi
empat bagian seperti bagian atas tempat peluncuran peluru kendali,
dan sebuah gulungan papirus yang kekuningan menyembul dari
lehernya. "Voila," ucap Sadie dengan bangga. Dia menyelipkan tongkat
sihirnya ke dalam tas memegang gulungan papirus itu persis saat aku berteriak,
mungkin dipasangi perangkap!" Seperti yang sudah kubilang, Sadie tak
pernah mendengarkan. Begitu dia merenggut gulungan papirus itu dari patung
,seisi ruangan bergemuruh. Muncul retakan pada lemari-lemari yang terbuat dari
kaca. Sadie memekik saat api berkobar pada gulungan papirus Ali tangannya.
Nyala api itu sepertinya tidak melalap papirus a tau melukai Sadie, tetapi
ketika Sadie berusaha melepaskan diri dari kobaran api tersebut, api gaib yang
berwarna putih itu meloncat ke lemari pajang terdekat dan melesat ke sekeliling
ruangan seolah-olah mengikuti jalur bensin. Api itu menjilati jendela-jendela,
dan hieroglif berwarna putih menyala di kaca jendela-jendela itu, mungin memicu
sekumpulan penangkal dan kutukan pelindung. Kemudian api gaib itu bergerak
bergelombang melewati hiasan besar di pintu masuk ruangan. Lempengan batu itu
bergetar hebat. Aku tak bisa melihat pahatan di sisi sebaliknya, tetapi aku
mendengar suara lengkingan parau—seperti seekor burung beo yang sangat besar
dan sangat murka. Walt mengambil tongkat dari punggungnya. Sadie
mengayun-ayunkan gulungan papirus yang menyala-nyala tadi seolah-olah benda
tersebut menempel di tangannya. "Lepaskan benda ini darikul. Ini
benar-benar bukan salahkur "Engg ...." Jaz mengeluarkan tongkat
sihirnya. "Suara apa itu?" Perasaanku sangat tidak enak.
"Kurasa," ujarku, "Sadie barn saja menemukan sesuatu yang bisa
dijadikan pengalih perhatian."
2.CARTER
KAMI
MENJINAKAN SEEKOR BURUNG KOLIBRI SEBERAT TIGA SETENGAH TON
BEBERAPA BULAN LALU, SITUASI TENTU berbeda. Sadie bisa
mengucapkan satu kata saja dan memunculkan ledakan berskala militer. Aku bisa
membungkus diri dengan avatar perang sihir, dan nyaris tak ada yang sanggup
mengalahkanku. Namun, itu ketika kami masih sepenuhnya bergabung dengan dewa
dan dewi—Horus bergabung denganku, Isis bergabung dengan Sadie. Kami telah
melepas kekuatan itu karena sangat berbahaya. Sampai kami mampu mengendalikan
kekuatan kami sendiri dengan lebih baik, menyediakan tubuh perantara untuk
dihuni dewa-dewa Mesir bisa membuat kami menjadi gila atau membuat kami
terbakar dalam arti yang sesunggguhnya. Sekarang yang kami miliki hanyalah
sihir kami yang terbatas. Itu menyulitkan kami melakukan hal-hal
penting—seperti bertahan hidup ketika sesosok monster menjadi hidup dan ingin
membunuh kami. Griffin itu bergerak hingga kami bisa melihat seluruh tubuhnya.
Makhluk itu berukuran dua kali singa biasa, bulunya yang emas kemerahan
tertutupi debu batu kapur. Ekornya dihiasi bulu-bulu runcing yang tampak
sekeras dan setajam belati. Dengan
sekali kibasan, ekor itu meremukkan lempengan hate tempatnya
berasal. Kedua sayapnya yang kaku dan tajam sekarang menegak di punggungnya.
Ketika si Griffin bergerak, keduaa sayap
itu mengepak-ngepak sedemikian cepat sampai-sampai menjaadi kabur dan mengeluarkan suara dengungan seperti sayap
hummingbird(Hummingbird: semacam burung kolibri —penerj ) yang terbesar dan tergarang di dunia. Si Griffin memakukan matanya
yang lapar pada Sadie. NyaLl api berwarna putih masih menyelubungi tangan Sadie
bcsci gulungan papirus itu, dan si Griffin tampaknya menganggap hal itu sebagai
semacam tantangan. Aku sudah sering mendcligal suara pekikan elang—hei, aku
sendiri pernah menjadi elang sat(' atau dua kali—tetapi ketika makhluk ini
membuka paruhnya, Ia mengeluarkan lengkingan yang membuat jendela bergetar dan
bulu kudukku meremang. "Sadie," kataku, "jatuhkan gulungan
papirus itu." "Halo? Benda ini menempel di tangankul." dia
memprotes, "dan aku tengah terbakar? Aku sudah bilang belum?"
Cercahan api gaib itu kini menyala-nyala di seluruh jendela dan artefak.
Gulungan papirus tersebut tampaknya memicu semua simpanan sihir Mesir di
ruangan itu, dan aku cukup yakin itu adalah sesuatu yang buruk. Walt dan Jaz
berdiri mematung karena syok. Kurasa aku tak bisa menyalahkan mereka. Ini
adalah monster pertama mereka. Si Griffin maju satu langkah menuju saudara
perempuanku. Aku berdiri di sebelah Sadie dengan bahu saling menempel dan
melakukan satu trik sihir yang masih kumiliki. Aku meraih ke dalam Duat dan
mengambil pedangku dari udara kosong—sebuah khopesh Mesir dengan mata pisau
yang sangat tajam dan berbentuk kait.
Sadie terlihat cukup konyol dengan tangan dan gulungan
papirus yang terbakar, dia seperti Patung Liberty yang terlalu bersemangat,
tetapi dengan tangannya yang bebas Sadie berhasil memanggil senjatanya yang
paling berbahaya—sebatang tongkat sepanjang satu setengah meter yang dihiasi
ukiran hieroglif. Sadie bertanya, "Ada tips untuk melawan griffin?"
"Hindari bagian-bagian yang tajam?" tebakku. "Britian. Terima
kasih untuk sarannya." "Walt," seruku, "periksa
jendela-jendela itu. Lihat apakah kau bisa mem bukanya." "Tapi
jendela-jendela itu dipasangi kutukan." "Ya," sahutku, "dan
jika kita mencoba keluar melalui ballroom, griffin itu akan memangsa kita
sebelum kita sampai di sana." "Aku akan memeriksa jendela."
"Jaz" panggilku, "bantu Walt." "Tanda di kaca
itu," gumam Jaz, "aku—aku penah melihatnya—" "Lakukan
sajal" kataku. Griffin itu menyerbu, sayap-sayapnya mendengung seperti
gergaji mesin. Sadie melemparkan tongkat panjangnya dan benda itu berubah
menjadi seekor macan di udara, melabrak griffin dengan cakar terhunus. Si
Griffin tidak terkesan. Ia menghantam si Macan ke samping, kemudian menyerang
dengan kecepatan luar biasa, ia membuka paruhnya dengan amat sangat lebar. HAP.
Si Griffin menelan dan beserdawa, si Macan pun lenyap. "Itu tongkat
favoritkur jerit Sadie. Si Griffin mengalihkan pandangannya ke arahku. Aku
menggenggam pedangku erat-erat. Mata pedangnya mulai bersinar. Aku berharap aku
masih bisa mendengar suara Horns di kepalaku, mendorongku untuk maju. Memiliki
Dewa Perang pribadi mempermudah kita untuk melakukan hal-hal tolol dengan penuh
keberanian. "Walt!" teriakku, "bagaimana dengan jendelanyar
"Ini sedang kucoba," katanya.
"T-tunggu," kata Jaz gugup, "itu lambang Sekhmet. Walt,
berhenti!" Lalu banyak hal terjadi secara bersamaan. Walt membuka jendela,
dan segelombang api putih menderu melewatinya, merobohkannya ke lantai. Jaz
berlari ke sisi Walt. Si Griffin mendadak kehilangan minat padaku. Seperti
predator mana saja yang baik, ia fokus pada target yang bergerak—Jaz—dan
menyerbu ke arahnya. Aku berlari mengejarnya. Namun, alih-alih melahap tt‘iii:i
teman kami, si Griffin meluncur langsung melewati Walt serta Jai dan menghantam
jendela. Jaz menarik Walt dari situ sementara si Griffin menggila,
memukul-mukul dan menggigiti nyala api putih. Makhluk itu berusaha menyerang
api putihnya. Si Griffin menggigiti udara kosong. Ia berputar, menabrak lemari
pajang berisi shabti. Ekornya menghantam sebuah sarkofagus hingga hancur
berantakan. Aku tidak yakin apa yang merasukiku, tetapi aku berteriak,
"Berhenti!" Si Griffin diam mematung. Ia berputar ke arahku, menggaok
dengan jengkel. Selapis api putih melesat pergi dan menyala di sudut ruangan,
nyaris seolah-olah berkumpul kembali. Kemudian aku melihat api-api lain
berdatangan, membentuk nyala yang samar-samar berwujud seperti manusia. Salah
satu bentuk itu menatap persis ke arahku, dan, tidak salah lagi, aku merasakan
pancaran kebencian. "Carter, terus alihkan perhatiannya." Sadie
tampaknya tidak memperhatikan bentuk-bentuk api itu. Kedua matanya masih
terpancang pada si Griffin saat dia mengeluarkan seutas benang ikat dan sakunya.
"Kalau saja aku bisa cukup dekat—" "Sadie, tunggu." Aku
berusaha memahami apa yang terjadi. Walt terkapar dan menggigil. Kedua matanya
bersinar putih,
seolah-olah api itu telah merasuk ke dalam dirinya. Jaz
berlutut di atasnya, menggumamkan mantra penyembuhan. "RAAAWKI" si
Griffin meraung sedih seolah meminta izin—seolah-olah mematuhi perintahku untuk
berhenti, tetapi tidak menyukainya. Bentuk nyala api itu semakin terang,
semakin padat. Aku menghitung ada tujuh sosok yang menyala, pelan-pelan mem-bentuk
tangan dan kaki. Tujuh sosok ... Jaz tadi mengatakan sesuatu mengenai lambang
Sekhmet. Rasa takut menghinggapiku saat aku menyadari kutukan macam apa yang
sebenarnya melindungi museum itu. Pelepasan griffin itu hanyalah kebetulan. Ia
bukan masalah yang sebenarnya. Sadie melemparkan benang ikatnya.
"Tunggul." teriakku, tetapi terlambat. Benang sihir itu melecut
udara, memanjang menjadi seutas tali tambang saat melesat menuju griffin. Si
Griffin berkaok-kaok marah dan melompat mengikuti sosok-sosok api itu. Makhluk
api tersebut berhamburan, dan permainan kejar-kejaran sampai mati pun
berlangsung. Si Griffin melesat ke sekitar ruangan, sayapnya mendesing.
Lemari-lemari pajang pecah. Alarm manusia meraung. Aku meneriaki si Griffin
supaya berhenti, tetapi kali ini sia-sia saja. Dari sudut mataku, kulihat Jaz
ambruk, mungkin akibat kelelahan akibat merapal mantra penyembuhannya.
"Sadie!" teriakku, "bantu, dial" Sadie berlari ke sisi Jaz.
Aku mengejar si Griffin. Aku mungkin terlihat benar-benar dungu dalam balutan
piama hitamku dan membawa pedang yang bersinar-sinar, tersandung-sandung
artefak rusak dan meneriakkan perintah pada seekor kucing-kolibri raksasa.
Persis ketika aku mengira situasi tidak mungkin lebih buruk lagi, setengah
lusin tamu pesta datang untuk melihat ada
ribut-ribut apa. Mulut mereka ternganga. Seorang wanita yang
mengenakan gaun berwarna peach menj erit. Tujuh makhluk api berwarna putih itu
melesat melewati tamu-tamu pernikahan, yang langsung pingsan. Api terus
menyala, berbelok menuju ballroom. Si Griffin terbang mengejar mereka. Aku
menengok ke arah Sadie, yang sedang berlutut di clek a t Jaz dan Walt.
"Bagaimana keadaan mereka?" "Walt sudah hampir sadar,"
katanya, "tapi Jaz masih pingsan." "Ikuti aku kalau kau bisa.
Kurasa aku bisa mengendalikan griffin itu." "Carter, apa kau gila?
Teman-teman kita terluka dan ada gulungan kertas terbakar yang menempel di
tanganku. Jendelanya sudah terbuka. Bantu aku mengeluarkan Jaz dan Walt dari
sinil" Dia ada benarnya. Ini mungkin satu-satunya kesempatan kami untuk
mengeluarkan teman-teman kami dalam keadaan hidup. Namun, aku sekarang sudah
tahu apa ketujuh api itu, dan aku tahu bahwa jika aku tidak mengejarnya, banyak
orang tidak bersalah yang akan terluka. Aku mengutuk dalam bahasa Mesir—memaki,
bukan mengutuk betulan—dan berlari memasuki pesta perkawinan. Ruang dansa utama
itu kacau-balau. Tamu-tamu berlarian ke segala arah, menjerit-jerit dan
menumbangkan meja-meja. Seorang pria yang mengenakan tuksedo jatuh menimpa kue
pengantin dan merangkak ke sana kemari dengan hiasan kue berupa sepasang
pengantin yang menempel di pantatnya. Seorang pemain musik berusaha lari dengan
sebuah drum kecil di kakinya. Api-api putih itu sudah cukup memadat sehingga
aku bisa melihat bentuk mereka—semacam perpaduan antara hewan sejenis anjing
dan manusia, dengan lengan panjang dan kaki bengkok. Api-api itu menyala
seperti gas yang sangat panas saat mereka melesat melewati ballroom, mengitari
pilar-pilar yang mengelilingi lantai dansa. Salah satu api itu langsung menuju
seorang pengiring mempelai wanita. Mata wanita itu berubah
menjadi seputih susu, dan dia ambruk ke lantai, menggigil
dan terbatuk-batuk. Aku sendiri rasanya ingin menggulung din menjadi bola. Aku
tidak tahu mantra yang bisa melawan hal-hal seperti ini, dan jika salah satu
api itu menyentuhku Tiba-tiba saja si Griffin menukik turun entah dari mana,
ditempel ditempel oleh tali sihir Sadie, yang masih berusaha menjeratnya. Si
Griffin melahap salah satu makhluk api itu dalam sekali terlan dan terus terbang. Kepulan asap tipis keluar dari hiking
tetapi selain itu, memakan api putih sepertinya tidak mengusiknya. "Hei!"
teriakku. Terlambat, aku menyadari kesalahanku. Si Griffin berpaling ke arahku,
cukup memperlambatnya sehingga tali ajaib Sadie melilit kedua kaki belakangnya.
"SQUAWWWK" Si Griffin menghantam sebuah meja prasmanan. Tali itu
memanjang, membelit tubuh si monster sementara sayap griffin yang berkecepatan
tinggi meremukkan meja, lantai, dan piring-piring berisi sandwich, seperti
serutan kayu yang lepas kendali. Para tamu pesta pernikahan mulai meninggalkan
ballroom. Sebagian besar lari menuju lift, tetapi puluhan tamu tidak sadarkan
din atau menggigil tanpa kendali, mata mereka bersinar putih. Yang lain
terperangkap di bawah gundukan puing-puing. Alarm meraung-raung, dan api-api
putih itu—yang sekarang tinggal enam—masih benar-benar tidak terkendali. Aku
berlari menuju griffin, yang sedang berguling ke sana kemari, berusaha
menggigiti tali tanpa hasil. "Tenanglahl." aku berteriak.
"Biarkan aku membantumu, bodohl " "FRIKK!." Ekor griffin
itu mengayun di atas kepalaku dan nyaris saja memenggal leherku. Aku menarik
napas dalam-dalam. Aku lebih sering berperan sebagai penyihir perang. Aku tak
pernah mahir menggunakan
mantra hieroglif, tetapi aku menudingkan pedangku ke arah
monster itu dan berkata: "Ha-tep." Sebuah hieroglif berwarna
hijau—simbol untuk Tenanglah—menyala di udara, persis di ujung mata pedangku.
Griffin itu berhenti menggelepar. Kepakan sayapnya melambat.
Hiruk-pikuk dan jeritan masih memenuhi ruang dansa, tetapi aku berusaha tetap
tenang saat mendekati monster tersebut. "Kau mengenaliku, bukan?"
Kuulurkan tanganku, dan sebuah simbol lain menyala di atas telapak
tanganku—simbol yang selalu bisa kupanggil, Mata Horns.
"Kau adalah hewan suci Horns, kan? Itu sebabnya kau
mematuhiku." Griffin itu mengedip-ngedipkan mata ke arah lambang Dewa
Perang itu. Ia menegakkan bulu-bulu di lehernya dan berkaok mengeluh,
menggeliat-geliut di bawah tali yang perlahan membelit tubuhnya. "Ya, aku
tahu," ujarku. "Saudara perempuanku itu memang payah. Tunggu
sebentar. Akan kulepaskan ikatanmu." Dan suatu tempat di belakangku, Sadie
berteriak, "Carter?" Aku berbalik dan melihat dia beserta Walt
terhuyung-huyung ke arahku, setengah menggendong Jaz di antara mereka. Sadie
masih menampilkan gaya Patung Liberty-nya, dengan memegang gulungan papirus
yang berkobar-kobar di satu tangan. Walt sudah
dapat berdiri dan kedua matanya tidak lagi bersinar-sinar
tetapi Jaz terkulai seolah-olah seluruh tulang dalam tubuhnya telah berubah
menjadi agar-agar. Mereka berkelit dari sesosok roh api serta beberapa tamu
pernikahan yang menjadi gila dan entah bagaimana berhasil melintasi ruang
dansa. Walt memandangi si Griffin. "Bagaimana kau bisa
mene-nangkannya?" "Griffin adalah pelayan Horus," jelasku,
"mereka menarik kereta perang Horus dalam pertempuran. Kurasa makhluk in
mengenali hubunganku dengan Horus." Si Griffin memekik tidak sabar dan
mengibas-ngibaskan ekornya, merobohkan sebuah tiang batu. "Tidak terlalu
tenang," Sadie memperhatikan. Dia melirik sekilas ke atas pada kubah kaca,
dua belas meter di atas sana, tempat sosok kecil Khufu melambai-lambai ke arah
kami dengan panik. "Kita hams mengeluarkan Jaz dari sini sekarang
juga," kata Sadie. "Aku baik-baik saja," Jaz berkata dengan
suara lirih. "Tidak, kau tidak baik-baik saja," kata Walt.
"Carter dia mengeluarkan roh itu dari dalam diriku, tapi tindakan itu
nyaris menewaskannya. Roh itu semacam roh penyakit—" "Sesosok
Bau," ujarku. "Roh jahat. Ketujuh roh ini disebut—" "Panah
Sekhmet," sambung Jaz, membenarkan ketakutanku. "Mereka adalah roh
wabah penyakit, yang terlahir dari sang dewi. Aku bisa menghentikan
mereka." "Kau boleh beristirahat," kata Sadie.
"Benar," timpalku, "Sadie, lepaskan tali ini dari si Griffin
lalu—" "Tidak ada waktu." Jaz berkata. Bau itu menjadi semakin
besar dan terang. Semakin banyak tamu yang berjatuhan saat roh-roh itu melesat
di sekeliling ruangan tanpa mendapat perlawanan.
"Mereka akan mati jika aku tidak menghentikan Bau
itu," kata Jaz, "aku bisa menyalurkan kekuatan Sekhmet dan memaksa
roh tersebut kembali ke Duat. Aku dilatih untuk itu." Aku bimbang. Jaz tak
pernah mencoba mantra sehebat itu . Dia sudah lemah karena menyembuhkan Walt.
Namun, dia memang dilatih untuk mengatasi kondisi ini. Mungkin tampak aneh para
penyembuh mempelajari jalan Sekhmet, tetapi memngingat Sekhmet adalah Dewi
Kehancuran, wabah, dan kela memang masuk akal bila para penyembuh juga belajar
cara untuk mengatasi semua atribut Sekhmet—termasuk Bau. Lagi pula, bahkan bila
aku membebaskan si Griffin, aku tidy k seratus persen yakin bisa
mengendalikannya. Mungkin makhluk itu malah menjadi terlalu bersemangat dan
mulai melahap kami semua, bukan roh-roh tersebut. Di luar, sirene polisi
terdengar semakin nyaring. Waktu kami sudah hampir habis. "Kita tidak
punya pilihan," Jaz bersikeras. Dia menarik tongkat sihirnya dan
kemudian—membuat saudara perempuanku terkaget-kaget—memberi Walt ciuman di
pipi. "Semua akan baik-baik saja, Walt. Jangan menyerah." Jaz
mengambil benda lain dari tas penyihirnya—sebuah patung Jilin—dan menekannya ke
tangan saudara perempuanku yang bebas. "Kau akan membutuhkan ini dalam
waktu dekat, Sadie. Maaf aku tak bisa membantumu lagi. Kau akan tahu apa yang
harus dilakukan bila waktunya tiba." Kurasa aku tak pernah melihat Sadie
begitu kehilangan kata-kata. Jaz berlari ke tengah-tengah ballroom dan
menyentuhkan tongkat sihirnya ke lantai, menggambar lingkaran perlindungan di
sekitar kakinya. Dari tasnya, dia mengeluarkan sebuah patung Sekhmet berukuran
kecil, Dewi Pelindungnya, dan mengangkat benda itu tinggi-tinggi.
Dia mulai merapal mantra. Cahaya merah berpijar di
sekitarnya. Sulur-sulur energi menyebar dari lingkaran itu, memenuhi ruangan
seperti ranting-ranting pohon. Sulur-sulur itu mulai berputar, mulanya perlahan
lalu mulai bertambah cepat sampai aliran sihir itu menarik Bau, memaksa mereka
terbang ke arah yang sama, menghela mereka ke tengah. Roh-roh itu meraung,
berusaha melawan mantra tersebut. Jaz terhuyung, tetapi dia tetap melanjutkan
rapalannya,wajahnya dipenuhi bintik-bintik keringat. "Tak bisakah kita membantunya?"
Tanya Walt. "RAAAWK!" si Griffin memekik, yang barangkali berarti
haloooo? Aku masih di sini! Sekarang suara sirene terdengar seperti berada
tepat di luar gedung. Di koridor dekat lift, seseorang berteriak dengan sebuah
megafon, memerintahkan gelombang terakhir tamu pesta pernik a Ran untuk keluar
dari bangunan—seolah-olah mereka perlu dorongan untuk melakukannya. Polisi
telah tiba, dan jika kami tertangkap, situasi ini akan sulit dijelaskan.
"Sadie," ujarku, "bersiaplah untuk menghilangkan tali yang
melilit si Griffin. Walt, kau masih punya jimat kapal?" "Ji—? Ya,
tapi tidak ada air." "Pokoknya panggil saja kapal Aku merogoh ke
dalam saku dan menemukan benang sihir milikku sendiri. Kuucapkan mantra dan
tiba-tiba saj a aku tengah memegang seutas tambang dengan panjang sekitar enam
meter. Aku membuat simpul longgar di bagian tengah, seperti sehelai dasi yang
berukuran sangat besar, dan dengan hati-hati mendekati si Griffin. "Aku
hanya akan menaruh ini di lehermu," ujarku, "jangan panik."
"FRIIIK" sahut si Griffin. Aku melangkah mendekatinya, menyadari
betapa cepat paruh itu bisa menggigitku jika ia ingin, tetapi aku berhasil
menyimpul tambang itu di sekitar leher si Griffin.
Kemudian terjadilah sesuatu yang tidak semestinya. Waktu
melambat. Sulur-sulur Mantra Jaz yang berputar dan berwarna merah bergerak
sangat perlahan, seakan-akan udara berubah menjadi sirup. Jeritan dan sirene
mereda menjadi suara raungan di kejauhan. Kau tidak akan berhasil, desis sebuah
suara. Aku berpaling dan mendapati diriku berhadapan dengan sesosok Bau. Bau
itu melayang-layang di udara beberapa sentimeter dariku, sosoknya yang putih
dan menyala-nyala nyaris mewujud. Ia seolah sedang tersenyum, dan aku berani
bersumpah aku pernah melihat wajah itu sebelumnya. Kekacauan terlalu kuat,
Bocah, katanya. Dunia berputar di luar kendalimu. Hentikan pencarianmu!
"Diaml" gumamku, tetapi jantungku berdegup kencang. Kau tidak akan
pernah menemukan gadis itu, ejek roh itu. Dia tidur di Tempat Pasir Merah,
tetapi dia akan mati di sana jika kau meneruskan pencarianmu yang sia-sia.
Rasanya seolah ada tarantula yang merayapi punggungku. Roh itu sedang bicara
mengenai Zia Rashid—sosok Zia yang sebenarnya, yang telah kucari sejak Natal.
"Tidak," sahutku, "kau adalah iblis. Penipu." Kau lebih
tahu dari itu, Bocah. Kita pernah bertemu sebelum ini. "Diam! " Aku
memanggil Mata Horns, dan roh itu mendesis. Waktu kembali bergerak normal.
Sulur-sulur merah mantra Jaz membungkus Bau itu dan ia tersedot ke pusaran
sambil berteriak-teriak. Sepertinya tak ada orang lain yang memperhatikan apa
yang telah terjadi. Sadie sedang bertahan, memukul-mukul Bau dengan gulungan
papirusnya yang menyala setiap kali mereka mendekat. Walt meletakkan jimat
kapalnya di
kata perintah. Dalam hitungan detik, seperti mainan spons
yang mengembang jika kena air, jimat itu membesar menjadi Perahu Buluh Mesir
berukuran penuh, tergeletak di sepanjang puing-puing meja prasmanan. Dengan
tangan gemetar, aku mengambil kedua ujung dasi baru si Griffin dan mengikatkan
salah satu ujungnya ke haluan kapal dan satu lagi ujung buritan. "carter!lihat ! panggil
Sadie. Aku berbalik tepat pada waktunya untuk melihat kilasan cahaya merah yang
menyilaukan. Seluruh pusaran itu menyurut ke dalam, mengisap keenam Bau ke
dalam Lingkaran Jaz. Cahaya pun padam. Jaz pingsan, tongkat sihir dan patung
Sekhmet-nya luluh lantak menjadi debu di tangannya. Kami berlari
menghampirinya. Pakaian Jaz mengepulkan asap. Aku tak tahu apakah dia masih
bernapas atau tidak. "Bawa dia masuk ke kapal," kataku, "kita
harus keluar dari sini." Aku mendengar gerutuan kecil nun jauh di atas.
Khufu telah membuka kubah. Dia memberi isyarat dengan panik saat lampu sorot
menyapu langit di atasnya. Museum itu mungkin sudah dikepung oleh kendaraan-kendaraan
yang dirancang untuk mengatasi keadaan darurat. Di seluruh penjuru ruang dansa,
tamu-tamu yang terkena kutukan mulai sadar kembali. Jaz telah menyelamatkan
mereka, tetapi setinggi apa harga yang harus dibayarnya? Kami membopong Jaz
menuju kapal dan masuk ke dalamnya. "Berpeganganlah erat-erat," aku
memperingatkan, "benda ini tidak seimbang. Jika terbalik—" "Hei!"
Suara pria yang berat berteriak di belakang kami. "Apa yang kalian—Heil
Berhenti!" "Sadie, tali, sekarangl" perintahku. Sadie
menjentikkan jari, dan tali yang menjerat griffin pun lenyap.
"NAIK1." teriakku, "KE ATAS!"
"FRIIIK1" Si Griffin mempercepat kepakan sayapnya.
Kami tersentak ke udara, perahu itu terguncang-guncang ,dan meleset langsung
menuju kubah yang terbuka. Si griffin seperti nyaris tak menyadari kalau ia membawa kami. Ia
melayang begitu cepat, sehingga Khufu harus melakukan lompatan terbang supaya bisa naik ke atas perahu. Aku menariknya ke dalam
perahu dan kami berpegangan mati-matian, berusaha agar tidaki terbalik “agh!”Khufu
mengeluh. "Ya," aku menyepakati, "ternyata begitu susah
melakukan pekerjaan yang seharusnya mudah." Namun, kami adalah keluarga
Kane. Hari ini bisa dibilang hari lel mudah yang akan kami alami selama
beberapa waktu. Entah bagaimana, griffin kami tahu arah yang tepat. Dia menjerit penuh kemenangan dan membubung tinggi
memasuki malam yang dingin berhujan. Saat kami terbang menuju rumah Ikami,
gulungan papirus Sadie menyala lebih terang. Ketika aku menatap ke bawah,
api-api putih gaib menyala di setiap bubungan atap di Brooklyn. Aku mulai
bertanya-tanya apa persisnya yang telah kami curi—apakah itu memang benda yang
benar, atau apakah benda Iitu akan memperrumit masalah kami. Apa pun itu, aku
punya perasaan bahwa akhirnya kami sudah terlalu jauh memaksakan keberuntungan
kami. []
3.SADIE
TUKANG ES
KRIM JAHAT MERENCANAKAN KEMATIAN KAMI
SUNGGUH ANEH, BETAPA MUDAH KAU bisa lupa bahwa tanganmu
sedang terbakar. Oh, maaf. Sadie di sini. Kau tidak berpikir aku akan
mem-biarkan kakakku mengoceh selamanya, kan? Yang benar saja, tidak seorang pun
pantas mendapat kutukan seberat itu. Kami tiba kembali di Rumah Brooklyn, dan
semua orang mengerumuniku karena tanganku menempel pada gulungan papirus yang
menyala-nyala. "Aku baik-baik saja!" aku bersikeras, "rawat saja
Jaz!" Sejujurnya, aku menghargai sedikit perhatian sesekali, tetapi saat
ini aku bukan orang yang paling butuh diperhatikan. Kami mendarat di atas atap
rumah besar, bangunan itu sendiri merupakan tontonan yang aneh—sebuah kubus
lima lantai yang terbuat dari besi dan batu kapur, seperti persilangan antara
kuil Mesir dan museum seni, bertengger di atas sebuah gudang telantar di area
tepi laut Brooklyn. Belum lagi rumah besar ini memancarkan sihir dan tidak
terlihat oleh mata manusia biasa. Di bawah kami, seluruh Brooklyn tengah
terbakar. Gulungan sihirku yang menyebalkan telah meninggalkanbidang luas api
gaib
D i seluruh wilayah itu saat kami terbang dari museum. Tidak
ada yang benar-benar terbakar, dan api itu tidaklah panas, tetapi tetap Baja
kami menimbulkan kepanikan yang cukup besar. Sirene-sirene meraung. Orang-orang
memenuhi jalanan, ternganga melihat bubungan atap yang menyala-nyala.
Helikopter berputar-putar dengan lampu sorot. Kalau itu belum cukup menarik,
lihatlah kakakku yang sedang mengurusi seekor griffin, berusaha melepas tali
yang meng-hubungkan perahu nelayan dengan leher makhluk itu dan menjaga agar si
Griffin tidak memakan murid-murid kami. Kemudian ada Jaz, sumber kekhawatiran
kami yang sesu guhnya. Kami yakin dia masih bernapas, tetapi dia sepertinya
berada dalam semacam kondisi koma. Ketika kami membuka matanya, kedua mata itu
bersinar putih—yang biasanya bukan pertanda baik. Saat mengendarai perahu,
Khufu mencoba menerapkan beberapa sihir babunnya yang terkenal pada
Jaz—menepuk-nepuk dahi Jaz, mengeluarkan suara-suara kasar, dan berusaha
memasukkan permen jeli ke dalam mulut Jaz. Aku yakin Khufu mengira dirinya
tengah membantu, tetapi hal itu tidak banyak memperbaiki kondisi Jaz. Sekarang
Walt tengah merawat Jaz. Dia mengangkat tubuh Jaz dengan lemah lembut dan
meletakkannya di atas sebuah usungan, menyelimuti dan membelai rambut Jaz
sementara murid-murid lain berkumpul di sekelilingnya. Dan itu tidak masalah.
Benar-benar tidak masalah. Aku sama sekali tidak tertarik pada betapa tampan wajah
Walt di bawah cahaya bulan, atau kedua lengannya yang berotot dalam balutan
kaos tanpa lengan, atau fakta bahwa dia sedang memegangi tangan Jaz, atau Maaf.
Aku melantur. Aku menghempaskan diri di sudut atap yang jauh, merasa
benar-benar kelelahan. Tangan kananku gatal karena memegangi
gulungan papirus sedemikian lama. Nyala api sihir itu
menggelitik jari-jariku. Aku meraba-raba saku kiriku dan mengeluarkan patung
Jilin kecil yang diberikan Jaz kepadaku. Benda itu adalah salah satu patung
penyem huh milik. Jaz, yang digunakan untuk mengusir penya kit atau kutukan.
Secara umum, patung Jilin memang tidak dibuat mirip dengan seseorang, tetapi
Jaz telah mencurahkan waktunya untuk patung yang ini. Patung ini jelas
dimaksudkan untuk menyembuhkan satu orang tertentu, yang berarti patung itu
punya kekuatan lebih dan kemungkinan besar disimpan untuk situasi
hidup-atau-mati. Aku mengenali rambut keriting patung itu, garis-garis
wajahnya, pedang yang menempel di tangannya. Jaz bahkan menuliskan nama patung
itu dengan huruf hieroglif di dadanya: CARTER. Kau akan memerlukan ini dalam
waktu dekat, kata Jaz kepadaku. Sepanjang pengetahuanku, Jaz bukan peramal. Dia
tak bisa melihat masa depan. Jadi, apa yang dimaksud olehnya? Bagaimana aku
bisa tahu kapan aku hams menggunakan patung ini? Sambil memandangi Carter mini
tersebut, aku punya perasaan buruk bahwa nyawa kakakku secara harfiah
diletakkan di tanganku. "Apa kau baik-baik saja?" Tanya sebuah suara
wanita. Cepat-cepat aku menyimpan patung itu. Sahabat lamaku, Bast, menjulang
di atasku. Dengan senyum tipis dan mata kuningnya yang berkilat-kilat, dia bisa
jadi sedang khawatir atau justru merasa geli. Sulit untuk memprediksikan segala
sesuatu yang berkaitan dengan sang Dewi Kucing. Rambut hitamnya diikat ke
belakang membentuk ekor kuda. Dia mengenakan baju terusan ketat ala pesenam
yang berpola kulit macan tutul, seolah-olah dia hendak berjungkir balik ke
belakang. Sejauh pengetahuanku, itu memang mungkin saja dilakukannya. Seperti
tadi kubilang, sulit memprediksikan segala sesuatu yang berkaitan dengan sang
Dewi Kucing.
"Aku baik-baik saja," dustaku, "cuma ini
" kugoyangkan .1liganku yang menyala-nyala ke sana kemari tanpa daya. "Mmm."
Gulungan papirus itu sepertinya membuat Bast tidak nyman. "Coba kulihat
apa yang bisa kulakukan." Dia berlutut di sampingku dan mulai merapal mantra.Aku
berpikir betapa ganjil rasanya dimantrai oleh mantan binatang peliharaanku.
Selama bertahun-tahun, Bast menyamar sebagai
I kucingku, Muffin. Aku bahkan tidak menyadari ada sosok Dewi tidur di atas bantalku pada malam hari. Kemudian
setelah ayah kami melepaskan segerombol dewa-dewi di british Museum, Bast memperkenalkan diri. Dia telah
mengawasiku selama enam tahun, katanya pada kami, sejak orangtua kami membebaskannya dari
sebuah sel di Duat, tempat dia dikirirn untuk bertarung melawan ular kekacauan,
Apophis, untuk selama-lamanya. Panjang ceritanya, tetapi ibuku meramalkan bahwa
Apophis akhirnya pasti lepas dari penjara, yang pada dasarnya berarti kiamat.
Jika Bast terus bertempur melawan Apophis sendirian, dia akan binasa. Namun,
jika Bast dibebaskan, ibuku percaya dia bisa memainkan peran penting dalam
pertempuran yang akan datang melawan Kekacauan. Jadi, orangtuaku membebaskan
Bast sebelum Apophis membinasakannya. Ibuku meninggal dunia saat membuka,
kemudian cepat-cepat menutup, penjara Apophis. Jadi, sudah sewajarnya Bast
merasa berutang budi pada orangtua kami. Sejak itu Bast pun menjadi
pelindungku. Sekarang dia juga menjadi pengawal, teman seperjalanan, dan
kadang-kadang koki pribadi bagi Carter dan aku (petunjuk: jika dia menawarimu
Friskies du Jour, tolak saja.) Namun, aku masih merindukan Muffin.
Kadang-kadang aku hams melawan dorongan untuk menggaruk bagian belakang telinga
Bast dan memberinya cemilan, meskipun aku senang dia tidak lagi mencoba tidur
di atas bantalku pada malam hari. Pasti itu rasanya agak aneh.
kehidupan lamaku, teman-temanku Liz dan Emma, dan terutama
segala sesuatu mengenai Inggris, aku tak bisa menyangkal bahwa kamarku di
Brooklyn jauh lebih mewah. Balkon pribadi ku menghadap langsung ke East River.
Aku memiliki ranjang super besar yang nyaman, kamar mandi pribadi, dan lemari
seukuran kamar berisi baju-baju bare yang seolah tak ada habisnya , mereka
muncul secara ajaib dalam keadaan bersih sesuai kebutuhan . Pada lemari laci
terpasang kulkas yang berisi mmin Favoritku Ribena, yang diimpor dari Inggris,
serta cokelat dingin (ya, anak perempuan memang hams memanjakan diri). Sistem
pengeras suaranya benar-benar mutakhir, dan dinding-dindingnya dibuat kedap
suara dengan sihir sehingga aku bisa memainkan musik sekeras yang kumau tanpa
mengkhawatirkan saudara lelakiku yang kuno di kamar sebelah. Di atas lemari
laci itu bertenggerlah salah satu di antara sedikit benda yang kubawa dari
kamarku di London: sebuah alat perekam kaset usang yang diberikan oleh
kakek-nenekku bertahun-tahun silam. Benda itu memang sudah sangat ketinggalan
zaman, tetapi aku masih menyimpannya karena alasan sentimental. Bagaimanapun
juga, Carter dan aku merekam petualangan kami di Piramida Merah dengan benda
itu. Kupasang iPodku di dudukannya dan melihat-lihat daftar laguku. Aku memilih
kumpulan lagu lama berlabel SEDIH, karena seperti itulah perasaanku. Album 19
dari Adele mulai mengalun. Ya Tuhan, aku belum mendengar album itu sejak Tanpa
terduga, aku mulai menitikkan air mata. Aku mendengarkan kumpulan lagu ini pada
malam Natal, ketika Ayah dan Carter menjemputku untuk pergi ke British
Museum—malam ketika hidup kami bembah selamanya. Adele bernyanyi seolah-olah
ada orang yang telah merobek jantungnya. Dia terns saja melagukan tentang cowok
yang dia taksir, bertanya-tanya apa yang hams dia lakukan agar cowok itu
menginginkannya. Aku bisa bersimpati pada hal itu. Namun,
Natal silam, lagu itu membuatku memikirkan keluargaku juga: ibuku, yang
meninggal ketika aku masih sangat kecil, dan ayahku serta Carter, yang berkeliling dunia
bersama-sama, meninggalkan ku di London dengan kakek-nenekku, dan tampaknya
tidak membutuhkanku dalam hidup mereka.
Tentu saja aku tabu situasinya lebih rumit daripada itu.ada perebutan perwalian yang sengit, yang
melibatkan pengaacara dan serangan spatula, dan Ayah dulu juga ingin memisahkan
II dengan Carter agar kami tidak saling menyerang dengan sihir sama lain
sebelum kami bisa mengendalikan kekuatan kami. Daft, ya, kami semua menjadi
lebih dekat sejak itu. Ayahku kembali memasuki hidupku, bahkan meskipun dia
adalah Dewa Dunia Bawah sekarang. Sementara mengenai ibuku ya, aku pernah
bertemu hantunya. Kurasa itu cukup berarti. Tetap saja, musik itu membawa
kembali semua rasa sakit dan kemarahan yang kurasakan saat Natal. Kurasa aku
belum sepenuhnya mengenyahkan semua perasaan itu, seperti yang kukira Jemariku
mengambang di atas tanda fast-forward, tetapi kuputuskan untuk membiarkan lagu
itu mengalun. Aku melempar barang-barangku ke laci lemari—gulungan papirus,
Carter mini yang terbuat dari lilin, tas sihir, dan tongkat sihirku. Aku
mencari tongkatku, kemudian teringat bahwa aku tidak memilikinya lagi. Si
Griffin telah menelannya. "Dasar otak burung," gerutuku. Aku mulai
berganti pakaian tidur. Bagian dalam pintu lemariku penuh dengan foto-foto,
sebagian besar fotoku dan teman-temanku di sekolah tahun lalu. Ada foto Liz,
Emma, dan aku dengan berbagai ekspresi dalam bilik foto di Piccadily. Kami
tampak begitu muda dan menggelikan. Aku tidak percaya bahwa besok aku akan
bertemu mereka untuk pertama kalinya selama berbulan-bulan. Kakek dan
Nenek mengundangku berkunjung ke apartemen mereka, dan aku
berencana pergi keluar hanya bersama teman-temanku—setidaknya, begitulah
rencananya sebelum Carter memberitahuku tentang rencana "lima hari untuk
menyelamatkan dunia". Sekarang, siapa yang tahu apa yang bakal terjadi?
Hanya ada dua gambar tanpa Liz dan Emma yang menghiasi pintu lemari pakaianku.
Salah satunya menampilkan Carter dan aku bersama Paman Amos pada hari dia
berangkat ke Mesir untuk hmm, apa istilahnya ketika seseorang pergi untuk
dirawat setelah dirasuki dewa jahat? Bukan berlibur, kurasa. Gambar terakhir
adalah lukisan Anubis. Barangkali kalian pernah melihatnya: sosok berkepala
jakal (Jakal: semacam serigala atau anjing—peny )Dewa Pemakaman, kematian, dan
sebagainya. Dia ada di mana-mana dalam kesenian Mesir—memimpin jiwa-jiwa yang
telah mati memasuki Aula Penghakiman, berlutut di dekat timbangan kosmis,
menimbang sebuah hati dan membandingkannya dengan berat bulu kebenaran. Mengapa
aku punya gambarnya? [Baiklah, Carter. Aku akan mengakuinya, walaupun itu hanya
untuk membuatmu diam.] Aku sedilcit naksir pada Anubis. Aku tahu hal itu
terdengar begitu menggelikan, seorang gadis modern jatuh cinta pada lelaki
berkepala jakal berusia lima ribu tahun, tetapi bukan itu yang kulihat ketika
menatap gambarnya. Aku mengingat Anubis sebagaimana dia muncul di New Orleans
ketika kami bertemu muka—seorang cowok berusia sekitar enam belas tahun, dalam
balutan pakaian kulit dan denim, dengan rambut hitam kusut dan mata sewarna
cokelat leleh yang murung, tetapi indah. Benar-benar bukan cowok berkepala
jakal. Tetap menggelikan, aku tahu. Dia adalah dewa. Kami sama sekali tidak
memiliki persamaan. Aku belum mendengar kabarnya
sejak petualangan kami di Piramida Merah, dan itu seharusnya
tidak mengejutkanku. Meskipun dia tampak tertarik padaku saat itu dan bahkan
mungkin memberikan beberapa isyarat Tidak, jelas aku hanya mengkhayalkan hal
itu. Tujuh minggu terakhir ini, sejak Walt Stone tiba di Rumah Brooklyn, kukira
aku akan bisa melupakan Anubis. saj a, Walt adalah muridku, dan aku tidak
seharusnya mengangp,Apilv:i sebagai calon pacar, tetapi aku cukup yakin ada
ketertarikaii antara kami ketika kami berjumpa pertama kali. Namun, sekat Ali
r„ Walt sepertinya menjauh. Dia bertingkah begitu penuh rallasm, selalu tampak
merasa sangat bersalah dan mulai dekat dengan Jaz Hidupku menyedihkan. Aku
mengenakan baju tidurku sementara Adele terus menyanyi. Apakah isi semua
lagunya adalah tentang tidak diperhatikan oleh cowok? Tiba-tiba aku merasa hal
itu sangat mengganggu. Aku mematikan iPodku dan menjatuhkan diri ke tempat
tidur. Sayangnya, begitu aku tertidur, malamku bertambah buruk.
Di Rumah Brooklyn, kami tidur dengan segala macam jimat
sihir untuk menangkal mimpi-mimpi buruk, roh-roh yang mengganggu, dan dorongan
yang terkadang menghampiri jiwa kami untuk berkeliaran. Aku bahkan punya bantal
sihir untuk memastikan jiwaku—atau bahkan jika kalian ingin tahu bahasa Mesirnya—tetap
tertambat ke tubuhku. Namun, itu bukan sistem yang sempurna. Sering kali bisa
kurasakan suatu kekuatan dari luar menarik-narik pikiranku, berusaha
mendapatkan perhatianku. Atau jiwaku memberi tahu bahwa ada tempat lain yang
bisa didatangi, ada suatu tempat penting yang ingin ditunjukkannya kepadaku.
Aku langsung merasakan sensasi semacam itu begitu jatuh tertidur. Bayangkan hal
itu seperti sebuah panggilan telepon, otakku memberiku pilihan untuk menerima
atau menolak.
Biasanya, yang terbaik adalah menolak, terutama ketika
otakku melaporkan nomor yang tidak dikenal. Namun, kadang-kadang telepon itu
penting. Lagi pula besok adalah ulang tahunku. Barangkali Ayah dan Ibu berusaha
menghubungikti dad Dunia Bawah. Kubayangkan mereka berada di Aula Pen gha k
iinan, ayahku duduk di atas singgasana sebagai Dewa Osiris yang berkulit biru,
sementara ibuku dalam jubah putih gaihnya. Mere ka mungkin memakai topi pesta
dari kertas dim nu nyanyikan lagu "Happy Birthday" sementara Ammit si
Pent a ngsa, monster peliharaan mereka yang amat kecil, melompat-lompat dan
menyalak-nyalak. Atau mungkin, hanya mungkin, Anubis-lah yang menelepon. Hai,
ehm, kupikir kau mungkin ingin menghadiri sebuah pemakaman atau semacamnya? Ya
itu hanyalah sebuah kemungkinan. Jadi, aku menerima telepon itu. Kubiarkan
jiwaku pergi ke tempat yang ingin diperlihatkannya padaku, dan ba-ku melayang
di atas ragaku. Jika kalian belum pernah mencoba petualangan ba, aku tidak akan
merekomendasikannya—kecuali tentu saja kalian ingin berubah menjadi hantu ayam
dan mengarungi arus Duat tanpa terkontrol. Ba biasanya tidak kasat mata bagi
orang lain, dan itu bagus, karena ba berbentuk sesosok burung raksasa dengan
kepala kita sebagai pengganti kepala burung. Pada suatu ketika, aku pernah bisa
mengubah bentuk ba-ku menjadi sesuatu yang tidak sememalukan itu, tetapi sejak
Isis meninggalkan kepalaku, aku tidak lagi memiliki kemampuan itu. Sekarang
saat lepas landas, aku terjebak dalam wujud ayam yang biasa. Pintu-pintu balkon
terayun membuka. Angin magis menyapuku memasuki malam. Lampu-lampu New York
mengabur dan memudar, dan kudapati diriku berada di sebuah ruangan
bawah tanah yang terasa tidak acing: Aula Zaman, di dalam
markas utama Dewan Kehidupan di bawah kota Kairo. Ruangan itu begitu panjang,
sehingga bisa dijadikan tempat pertandingan maraton. Di bagian tengah ada k a r
nil h i rn yang berkilauan seperti sungai. Di antara tiang-tiang di kedua sisi ,
tirai cahaya berkelap-kelip—menampilkan gambar –gambar holografis dari sejarah Mesir yang panjang.
Cahaya berubah-rubah warna sehingga merefleksikan era-era yang berbeda, dari kilau
putih Masa Dewa-Dewa sampai cahaya merah
tua zaman modern Atapnya bahkan lebih
tinggi daripada ruang dansa di Museum Brooklyn, area luas itu diterangi oleh
nyala orb(Orb: lingkaran cahaya— peny ) dan simbol-simbol hieroglif yang
melayang-layang. Kesannya seperti ada yang telali meledakkan beberapa kilogram
sereal anak-anak di ruang tan pa gravitasi, semua keping manis beraneka warna
itu melayang dan bertabrakan dalam gerak lambat. Aku melayang ke ujung ruangan,
persis di atas panggung yang berisi Singgasana Firaun. Itu adalah tempat duduk
kehormatan, yang kosong sejak jatuhnya kerajaan Mesir, tetapi pada anak tangga
di bawahnya duduklah Ketua Lector, pemimpin Nome Pertama, ketua Dewan
Kehidupan, dan penyihir yang paling tidak kusukai: Michel Desjardins. Aku tak
pernah melihat Si Tuan Menyenangkan itu sejak penyerangan kami ke Piramida
Merah, dan aku terkejut melihat betapa cepatnya dia menua. Dia barn menjadi
Ketua Lector beberapa bulan silam, tetapi rambut hitam licin dan janggut
bercabangnya sekarang sudah dihiasi warna abu-abu. Dia bersandar dengan letih
pada tongkatnya, seolah-olah mantel kulit macan tutul Ketua Lector yang
tersampir di bahunya seberat timbal. Aku tak bisa bilang bahwa aku merasa
kasihan padanya. Kami tidak berpisah sebagai teman. Kami memang menggabungkan
kekuatan (kurang lebih) untuk mengalahkan Set, tetapi dia
masih menganggap kami penyihir berandal yang berbahaya. Dia memperingatkan kami
bahwa jika kami terus mempelajari jalan dewa-dewa (yang memang kami lakukan)
dia akan membinasakan kami begitu kami bertemu lagi dengannya. Itu membuat kami
tidak terlalu bersemangat mengundangnya mampir untuk minum teh. Wajah
Desjardins cekung dan kurus kering, tetapi kedua matanya masih berkilat-kilat
jahat. Dia mengamati gambar-gambar berwarna merah darah pada tirai cahaya seolah sedang menunggu
sesuatu. "Est-il-alle?" Dia bertanya, yang berdasarkan pelajaran
Bahasa Prancisku di sekolah aku merasa artinya adalah "Apakah dia sudah
pergi?" Atau mungkin "Apakah kau sudah memperbaiki pulau itu?"
Baiklah mungkin yang pertama. Sejenak, aku khawatir dia sedang berbicara
padaku. Kemudian dari balik singgasana, sebuah suara parau menjawab, "Ya,
Tuanku." Seorang pria melangkah keluar dari bayang-bayang. Dia sepenuhnya
dibalut pakaian berwarna putih—setelan, syal, bahkan kacamata hitamnya pun
berbingkai putih. Pikiran pertamaku adalah: Ya Tuhan, dia adalah seorang tukang
es krim yang jahat. Senyumnya menyenangkan dan wajahnya yang tembam dibingkai
rambut ikal kelabu. Aku bisa saja salah menganggapnya sebagai sosok yang tidak
berbahaya, bahkan ramah—sampai dia melepas kacamatanya. Kedua matanya rusak.
Kuakui aku agak gampang jijik soal mata. Video operasi retina? Aku akan lari
keluar ruangan. Bahkan bayangan mengenai lensa kontak saja membuatku ngeri.
Namun, mata pria berpakaian putih itu terlihat seolah telah disiram dengan air
keras, kemudian dicakar kucing berkali-kali. Kelopak matanya berupa kumpulan
jaringan luka yang tidak menutup dengan benar. Alisnya terbakar habis dan
dihiasi bekas
goresan yang dalam. Kulit di atas tulang pipinya berupa
lapisan bilur merah, dan matanya sendiri terdiri dari kombinasi warnah merah
darah dan putih susu yang begitu mengerikan sampai-sampai aku tidak percaya dia
bisa melihat. Dia menarik napas, mengeluarkan bunyi ngik-ngik parah, sampai
membuat dadaku ikut sakit. Berkilauan di bajunya sebuah kalung perak dengan jimat berbentuk
ular. "Dia menggunakan portal beberapa saat yang lalu, tuanku “Pria itu
berkata dengan suara serak. "Akhirnya, dia pergijuga ..” Suaranya
semengerikan matanya. Jika dia memang pernah disiram air keras, sebagian pasti masuk ke
paru-parunya. Namur, pria itu tetap
tersenyum, tampak tenang dan bahagia dalam kemeja putihnya yang rapi seolah-olah dia
tidak sabar menjual es krim kepada anak-anak kecil yang baik. Dia mendekati
Desjardins, yang masih memandangi tirai cahaya. Si tukang es krim mengikuti
arah tatapannya. Aku melakukan hal yang sama dan menyadari apa yang sedang
dilihat oleh Ketua Lector. Pada tiang terakhir, persis di sebelah singgasana,
cahayanya berubah. Warna kemerahan zaman modern tengah menggelap menjadi warna
ungu tua, seperti warna memar. Pada kunjungan pertamaku ke Aula Zaman, aku
diberi tahu bahwa ruangan itu memanjang seiring tahun berlalu, dan sekarang aku
bisa melihat hal itu terjadi. Lantai dan dinding beriak seperti fatamorgana,
memanjang dengan amat perlahan, dan cercah cahaya ungu pun ikut melebar.
"Ah," ujar si Tukang Es Krim, "menjadi lebih jelas
sekarang." "Sebuah zaman baru," gumam Desjardins. "Zaman
yang lebih kelam. Warna cahaya belum berubah selama seribu tahun,
Vladimir." Seorang tukang es krim jahat bernama Vladimir? Baiklah, kalau
begitu.
"Ini gara-gara keluarga Kane, tentu saja," sahut
Vladimir. "Anda seharusnya membunuh yang tertua saat dia berada dalarn
kekuasaan kita." Bulu-bulu ba-ku menegak. Kusadari mereka tengah
membicarakan Paman Amos. "Tidak," sanggah Desjardins. "Dia
berada dalam perlindungan kita. Semi la yang ingin berobat hams diberi
perlindungan—bahkan Kane." Vladimir menarik napas dalam-dalam, yang
terdengar seperti bunyi pengisap debu yang tersumbat. "Tapi tentunya
karena sekarang dia sudah pergi, kita harus bertindak. Anda mendengar kabar
dari Brooklyn, Tuan. Anak-anak itu telah menemukan gulungan pertama. Jika
mereka menemukan dua gulungan lain—" "Alm tahu, Vladimir."
"Mereka mempermalukan Dewan Kehidupan di Arizona. Mereka berdamai dengan
Set alih-alih membinasakannya. Dan sekarang mereka mencari Kitab Ra. Jika Anda
mengizinkan saya membereskan mereka—" Bagian atas tongkat Desjardin
menyemburkan api ungu. "Siapa yang Ketua Lector di sini?" Dia
menuntut jawaban. Raut wajah Vladimir yang menyenangkan menjadi goyah.
"Anda, Tuanku." "Dan aku akan membereskan keluarga Kane pada
waktunya, tetapi Apophis adalah ancaman terbesar kita. Kita harus mengerahkan
seluruh kekuatan kita untuk mengendalikan ular itu. Jika ada kemungkinan
keluarga Kane bisa membantu kita memulihkan ketenangan—" "Tapi Ketua
Lector," Vladimir menyela. Nada suaranya mengandung intensitas baru—suatu
desakan yang nyaris magis. "Keluarga Kane adalah bagian dari persoalan
kita. Mereka telah mengacaukan keseimbangan Ma'at dengan membangkitkan dewa-dewa.
Mereka mengajarkan sihir tularang. Sekarang mereka hendak membangkitkan Ra,
yang sudah tidak berkuasa
sejak permulaan Mesir. Mereka akan menjerumuskan seluruh I,
uiia ke dalam huru-hara. Ini hanya akan menguntungkan pihak acauan."
Desjardins mengedipkan mata beberapa kali, seolah bingung . "Barangkali
kau benar. Aku aku hams memikirkan Hl ini ." Vladimir membungkukkan badan.
"Baiklah, tindakan mengumpulkan pasukan kita dan menunggu perint:III Ant
LI untuk menghancurkan Rumah Brooklyn." "Menghancurkan ...."
Desjardins mengerutkan ken ing. Ya, kau akan menunggu perintahku. Aku akan
memilih waktu penyerangannya, Vladimir." "Bagus sekali, Tuanku. Dan
bagaimana jika anak-anak Kane mencari kedua gulungan lain untuk membangunkan
Ra? Yang satu di luar jangkauan mereka, tentu saja, tetapi yang satunya
lagi—" 'Akan kuserahkan hal itu padamu. Jagalah gulungan itu sebaik-baiknya."
Kedua mata Vladimir menjadi lebih mengerikan lagi ketika dia sedang
bersemangat—basah dan berkilat-kilat di balik kelopak mata yang rusak itu.
Kedua mata itu mengingatkanku pada hidangan sarapan kegemaran Kakek: dua butir
telur setengah matang dengan saus Tabasco. [Ya, maaf kalau itu menjijikkan,
Carter. Bagaimanapun juga, seharusnya kau tidak mencoba makan ketika aku sedang
bercerital] "Tuanku sungguh bijaksana," kata Vladimir.
"Anak-anak itu akan mencari kedua gulungan itu, Tuanku. Mereka tidak punya
pilihan lain. Jika mereka meninggalkan benteng mereka dan memasuki wilayah
kekuasaanku—" "Bukankah sudah kubilang kita akan menyingkirkan
mereka?" Tukas Desjardins ketus. "Sekarang tinggalkan aku. Aku hams
berpikir." Vladimir mengundurkan diri ke dalam bayang-bayang. Untuk
seseorang yang berpakaian serba putih, dia berhasil menghilang dengan cukup
baik.
Desjardins mengalihkan kembali perhatiannya pada tirai
cahaya yang berpendar-pendar. "Sebuah zaman baru renungnya, "zaman
kegelapan Ba-ku berputar memasuki arus Duat, melesat kembali ke tubuhku yang
sedan; tiditr. "Sadie?" Sebuah
stiara berkata. Aku te r( R luk tentenipat tidur, jantungku berdentam-dentam.
Cahaya kclabti NO hari mcmenuhi jendela. Duduk di ujung tempat (Rim Paman
Amos?" Aku tergagap. Dia tersenyum. "Selamat ulang tahun, Sayang.
Maaf kalau aku membuatmu takut. Kau tidak menyahut saat aku mengetuk pintu. Aku
khawatir." Dia terlihat sudah benar-benar pulih dan berpenampilan semodis
biasanya. Dia mengenakan kacamata berbingkai kawat, topi pendek, dan kemeja wol
dari Itali berwarna hitam yang membuatnya tidak terlihat terlalu pendek dan
gempal. Rambut panjangnya dikepang ketat dan dihiasi batu-batu hitam yang
gemerlapan—batu obsidian, barangkali. Dia bisa dikira sebagai musisi jaz (yang memang
pekerjaannya) atau pimpinan mafia Afrika Amerika (yang bukan pekerjaannya). Aku
sudah hendak bertanya, "Bagaimana—?" Lantas apa yang kulihat di Aula
Zaman—implikasi dari apa yang kulihat—meresap ke dalam benakku. "Segalanya
baik-baik saja," kata Amos. "Aku baru kembali dari Mesir." Aku
berusaha menelan ludah. Napasku nyaris sama beratnya dengan napas pria yang
mengerikan itu, Vladimir. "Begitu juga aku, Amos. Segalanya sama sekali
tidak baik-baik saja. Mereka akan datang untuk membinasakan kita."[]
4.SADIE
UNDANGAN
ULANG TAHU KE ARMAGEDON(Armageddon: disebut-sebut sebagai perang terakhir
antara Keteraturan mela-wan Kekacauan—peny 9 Sihir Simpati, juga dikenal
sebagai sihir meniru - (imitative magic), adalah jenis sihir berasaskan
peniruan atau ("rupa") seumpama dengannya—wikipedia )
SETELAH MENCERITAKAN PENGLIHATANKU YANG MENGERIKAN, hanya
ada satu hal yang harus dilakukan: makan Magi dengan selayaknya. Amos tampak
terguncang, tetapi dia bersikeras agar kami i nenunda pembahasan masalah itu
sampai kami mengumpulkan seluruh Nome Kedua Puluh Satu (sebutan cabang Dewan
Kehidupan kami). Dia berjanji akan menemuiku di beranda dua puluh menit lagi.
Setelah dia pergi, aku mandi dan menimbang-nimbang apa yang akan kukenakan.
Biasanya, aku mengajar Sihir Simpati9 pada hari Senin, yang mengharuskanku
mengenakan pakaian penyihir yang terbuat dari kain linen. Namun, hari ulang
tahunku sudah seharusnya merupakan hari liburku. Melihat situasinya, aku ragu
Amos, Carter, dan Bast akan mengizinkanku pergi ke London, tetapi kuputuskan
untuk berpikir positif. Aku mengenakan jin robek-robek, combat boots-ku,
atasan
Tanpa lengan, dan jaket kulit- tidak baik unruk sihir,
tetapi aku sedang merasa ngin memberontak .
Ku jejalkan tongkat sihir dan patung carter mini kedalam tas
perbekalan sihirku. Aku sudah hendak menyelempangkan nya ake pada hari ulang
tahun ku.
Akumenarik napas dalam dalam dan berkonsentrasi untuk
membuka ruanga di duat. Aku benci mengakuinya ,tetapi aku payah dalam melakukan
sihir ini.benar benar tidak adikklcarter bias mengambil berbagai benda dari
udara kosong dalam sekejap, sementara aku biasanya memerlukan liama atau
sepuluh menit konsentrasi penuh,dan bahkan setelah itu upaya tersebut mrmbuatku
merasa mual.seringkali ,lebih mudah untuk tetapmembawa tas itu di bahuku .namun
jika aku pergi bersama teman teman ku ,aku tidak ingin meninggalkan di sini.
Akhirnya ,udara berpendar saat duar menuruti kehendakku .ku
lemparkan task u kedepan ,dan benda itu pun menghilang . bagus sekali –dengan
anggapan aku tahu cara mengambilnya nanti
Aku mengambil gulunga yang kami curi dari Bullwinkle tadi
malam dan menuju kelantai bawah.
Karna semua orang sedang sarapan ,rumah besar itu menjadi
hening,tidak seperti biasanya .5 tingkat balkon menghadap ke aula besar .jadi,
biasanya tempat itu riuh rendah dan penuh kesibukan; tetapi aku ingat betapa
lengan tempat ini ketikaa carter dan
aku pertamakalii tiba natal salaam.
Sebagai besar hiaasan di aula masi samma :patung thoth berukuran raksasa di
tengah ruangan ,kolekssi senjata dan
alat music jazz milik amoss di sepanjang didnding ,karpet kulit ular seukuraan garasi di depan perapian .namun
kita bias tahubahwa ada 20 penyihir muda yang sekarang tinggal disaana . aneka
ragam remot control ,ipad ,bungkus makanan ringan dan patung patung shabtiaa berserakaan dimeja
.seseorang yang berkaki besr-mungkin Julian- telah meninggalkan sepatu
olahraganya yang berlumur lumpur di tangga .lalu salah seorang murid kami
–kuduga felix- telah menyihir perapian menjadi negri ajaib antartika , lengkap
degan salju dan seekot penguin hidup .felix memang sangat menyukai penguin .
Sapu dan lap pel sihir melesat kesana kemari dalam rumah,
berusaha membersihkan rumah.akuharus sampai menundukan kepala supaya tidak kena
lap kaarna alaaasan tertentu ,lap itu mengira rambut ku merupakan sesuatu di
dalam rumah yang harus di tanganni.
[tidak usah berkomentar,carter]
Seperti yang sudah ku duga ,semua orang berkumpullll di
bearanda ,yang berfungisi sebagai ruang makan kamu serta habitat sang buaya
albino.philip dari makedonia berkecipak dengan riang di kolam nua ,melompat
menjemput irisan bacon setiap kali seseorang murid melemparkan pada buaya nya
tersebut .pagi itu dingin dan berhijan ,tetapi api dalam perapian sihir terus
membuat kami tetap hangat
Aku menyambaar sebuah pain au chocolat dan secangkir the
dari meja lalu di adukk kemudiam aku
menyadari bahwa yang lain tidak sedang makan
,mereka memandangi ku
Di ujung mejaa ,amost dan bast tampak muram.di sebrang ku
,carter belum menyentuh piringnya yang
berisi wafel ,sesuatu yang sangaaat tidak seperti dia.dia di sebelah kanan ku
.kursi jaz kosong (amos member tahu ku bahwa
jaaz masih di ruang perawatan, belum ada perubahan).di sebelah kiriku
duduklah walt tampak sekeren biasanyaa
, tetapi aku berussaha sebisa ku untuk mengabaikannyaa
Murid murud yang lain tampak berbeda dalam berbagai kondisi
terguncang .mereka terdiri berbagai
aneka ragam anak
berbagai usia dari seluruh penjuru dunia. Beberapa murid
lebih tua daripada Carter dan aku—bahkan cukup tua untuk masuk universitas—yang
sebenarnya sangat cocok untuk menjaga anak-anak yang lebih muda, tetapi selalu
membuatku merasa sedikit tidak nyaman ketika mencoba bertindak sebagai guru
mereka. Sebagian besar anak yang lain berusia antara sepuluh hingga lima belas
tahun. Felix berusia sembilan tahun. Ada Julian dari Boston, Alyssa dari
Carolina, Sean dari Dublin, dan Cleo dari Rio de Janeiro (ya, aku tahu, Cleo
dari Rio, tetapi aku tidak mengarang-ngarangnyal.). Kesamaan kami semua: darah
para firaun. Kami semua memiliki garis keturunan kerajaan Mesir, yang memberi
kami kemampuan alamiah untuk melakukan sihir dan menampung kekuatan para dewa.
Satu-satunya yang tidak tampak terpengaruh oleh suasana muram itu adalah Khufu.
Untuk alasan-alasan yang tak pernah benar-benar kami pahami, babun kami itu
hanya menyantap makanan yang diakhiri dengan huruf 0. Baru-baru ini dia
menemukan Jell-0, yang dia anggap sebagai zat ajaib. Kurasa huruf 0 besar
membuat segala sesuatu terasa lebih enak. Sekarang dia memakan hampir semua hal
yang terbungkus dalam gelatin itu—buah, kacang, serangga, hewan-hewan kecil.
Saat ini dia tengah membenamkan wajah di dalam gundukan merah hidangan sarapan
yang bergetar dan mengeluarkan bunyi-bunyian tidak sopan saat dia menggali
gundukan itu untuk mencari anggur. Yang lain memandangiku, seolah-olah menunggu
penjelasan. "Pagi," gumamku. "Hari yang indah. Ada penguin di
perapian, jika ada yang tertarik." "Sadie," kata Amos dengan
lembut, "sampaikan pada semua orang apa yang telah kau ceritakan
padaku." Kuteguk sedikit teh untuk menenangkan sarafku. Lalu kucoba untuk
tidak terdengar ketakutan saat menceritakan kunjunganku ke Aula Zaman.
Setelah aku selesai, bunyi yang terdengar hanyalah api yang
retih di tungku dan Philip dari Makedonia yang berkecipak di kolam. Akhirnya si
Sembilan Tahun Felix menanyaknya apa yang ada di benak , ." semua orang:
"Kalau begitu, apakah kita semua ka mati? "Tidak." Amos
mencondongkan tubuh ke depan " jelas tidak. Anak-anak, aku tahu aku barn
tiba. Aku nyaris tak kertemu sebagian besar di antara kalian, tetapi aku berjanji
kami melakukan segala yang kami mampu
untuk kalian. Rumah ini dilindungi dengan beberapa lapis perlindungan . Ada
seorang dewi besar yang berada di pihak kalian—" memberi isyarat ke arah
Bast, yang tengah membuka sekaleng ikati tuna dengan jari-jemarinya—"dan
keluarga Kane yang melindungi kalian. Carter dan Sadie lebih kuat dari yang
mungkin kalian sadari, dan aku pernah bertempur melawan Michel Desjardins
sebelumnya, jika memang hal itu harus terjadi." Mengingat segala masalah
yang kami hadapi Natal lalu, pidato Amos terasa tidak terlalu optimis, tetapi
para murid tampaklega. masih beili: mereka sudah cukup positif akan menyerang
kita." Amos mengerutkan alis. "Barangkali, tapi aku "Jika memang
hal itu hams terjadi?" Tanya Alyssa, 'Pertn percaya Desjardins sampai
menyetujui langkah sebodoh itu. Apophis-lah musuh yang sebenarnya, dan
Desjardins tahu itu. Dia seharusnya sadar bahwa dia memerlukan segala bantuan
yang bisa dia dapatkan. Kecuali ...." Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Apa pun yang dia pikirkan, tampaknya hal itu sangat mengganggunya.
"Bagaimanapun juga, jika Desjardins memutuskan untuk menyerbu kita, dia
akan merencanakannya dengan cermat. Dia tahu rumah ini tidak akan jatuh dengan
mudah. Dia tidak boleh sampai dipermalukan oleh keluarga Kane lagi. Dia akan
mengkaji masalah ini mempertimbangkan dan mengumpulkan
pasukannya. Dia perlu waktu beberapa hari
untuk bersiap-siap—waktu yang seharusnya dia gunakan untuk
menghentikan Apophis." Walt mengangkat jari telunjuknya. Aku tidak tahu
ada apa dengan Walt, tetapi dia memiliki semacam daya tarik yang menyedot
perhatian kelompok ketika dia hendak berbicara. Bahkan Khufu mendongak untuk menatapnya
dari gundukan. Jell- o. "Jika Desjardins memang menyerang kita," kata
Walt, "persiapannya pasti sudah matang, bersama penyihir-penyihir yang
jauh lebih berpengalaman daripada kita. Bisakah dia menerobos pertahanan
kita?" Amos menatap pintu kaca geser, mungkin mengingat terakhir kali
pertahanan kami diterobos. Hasilnya tidak bagus. "Kita harus memastikan
hal itu tidak terjadi," katanya. "Desjardins tahu apa yang sedang
kita upayakan, dan tahu kita hanya punya waktu lima hari—ya, empat hari
sekarang. Menurut penglihatan Sadie, Desjardins mengetahui rencana kita dan akan
mencoba menghalanginya karena dia memiliki keyakinan yang keliru bahwa kita
bekerja di pihak Kekacauan. Namun, jika kita berhasil, kita punya daya tawar
untuk membuat Desjardins mundur." Cleo mengangkat tangannya. "Engg
kami tidak tahu rencananya. Empat hari untuk melakukan apa?" Amos memberi
isyarat ke arah Carter, mempersilakan Carter menjelaskan. Aku tidak keberatan.
Sejujurnya, aku merasa rencana itu sedikit gila. Kakakku menegakkan duduknya.
Aku harus memberinya pujian. Selama beberapa bulan terakhir, dia menampakkan
kemajuan dalam hal meniru remaja normal. Setelah enam tahun hanya belajar di
rumah dan berkelana bersama Ayah, Carter benar-benar tidak tahu apa-apa. Dia
berpakaian seperti seorang eksekutif yunior, dengan kemeja putih rapi dan
celana pantalon. Sekarang setidaknya dia sudah terbiasa mengenakan jins dan
kaus , kadang-kadang jaket bertudung. Dia membiarkan rambut
ikalnya memanjang dan agak kusut—yang terlihat jauh lebih balk. Jika terus
membuat kemajuan, cowok itu bahkan mungkin bisa mendapatkan pacar suatu hari
nanti. [Apa? Jangan menyikutku. Itu pujianl] "Kita akan membangkitkan Dewa
Ra," kata carter seolah-olah itu semudah mengambil kudapan dari lemari es. Para
murid saling berpandangan. Carter tidak terkenal suka bercanda, tetapi mereka pasti bertanya-tanya
apakah dia membuat lelucon. "Maksudmu Dewa Matahari," kata Felix,
"mantan raja I" dewa." Carter mengangguk. "Kalian semua
tahu ceritanya. Ribuan tahun silam, Ra menjadi pikun dan mengundurkan diri ke langit,
meninggalkan Osiris yang mengambil alih tampuk kekuasaan. Kemudian Osiris
digulingkan oleh Set. Kemudian Flowsmengalahkan Set dan menjadi firaun.
Kemudian—" Aku berdeham. "Versi singkatnya saja." Flows Carter
melemparkan tatapan jengkel padaku. "IntinYa, Ra adalah raja para dewa yang
pertama dan paling kuat. Kauai yakin Ra masih hidup. Dia hanya tertidur di
suatu tempat nun
jauh di lubuk Duat. Jika kita bisa membangunkannya—"
"Tapi jika dia pensiun karena pikun," kata Walt, "bukankah itu
berarti dia sudah sangat, sangat pikun sekarang?" Aku sudah menanyakan hal
yang sama ketika Carter pertama kali memberitahukan gagasan itu padaku. Kami
benar-benar tidak memerlukan dewa yang teramat sangat kuat tetapi tak bisa
mengingat namanya sendiri, berbau seperti orang jompo, dan mengiler saat tidur.
Lagi pula, bagaimana mungkin makhluk yang tak bisa mati bisa pikun? Tak ada
yang dapat memberiku jawaban memuaskan. Amos dan Carter menatap Bast, langkah
yang mast* akal, karena dialah satu-satunya dewi Mesir yang hadir.
Bast mengerutkan dahi ke arah tuna kalengan yang tidak
tersentuh. "Ra adalah Dewa Matahari. Pada zaman dahulu kala, dia menua
seiring hari menua, kemudian berlayar melalui Duat dengan kapalnya setiap malam
dan terlahir kembali bersama terbitnya matahari setiap pagi." "Tapi
matahari tidak terlahir kembali," selaku, "itu cuma rotasi
bumi—" "Sadie," Bast memperingatkan. Ya, ya. Mitos dan rains
sama-sama benar—sekadar versi yang berbeda dari realitas yang sama, bla, bla,
bla. Aku sudah pernah mendengar ceramah itu seratus kali, dan aku tidak ingin
mendengarnya lagi. Bast menunjuk ke arah gulungan itu, yang kuletakkan di
sebelah cangkir tehku. "Ketika Ra berhenti melakukan perjalanan malamnya,
siklus itu terputus, dan Ra menghilang ke dalam senjakala abadi—setidaknya,
begitulah yang kami duga. Namun, jika kita bisa menemukannya di dalam Duat—dan
itu adalah pengandaian yang besar—mungkin saja dia bisa dibawa kembali dan
terlahir lagi dengan sihir yang tepat. Kitab Ra menjelaskan bagaimana hal ini
bisa dilakukan. Para pendeta Ra menciptakan kitab ini di zaman kuno dan
merahasiakannya, memecahnya menjadi tiga bagian, untuk digunakan hanya jika
dunia akan kiamat." "Jika dunia akan kiamat?" Tanya Cleo,
"maksudmu Apophis benar-benar akan akan menelan matahari?" Walt memandangku.
"Apakah itu mungkin? Dalam ceritamu mengenai Piramida Merah, kau bilang
Apophis berada di balik rencana Set untuk menghancurkan Amerika Utara. Dia
mencoba menimbulkan teramat banyak kekacauan supaya dia bisa keluar dari
penjaranya." Aku menggigil, mengingat penampakan yang sempat terlihat pada
langit di atas Washington D.C.—seekor ular raksasa yang
"Apophislah masalah sesungguhnya," aku
menyepakati. Kami pernah menghentikannya satu kali, tapi penjaranya makin
melemah. Jika dia berhasil meloloskan diri—" "Dia pasti berhasil,"
sambar Carter. "Empat hari lagi. Kecuali kita bisa menghentikannya. Jika
dia lobos, dia akan menghancurkan peradaban—segala sesuatu yang pernah dibangun
oleh manusia sejak permulaan Mesir." Kata-kata Carter membuat gelombang
rasa ngeri yang merambat melalui meja sarapan. Carter dan aku sudah bicara
empat mata mengenai tenggat empat hari itu, tentu saja. Horns dan Isis
sama-sama pernah membicarakannya dengan kami. Namun, dulu hal itu terlihat
lebih seperti kemungkinan mengerikan ketimbang kepastian mutlak. Kini, Carter
terdengar yakin. Aku mengamati wajahnya dan menyadari dia telah melihat sesuatu
tadi malam—mungkin penglihatan yang bahkan lebih menakutkan daripada
penglihatanku. Ekspresinya mengatakan, Tidak di sini, akan kuceritakan nanti.
Bast menancapkan kuku ke meja makan. Apa pun rahasia Carter, dia pasti
mengetahuinya. Di ujung meja, Felix menghitung jarinya. "Mengapa empat
hari? Apa yang begitu istimewa dengan engg, tanggal dua puluh satu Maret?"
"Ekuinoks("Ekuinoks: saat matahari melintasi ekuator sehingga siang
dan malam bagi tern-pat-tempat di lintang 0 derajat sama panjang; saat busur
slang dan busur malam matahari sama panjang bagi semua tempat di bumi,
diperkirakan terjadi pada tanggal 21 Maret dan 23 September—KBBI ) musim
semi," jelas Bast. "Waktu yang sangat kuat untuk sihir. Waktu siang
dan malam sama panjang, yang berarti kekuatan Kekacauan dan Ma'at bisa dengan
mudah saling menjatuhkan. Itu waktu yang tepat untuk membangunkan Ra. Malah,
itu satu-satunya kesempatan kita sampai ekuinoks musim
gugur, enam bulan dari sekarang. Tapi kita tak bisa menunggu
selama itu." "Karena sayangnya," tambah Amos, "ekuinoks
juga merupakan waktu yang sempurna bagi Apophis untuk melepaskan diri dari
penjaranya dan menyerbu dunia manusia. Kalian boleh yakin bahwa dia memiliki
kaki-tangan yang sedang mengusahakan hal itu sekarang. Menurut sumber-sumber
kami di kalangan dews, Apophis akan berhasil, dan itulah sebabnya kita harus membangunkan
Ra terlebih dulu." sudah mendengar semua ini sebelumnya, tetapi membicarakannya
secara terbuka, di depan semua murid kami, dan melihat mimik terguncang pada wajah-wajah mereka,
membuat semuanya menjadi terasa jauh lebih menakutkan dan nyata. Aku berdeham.
"Benar Jadi, ketika Apophis keluar dari penjara, dia akan berusaha menghancurkan
Ma'at, tatanan jagat raya. Dia akan menelan matahari, menjebloskan seisi dunia
dalam kegelapan abadi, dan bila tidak begitu, membuat kita menghadapi hari yang
sangat berat." "Itulah sebabnya kita memerlukan Ra." Amos
mengubah nada suaranya, membuat suaranya terdengar tenang dan meyakinkan bagi
para murid kami. Dia memancarkan ketenangan sedemikian rupa, sampai-sampai aku
pun merasa ketakutanku berkurang. Aku bertanya-tanya apakah ini semacam sihir,
ataukah dia sekadar lebih pandai menjelaskan tentang kiamat ketimbang aku.
"Ra adalah musuh bebuyutan Apophis," lanjut Amos. "Ra adalah
Penguasa Keteraturan, sementara Apophis adalah Penguasa Kekacauan. Sejak
permulaan zaman, kedua kekuatan ini terlibat dalam pertempuran abadi untuk saling
menghancurkan. Jika Apophis kembali, kita harus memastikan Ra ada di pihak kita
untuk menandinginya. Hanya dengan begitu kita punya peluang."
"Peluang?" kata Walt. "Dengan asumsi kita bisa menemukan Ra lalu
membangunkannya, dan seisi Dewan Kehidupan tidak membinasakan kita terlebih
dulu."
Amos mengangguk. "Tapi jika kita bisa membangunkan Ra,
itu merupakan prestasi yang jauh lebih besar daripada prestasi yang pernah
dicapai penyihir mana pun. Itu akan membuat Desjardins berpikir dua kali. Sang
Ketua Lector ... ya, sepertinya dia sedang tidak berpikir jernih, tapi dia
bukan orang bodoh. Dia menyadari bahaya kemunculan Apophis. Kita harus
meyakinkannya bahwa kita berada di pihak
yang sama, bahwa jalan dewa-dewi adalah satu-satunya jalan untuk mengalahkan Apophis.
Aku lebihmemilih ini daripada
melawannya." Secara pribadi, aku ingin menonjok muka Desjardins dan membakar
janggutnya, tetapi kurasa Amos ada benarnya. Cleo, anak yang malang itu,
menjadi sehijau kodok. Dia jauh-jauh datang dari Brasil ke Brooklyn untuk mempelajari
jalan Thoth, Dewa Pengetahuan, dan kami sudah menetapkannya sebagai calon
pustakawan kami, tetapi ketika bahaya yang harus dihadapi nyata, (Ian bukan
hanya berada di halaman buku ya, perutnya memang agak lemah. Kuharap dia bisa
mencapai tepian teras jika dia perlu memuntahkan isi perutnya.
"Gu—gulungan itu," akhirnya dia berhasil berbicara, "kau bilang
ada dua bagian lagi?" Kuambil gulungan itu. Dalam cahaya siang, benda itu
tampak lebih rentan—rapuh, kuning, dan mudah hancur. Jari-jariku y,Inetar. Bisa
kurasakan sihir mendengung dalam papirus itu pert arus listrik bertegangan
rendah. Kurasakan hasrat yang igat besar untuk membukanya. Aku mulai membuka
silinder itu. Carter menegang. Amos berkata, "Sadie ..." Jelas mereka
mengira Brooklyn akan terbakar lagi, tetapi tidak crjadi apa-apa. Kubentangkan
gulungan papirus itu dan kudapati I ).ihwa benda itu ditulisi coretan tidak
bermakna—bukan hieroglif, htikan bahasa apa pun yang bisa kukenali. Bagian
tepian papirus itu tidak rata, seolah-olah habis disobek.
"Kubayangkan bagian-bagian itu merupakan satu
kesatuan," ujarku. "Hanya bisa dibaca setelah ketiganya
digabungkan." Carter tampak terkesan. Namun, sejujurnya, aku mengetahui
beberapa hal. Pada petualangan terakhir kami, aku membaca sebuah gulungan papirus
untuk mengenyahkan Set, dan cara kerjanya hampir sama. Khufu mendongak dari
Jell-O. "Aghl" Dia meletakkan tiga butir anggur lengket di atas meja.
"Benar sekali," Bast menyetujui. "Seperti yang disampaikan
Khufu, ketiga bagian kitab itu merepresentasikan tiga aspek Ra—pagi, siang, dan
malam. Gulungan di sana itu adalah waktu Khnum. Kalian harus menemukan dua
bagian lainnya sekarang." Bagaimana Khufu bisa memasukkan semua itu ke
dalam satu gerutuan saja, aku tidak tahu, tetapi aku berharap aku bisa mempelajari
semua mata pelajaran dari guru babun. Aku pasti bisa menyelesaikan sekolah
lanjutan tingkat pertama dan tingkat atas dalam waktu seminggu. "Jadi,
kedua anggur yang lain," kataku, "maksudku, kedua gulungan yang lain
... menurut penglihatanku tadi malam, tidak akan mudah ditemukan." Amos
mengangguk. "Bagian yang pertama hilang ribuan tahun silam. Bagian
tengahnya berada dalam kepemilikan Dewan Kehidupan. Benda itu sudah dipindah
berkali-kali, dan selalu dijaga dengan ketat. Berdasarkan penglihatanmu, menurutku
gulungan itu sekarang berada di tangan Vladimir Menshikov." "Si
Tukang Es Krim," tebakku. "Siapa dia?" Amos menelusuri sesuatu
di meja dengan jarinya—barangkali suatu hieroglif perlindungan. "Penyihir
paling kuat nomor tiga di dunia. Dia juga salah satu pendukung terkuat
Desjardins. Dia memimpin Nome Kedelapan Belas, di Rusia."
Bast mendesis. Sebagai kucing, dia cukup mahir melakukan
"Vlad si Bengek(ii Bengek: asma. Dinamakan Vlad si Bengek karena ketika
sedang kambuh, pengi-dap asma mengeluarkan suara dari tenggorokannya ketika
bernapas, mirip suara yang dikeluarkan Vladimir Menshikov—peny ) . Dia punya
reputasi jahat." Aku ingat matanya yang rusak dan suaranya yang serak.
"Aria uig terjadi pada wajahnya?" Bast sudah hendak menjawab, tetapi
Amos menukasnya "Pokoknya dia cukup
berbahaya," dia memperingat kali " bakat utama Vlad adalah membungkam penyihir-penyihir
yang tidak taat aturan."
"Maksudmu dia itu pembunuh?" tanyaku, "hebat sekali. Dan
Desjardins baru saja memberinya izin
untuk memburu Carter dan aku jika kami
meninggalkan Brooklyn." "Yang memang harus kalian lakukan
nanti," kata Bast, "jika kalian ingin mencari bagian lain Kitab Ra. Kalian
hanya punya waktu empat hari." "Ya," gumamku, "kau boleh
bilang begitu. Kau akan menemani kami, kan?" Bast menunduk, menatap tuna
kalengannya. "Sadie ...." Nada suaranya terdengar merana.
"Carter dan aku lidah bicara dan ya, harus ada yang memeriksa penjara
Apophis. Kita harus tahu apa yang terjadi, bagaimana kondisi penjara itu, dan
apakah ada cara untuk mencegah bobolnya penjara itu. Hal itu membutuhkan
pemeriksaan langsung." Aku tidak percaya aku mendengar ini. "Kau akan
kembali ke sana? Setelah segala yang dilakukan orangtuaku untuk
membebaskanmu?" "Aku hanya akan mendekati penjara itu dari
luar," Bast berjanji. "Aku akan berhati-hati. Bagaimanapun juga aku
ini makhluk yang mahir menyelinap. Lagi pula, hanya aku yang tahu bagaimana
menemukan selnya, dan bagian Duat yang itu mematikan bagi
manusia fana. Aku—aku hams melakukan ini." Suaranya bergetar. Dia pernah
mengatakan padaku bahwa kucing bukanlah hewan pemberani, tetapi kembali ke
penjara lamanya sepertinya merupakan perbuatan yang cukup berani. "Aku
tidak akan meninggalkan kalian tanpa penjagaan," dia berjanji. "Aku
punya teman. Dia seharusnya tiba dari Duat besok. Aku sudah memintanya untuk
mencari dan melindungi kalian." "Teman?" Tanyaku. Bast gelisah.
"Ya semacam itulah." Itu tidak terdengar menjanjikan. Aku menatap
pakaian jalan-jalanku. Rasa masam memenuhi mulutku. Carter dan aku hams
melangsungkan perburuan lagi dan kecil kemungkinan kami bisa kembali dalam
keadaan hidup. Satu tanggung jawab lagi di pundakku, sebuah tuntutan tidak
masuk akal lagi agar aku mengorbankan hidupku untuk menyelamatkan dunia.
Selamat ulang tahun untukku. Khufu besendawa dan mendorong piring kosongnya
menjauh. Dia memamerkan taringnya yang bernoda Jell-O seolah hendak mengatakan
Ya, sudah diputuskan! Sarapan yang enak! "Aku akan berkemas," kata
Carter. "Kita bisa berangkat satu jam lagi." "Tidak,"
ujarku. Aku tidak yakin siapa yang lebih terkejut—aku atau kakak lelakiku itu.
"Tidak?" Tanya Carter. "Ini hari ulang tahunku," kataku,
yang mungkin membuatku terdengar seperti berandal kecil berusia tujuh
tahun—tetapi saat itu aku tidak peduli. Para murid terpana. Beberapa orang
menggumamkan ucapan selamat. Khufu menawariku mangkuk Jell-O-nya yang sudah
kosong sebagai hadiah. Dengan setengah hati Felix mulai
menyanyikan "Selamat Ulang Tahun," tetapi tidak
ada yang ikut bernyanyi. Jadi, dia berhenti. " Bast bilang temannya barn
datang besok," lanjut ku. "Amos it tang Desjardins perlu waktu untuk
mempersiapkan serangan apa pun yang diniatkannya. Lagi pula, aku aku sudah lama
sekal merncanakan perjalanan ke London
ini. Kurasa aku bisa libur 1 hari saja sebelum dunia kiamat." Yang lain
memandangiku. Apakah aku egois? Baiklah, memang Tidak bertanggung jawab? Mungkin. Jadi,
mengapa aku merasa Nangat ingin mempertahankan keputusanku? Barangkali ini
mengagetkan kalian, tetapi aku tidak suka tlik endalikan. Carter mendiktekan
apa yang harus kami lakukan, tetaipi seperti biasa dia belum memberitahukan
semuanya padaku. diajelas telah berkonsultasi dengan Amos dan Bast dan membuat
.strategi. Mereka bertiga telah memutuskan apa yang terbaik tanpa mau
repot-repot bertanya padaku. Satu-satunya teman yang selalu menemaniku, Bast,
akan meninggalkanku untuk menempuh misi yang amat sangat berbahaya. Sementara
aku akan terjebak bersama kakakku pada hari ulang tahunku, melacak satu lagi
gulungan sihir yang mungkin membakarku atau lebih buruk dari itu. Maaf. Aku
tidak akan pergi sekarang. Jika aku akan mati, maka itu bisa menunggu hingga
besok pagi. Raut wajah Carter separuh marah, separuh tidak percaya. Biasanya,
kami berusaha menjaga kesopanan di depan murid-murid kami. Sekarang aku
mempermalukannya. Dia selalu mengeluhkan betapa aku terburu-buru melakukan
segala sesuatu tanpa berpikir. Tadi malam dia jengkel padaku karena mengambil
gulungan itu, dan kuduga di sudut benaknya dia menyalahkanku atas kacaunya
situasi—atas terlukanya Jaz. Jelaslah dia melihat hal ini sebagai satu lagi
contoh sifatku yang sembrono. Aku sudah siap menghadapi pertengkaran hebat, tetapi
Amos menengahi.
"Sadie, pergi ke London itu berbahaya." Dia
mengangkat tangannya sebelum aku sempat memprotes. "Tapi, jika kau harus
melakukannya ...." Dia menarik napas dalam-dalam, seola h-olah tidak
menyukai apa yang hendak dikatakannya. "... mal a setidak nya berjanjilah
kau akan berhati-hati. Aku ragu Viz d Menshikov sudah punya rencana untuk
melawan kita dalam waktu sesingkat itu. Kau seharusnya baik-baik saja selama
tidak menggunakan sihir, jangan melakukan apa pun yang menarik perhatian."
'Amos!" Carter memprotes. Amos membungkamnya dengan tatapan tegas.
"Sementai a Sadie pergi, kita bisa mulai membuat rencana. Besok pagi,
kalian berdua bisa memulai pencarian. Aku akan mengambil alih tugas mengajar
murid-murid kita, dan mengatur pertahanan Rumah Brooklyn." Aku bisa
melihat di mata Amos bahwa dia tidak ingin aku pergi. Itu tindakan yang bodoh,
berbahaya, dan gegabah—dengan kata lain, itu tindakan yang sangat Sadie. Namun,
bisa kurasakan simpatinya terhadap kondisiku. Aku ingat betapa Amos terlihat
rapuh setelah Set menguasai tubuhnya Natal silam. Ketika dia pergi ke Nome
Pertama untuk berobat, aku tahu dia merasa bersalah meninggalkan kami berdua
saja. Namun, demikian, itu adalah pilihan yang benar demi kesehatan jiwanya. Di
antara semua orang, Amos-lah yang tahu seperti apa rasanya memiliki kebutuhan
untuk pergi. Jika aku tetap di sini, jika aku langsung berangkat melakukan
pencarian tanpa meluangkan waktu untuk bernapas, aku merasa bisa-bisa aku akan
meledak. Lagi pula, aku merasa lebih baik karena mengetahui bahwa Amos akan
menggantikan kami di Rumah Brooklyn. Lega rasanya menyerahkan tugas mengajarku
untuk sementara waktu. Sejujurnya, aku ini guru yang buruk. Aku benar-benar
tidak punya kesabaran untuk itu. [Oh, diamlah, Carter. Kau tidak seharusnya
setuju denganku.
"Terima kasih, Amos," aku berhasil berbicara. Dia
berdiri, dengan jelas mengisyaratkan bahwa pertemuan Iudah selesai.
"Kurasa itu sudah cukup untuk satu pagi," katanya "Yang paling utama adalah kalian semua
harus melanjutkan latihan dan jangan berputus asa. Kita butuh kalian dalam kondisi
puncak mempertahankan
Rumah Brooklyn. Kita pasti menang. Dengan dewa-dewa di pihak kita, Ma'at akan mengalahkan seperti biasanya." Para murid masih
tampak risau, tetapi mereka berdiri dan mulai membersihkan alat makan
mereka. Carter melemparkan 1 lagi tatapan geram, kemudian berderap masuk dengan
march. Itu adalah masalah Carter. Aku bertekad tidak akan merasa bersalah. Aku
tidak mau ulang tahunku berantakan. Meski begitu, scat memandangi tehku yang
telah dingin dan pain au chocolat-ku yg tidak tersentuh, aku dilanda perasaan tidak
enak bahwa aku mungkin tidak akan duduk di depan meja ini lagi.
Satu jam kemudian aku siap untuk berangkat ke London. Aku
telah memilih tongkat baru dari gudang senjata dan menyimpannya di Duat bersama
perbekalanku yang lain. Kutinggalkan gulungan sihir Bullwinkle bersama Carter,
yang bahkan tidak mau bicara denganku, kemudian menjenguk Jaz di ruang
perawatan dan mendapatinya masih berada dalam keadaan koma. Sehelai waslap yang
telah dimantrai menjaga dahinya agar tetap dingin. Hieroglif penyembuhan
melayang-layang di sekitar tempat tidurnya, tetapi dia masih tampak begitu
rapuh. Tanpa senyumnya yang biasa, Jaz terlihat seperti sosok yang berbeda. Aku
duduk di sebelahnya dan menggenggam tangannya. Hatiku terasa seberat bola
bowling. Jaz telah mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi kami. Dia telah
menghadapi segerombolan Bau hanya berbekal beberapa minggu latihan. Dia telah
menyedot
energi dewi pelindungnya, Sekhmet, persis seperti yang kami
ajarkan padanya, dan upaya itu nyaris membunuhnya. Apa yang kukorbankan
akhir-akhir ini? Aku malah merajuk karena mungkin tak bisa menghadiri pesta ulang tahunku.
"aku sangat menyesal, Jaz."
Aku tahu dia tidak bisa mendengarku tetapi suaraku bergetar. "Hanya saja aku
aku bisa gila jika tidak pergi dari sini. Kami pernah harus menyelamatkan dunia
satu kali, dan sekarang aku harus melakukannya lagi ...." Aku membayangkan
apa yang akan dikatakan Jaz—jelas sesuatu yang menenangkan: Itu bukan salahmu,
Sadie. Kau berhak mendapatkan waktu beberapa jam. Itu hanya membuatku merasa
lebih buruk. Seharusnya aku tak pernah mengizinkan Jaz membahayakan dirinya
sendiri. Enam tahun silam, ibuku meninggal karena menyalurkan terlalu banyak
sihir. Dia terbakar saat menutup gerbang menuju penjara Apophis. Aku tahu itu,
tetapi aku tetap membiarkan Jaz, yang jauh lebih tidak berpengalaman, untuk
mempertaruhkan nyawanya supaya kami bisa selamat. Seperti yang kubilang tadi
aku ini guru yang buruk. Akhirnya aku tidak tahan lagi. Kuremas tangan Jaz,
kudoakan semoga dia cepat sembuh, dan kutinggalkan ruang perawatan itu. Aku
naik ke atap, tempat kami menyimpan relik untuk membuka portal—sebuah patung
Sphinx yang berasal dari puing-puing Heliopolis. Aku menjadi tegang ketika
melihat Carter di ujung seberang atap, tengah memberi makan Griffin dengan
segunduk daging kalkun panggang. Sejak tadi malam, Carter telah membangun
kandang yang cukup bagus untuk monster itu. Jadi, kurasa makhluk itu akan
tinggal bersama kami. Setidaknya si Griffin akan membuat burung-burung merpati
tidak berani hinggap ke atap. Aku nyaris berharap Carter akan mengabaikanku.
Aku sedang tidak ingin berdebat. Namun, ketika melihatku, dia mengerutkan
dahi, mengelap lemak daging kalkun dari tangannya, dan me-langkah
menghampiriku. Kutabahkan diriku untuk menerima omelan. Ternyata dia hanya
bergumam, "Hati-hati. Aku punya hadiah clang tahun untukmu, tapi aku akan
menunggusampai ….kau kembali." Dia tidak menambahkan kata-kata "dalam
keadaan masih bernyawa" , tetapi
rasanya aku mendengar itu dalam nada bicaranya. "Dengar, Carter—"
"Pergilah saja," katanya. "Berdebat tidak akan ada gunanya bagi
kita." Aku tidak yakin apakah harus merasa bersalah atau marah, api kurasa
dia ada benarnya. Pengalaman kami dengan hari ulang tahun tidaklah bagus. Salah
satu kenangan paling awalku adalah bertengkar dengan Carter di hari ulang tahun
keenamku, dan kue ulang tahunku meledak gara-gara energi magis yang kami
timbulkan. Barangkali, mengingat hal itu, seharusnya aku langsung wrgi saja
sendiri. Namun, aku tak bisa melakukan itu. "Aku minta maaf,"
semburku. "Aku tahu kau menyalahkanku karena mengambil gulungan itu tadi malam, dan karena
Jaz terluka, tapi aku merasa seolah diriku akan hancur—" "Bukan cuma
kau yang merasa begitu," katanya. Sesuatu mulai terasa mengganjal di
tenggorokanku. Aku begitu khawatir Carter marah padaku, sampai-sampai aku tidak
memperhatikan nada bicaranya. Dia terdengar benar-benar merana. "Ada
apa?" Tanyaku, "apa yang terjadi?" Dia mengusap tangannya yang
berminyak ke celananya. "Kemarin di museum ... salah satu roh itu—salah
satu dari mereka bicara padaku."
Dia menceritakan padaku mengenai pertemuannya yang ganjil
dengan Bau api itu, bagaimana waktu seolah melambat dan Bau itu memperingatkan
Carter bahwa pencarian kami akan gagal. "Dia bilang ...," suara
Carter pecah. "Dia bilang Zia tengah tertidur di Tempat Pasir Merah, entah
tempat macam apa itu. Dia bilang jika aku tidak menghentikan pencarian ini dan
menyelamatkannya, Zia akan mati." "Carter," ujarku hati-hati,
"apakah Bau ini menyebut nama Zia?" "Tidak, sih "Mungkinkah
maksudnya orang lain?" "Tidak, aku yakin. Maksudnya adalah Zia."
Aku berusaha menahan lidah. Jujur, aku berusaha. Namun, topik Zia Rashid telah
menjadi obsesi yang tidak sehat bagi saudaraku itu. "Carter, aku tidak
bermaksud tidak bersimpati," ujarku, "Tapi beberapa bulan terakhir
kau terus melihat pesan mengenai Zia di mana-mana. Dua minggu lalu, kau mengira
dia mengirimimu pesan darurat di dalam kentang tumbukmu." "Bentuknya
huruf Terukir persis di dalam kentang1" Aku mengangkat kedua tangan.
"Baiklah. Dan mimpimu tadi malam?" Kedua bahunya menegang. "Apa
maksudmu?" "Oh, ayolah. Waktu sarapan, kau bilang Apophis akan lepas
dari penjaranya pada saat ekuinoks. Kau terdengar sangat yakin, seolah-olah kau
sudah melihat buktinya. Kau sudah bicara dengan Bast dan meyakinkannya untuk
memeriksa penjara Apophis. Apa pun yang kau lihat pastilah sangat buruk."
"Aku entahlah. Aku tidak yakin." "Oh begitu." Kejengkelanku
memuncak. Jadi, Carter tidak ingin memberitahuku. Kami kembali saling
berahasia? Baiklah. "Akan kita lanjutkan nanti, kalau begitu,"
ujarku. "Sampai jumpa nanti malam."
"Kau tidak percaya padaku," kata Carter.
"Mengenai Zia." "Kau juga tidak memercayaiku. Jadi, kita
seri." Kami saling menatap dengan marah. Kemudian Carter rbalik dan
melangkah dengan kesal ke arah si Griffin. Aku nyaris memanggilnya agar
kembali. Aku tidak bermaksud semarah itu
padanya. Di lain pihak, meminta maaf bukanlah lebihanku, dan Carter juga agak
keras kepala. Aku beralih ke Sphinx dan memanggil pintu gerbang. Aku lidah
cukup mahir melakukannya, bila aku boleh menilai diriku . Seketika itu juga
pasir berbentuk corong berpilin munul di
hadapanku, dan aku melompat melewatinya. Sedetik kemudian, aku terguling keluar
di Cleopatra's Needle di tepi Sungai Thames. Enam tahun silam, ibuku meninggal
di sini. Ini bukan monumen Mesir favoritku. Namun, monumen itu adalah portal
sihir yang paling dekat dengan apartemen Kakek dan Nenek. Untungnya, cuaca
sedang jelek dan tidak ada orang di sekitar situ. Jadi, aku menyapu pasir dari
pakaianku dan menuju ke ,,tasiun bawah tanah. Tiga puluh menit kemudian, aku sudah
berdiri di undakan di depan apartemen kakek-nenekku. Aneh sekali rasanya berada
di rumah? Aku bahkan tidak yakin aku bisa menyebutnya sebagai rumah lagi.
Berbulan-bulan aku merindukan London—jalanan kota yang akrab, toko-toko
favoritku, teman-temanku, kamar lamaku. Aku bahkan merindukan cuacanya yang
suram. Namun, kini segalanya tampak begitu berbeda, begitu asing. Dengan gugup,
aku mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Aku yakin mereka sedang menantikan
kedatanganku. Aku mengetuk lagi. Barangkali mereka sedang bersembunyi,
menungguku masuk. Kubayangkan kakek-nenekku, Liz, dan Emma berjongkok di balik
perabotan, siap melompat dan berteriak "Kejutan!
Hmm Kakek dan Nenek berjongkok dan melompat. Sama sekali
tidak mungkin. Aku meraih kunci dan membuka pintu. Ruang tamu gelap dan kosong.
Lampu di tangga mati, sesuatu yang tak pernah diperbolehkan oleh Nenek. Dia
benar-benar takut jatuh dari tangga. Bahkan televisi Kakek tidak menyala. Ini
tidak benar. Kakek selalu menyetel pertandingan rugbi, walaupun dia tidak sedang
menontonnnya. Aku mengendus-endus udara. Pukul enam petang waktu London, tetapi
tidak ada bau biskuit dipanggang dari dapur. Nenek seharusnya memanggang
setidaknya seloyang biskuit untuk minum teh. Itu sudah tradisi. Kukeluarkan
ponselku untuk menelepon Liz dan Emma, tetapi ponselku mati. Aku yakin aku
sudah mengisi baterainya. Benakku baru saja mulai memproses sebuah pikiran—aku
berada dalam bahaya—ketika pintu depan terbanting tertutup di belakangku. Aku
berputar, rneraih tongkat sihirku, yang ternyata tidak kubawa. Di atasku, di
puncak ruang tangga yang gelap, sebuah suara yang jelas-jelas bukan suara
manusia mendesis, "Selamat datang kembali di rumah, Sadie Kane." []
5.CARTER
AKU BELAJAR
UNTUK MEMBENCI KUMBANG KOTORAN
TERIMA KASIH BANYAK, SADIE. Menyerahkan mik kepadaku ketika
kau mencapai bagian yang bagus. Jadi, yeah, Sadie pergi merayakan ulang
tahunnya ke London. Dunia akan kiamat dalam waktu empat hari, ada misi
pencarian yang harus kami lakukan, dan dia malah pergi untuk berpesta dengan
teman-temannya. Benar-benar tahu menempatkan prioritas, ya? Bukannya aku sinis
atau apa. Sisi baiknya, Rumah Brooklyn cukup tenang begitu dia pergi,
setidaknya sampai ular berkepala tiga muncul. Namun, pertama-tarna sebaiknya
aku menceritakan penglihatanku pada kalian. Sadie mengira aku menyembunyikan
sesuatu darinya saat sarapan, bukan? Ya, itu ada benarnya. Namun sejujurnya,
yang kulihat pada malam sebelumnya membuatku sangat ketakutan sehingga aku
tidak ingin membicarakannya, terutama pada hari ulang tahun Sadie. Aku
mengalami beberapa hal aneh sejak mulai belajar sihir, tetapi yang ini bisa
dianugerahi penghargaan Nobel untuk kategori Hal-Hal Aneh.
Setelah perjalanan kami ke Museum Brooklyn, aku tak bisa
tidur. Ketika akhirnya berhasil tidur, aku terbangun dalam tubuh yang lain. Itu
bukan perjalanan jiwa atau mimpi. Aku menjadi Horus Sang Pembalas. Aku pernah
berbagi tubuh dengan Horns sebelumnya. Dia berada di kepalaku selama hampir
satu minggu Natal silam, membisikkan saran-saran, kalau tidak sedang bersikap
menyebalkan. Saat pertempuran di Piramida Merah, aku bahkan mengalami penyatuan
yang sempurna antara pikiranku dan pikirannya. Aku menjadi apa yang oleh orang
Mesir disebut "Mata" dewa—semua kekuatannya berada di bawah kendaliku,
ingatan kami berbaur, manusia dan dewa bekerja sebagai satu sosok. Namun, saat
itu aku masih berada dalain tubuhku sendiri. Kali ini.situsinya terbalik. Aku menjadi tamu dalam tubuh horus
,dia sedang berdiri di haluan sebuah
kapal di sungai magis yg berkelok-kelok sepanjang Duat. Penglihatanku setajampenglihatan
elang . Di balik kabut, bisa kulihat berbagai bentuk tengah bergerak-gerak di dalam air—pungung-punggung
reptil bersisik Ian sirip-sirip yang berukuran sangat besar. Aku melihat
hantu-hantu orang mati hanyut di sepanjang kedua tepiannya. Jauh di atas,
langit-langit gua itu berkilau merah, seolah-olah kami tengah berlayar menuruni
tenggorokan sesosok makhluk hidup. Kedua lenganku berwarna perunggu dan
berotot, dilingkari gelang-gelang emas dan batu lapis lazuli. Aku mengenakan
baju zirah kulit untuk berperang, sebatang tombak di satu tangan dan khopesh di
tangan yang lain. Aku merasa kuat dan berkuasa seperti ya seperti dewa. Halo,
Carter, kata Horns, yang rasanya seperti bicara dengan diri sendiri.
"Horns, bagaimana kabarmu?" Aku tidak bilang padanya bahwa aku
jengkel karena dia mengganggu tidurku. Aku tak perlu mengatakannya. Aku sedang
berbagi pikiran dengannya.
Aku telah menjawab pertanyaanmu, kata Horus. Aku sudah
memberi tahu di mana kau bisa menemukan gulungan pertama. Sekarang kau hares
melakukan sesuatu untukku. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan kepadamu. Kapal
itu tersentak maju. Aku mencengkeram terali pada Iangkan pengemudi kapal. Saat menengok ke
belakang, ,bias kulihat itu adalah kapal
layar seorang firaun, dengan panja ng sekitar delapan belas meter dan berbentuk seperti kano
raksasadi bagian tengahnya, sebuah tenda
usang mengisi mimbar kosong tempat sebuah singgasana mungkin dulu pernah ada.
Pada sebuah tiang terdapat sehelai layar
segi empat yang dulu penuh hiasan, tetapi sekarang memudar dan menggantung
dalam keadaan company; camping. Di sisi kiri dan kanan, deretan dayung rusak
menjuntai tanpa guna. Kapal itu pasti telah ditelantarkan selama berabad-abad.
Tali-temalinya tertutupi sarang laba-laba. Tambang-tambangnya membusuk.
Papan-papan kayu di geladak kapal berderit dan berkeriat-keriut saat kecepatan
kapal bertambah. Kapal ini sudah tua, seperti Ra, kata Horns. Apakah kau
benar-benar ingin membuat kapal ini kembali bekerja? Biar kuperlihatkan padamu
ancaman yang akan kau hadapi. Kemudi membelokkan kapal ke dalam arcs. Tiba-tiba
saja kami melesat menuju hilir. Aku pernah berlayar di Sungai Malam sebelumnya,
tetapi kali ini kami sepertinya berada lebih jauh di dalam Duat. Udaranya lebih
dingin, riamnya lebih deras. Kami melompati sebuah air terjun yang terjal dan
melayang di udara. Ketika kapal kami menyentuh air lagi, monster-monster mulai
menyerang. Wajah-wajah mengerikan muncul—seekor naga laut bermata kucing,
seekor buaya berbulu landak, seekor ular berkepala mumi manusia. Setiap kali
sesosok monster muncul, kuangkat pedangku dan kutebas mereka, atau kuhunjam
dengan tombak agar menjauh dari kapal. Namun, mereka terus berdatangan, berubah
bentuk, dan aku tahu jika aku bukan Horns si Pembalas—jika aku
hanyalah Carter Kane yang berusaha menghadapi semua
kengerian ini—aku pasti sudah menjadi gila, atau mati, atau keduanya. Setiap
malam, seperti inilah perjalanannya, kata Horus. Bukan Ra yang menghalangi
makhluk-makhluk Kekacauan. Kami para dewa yang lainlah yang menjaganya supaya
tetap aman. Kami menahan Apophis dan antek-anteknya. Kami melompati satu lagi
air terjun dan jatuh menukik ke dalam pusaran air. Entah bagaimana, kami tidak
terbalik. Kapal itu berputar keluar dari dalam arus dan terapung-apung ke arah
pinggiran sungai. Tepian sungai di sini berupa hamparan batu-batu hitam yang
berkilauan—atau begitulah dugaanku. Saat kami semakin dekat, kusadari batu-batu
itu adalah cangkang serangga—jutaan kulit kumbang yang kering, terhampar hingga
kegelapan sejauh yang dapat kulihat. Beberapa ekor kumbang hidup bergerak
lambat di antara selongsong yang sudah kosong, sehingga seluruh bentangan darat
itu terlihat seperti sedang merayap. Aku bahkan tidak berusaha menggambarkan
bau beberapa juta kumbang kotoran yang sudah mati itu. Penjara sang ular, kata
Horus. Aku memindai kegelapan mencari sel penjara, rantai, sebuah lubang, atau
sesuatu. Yang kulihat hanyalah hamparan kumbang mati tanpa akhir. "Di
mana?" Tanyaku. Aku memperlihatkan tempat ini kepadamu dengan cara yang
bisa kau pahami, kata Horus. Jika kau berada di sini secara langsung, kau akan
terbakar menjadi abu. Jika kau melihat tempat ini seperti wujudnya yang sejati,
indra manusiamu yang terbatas akan meleleh. "Bagus sekali," gumamku.
"Aku suka sekali bila indra-indraku meleleh."
Kapal itu menyentuh daratan, membangunkan beberapa ekor
kumbang yang masih hidup. Seluruh tepian sungai itu tampak seperti sedang
menggeliat-geliut. Dulu, semua kumbang scarab ini hidup, ujar Horus, simbol
kelahiran kembali Ra setiap hari, yang menahan musuh. Seka ran p. hanya
segelintir yang masih tersisa. Sang ular pelan pelan memakan kumbang-kumbang itu agar dia bisa
keluar. "Tunggu, " ujarku. "Maksudmu ...." Di depanku,
garis tepian sungai membesar ketika sesunti di bawahnya mendesak ke atas—sebuah
sosok yang sangat besar tengah berjuang
untuk membebaskan diri. Kucengkeram pedang dan tombakku; tetapi bahkan dengan
segala kekuatan dan keberanian Horns, kudapati diriku gemetaran. Cahaya merah
bersinar di bawah kulit-kulit kumbang itu. Selongsong-selongsong itu meretih
dan bergeser saat sesuatu di bawahnya mendesak ke permukaan. Di balik lapisan
kumbang mati yang makin tipis itu, sebuah lingkaran merah selebar tiga meter
menatapku—mata sang ular, penuh kebencian dan lapar, Bahkan dalam wujud dewaku,
aku merasakan kekuatan Kekacauan membanjiriku seperti radiasi mematikan,
membakarku dari dalam, menggerogoti jiwaku—dan aku percaya apa yang dikatakan
Horns. Jika aku di sini dalam tubuhku sendiri, aku pasti akan hangus menjadi
abu. "Sebentar lagi ular itu akan bebas." Tenggorokanku seakan
tersumbat karena panik. "Horns, ular itu akan keluar—" Ya, jawab
Horns. Sebentar lagi Horns memandu tanganku. Aku mengangkat tombak dan I
nenghunjamkannya ke dalam mata sang ular. Apophis meraung murka. Tepian sungai
bergetar. Kemudian Apophis membenamkan I iri di bawah kulit-kulit kumbang mati,
dan cahaya merah pun nemudar. Namun, bukan hari ini, kata Horns. Pada saat
ekuinoks, ikatannya akan menjadi cukup rapuh sehingga sang Ular bisa
melepaskan din pada akhirnya. Jadilah avatarku lagi, Carter.
Bantu aku memimpin para dewa berperang. Bersama-sama kita mungkin bisa
menghentikan kebangkitan Apophis. Namun, jika kau membangunkan Ra dan dia
mengambil alih takhta, akankah dia punya kekuatan untuk memimpin? Layakkah
kapal ini melayari Duat lagi? "Kalau begitu mengapa kau membantuku
menemukan gulungan itu?" Tanyaku, "jika kau tidak ingin Ra
dibangunkan—" Kaulah yang harus memilih, kata Horns. Aku percaya padamu,
Carter Kane. Apa pun keputusanmu, aku akan mendukungmu. Namun, banyak dewa lain
tidak merasakan hal yang sama. Mereka berpikir peluang kita lebih baik bila aku
menjadi raja dan jenderal mereka, memimpin mereka berperang melawan sang Ular.
Mereka memandang rencanamu untuk membangunkan Ra sebagai sesuatu yang tolol dan
berbahaya. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk mencegah pemberontakan terbuka.
Aku mungkin tidak mampu mencegah mereka menyerangmu dan berusaha menghalangimu.
"Persis seperti yang kami butuhkan," ujarku, "tambahan
musuh." Tidak harus seperti itu, kata Horus. Sekarang kau telah melihat
musuhmu. Siapa yang menurutmu punya peluang lebih besar untuk melawan Sang
Penguasa Kekacauan—Ra atau Horus? Kapal itu bergerak menjauh dari bibir sungai
yang gelap. Horns melepaskan ba-ku, dan kesadaranku kembali melayang ke dunia
manusia fana seperti balon helium. Sepanjang sisa malam itu, aku bermimpi
tentang hamparan scarab mati, dan mata merah yang menatap tajam dari lubuk
penjara yang semakin melemah.
Jika aku bertingkah sedikit aneh keesokan paginya, sekarang
kau tahu sebabnya. Aku menghabiskan banyak waktu untuk bertanya-tanya, mengapa
Horns menunjukkan penglihatan ini padaku. Jawaban
[
gamblangnya: Horns sekarang adalah raja dewa-dewa. Dia tidak
ingin Ra kembali untuk menantang kekuasaannya. Dewa cenderung mementingkan diri
sendiri. Bahkan ketika membantu, mereka selalu punya motif pribadi. Itu
sebabnya kita harus hati-hati dalam memercayai mereka. Di lain pihak, Horns ada
benarnya. Lima ribu tahun silam saja, Ra sudah setua
itu. Tidak ada yang tahu bagaimana keadaanya sekarang. Bahkan bila kami berhasil
membangunkannya, tidak ada jaminan dia
akan membantu. Jika dia tampak sepayah kapalnya, aku tidak tahu bagaimana Ra
bisa mengalahkan Apophis. Horns bertanya padaku siapa yang punya peluang lebih
besar melawan Sang Penguasa Kekacauan. Kebenaran yang mengerikan: ketika aku
meneliti hatiku, jawabannya adalah tidak seorang pun di antara kami. Bukan para
dewa. Bukan para penyihir. Bahkan bukan kami semua walaupun kami semua bekerja
sama. Horns ingin menjadi raja dan memimpin para dewa berperang, tetapi musuh
ini lebih kuat dari apa pun yang pernah dia hadapi. Apophis setua semesta ini,
dan dia hanya takut pada satu musuh: Ra. Membawa kembali Ra mungkin tidak
berguna, tetapi naluriku mengatakan bahwa hanya itulah kesempatan kami. Dan
terus terang saja, fakta bahwa semua orang tents mengatakan padaku bahwa itu
adalah gagasan yang buruk—Bast, Horns, bahkan Sadie—membuatku semakin yakin
bahwa itu adalah langkah yang benar. Aku memang agak keras kepala seperti itu.
Pilihan yang benar nyaris tidak pernah merupakan pilihan yang mudah, Ayah
sering mengatakan ini padaku. Ayah telah menentang seisi Dewan Kehidupan. Dia
telah mengorbankan nyawanya sendiri untuk melepaskan para dewa karena dia yakin
itulah satu-satunya cara untuk menyelamatkan dunia. Sekarang tiba waktunya
bagiku untuk mengambil pilihan yang sulit.
Kita percepat cerita melewati sarapan dan pertengkaranku
dengan Sadie. Setelah dia melompat melewati portal, aku berada di atas atap
hanya ditemani kawan baruku si Griffin gila. Dia berteriak "FRIIIK!"
begitu keras sehingga aku memutuskan untuk m ena ma inya Freak; lagi pula, arti
Freak adalah gila, sesuai dengan kepribadiannya. Aku mengira dia akan
menghilang tadi malam-entah melayang
pergi atau kembali ke Duat—tetapi dia tampaknya senang berada di tempat bertenggernya yang
baru. Aku menghiasi tempat itu dengan setumpuk koran pagi, yang semuanya
menampilkan kepala berita mengenai ledakan gas limbah aneh yang telah melanda
Brooklyn tadi malam. Menurut laporan-laporan mereka, gas tersebut memicu
kebakaran aneh di area itu, mengakibatkan kerusakan besar di museum, dan
membuat sebagian orang menderita mual, pusing, bahkan berhalusinasi melihat
seekor burung kolibri seukuran badak. Gas limbah tolol. Aku tengah melemparkan
daging kalkun panggang lagi kepada Freak (ya ampun, nafsu makannya besar
sekali) ketika Bast muncul di sebelahku. "Biasanya aku suka burung,"
katanya, "tapi makhluk itu menakutkan." "FRIIIK!" sahut
Freak. Dia dan Bast saling mengamati seolah masing-masing sedang mengira-ngira
seperti apa rasa satu sama lain untuk makan siang. Bast menghela napas.
"Kau tidak akan memeliharanya, kan?" "Ya, dia tidak diikat atau
apa," ujarku, "dia bisa pergi kalau mau. Kurasa dia suka di sini."
"Bagus sekali," gumam Bast, "satu hal lagi yang mungkin
membunuhmu ketika aku pergi." Menurutku, Freak dan aku cukup rukun, tetapi
kurasa tak ada satu pun perkataanku yang bisa menenangkan Bast. Dia sudah
mengenakan pakaian perjalanan. Di atas baju kulit macan tutul yang biasa
dipakainya, dia mengenakan mantel hitam panjang yang diberi sulaman hieroglif
pelindung. Ketika
dia bergerak, kain mantel itu berpendar, membuat Bast tampak
timbul tenggelam dari penglihatan. "Berhati-hatilah," aku berkata
kepadanya. Dia tersenyum. "Aku ini kucing, Carter. Aku bisa menjaga diri.
Aku lebih khawatir mengenai dirimu dan Sadie selama aku pergi. Jika
penglihatanmu benar dan penjara Apoph sudah sangat rapuh ...? Ya, aku akan
kembali secepat mungkin." Tidak banyak yang bisa kukatakan untuk menyahut
i itti penglihatanku benar, kami semua berada dalam masalah besar .Aku mungkin
tak bisa dihubungi selama beberapa had, Bast, "temanku seharusnya sudah
sampai di sini sebelum kau dan Sadie berangkat melakukan pencarian kalian besok.
Dia akan memastikan kalian berdua tetap hidup." "Tak bisakah kau
setidaknya memberitahukan namanya padaku?" Bast melemparkan tatapan entah
geli atau gugup—mungkin keduanya. "Dia agak sulit dijelaskan. Lebih baik
kubiarkan dia memperkenalkan dirinya sendiri." Setelah mengatakan itu,
Bast mencium keningku. "Jagalah dirimu, Nak." Aku terlalu terpana
untuk menanggapi. Kuanggap Bast sebagai pelindung Sadie. Aku hanyalah semacam
tambahan. Namun, suaranya mengandung kasih yang sedemikian besar sampai-sampai
wajahku mungkin merona. Dia berlari ke tepian atap dan melompat. Aku tidak
mengkhawatirkannya, tentu saja. Aku cukup yakin dia bisa mendarat di atas kedua
kakinya.
Aku ingin mempertahankan situasi senormal mungkin bagi para
murid. Jadi, kujalankan pelajaran pagiku seperti biasa. Aku menamai pelajaran
itu Pemecahan Masalah Sihir 101. Para siswa menyebutnya Apa Saja Asal Bisa.
Aku memberi mereka sebuah masalah. Mereka boleh
memecahkannya dengan cara apa pun yang mereka mau. Setelah berhasil, mereka
boleh pergi. Kurasa ini tidak terlalu mirip sekolah sungguhan, yang
mengharuskan kita tetap tinggal hingga akhir hari sekolah bahkan meski kita
hanya pura-pura sibuk, tetapi aku tidak pernah mengikuti sekolah sungguhan.
Selama bertahun-tahun bersekolah di rumah bersama ayahku, aku belajar
berdasarkan kecepatanku sendiri. Setelah menyelesaikan tugas hingga Ayah puas,
hari sekolah pun berakhir. Sistem itu berhasil untukku, dan para murid
sepertinya juga menyukainya. Aku juga mengira Zia Rashid akan setuju. Pertama kali
Sadie dan aku berlatih bersama Zia, dia mengatakan kepada kami bahwa sihir tak
bisa dipelajari dari ruang kelas dan buku teks. Kau hams mempelajari sihir
dengan mempraktikkannya. Jadi, untuk Pemecahan Masalah Sihir 101, kami menuju
ruang latihan dan meledakkan barang-barang. Hari ini ada empat siswa. Para
murid yang lain akan pergi meneliti jalan sihir mereka sendiri, berlatih
mantra, atau mengerjakan tugas sekolah biasa di bawah bimbingan murid-murid
yang sudah duduk di perguruan tinggi. Sebagai pembimbing utama kami yang
dewasa, sementara Amos tidak ada, Bast bersikeras agar kami selalu
memutakhirkan pengetahuan semua orang dalam bidang-bidang reguler semacam
matematika dan membaca, meski kadang kala dia menambahkan mata pelajaran
pilihannya sendiri, seperti Mendandani Kucing Tingkat Lanjut, atau Tidur Siang.
Sudah ada daftar tunggu murid-murid yang ingin mengikuti pelajaran Tidur Siang.
Ruang latihan memenuhi sebagian besar lantai dua. Luasnya kira-kira sama dengan
ukuran lapangan basket, dan kami memang menggunakan ruang latihan itu untuk
bermain basket di malam hari. Lantainya terbuat dari papan kayu keras,
patung-patung dewa berderet menghiasi dinding, dan pada langit-langit
lengkungnya
terdapat gambar-gambar orang Mesir Kuno yang tengah berjalan
miring seperti biasa. Di dinding batas lapangan, kami menaruh patung Ra yang
berkepala elang tegak lurus dengan lantai, setinggi tiga meter, dan mencopot
mahkota lingkaran mataharinya agar bisa kami gunakan sebagai keranjang bola
basket. Barangkali agak kurang ajar—tetapi hei, jika Ra tidak punya selera
humor, itu masalahnya sendiri. Walt sedang menungguku, bersama Julian, Felix,
dan Alyssa. Jaz hampir selalu menghadiri sesi ini, tetapi tentu saja Jaz masih
koma dan itu adalah masalah yang tidak seorang pun di antara kami tahu cara
memecahkannya. Aku berusaha menampilkan wajah gum yang penuh percaya diri.
"Baiklah, kawan-kawan. Hari ini kita akan mencoba simulasi pertempuran.
Mari kita mulai dengan yang sederhana." Kukeluarkan empat patung shabti
dari tasku dan kuletakkan di empat sudut ruangan yang berbeda. Aku menempatkan
satu siswa di depan masing-masing shabti. Kemudian kuucapkan kata perintahnya.
Keempat patung kecil itu membesar menjadi kesatria Mesir seukuran aslinya yang
bersenjatakan pedang dan tameng. Mereka tidak begiturealistis. Kulit mereka
terlihat seperti keramik mengilat, dan mereka bergerak lebih lambat daripada
manusia sungguhan, tetapi mereka cukup bagus untuk pemula. "Felix?"
panggilku, "jangan pakai penguin." "Awl ayolahr Felix percaya
bahwa jawaban untuk semua masalah melibatkan penguin, tetapi itu tidak adil
bagi burung-burung tersebut, dan aku bosan mengirim pulang hewan-hewan itu. Di
suatu tempat di Antartika, serombongan Penguin Magellan rupanya tengah
menjalani psikoterapi. "Mulair teriakku, dan pada shabti pun menyerang.
Julian, anak kelas tujuh bertubuh besar yang sudah memutuskan mengambil jalan
Horus, langsung memasuki medan pertempuran. Dia belum terlalu menguasai cara
memanggil avatar
tempur, tetapi dia menyelubungi kepalan tangannya dengan
energi keemasan seperti sebuah bola besi penghancur bangunan dan meninju si
shabti. Shabti itu melayang mundur menghantam tembok, lalu hancur berantakan.
Satu telah tumbang. Alyssa selama ini mempelajari jalan Geb, Dewa Bumi. Tidak
seorang pun di Rumah Brooklyn menguasai sihir tanah, tetapi Alyssa jarang
memerlukan bantuan. Dia tumbuh di tengah keluarga perajin tembikar di Carolina
Utara dan telah bekerja dengan tanah hat sejak masih kecil. Dia menghindari
ayunan tangan kikuk si shabti dan menyentuh punggungnya. Sebuah hieroglif
menyala pada baju perang shabti yang terbuat dari tanah liat
Sepertinya tak ada sesuatu yang terjadi pada kesatria itu,
tetapi ketika ia berbalik untuk menyerang, Alyssa hanya mematung di tempatnya.
Aku sudah hendak meneriaki Alyssa agar menghindar, tetapi serangan shabti itu
semuanya meleset. Belatinya menghantam lantai, dan si kestaria terhuyung. Ia
menyerang lagi, mengayunkan senjatanya setengah lusin kali, tetapi belatinya
tak pernah sekali pun menyentuh Alyssa. Akhirnya si kesatria berbalik sambil
kebingungan dan terhuyung-huyung ke sudut ruangan, tempat ia menghantamkan
kepala ke dinding dan gemetar hingga berhenti. Alyssa meringis ke arahku.
"Sa-per," jelasnya, "hieroglif untuk Luputlah." "Hieroglif
yang bagus," ujarku. Sementara itu, Felix menemukan solusi nonpenguin. Aku
tidak tahu sihir jenis apa yang pada akhirnya akan menjadi
ganaS. Dia mengambil sebuah bola basket dari bangku,
menunggu si shabti mengambil langkah, kemudian melambungkan bola itu ke kepala
si shabti. Pengaturan waktunya tepat sekali. Si shabti kehilangan keseimbangan
dan terjatuh, lengan pedangnya retak. Felix mendekat dan menginjak-injak shabti
itu hingga hancur herkeping-keping. Dia menatapku dengan puas. "Kau kan
tidak bilang kalau kami harus menggunakan sihir." "Cukup adil."
Kucamkan dalam benakku untuk tidak bermain bola basket dengan Felix. Walt-lah
yang paling menarik ditonton. Dia adalah seorang sau, pembuat jimat. Jadi, dia
cenderung bertempur dengan benda sihir apa pun yang sedang dipegangnya. Aku tak
pernah bisa menebak apa yang akan dilakukannya. Sementara mengenai jalan yang
diambil, Walt masih belum memutuskan sihir dewa mana yang akan dipelajarinya.
Dia adalah peneliti yang baik seperti Thoth, Dewa Pengetahuan. Dia bisa
menggunakan gulungan papirus dan ramuan nyaris sebaik Sadie. Jadi, dia bisa
saja memilih jalan Isis. Dia bahkan bisa juga mengambil jalan Osiris, karena
Walt sangat alamiah dalam menghidupkan berbagai benda mati. Hari ini dia tidak
terburu-buru, dia meraba jimat-jimatnya dan mempertimbangkan
pilihan-pilihannya. Saat si shabti mendekat, Walt mundur. Jika Walt punya
kelemahan, itu adalah kehati-hatiannya. Biasanya dia terlalu lama berpikir
sebelum bertindak. Dengan kata lain, dia adalah kebalikan dari Sadie. [Jangan menonjokku,
Sadie. Itu benarl] "Ayolah, Walt," panggil Julian, "cepat bunuh
saja." "Kau bisa melakukannya," kata Alyssa. Walt meraih salah
satu cincinnya. Kemudian dia melangkah mundur dan tersandung kepingan-kepingan
shabti Felix yang hancur. Aku berteriak, "Awas!"
Namun, Walt terpeleset dan terjatuh dengan keras. Shabti
lawannya bergegas maju, seraya mengayunkan pedangnya. Aku berlari untuk
membantu, tetapi aku terlalu jauh. Tangan Walt sudah terangkat secara naluriah
untuk menghalangi serangan. Mata pedang keramik yang telah disihir itu hampir
setajam logam sungguhan . Benda itu seharusnya melukai Walt dengan cukup parah,
tetapi Walt menggenggamnya, dan shabti itu pun ber geming. Di bawah jari-jari
Walt, mata pedang itu berubah menjadi abu-abu dan dijalari retakan. Warna
kelabu menyebar seperti embun beku di sekujur tubuh kesatria itu, dan si shabti
pun remuk menjadi setumpuk debu. Walt tercengang. Dia membuka tangannya, yang
tidak terluka sedikit pun. "Itu kerenl." kata Felix, "jimat apa
itu?" Walt melemparkan tatapan gugup ke arahku dan aku tahu jawabannya.
Itu bukan jimat. Walt juga tidak tahu bagaimana dia melakukannya. Itu saja
sudah cukup menghebohkan untuk satu hari. Sungguh. Namun, keanehan itu ternyata
hanya permulaan. Sebelum kami berdua sempat mengatakan apa-apa, lantai
bergetar. Kupikir barangkali sihir Walt menyebar ke bangunan ini, yang pastinya
bukan kabar bagus. Atau mungkin seseorang di bawah kami sedang bereksperimen
dengan kutukan keledai meledak lagi. Alyssa memekik. "Teman-teman
...." Dia menunjuk pada patung Ra yang menjorok dari dinding, tiga meter
di atas kami. Keranjang basket kami hancur. Awalnya aku tidak yakin apa yang
sedang kulihat. Patung Ra itu tidak berubah menjadi debu seperti shabti. Benda
itu pecah berantakan, jatuh ke lantai dalam bentuk kepingan-kepingan. Kemudian
perutku serasa diremas-remas. Kepingan-kepingan itu bukan batu. Patung itu
berubah menjadi kulit scarab.
Keping terakhir patung itu rontok, dan tumpukan kulit kumbang
kotoran tersebut mulai bergerak. Tiga kepala ular uncul dari bagian tengah
tumpukan itu. Aku tak keberatan memberi tahu kalian: aku panik. Kukira penglihatanku
mengenai Apophis menjadi kenyata an persis ditempat itu dan saat itu juga. Aku
terhuyung mundur begitu tepat sampai menabrak Alyssa. Satu-satunya alasan mengapa
aku tidak kabur dari ruangan itu adalah
karena empat siswa scdauE menatapku untuk membantu mereka menenangkan diri. Itu
tak mungkin Apophis, kataku pada diriku sendiri. Ular-ular itu bergerak keluar,
dan kusadari mereka bukan la h tiga binatang yang berbeda. Hewan itu adalah
seekor kobra yang berukuran raksasa dan berkepala tiga. Yang lebih aneh lagi,
hewan itu membentangkan sepasang sayap yang menyerupai sayap elang. Tubuh
makhluk itu sebesar kakiku. Tingginya nyaris sama dengan tinggiku, tetapi tidak
cukup besar untuk menjadi Apophis. Matanya tidak menyala merah. Matanya seperti
mata ular biasa, hijau dan menakutkan. Tetap saja dengan ketiga kepala menatap
tepat ke arahku, aku tak bisa bilang aku merasa santai. "Carter?"
Felix bertanya dengan gugup, "apakah ini bagian dari pelajaran?" Ular
itu mendesis selaras dalam tiga bagian. Suaranya seperti berbicara di dalam
kepalaku—dan terdengar persis seperti bau yang ada di Museum Brooklyn.
Peringatan terakhir untukmu, Carter Kane, kata ular itu. Berikan gulungan itu
padaku. Jantungku berhenti berdetak satu kali. Gulungan papirus itu—Sadie
memberikannya padaku usai sarapan. Bodohnya aku—seharusnya aku menyimpannya di
tempat terkunci, meletakkannya di salah satu ruangan kecil aman di
perpustakaan, tetapi benda itu masih berada di dalam tas di bahuku. Kau ini
apa? Aku bertanya kepada si ular.
"Carter." Julian mencabut pedangnya.
"Haruskah kami menyerang?" Murid-muridku tidak menunjukkan
tanda-tanda bahwa mereka mendengar ular itu atau aku bicara barusan. Alyssa
mengangkat kedua tangannya seolah-olah dia siap menangkap bola. Walt
memosisikan diri di antara ular dan Felix, sementara Felix mencondongkan badan
ke samping untuk mengintip dari balik badan Walt. Serahkan gulungan itu padaku.
Ular itu bergelung hendak menyerang, meremukkan kulit-kulit kumbang mati di
bawah tubuhnya. Sayapnya membentang sedemikian lebar, sampai-sampai bisa
membungkus kami semua. Hentikan pencarianmu, atau aku akan membinasakan gadis
yang kau cari, persis sebagaimana aku membinasakan desanya. Aku berusaha
menarik pedangku, tetapi kedua lenganku tak mau bergerak. Aku merasa lumpuh,
seolah-olah tiga pasang mata itu telah melontarkanku ke dalam kondisi tidak
sadarkan diri. Desanya, pikirku. Desa Zia. Ular tak bisa tertawa, tetapi
desisan makhluk ini terdengar geli. Kau harus memilih, Carter Kane—gadis itu
atau Ra. Hentikan pencarian bodohmu itu, atau tidak lama lagi kau akan menjadi
kulit kering seperti kumbang-kumbang Ra. Kemarahan menyelamatkanku. Aku
akhirnya berhasil mengatasi kelumpuhanku dan berteriak: "Bunuh!"
persis pada saat ular itu membuka mulutnya, menyemburkan tiga lajur api. Aku
membuat sebuah tameng sihir berwarna hijau untuk membelokkan api. Julian
melemparkan pedangnya seperti melemparkan kapak. Alyssa membuat gerak isyarat
dengan tangannya dan tiga buah patung batu terlontar dari dudukannya, melayang
ke arah ular tersebut. Walt menembakkan secercah cahaya abu-abu dari tongkat sihirnya.
Sementara Felix melepas sepatu kirinya dan melemparkannya ke arah si monster.
Pada saat itu, sungguh tidak enak rasanya menjadi ular
tersebut. Pedang Julian memenggal salah satu kepalanya. Sepatu Felix mengenai
kepala yang lain. Tembakan tongkat sihir Walt mengubah kepala ketiga menjadi
debu. Kemudian patung-patung Alyssa menghantamnya, meremukkan mosnter itu di bawah
1 ton batu. Yang tersisa dari tubuh ular itu kemudian terurai menjadi pasir Ruangan itu mendadak sunyi. Keempat muridku
memandangiku. Aku meraih ke bawah dan memungut salah satu kulit scarab.
"Carter, itu bagian dari pelajaran, kan?" Tanya Felix, "katakan
padaku itu bagian dari pelajaran." Aku memikirkan suara ular itu—suara
yang sama dengan suara bau di Museum Brooklyn. Kusadari mengapa suara itu
terdengar begitu akrab. Aku pernah mendengarnya sebelum ini pada pertempuran di
Piramida Merah. "Carter?" Felix terlihat seperti akan menangis. Dia
begitu sering membuat masalah sampai aku terkadang lupa dia barn berusia
sembilan tahun. "Ya, cuma tes," dustaku. Aku menatap Walt, dan kami
mencapai kesepakatan tanpa suara: Kita akan membicarakan hal ini nanti. Namun,
pertama-tama, ada orang lain yang harus kutanyai. "Kelas dibubarkan."
Aku berlari untuk mencari Amos. []
6.CARTER
TEMPAT
MINUM BURUNG NYARIS MEMBUNUH KU
AMOS MEMBOLAK-BALIK KULIT KUMBANG ITU dengan jari-jarinya.
"Ular berkepala tiga, katamu." Aku merasa bersalah karena telah
menceritakan hal ini padanya. Dia sudah melewati begitu banyak hal sejak Natal.
Kemudian akhirnya dia sembuh lalu pulang, dan bum—ada monster menyerbu ruang
latihan kami. Namun, aku tidak tahu hams bicara pada siapa lagi. Aku agak
menyesal Sadie tidak ada. [Baiklah Sadie, tidak usah terlalu senang. Aku tidak
semenyesal itu kok.] "Ya," sahutku, "dengan sayap dan napas pelempar
api. Pernah melihat hal semacam itu sebelumnya?" Amos meletakkan kulit
kumbang itu di atas meja. Dia menyodok-nyodoknya, seolah berharap benda itu
menjadi hidup. Kami hanya berdua di perpustakaan, situasi yang tidak biasa.
Sering kali, ruangan bulat besar itu dipenuhi para murid yang berburu gulungan
papirus di sepanjang jajaran ceruk kecil, atau mengirim shabti pengambil ke
seluruh penjuru dunia untuk mengambil artefak, buku, atau piza. Gambar Geb si
Dewa Bumi terlukis di lantai, tubuhnya dihiasi pepohonan dan sungai. Di atas
kami, Dewi Langit dengan kulit penuh bintang, Nut, terhampar
di sepanjang langit-langit. Biasanya aku merasa aman di ruangan ini,
terlindungi di antara dua dewa yang bersikap ramah pada kami di masa lalu.
Namun, sekarang aku terus-menerus melirik pada shabti pengambil yang diletakkan
di sekitar perpustakaan dan bertanya-tanya apakah benda itu akan terurai
menjadi kulit kumbang atau memutuskan untuk menyerang kami. Akhirnya, Amos
mengucapkan sebuah kata perintah: "A'max." Terbakarlah. Sebuah hieroglif
kecil berwarna merah menyala di sekujur kulit scarab itu.
Kulit kumbang itu terbakar dan berubah menjadi gundukan
kecil abu. "Sepertinya aku ingat sebuah lukisan," kata Amos, "di
dalam makam Thutmose III. Lukisan itu menampilkan ular bersayap dan berkepala
tiga seperti yang kau gambarkan. Tapi apa artinya ..." Dia menggelengkan
kepala. "Ular bisa baik atau jahat dalam legenda Mesir. Hewan itu bisa
merupakan musuh Ra, atau pelindungnya." "Yang ini jelas bukan sesosok
pelindung," sahutku, "ia meng-inginkan gulungan itu." "Tapi
ular itu punya tiga kepala, yang mungkin melambangkan tiga aspek Ra. Ia juga
terlahir dari puing-puing patung Ra." "Ular itu bukan berasal dari
Ra," aku bersikeras, "mengapa Ra ingin mencegah kita menemukannya?
Lagi pula, aku mengenali suara ular itu. Itu suaramu—" aku menahan
lidahku. "Maksudku itu suara anak buah Set di Piramida Merah—yang dirasuki
oleh Apophis."
Mata Amos menjadi hampa. "Si Wajah Horor." Dia
teringat. "Menurutmu Apophis bicara padamu melalui ular ini?" Aku
mengangguk. "Kurasa dialah yang memasang perangkap itu di Museum Brooklyn.
Dia bicara padaku melalui bau itu. Jika dia begitu kuat hingga bisa menyusup ke
dalam rumah ini- “tidaak Carter. Bahkan meski kau benar, itu bukan Apophis
sendiri.jika dia sudah lobos dari
penjaranya, itu akan menimbulkan riak di Mat yang begitu kuat sehingga semua
penyihir pasti merasakannya .tapi merasuki pikiran anak buahnya, bahkan
mengirim antek nya ke tempat-tempat yang
diberi perlindungan untuk pengantar pesan—itu jauh lebih mudah. Kurasa ular itu
tak sampai parah. Ia pasti sudah cukup lemah setelah menerobos pertahanan kita.
Kemungkinan besar, ular itu dikirim untuk memperingatkanmu, dan
menakutimu." "Ia berhasil," ujarku. Aku tidak bertanya pada Amos
bagaimana dia bisa tahu begitu banyak soal kerasukan dan cara-cara Kekacauan.
Peristiwa pengambilalihan tubuhnya oleh Set, Dewa Kejahatan, telah memberinya
kursus kilat intensif mengenai hal semacam itu. Sekarang dia terlihat sudah
kembali normal, tetapi aku tahu dari pengalamanku berbagi pikiran dengan Horus:
sekali tubuh kita dihuni oleh dewa—entah dengan sengaja atau tidak—kau tidak
akan pernah sama seperti dulu. Kau masih menyimpan kenangannya, bahkan sebagian
jejak kekuatan dewa itu. Aku juga melihat warna sihir Amos telah berubah. Dulu
warnanya biro. Sekarang ketika dia memanggil hieroglif, sihirnya berkilau
merah—warna Set. "Aku akan memperkuat mantra-mantra di sekeliling rumah
ini," Dia berjanji. "Sudah waktunya aku meningkatkan keamanan di
rumah ini. Akan kupastikan Apophis tak bisa mengirimkan pesan lagi."
Aku mengangguk, tetapi janjinya tidak membuatku merasa jauh lebih baik. Besok, jika Sadie pulang
dengan selamat, kami akan pergi melakukan penyelidikan untuk mencari kedua
gulungan lain dari Kitab Ra. Tentu, kami
selamat dari petualangan terakhir kami melawan Set, tetapi Apophis berada pada
tingkatan yang sama sekali berbeda. Selain itu kami tidak lagi menjadi tubuh perantara
para dewa. Kami hanyalah anak-anak, yang menghadapi penyihir jahat , iblis,
monster, roh, dan Sang Penguasa Kekacauan yang abadi. di sisi lain, aku
memiliki adik perempuan yang pemarah, pedant„ seekor babun, dan griffin yang
mengalami gangguan kepribad la n. Aku tidak terlalu menyukai peluangnya.
"Amos," kataku, "bagaimana jika kita salah? Bagaimana jika
membangunkan Ra tidak ada gunanya?" Sudah lama sekali aku tidak melihat
pamanku itu tersenyum. Dia tidak terlalu mirip ayahku, tetapi ketika tersenyum,
dia memiliki kerutan yang sama di sekitar matanya. "Hei, lihat apa yang
telah kau capai. Kau dan Sadie telah menemukan kembali jalan sihir yang sudah
tidak dipraktikkan lagi selama ribuan tahun. Kau sudah membuat murid-muridmu
menguasai lebih banyak hal dalam waktu dua bulan ketimbang yang akan dikuasai
sebagian besar murid Nome Pertama dalam waktu dua tahun. Kalian bertempur
dengan dewa-dewa. Kalian telah mencapai lebih banyak prestasi dibandingkan
penyihir mana pun yang masih hidup—bahkan aku, bahkan Michel Desjardins.
Percayai nalurimu. Jika aku ini pejudi, uangku akan selalu kupertaruhkan
untukmu dan adikmu." Serasa ada gumpalan di tenggorokanku. Aku sudah tidak
pernah mendapat kata-kata pembangkit semangat seperti itu sejak Ayah masih
hidup, dan kurasa aku tidak menyadari betapa aku memerlukannya. Sayangnya,
mendengar nama Desjardins mengingatkanku bahwa kami punya persoalan lain selain
Apophis. Begitu kami
memulai pencarian, seorang tukang sihir Rusia penjual es
krim bernama Vlad si Bengek akan mencoba membunuh kami. Dan jika Vlad adalah
penyihir terkuat nomor tiga di dunia "Siapa yang kedua?" Tanyaku.
Amos mengerutkan kening. "Apa maksudmu?" "Kau bilang orang Rusia
ini, Vlad Menshikov, adalah penyihir terkuat ketiga yang masih hidup.
Desjardins adalah yang terkuat. Jacli siapa yang kedua? Aku ingin tahu apakah
kita harus mewaspadai musuh lain. gagasan
itu sepertinya membuat Amos geli. "Jangan k hawatirkan soal itu. Dan
bagaimanapun hubungan kalian di masa la lu dengan Desjardins, aku berani
mengatakan bahwa dia bukan benar-benar musuh kita." "Katakan itu
kepadanya," gumamku. "Sudah, Carter. Kami sudah bicara beberapa kali
ketika aku masih di Nome Pertama. Kukira apa yang telah dicapai olehmu dan
Sadie di Piramida Merah sangat mengguncangnya. Dia tahu dia tidak mungkin
mengalahkan Set tanpamu. Dia masih tidak setuju denganmu, tetapi jika kita
punya waktu lagi, aku mungkin bisa meyakinkannya ...." Hal itu terdengar
sama mungkinnya dengan Apophis dan Ra menjadi teman di Facebook, tetapi
kuputuskan untuk tidak mengatakan apa-apa. Amos menyapukan tangan di atas
permukaan meja dan mengucapkan mantra. Sebuah holograf Ra berwarna merah
muncul—replika mini dari patung di ruang latihan. Dewa Matahari itu terlihat
seperti Horus: pria berkepala elang. Namun, tidak seperti Horus, Ra mengenakan
lingkaran matahari sebagai mahkota dan memegang tongkat gembala—tongkat bengkok
yang tampak seperti kait—serta cambuk perang—dua simbol firaun. Dia mengenakan
jubah, alih-alih pakaian perang, duduk dengan tenang dan penuh keagungan di
atas singgasananya, seolah-olah
senang menyaksikan yang lain bertempur. Sosok dewa itu terlihat
aneh dalam warna merah, berkilauan dengan warna kekacauan . "Ada hal lain
yang harus kau pertimbangkan ," Amos memperingatkan, "aku tidak
mengatakan ini untuk hatimu, tetapi kau bertanya mengapa Ra mungkill
menghalangimu membangunkannya. Kitab Ra di pecah –pecah karena suatu alasan. Kitab itu sengaja dibuat
sulit di temukan .jadi, hanya yang layak yang akan berhasil. Kau harus memperkira
kan adanya kesulitan dan rintangan dalam pencarianmu.kedua gulungan yang lain setidaknya sama
terlindungnya dengan yang pertama. Kau juga hams bertanya pada dirimu sendiri:
Apa yang terjadi jika kau membangunkan dewa yang tidak ingin dibangunkan?"
Pintu perpustakaan terbanting membuka, dan aku nyaris terlonjak dari kursiku.
Cleo dan tiga gadis lain masuk, sambil mengobrol dan tertawa sementara tangan
mereka penuh dengan gulungan papirus. "Ini dia kelas risetku." Amos
menjentikkan jari dan holograf Ra pun menghilang. "Kita akan bicara lagi,
Carter, mungkin setelah makan siang." Aku mengangguk, meski saat itu aku
sudah curiga kami tidak akan sempat merampungkan percakapan kami. Ketika aku
menengok dari pintu perpustakaan, Amos sedang menyampaikan salam pembuka pada
para murid, seraya menyeka abu kulit scarab dari meja dengan santai.
Aku tiba di kamarku dan menemukan Khufu sedang tidur-tiduran
di ranjang, sambil memindah-mindah saluran olahraga. Dia mengenakan kaos Lakers
favoritnya, dan menaruh semangkuk Cheetos di perutnya. Sejak para murid
berdatangan, Aula Besar menjadi terlalu ramai bagi Khufu untuk menonton TV
dengan tenang. Jadi, dia memutuskan untuk menjadi teman sekamarku.
Kurasa itu adalah pujian, tetapi berbagi tempat dengan
seekor babun tidaklah mudah. Menurutmu bulu anjing dan kucing sering rontok?
Cobalah melepaskan bulu monyet dari pakaianmu. "Apa kabar?" Tanyaku. "Agh!"
Bisa di bilang hanya itulah yang selalu
dia ucapkan. "Bagus," kata ku kepadanya "aku mau ke
balkon." Di luar, udara masih dingin dan berhujan. Angin dari East River
pasti membuat penguin Felix menggigil kedinginan, tetapi aku tidak keberatan.
Untuk pertama kalinya sejak hari itu, aku akhirnya bisa sendirian. Sejak
murid-murid kami datang ke Rumah Brooklyn, aku merasa seperti selalu berada di
atas panggung. Aku harus berlagak percaya diri bahkan ketika aku menyimpan
keraguan. Aku tak bisa marah-marah pada siapa pun (ya, kecuali pada Sadie
sesekali) dan ketika situasi kacau, aku tak bisa mengeluh terang-terangan.
Anak-anak lain telah datang jauh-jauh untuk berlatih bersama kami. Banyak di
antara mereka yang bertempur dengan monster atau penyihir dalam perjalanan
mereka. Aku tidak bisa mengakui bahwa aku tak tahu apa yang kulakukan, atau
bertanya-tanya dengan lantang apakah jalan para dewa ini akan menewaskan kami
semua. Aku tak bisa mengatakan, Nah karena sekarang kalian sudah di sini,
mungkin ini bukan gagasan yang bagus. Namun, sering kali seperti itulah
perasaanku. Dengan adanya Khufu di kamarku, balkon adalah satu-satunya tempat
aku bisa bermuram durja seorang difi. Aku menatap ke seberang sungai, ke arah
Manhattan. Pemandangannya sangat indah. Ketika Sadie dan aku pertama kali tiba
di Rumah Brooklyn, Amos memberi tahu kami bahwa para penyihir berusaha
menghindar dari Manhattan. Dia bilang Manhattan punya masalah-masalah lain—apa
pun maksudnya. Kadang-kadang ketika aku memandang ke seberang sungai, aku
bersumpah aku melihat macam-macam hal. Sadie menertawakanku,
tetapi aku pernah mengira melihat seekor kuda terbang.
Mungkin itu hanya ilusi optik yang ditimbulkan oleh perisai sihir di rumah ini,
tetapi tetap saja aneh. Aku mengalihkan perhatian ke arah satu-satunya
perabotan di balkon: mangkuk pemantauku.
Benda itu terlihat seperti tempat minum burung—hanya sebuah pinggan perunggu
di atas dudukan batu—tetapi itu adalah
benda sihir favorit ku membuatkannya untukku persis setelah dia tiba di sini.
Suatu hari, aku mengatakan betapa asyiknya kalau bias mengetahui apa
yang sedang berlangsung di nome-nome lain, ( dia membuatkanku mangkuk ini. Aku
pernah melihat murid-murid menggunakannya di Nome Pertama, tetapi benda itu
selalu terlihat cukup sulit untuk dikuasai. Untungnya, Walt ahli membuat benda
sihir. Jika mangkuk pemantauku diibaratkan mobil, maka is adalah mobil
Cadillac, dengan setir daya,transmisi otomatis, dan penghangat pantat. Yang
harus kulakukan hanyalah mengisinya dengan minyak zaitun yang bersih dan
mengucapkan kata perintah. Mangkuk itu akan memperlihatkan apa saja padaku,
selama aku bisa nemvisualisasikannya dan yang ingin kulihat tidak ditamengi
sihir. Tempat-tempat yang tak pernah kudatangi sulit untuk dilihat. Orang-orang
atau tempat-tempat yang pernah kulihat secara langsung atau yang sangat berarti
bagiku—hal-hal seperti itu biasanya mudah untuk dilihat. Aku sudah ratusan kali
mencari Zia tanpa hasil. Yang kutahu hanyalah: mentor lama Zia, Iskandar, telah
menggunakan sihir untuk menidurkannya dan menyembunyikannya di suatu tempat,
dia juga menggantikan Zia dengan sesosok shabti untuk mengamankannya, tetapi
aku tidak tahu di mana Zia yang asli tertidur. Aku mencoba hal baru. Kusapukan
tanganku di atas mangkuk dan kubayangkan Tempat Pasir Merah. Tidak terjadi
apa-apa. Aku belum pernah ke sana, tak tahu seperti apa tempat itu selain
kemungkinan bahwa tempat itu berwarna merah dan berpasir.
Minyak zaitun hanya memperlihatkan pantulan diriku sendiri. Baiklah. Jadi, aku
tak bisa melihat Zia. Aku melakukan hal terbaik nomor dua. Aku berkonsentrasi
pada kamar rahasianya di Nome Pertama. Aku baru sekali berada di sana, tetapi
aku mengingat setiap detailnya. Di situlah pertama kalinya aku merasa dekat
dengan Zia. Permukaan minyak itu beriak dan menjadi pengumpan video magis. Tak
ada yang berubah di kamar itu. ajaib masih menyala di atas meja kecil.
Dinding-dindingnya dipenuhi foto Zia—foto-foto desa keluarganya di dekat sungai
Nil, ibu dan ayahnya, Zia saat masih kecil. Zia pernah bercerita padaku
bagaimana ayahnya menemukan sebuah relik Mesir dan secara tidak sengaja
melepaskan monster ke desa mereka. Para penyihir datang mengalahkan monster
tersebut, tetapi seluruh desa telah hancur. Hanya Zia, yang disembunyikan oleh
orangtuanya, yang selamat. Iskandar, Ketua Lector yang lama, membawanya ke Nome
Pertama dan melatih Zia. Dia sudah seperti ayah bagi Zia. Kemudian, Natal
silam, dewa-dewa dilepaskan di British Museum. Salah satu di antara
mereka—Nephthys—telah memilih Zia sebagai tubuh perantaranya. Menjadi
"titisan dewa" bisa diganjar dengan hukuman mati di Nome Pertama,
entah kita sengaja atau tidak menjadi tubuh perantara roh dewa. Jadi, Iskandar
menyembunyikan Zia. Dia mungkin bermaksud membawa Zia kembali setelah
membereskan situasi, tetapi dia meninggal dunia sebelum hal itu terjadi. Jadi,
Zia yang kukenal adalah replika, tetapi aku hams percaya bahwa si shabti dan
Zia yang ash berbagi pikiran. Di mana pun Zia yang ash berada, dia akan
mengingatku jika dia bangun. Dia pasti tahu kami memiliki ikatan—mungkin awal
dari hubungan yang baik. Aku tak bisa menerima bahwa aku telah jatuh cinta
pada sesosok tembikar. Dan aku jelas tak bisa menerima bahwa
menolong Zia berada di luar kemampuanku. Aku berkonsentrasi pada bayangan di
dalam minyak. Kuperbesar sebuah foto Zia yang sedang digendong di ayahnya. Dia
masih kecil di dalam foto itu, tetapi kau pati bisa menebak bahwa dia akan
menjadi cantik setelah besar nanti Rambut hitamnya yang berkilau dipotong
pendek, seperti ketika aku mengenalnya.
Kedua matanya berwarna kuning gading cemerlang. Sang fotografer menangkapnya
saat sedang tertawa, seraya berusaha menutup mata ayahnya dengan kedua tangan.
Senyumnya memancarkan kenakalan yang jenaka. Aku akan membinasakan gadis yang
kau can, kata ular berkepala tiga itu, persis sebagaimana aku membinasakan
desanya. Aku yakin maksudnya adalah desa Zia. Namun, apa kaftan serangan enam
tahun silam dengan kebangkitan Apophis sekarang? Jika itu bukan sekadar
kecelakaan acak—jika Apophis memang berniat menghancurkan rumah Zia—lalu apa
alasannya? Aku harus menemukan Zia. Ini bukan persoalan pribadi lagi. Entah
bagaimana dia terkait dengan pertempuran melawan Apophis nanti. Jika peringatan
ular itu benar—jika aku hams memilih antara menemukan Kitab Ra dan
menyelamatkan Zia? Ya, aku sudah kehilangan ibuku, ayahku, dan kehidupan lamaku
demi menghentikan Apophis. Aku tak mau kehilangan Zia juga. Ketika aku sedang
merenungkan sekeras apa Sadie akan menendangku jika dia mendengarku mengatakan
itu, seseorang mengetuk pintu kaca balkon. "Hei." Walt berdiri di
ambang pintu, sambil memegang tangan Khufu. "Ehm, kuharap kau tidak
keberatan. Khufu mengizinkanku masuk." "Aghl" Khufu membenarkan.
Dia memimpin Walt keluar, kemudian melompat ke atas pagar terali, tidak
menghiraukan jurang setinggi 30 meter yang menuju ke sungai di bawahnya.
"Tidak masalah," ujarku. Aku toh tidak punya
pilihan. Khufu sangat menyukai Walt, barangkali karena dia lebih pandai bermain
basket daripada aku. Walt iliellgangguk ke arah mangkuk pemantau.
"Bagaimana benda itubekerja dengan
baik?" Gamha Lamar Zia masih berpendar-pendar dalam minyak. Kuayunkan tanganku
di atas mangkuk dan mengubahnya menjadi
hal lain .karna aku sedang berpikir mengenai Sadie, aku memilih ruang tamu kakek, dan Nenek.bekerja dengan baik , kok." Aku kembali menghadap Walt.
'" untuk suatu alas an, tubuhnya menegang. Dia menatap-ku seolah aku menyudutkannya.
"Apa maksudmu?" "Kejadian didi ruang belajar ular berkepala
tiga. Kau pikir apa yang kumaksud? Otot-otot di leher mengendur . "Benar
maaf, cuma pagi yang aneh. Apa Amos punva pen jelasan?" Aku bertanya-tanya
alga perkataanku yang mengganggunya, tetapi kuputuskan untuk nu nihiarkannya
saja. Kuberi tahu dia mengenai percakapanku dengan Amos. Walt biasanya cukup tenang
menghadapi berbagai hal.dia pendengar
yang baik. Namun, dia masih tampak waspada, tegang. Ketika aku selesai bicara,
dia melangkah ke arah kisi-kisi tempat Khufu bertengger. "Apophis
melepaskan makhluk itu di rumah ini? Jika kita tidak menghentikannya—"
"Menurut Amos kekuatan ular itu tidak terlalu hebat. Ia ke sini hanya
untuk menyampaikan pesan dan menakut-nakuti kita." Walt
menggeleng-gelengkan kepala dengan risau. "Ya sekarang is tahu kemampuan
kita, kurasa. Ia tahu Felix bisa melempar sepatu dengan sangat keras." Mau
tak mau aku tersenyum. "Ya. Hanya saja bukan masalah kemampuan yang
kupikirkan. Sinar abu-abu yang kau tembakkan
pada ular itu ….. dan caramu menangani shabti boneka untuk
latihan itu, mengubahnya menjadi debu—" "Bagaimana aku melakukannya?"
Walt mengangkat bahu tanpa daya.
"Sejujurnya, Carter, aku tidak tahu..aku sudah memikirkannya terus-menerus, dan itu muncuI secara
naluriah. Awalnya kupikir mungkin shabti itu punya semacam mantra penghancuran diri yang terpasang di dalamnya,
dan tanpa aku memicunya. Kadang-kadang aku bisa melakukan itu dengan benda
sihir—mengaktifkan atau mematikan mereka." "Tapi itu tidak
menjelaskan bagaimana kau melakukannya pada si Ular." "Memang
tidak," dia sepakat. Dia tampaknya lebih terusi oleh peristiwa itu
daripada aku. Khufu mulai memberi perawatan pada rambut Walt, mencarikan kutu,
dan Walt bahkan tidak berusaha menghentikannya. "Walt ...." Aku
ragu-ragu, tidak ingin mendesaknya. "Kemam-puan barn ini, mengubah
benda-benda menjadi debu—tidak ada hubungannya dengan kau tahu, apa pun yang
kau sampaikan pada Jaz waktu itu?" Muncul lagi: raut wajah seperti hewan
dalam kurungan. "Aku tahu," lanjutku cepat-cepat, "itu sama
sekali bukan urusanku. Tapi akhir-akhir ini kau tampak galau. Jika ada yang
bisa kulakukan ...." Walt menatap sungai. Dia tampak begitu sedih, sampai
Khufu mengeluarkan bunyi gerutuan dan menepuk-nepuk bahunya. "Terkadang
aku bertanya-tanya mengapa aku datang ke sini," kata Walt. "Apa kau
bercanda?" Tanyaku, "kau penyihir yang hebat. Salah satu yang
terbaikl. Kau punya masa depan di sini." Dia mengeluarkan sesuatu dari
sakunya—salah satu kumbang kering dari ruang latihan. "Terima kasih. Tapi
sepertinya waktunya tidak tepat seperti lelucon yang gagal. Situasiku rumit,
Carter. Dan masa depan ………entahlah."
Aku punya perasaan dia membicarakan sesuatu di luar tenggat
waktu empat hari kami untuk menyelamatkan dunia. "Dengar, kalau ada
masalah ...," kataku, "jika ada hubungannya dengan cara aku dan Sadie mengajar—" tentu saja bukan.
Kau hebat. Sementara Sadie—" dia sangat menyukaimu," ujarku,
"aku tahu dia kadang terlalu bersemangat melakukan pendekatan. Jika kau
ingin dia mundur
[Balklah, Sadie. Mungkin seharusnya aku tidak mengatakan it
ti. Namun, kau sangat kentara bila menyukai seseorang. Aku berpikir itu mungkin
membuat a nak ini merasa tidak nyaman.] Walt malah tertawa. "Bukan, tidak
ada hubungannya dengan Sadie. Aku juga menyukainya. Aku hanya—" "Agh!."
Khufu berseru begitu keras, sampai aku terlompat. Babun itu memamerkan
taringnya. Aku menoleh dan menyadari bahwa dia menggeram ke arah mangkuk
pemantau. Pemandangannya masih ruang tamu Kakek dan Nenek. Namun, saat
kuperhatikan lebih cermat, kusadari ada sesuatu yang salah. Lampu dan TV tidak
menyala. Sofa terjungkir. Ada rasa seperti logam dalam mulutku. Aku
berkonsentrasi, berusaha mengubah gambar sampai bisa melihat pintu depan. Pintu
itu hancur berkeping-keping. "Ada masalah apa?" Walt datang ke
sampingku. "Apa itu?" "Sadie ...." Kufokuskan seluruh
kekuatan batinku untuk menemukannya. Aku sangat mengenalnya sehingga biasanya
aku dapat menemukan Sadie seketika, tetapi kali ini minyak itu berubah hitam.
Rasa sakit yang tajam menusuk di balik mataku, dan permukaan minyak itu
meledakkan nyala api. Walt menarikku mundur sebelum wajahku terbakar. Khufu
menyalak dengan khawatir dan menjatuhkan mangkuk itu hingga meluncur ke East
River. "Apa yang terjadi?" Walt bertanya, "aku tak pernah
melihat sebuah mangkuk melakukan—"
"Portal ke London." Aku terbatuk-batuk, lubang
hidungku perih terkena minyak zaitun yang terbakar. "Yang terdekat.
Sekarangl" Walt tampaknya mengerti. Raut wajahnya mengeras penuh tekad.
"Portal kita masih dalam pendinginan. Kita harus kembali ke Museum Brooklyn."
"Griffin," ujarku. "Ya. Aku juga ikut." Aku berbalik ke
arah Khufu. "Beni tahu Amos kami pergi. Sadie dalam masalah. Tak ada waktu
untuk menjelaskan." Khufu menggeram dan melompat langsung ke samping
balkon—menggunakan lift ekspres untuk turun. Walt dan aku melesat keluar dari
kamarku, bergegas menaiki tangga menuju atap.
7.SSADIE
HADIAH DARI
COWOK BERKEPAA ANJING
YA, KAU SUDAH CUKUP LAMA bicara, kakak tersayang. Saat kau
mengoceh, semua orang membayangkan aku membeku di ambang pintu apartemen Kakek
dan Nenek, berteriak "AAAHHH!" Dan fakta bahwa kau serta Walt
langsung pergi ke London, mengira aku perlu diselamatkan—dasar laki-lakil Ya,
baiklah. Aku memang perlu bantuan. Namun, bukan itu intinya. Kembali ke
ceritaku: aku barn saja mendengar ada suara mendesis dari lantai atas: "Selamat
datang kembali di rumah, Sadie Kane." Tentu saja, aku tabu ini buruk.
Kedua tanganku kesemutan seolah aku bare saja memasukkan jemari ke dalam stop
kontak. Aku berusaha memanggil tongkat sihir dan tongkatku, tetapi seperti yang
mungkin telah kusinggung sebelumnya, aku payah dalam mengambil barang-barang
dari Duat dalam waktu singkat. Aku mengutuk diri karena datang tanpa
persiapan—tetapi sungguh, aku tidak mungkin mengenakan piama linen dan
membawa-bawa tas sihir untuk jalan-jalan malam hari di kota bersama
teman-temanku kan?
Aku mempertimbangkan untuk lari, tetapi Kakek dan Nenek
mungkin berada dalam bahaya. Aku tak bisa pergi tanpa me-mastikan mereka
baik-baik saja. Tangga berderak. Di bagian puncaknya, kelima sehelai gaun berwarna hitam muncul, bersama dua kaki
bersandall yang tidak seperti kaki
manusia. Jari-jari kakinya berbonggol-bnggol dan berbulu unggas, dengan kuku yang sangat
panjang seperti .cakar burung. Saat perempuan itu turun dan terlihat seutuhnya,
mengeluarkan suara mengerang yang sangat tidak sopan. Dia terlihat seperti
berusia seratus tahun, bungkuk dan kurus kering. Wajahnya, cuping telinganya,
dan lehernya digantungi lipatan-lipatan kulit merah muda yang keriput,
seolah-olah dia meleleh di bawah lampu ultraviolet. Hidungnya berbentuk paruh
yang menggantung. Kedua matanya berkilat-kilat di dalam rongganya yang amat
cekung, dan dia nyaris botak—hanya ada beberapa berkas rambut hitam berminyak
seperti rumput liar yang tumbuh di kulit kepalanya yang tidak rata. Namun,
pakaiannya benar-benar mewah. Warnanya hitam pekat, halus, dan berukuran besar
seperti mantel bulu yang terlalu besar enam ukuran. Saat dia melangkah ke
arahku, bahan gaun itu bergerak, dan kusadari bahwa itu bukan bulu binatang
biasa. Gaun itu terbuat dari bulu burung berwarna hitam. Kedua tangannya
menyembul dari lengan bajunya—jari-jarinya yang seperti cakar memberi isyarat
agar aku maju. Senyumnya menampakkan gigi-gigi yang seperti pecahan kaca.
Sudahkah aku menyebutkan tentang baunya? Bukan sekadar bau orang tua—bau orang
tua yang sudah mati. "Aku telah menunggumu," kata wanita tua itu,
"untunglah, aku sangat sabar." Aku menggapai-gapai udara untuk
mengambil tongkatku. Tentu saja, aku tidak berhasil. Tanpa Isis di dalam
kepalaku, aku tak bisa begitu saja mengucapkan kata-kata berkekuatan lagi. Aku
hams mengambil peralatanku. Satu-satunya kesempatanku adalah
mengulur waktu dan berharap aku bisa cukup berkonsentrasi
supaya bisa mengakses Duat. "Siapa kau?" tanyaku, "di mana kakek
nenekku?" Wanita tua itu mencapai dasar tangga. Dan jarak dua meter, gaun
bulu burungnya tampak dihiasi serpihan-serpihan astaga, apakah itu serpihan
daging? "Tidakkah kau mengenaliku, Sayang?" Sosoknya berkedip-kedip.
Gaunnya berubah menjadi daster bunga-bunga. Sandalnya enjadi selop hijau
berbulu halus. Rambutnya ikal kelabu, matanya biru muda dan ekspresinya seperti
seekor kelinci yang kaget. Wajah Nenek. "Sadie?" Suaranya terdengar
lemah dan bingung. "Nenek " Sosoknya berubah kembali menjadi wanita
tua berbaju hitarn, wajah lelehnya yang mengerikan menyeringai jahat. "Ya,
sayang. Bagaimanapun juga, dalam keluargamu mengalir darah firaun—tubuh
perantara yang sempurna untuk dewa-dewa. Tapi jangan membuatku memaksakan diri.
Jantung nenekmu sudah tidak seperti dulu lagi." Seluruh tubuhku mulai
gemetar. Aku sudah pernah melihat peristiwa kerasukan sebelumnya, dan selalu
menakutkan. Namun, ini—gagasan bahwa seorang wanita tua Mesir mengambil alih
tubuh nenekku yang malang—ini mengerikan. Jika dalam tubuhku mengalir darah
firaun, maka darah itu pelan-pelan berubah menjadi es. "Jangan ganggu Aku
berniat untuk berteriak, tetapi aku takut suaraku lebih menyerupai pekikan
ketakutan. "Keluarlah dari tubuhnyal" Wanita tua itu terkekeh.
"Oh, aku tak bisa melakukan itu. Begini, Sadie Kane, sebagian dari kami
meragukan kekuatanmu." "Sebagian dari siapa—para dewa?" Wajahnya
beriak, sekejap berubah menjadi kepala seekor burung yang mengerikan, botak dan
merah muda bersisik dengan
paruh panjang dan tajam. Kemudian dia berubah kembali
menjadi wanita tua yang menyeringai. Aku sungguh-sungguh berharap dia
menetapkan pilihan. "Aku tidak berkeberatan dengan yang kuat, Sadie kane
.di , masa lalu, aku bahkan melindungi firaun jika dia dirinya pantas untuk
itu. Tapi yang lemah ……..ah, begitu mereka berada di bawah bayangan sayapku,
aku tak pernahmelepaskan mereka. Aku menunggu mereka mati. Aku menunggu untuk memakannya. Dan menurutku, sayangku, kau akan menjadi
makananku yang berikutnya." Aku menempelkan punggung ke pintu. "Aku
tahu siapa kau," dustaku. Dengan panik aku memeriksa daftar dewa-dewa
Mesir dalam benakku, berusaha menempatkan wanita tua itu. Aku masih belum
sebaik Carter dalam mengingat nama-nama aneh itu [Bukan, Carter. Itu bukan
pujian. Itu hanya berarti kau lebih aneh dariku]. Namun, setelah
berminggu-minggu mengajar murid-murid kami, aku mengalami kemajuan. Nama
mengandung kekuatan. Jika aku bisa mengetahui nama musuhku, itu langkah pertama
yang bagus untuk mengalahkannya. Burung hitam menyeramkan Burung yang makan
bangkai Tanpa kunyana, aku benar-benar mengingat sesuatu. "Kau Dewi Burung
Bangkai," Aku berkata dengan penuh kemenangan, "nekhbet, kan?"
Si wanita tua menggeram. "Nekhbet!" Baiklah, sudah mendekati.
"Tapi seharusnya kau ini dewi yang bailer aku memprotes. Si dewi
membentangkan kedua lengannya. Kedua lengan itu berubah menjadi sayap—bulu-bulu
hitam kusut yang dipenuhi dengungan lalat dan menguarkan aroma kematian.
"Burung bangkai itu sangat baik, Sadie Kane. Kami menyingkirkan mereka
yang sakit-sakitan dan lemah. Kami mengitari mereka hingga mereka mati,
kemudian memakan bangkai mereka, membersihkan dunia ini dari bau busuk mereka.
Di lain pihak, kau hendak membawa
kembali Ra, bangkai Dewa Matahari yang tua dan kisut itu.
Kau akan menempatkan seorang firaun lemah di atas takhta para dewa. Itu
bertentangan dengan kehendak clam? Hanya yang kuat yang semestinya hidup. Yang
mati seharusnya menjadi santapan." Napasnya herbau seperti bangkai hewan
yang mati tertabrak. Sungguh makhluk yang memuakkan, burung bangkai itu: tidak
diragukan lagi burung yang paling menjijikkan. Kurasa mereka memang inemenuhi
tujuan mereka, tetapi haruskah mereka begitu berbinyak dan buruk rupa? Tidak
bisakah kelinci-kelinci mint berbulu lembut saja yang membersihkan bangkai
hewan yang ditabrak? "Baik, " ujarku, "Pertama-tama, keluarlah
dari tubuh nenekku. Lalu, jika kau adalah burung bangkai yang baik, akan
kubelikan penyegar napas aroma mint." Ini pasti topik yang menyakitkan
bagi Nekhbet. Dia menyerangku. Aku menghindar ke samping, berusaha memanjat
sofa dan membuatnya terjungkir dalam prosesnya. Nekhbet menyapu koleksi keramik
Nenek dari bufet. "Kau akan mati, Sadie Kane!." ujarnya, "aku
akan mematuki tulang-belulangmu hingga bersih. Kemudian dewa-dewa yang lain
akan melihat bahwa kau tidak pantas diperhatikanl" Aku menunggu serangan
lain, tetapi dia hanya memandangiku dengan marah dari balik sofa. Kusadari
bahwa burung bangkai biasanya tidak membunuh. Mereka menunggu mangsanya mati. Sayap
Nekhbet memenuhi ruangan. Bayangannya menimpaku, menyelimutiku dalam kegelapan.
Aku mulai merasa terperangkap, tidak berdaya, seperti seekor hewan kecil yang
sakit-sakitan. Kalau aku belum pernah menguji tekadku melawan dewa-dewa
sebelumnya, aku mungkin tidak akan mengenali hal ini sebagai sihir desakan
tanpa henti di sudut benakku, mendorongku untuk menyerah dalam keputusasaan.
Namun, aku sudah berhadapan dengan banyak dewa mengerikan dari dunia bawah
tanah. Aku bisa menangani seekor burung tua berminyak.
"Usaha yang bagus," ujarku, "tapi aku tidak akan
membaringkan diri lalu mati." Mata Nekhbet berkilat-kilat.
"Barangkali perluwaktu beberapa saat, Sayang, tetapi seperti yang telah
kukatakan padamu ,aku ini sabar. Jika kau tidak mau menyerah, teman-teman manusimu
akan datang tidak lama lagi. Siapa nama mereka—liz dan emma?"Jangan
libatkan mereka dalam hal ini" "Ah, mereka akan menjadi hidangan
pembuka yang enak.dan kau bahkan belum
menyapa kakekmu tersayang." Darah menderu di telingaku. "Di mana
dia?" Desakku. Nekhbet melirik ke arah langit-langit. "Oh, dia akan
bergabli nr, tidak lama lagi. Kami burung bangkai senang mengikuti predator
besar ke mana-mana, kau tahu, dan menunggunya melakukan pembunuhan." Dan
lantai atas kudengar suara dentaman sayup-sayup—seolah-olah sebuah perabot
berukuran besar dilemparkan keluar dari jendela. Kakek berteriak, "Tidak!
Tida-a-a-a-k!" Kemudian suaranya berubah menjadi raungan seekor hewan
liar. "TIDAAAAAHHH!." Sisa keberanian terakhirku meleleh ke dalam
combat boots-ku, "A-apa—" "Ya," kata Nekhbet, "Babi
sudah bangun." "B-bobby? Kalian punya dewa bernama Bobby?"
"B-A-B-I," si Dewi Burung Bangkai menggeram, "kau benar-benar
dungu, ya, Sayang?" Plester langit-langit retak akibat beban
langkah-langkah kaki yang berat. Sesuatu tengah berjalan dengan langkah berat
menuju tangga. "Babi akan membereskanmu," Nekhbet berjanji, "dan
nanti akan banyak sisa untukku." "Selamat tinggal," ujarku, dan
aku melesat menuju pintu. Nekhbet tidak berusaha menghentikanku.
"Perburuanl. Bagus
Aku berhasil menyeberang jalan ketika pintu depan kami
meledak. Saat menengok ke belakang, aku melihat sesuatu muncul dari puing-puing
dan debu—sosok gelap berbulu yang jauh terlalu besar untuk menjadi kakekku. Aku
tidak menunggu agar bisa melihat lebih jelas. Aku bergegas membelok di sudut
South Colonnade dan menabrak Liz dan Emma dengan keras. "Sadie?"
pekik Liz, menjatuhkan sebuah kado ulang tahun. "Ada apa?"
"Tidak ada waktu?" sahut k tis "ayol " "Senang bertemu
dengan mit juga," gerutu Emma, "dari mana kau lari
terbirit-birit—" Makhluk di belakangku menggerung, cukup dekat sekarang.
"Kujelaskan nanti, " ujarku, "kecuali kalian ingin dirobek-robek
oleh dewa bernama Bobby, ikuti aku?"
Saat kuingat lagi kejadian itu, aku menyadari betapa payah
ulang tahun yang kudapat, tetapi saat itu aku terlalu panik untuk mengasihani
diri dengan sepantasnya. Kami lari menyusuri South Colonnade, raungan di
belakang kami nyaris teredam oleh keluhan Liz dan Emma. "Sadie!" kata
Emma, "apa ini salah satu leluconmu?" Dia sudah sedikit bertambah
tinggi, tetapi masih tampak tidak jauh berbeda, dengan kacamatanya yang
berkilat-kilat dan kebesaran serta rambut pendek tegak. Dia mengenakan rok mini
kulit berwarna hitam, jumper halus berwarna merah muda, dan sepatu tebal
menggelikan yang membuatnya tidak terlalu bisa berjalan, apalagi berlari. Siapa
penyanyi rock 'n' roll flamboyan tahun '70-an—Elton John? Jika dia punya anak
keturunan India, dia mungkin terlihat seperti Emma. "Ini bukan
lelucon," kataku meyakinkan, "demi tuhan, lepas sepatumu itu?"
Emma terperangah. "Kau tahu berapa harga sepatu
ini?" "Sunggguh, Sadie," Liz menambahi, " kemana kau mau menyeret
kami?" Pakaian Liz lebih masuk akal, jins dan sepatu kets berwarna putih,
dan jaket denim, tetapi dia dan emma terlihat sama-sama kehabisan napas. Karena terkepit di
bawah lenganya,kado ulang tahunku menjadi sedikit
penyok. Liz berambut merah dengan wajah
berbintik-bintik, dan ketika dia malu atau terlalu lelah, wajahnya yang pucat
menjadi sangat merah, bintik- bintiknya menghilang. Dalam situasi normal
Emma dan aku tentu menggodanya soal itu, tetapi tidak hari ini. Di belakang
kami, makhluk itu meraung lagi. Aku menengol, ke belakang, tindakan yang salah.
Aku terhuyung berhenti, dan teman-temanku menabrakku. Selama sedetik, aku sempat
berpikir, Ya Tuhan, itu Khufu. Namun, Khufu tidak berukuran sebesar beruang
grizzly. Dia tidak memiliki bulu perak berkilauan, taring seperti belati
pendek, atau sorot haus darah di matanya. Babun yang tengah merusak Canary
Wharf itu terlihat seperti akan memakan apa saja, bukan hanya makanan yang
diakhiri dengan huruf–O, dan tidak akan kesulitan merobek tubuhku bagian demi
bagian. Satu-satunya kabar baik: kesibukan di jalan telah mengalihkan
perhatiannya untuk sementara. Mobil-mobil membanting setir untuk menghindari
makhluk itu. Para pejalan kaki menjerit dan berlarian. Si babun mulai
menjungkirbalikkan taksi-taksi, memecahkan etalase-etalase toko, dan
menimbulkan kekacauan luas. Saat dia semakin mendekati kami, aku melihat
secarik kain berwarna merah tergantung di lengan kirinya—sisa kardigan favorit
kakek. Sementara di dahinya menempel kacamata Kakek. Baru pada saat itulah,
keterkejutan menghantamku sepenuhnya. Makhluk itu adalah kakekku, yang tak
pernah menggunakan sihir, tak pernah melakukan apa-apa yang mengganggu
dewa-dewa Mesir.
Ada saat-saat di mana aku tidak menyukai kakek-nenekku,
terutama ketika dia mengatakan hal-hal jelek mengenai ayahku, atau mengabaikan
Carter, atau ketika dia membiarkan Amos membawaku pergi Natal silam tanpa
perlawanan. Namun, tetap saja mereka telah membesarkanku selama enam tahun.
Kakek kerap menaruhku di pangkuannya dan membacakan buku-buku cerita Enid
Blyton-nya yang sudah usang ketika aku masih kecil. Sudah tidak terhitung
berapa kali dia mengawasiku bermain di taman dan mengajakku ke kebun binatang.
Dia membelikanku perniccn mcskipun Nenek tidak memperbolehkan. Dia mungkin
pernaraIi, tetapi dia adalah pensiunan tua yang boleh dibilang tidak berbahaya.
Dia jelas tidak layak dirasuki seperti ini. Babun itu merenggut pintu sebuah
bar dan mengendus-endus masuk. Para pelanggan yang panik memecahkan sebuah
jendela dan berlari menyusuri jalanan, masih memegang gelas minuman mereka.
Seorang polisi berlari ke arah keributan itu, melihat si babun, kemudian
berbalik dan lari ke arah yang berlawanan, sambil berteriak-teriak ke radionya
untuk meminta bala bantuan. Ketika berhadapan dengan peristiwa magis, mata
manusia cenderung melakukan hubungan pendek, hanya mengirimkan ke otak
gambar-gambar yang dapat dipahaminya. Aku tak tahu apa yang menurut orang-orang
ini sedang mereka lihat—mungkin seekor hewan kebun binatang yang melarikan diri
atau teroris bersenjata yang sedang marah—tetapi mereka tahu mereka hams lari
menyelamatkan diri. Aku bertanya-tanya apa yang nanti akan muncul di kamera
keamanan London mengenai adegan ini. "Sadie," Liz berkata dengan
suara teramat lirih, "apa itu?" "Babi," jawabku, "Dewa
Babun keparat. Dia mengambil alih tubuh kakekku. Dan dia ingin membunuh
kita." "Pemisi," kata Emma, "apa kau bam saja mengatakan bahwa
Dewa Babun ingin membunuh kita?" Babun itu meraung, mengerjap-ngerjapkan
mata dan memicing seolah dia lupa apa yang dia lakukan. Mungkin dia mewarisi
kelinglungan kakek dan penglihatan kakek yang buruk. Mungkin
dia tidak menyadari kacamatanya berada di atas kepalanya. Dia mengendus-endus
tanah, kemudian meraung frustrasi dan memecahkan etalase sebuah toko roti. Aku
nyaris yakin kami mendapat sedikit Barangkali kami bisa menyelinap pergi.
Kemudian sebuah sosok. hitam melayang di atas kepala, membentangkan kedua sayap
hitamnya dan memekik, "Di sinil Di sinil" Bagus sekali. Babun itu
punya bantuan udara. "Dua dewa, sebenarnya," Aku memberi tahu
teman-temanku, "sekarang, jika tidak ada pertanyaan lagi—lard" Kali
ini Liz dan Emma tak perlu dorongan lagi. Emma menendang sepatunya hingga
terlepas, Liz membuang kado untukku—sayang sekali—dan kami berpacu menyusuri
jalan.
Kami berzig-zag melewati gang-gang, merapat ke tembok untuk
menyembunyikan diri setiap kali si Dewi Burung Bangkai menukik di atas kepala.
Kudengar Babi meraung terus di belakang kami, membuat berantakan malam banyak
orang dan menghancurkan daerah sekitar situ, tetapi dia sepertinya kehilangan
bau kami untuk sementara. Kami berhenti sebentar di pertigaan jalan sementara
aku menimbang-nimbang hams berlari ke arah mana. Di depan kami berdirilah
sebuah gereja kecil, jenis bangunan kuno yang kerap kita temukan di
London—bangunan itu terbuat dari batu abad pertengahan nan suram yang terjepit
di antara Caffe Nero dan toko bahan kimia dengan papan neon yang menawarkan 3
produk rambut pilihan seharga £1. Gereja itu memiliki lahan permakaman kecil
yang dikelilingi pagar berkarat, tetapi aku tidak akan terlalu memperhatikannya
jika sebuah suara di dalam lahan itu tidak berbisik, " Sadie. "
Sungguh ajaib jantungku tidak terlompat keluar. Aku berbalik
dan mendapati diriku berhadapan muka dengan Anubis. Dia sedang berada dalam
wujud manusianya sebagai seorang remaja pria yang berambut gelap berombak dan
mats cokelat hangat. Dia mengenakan kaos band Dead Weather dan jins hitam yang
sangat cocok untuknya. Liz dan Emma tidak terlalu mampu bersikap tenang di
sekitar cowok cakep. Sebenarnya, otak mereka bisa dibilang berhenti berfungsi.
Liz terkesiap sambil rnengucapkan kata-kata satu suku kata yang terdengar seperti
suara napas orang yang hendak melahirkan, "Oh—ah—hai—si—a—pa?" Emma
kehilangan kendali atas kakinya dan menabrakku. Aku melemparkan tatapan tajam
pada mereka berdua, lalu berpaling ke arah Anubis. "Sudah waktunya ada
orang baik yang muncul," keluhku, "ada babun dan burung bangkai yang
mencoba membunuh kami. Tolong, maukah kau mengurusi mereka?" Anubis
mengerutkan bibir, dan aku punya perasaan dia tidak datang untuk membawa kabar
baik buatku. "Masuklah ke wilayah kekuasaanku," katanya, sambil
membuka gerbang permakaman. "Kita perlu bicara, dan kita tidak punya
banyak waktu." Emma menubrukku lagi. "Engg, wilayah kekuasanmu?"
Liz menelan ludah. "Si—ah—? "Ssst," kataku pada mereka, berusaha
tetap tenang, seolah-olah aku biasa menemui cowok keren di permakaman setiap
hari. Aku melirik ke jalan dan tidak melihat ada tanda-tanda keberadaan Babi
atau Nekhbet, tetapi aku masih bisa mendengar mereka—Dewa Babun itu menggerung,
sementara si Dewi Burung Bangkai memekik-mekik dengan suara nenekku (kalau
Nenek habis makan kerikil dan menenggak steroid) "Ke arah sini? Ke arah
sini!" "Tunggu di sini," kataku pada teman-temanku, dan
melangkah memasuki gerbang.
Seketika itu juga, udara berubah menjadi lebih dingin. Kabut
naik dari tanah basah. Batu-batu nisan berpendar, dan segala sesuatu di luar
pagar menjadi sedikit kabur. Anubis itu saja membuatku merasa kehilangan
keseimbangan dalam banyak hal, tetapi aku mengenali efek ini. Kami meluncur
memasuki duat- merasakan permakaman itu dalam dua level sekaligus: dunia Anubis dan duniaku. Dia memanduku ke sebuah
sarkofagus yang sudah hancur dan membungkuk ke arah makam tersebut dengan .takzim
"Beatrice, apakah kau keberatan
bila kami duduk?" Tidak terjadi apa-apa. Tulisan yang terpahat di
sarkofagus itu sudah memudar berabad-abad silam, tetapi kuduga ini adalah
tempat peristirahatan terakhir si Beatrice. "Terima kasih." Anubis
mempersilakanku duduk, "dia tidak berkeberatan." "Apa yang
terjadi jika dia keberatan?" Aku duduk dengan sedikit khawatir. "Nome
Kedelapan Belas," kata Anubis. "Maaf?" "Ke sanalah kau
harus pergi. Vlad Menshikov menyimpan bagian kedua Kitab Ra di laci teratas
mejanya, di markas besarnya di St. Petersburg. Itu jebakan, tentu saja. Dia
memang berharap bisa memancingmu. Namun, jika kau menginginkan gulungan itu,
kau tidak punya pilihan lain. Kau hams pergi malam ini, sebelum dia punya waktu
untuk semakin memperkuat pertahanannya. Dan Sadie, jika dewa-dewa lain tahu aku
mengatakan hal ini kepadamu, aku akan terjerumus dalam masalah besar." Aku
memandanginya. Kadang-kadang dia bertingkah sangat mirip anak remaja sehingga
sulit memercayai bahwa dia sudah berusia ribuan tahun. Kurasa itu gara-gara
menjalani hidup terkungkung di Tanah Orang Mati, tidak terpengaruh oleh
pergerakan waktu. Anak ini benar-benar perlu lebih sering keluar.
"Kau khawatir terjerumus dalam masalah?" Tanyaku,
"Anubis, bukannya aku tak tahu terima kasih, tapi saat ini aku menghadapi
masalah yang lebih besar. Dua dewa merasuki kakek-nenekku. Jika kau ingin
membantu—" "Sadie, aku tak bisa ikut campur." Dia mengangkat
kedua tangan dengan frustrasi. "Sudah kukatakan padamu saat kita pertama
kali bertemu, ini bukan tubuhku yang sebenarnya." " S ayang, "
gumamku. "Apa?" "Tidak apa-apa. Teruskan." "Aku bisa
mewujud di tempat-tempat kematian, seperti pekarangan gereja ini, tapi tidak
banyak yang bisa kuperbuat di luar wilayah kekuasaanku. Nah, jika kau sudah
mati dan ingin upacara pemakaman yang bagus, aku bisa membantu, tapi—"
"Oke, terima kasih." Di suatu tempat dekat situ, si Dewa Babun meraung.
Kaca-kaca pecah, dan batu-batu bata hancur. Teman-temanku memanggilku, tetapi
suara mereka terdengar lain dan sayup-sayup, seolah-olah aku mendengar mereka
dari bawah permukaan air. "Jika aku pergi tanpa teman-temanku," aku
bertanya pada Anubis, "apakah dewa-dewa itu akan membiarkan mereka?"
Anubis menggelengkan kepala. "Nekhbet memangsa mereka yang lemah. Dia tahu
bahwa melukai teman-temanmu akan melemahkanmu. Itu sebabnya dia mengincar
kakek-nenekmu. Satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah dengan
mengalahkannya. Sementara mengenai Babi, dia merepresentasikan sifat-sifat
terkelam kalian para primata: nafsu membunuh, kekuatan tidak terkendali—"
"Kami para primata?" Ujarku, "maaf, apakah kau baru saja
menyebutku babun?" Anubis mengamatiku dengan semacam ekspresi heran dan
kebingungan. "Alm lupa betapa menjengkelkannya kau. Intinya adalah dia
akan membunuhmu hanya karena dia suka membunuh."
"Dan kau tak bisa membantuku." Dia melemparkan
tatapan menyesal dengan kedua mata cokelat yang indah itu. "Aku sudah
memberitahumu mengenai St. Petersburg." Ya Tuhan, dia ganteng, tetapi
sangat menyebalkan. "Ya sudah kalau begitu, dewa dari hal-hal yang tidak berguna
ujarku, "ada hal lain lagi sebelum aku terbunuh?" Dia mengulurkan
tangannya. Sejenis belati aneh dalam genggamannya. Belati itu berbentuk seperti
pisau Sweeney Todd: panjang, melengkung, dan amat sangat tajamdi satu sisi, terbuat dari logam hitam.
"Ambillah ini," kata Anubis, "ini akan membantu."
"Apakah kau sudah lihat ukuran babun itu? Apa aku harus mencukur
rambutnya?" "Ini bukan untuk melawan Babi atau Nekhbet,"
katanya, "tapi kau akan membutuhkannya sebentar lagi untuk sesuatu yang
lebih penting. Ini pisau netjeri, terbuat dari besi meteor. Ini digunakan untuk
sebuah upacara yang pernah kuceritakan kepadamu—upacara pembukaan mulut."
"Ya, baiklah, jika aku selamat malam ini, aku pasti akan mengambil pisau
cukur ini dan membuka mulut seseorang. Terima kasih banyak." Liz menjerit,
"Sadie?" Dan balik kabut tanah pemakaman, aku melihat Babi tinggal
beberapa blok lagi, berjalan dengan langkah-langkah berat menuju gereja. Dia
sudah menemukan kami. "Naiklah kereta bawah tanah," Anubis memberi
saran, seraya menarikku berdiri, "ada stasiun setengah blok ke selatan.
Mereka tidak akan bisa melacak kalian dengan baik di bawah tanah. Air yang
mengalir juga bisa dipakai untuk kabur. Makhluk-makhluk Duat menjadi lemah bila
menyeberangi sungai. Jika kau hams bertempur melawan mereka, cari jembatan yang
melintasi sungai Thames. Oh, dan aku sudah memberi tahu sopirmu untuk
menjemputmu."
"Sopirku?" "Ya. Dia berencana bare
menjemputmu besok, tapi—" Sebuah boks surat Royal Mail berwarna merah
melayang di udara dan menghantam bangunan sebelah. Teman-temanku berteriak
padaku supaya bergegas. "Pergilah," kata Anubis, "maaf aku tak
bisa berbuat lebih banyak. Tapi selamat ulang tahun, Sadie." Dia
mencondongkan badan ke depan dan mencium bibirku. Kemudian dia larut dalam
kabut dan menghilang. Tanah permakaman itu menjadi normal lagi—bagian dari
dunia biasa yang tidak bcrkilauan. Aku schartisnya sangat marah pada Anubis.
Menciumku tanpa permisi—berani-beraninyal Tetapi aku hanya berdiri, tak bisa
bergerak, menatap sarkofagus Beatrice yang mulai hancur, sampai Emma memekik,
"Sadie, ayol." Teman-temanku mencengkeram kedua lenganku, dan aku pun
ingat cara berlari. Kami lari menuju stasiun kereta bawah tanah Canary Wharf.
Si babun meraung dan menghancurkan kendaraan-kendaraan yang melintas di
belakang kami. Di atas kepala kami, Nekhbet memekik, "Di sanal. Bunuh
merekal" "Siapa cowok tadi?" desak Emma saat kami masuk ke dalam
stasiun. "Ya Tuhan, dia keren sekali." "Seorang dewa,"
gumamku. Kuselipkan pisau cukur hitam itu ke dalam sakuku dan menuruni
eskalator, bibirku masih terasa geli akibat ciuman pertamaku. Dan jika aku
menyenandungkan lagu "Happy Birthday" serta tersenyum tolol saat lari
menyelamatkan diri—ya, itu bukan urusan siapa-siapa, bukan?[]
8.SADIE
KETERLAMBATAN
PARAH DI STASIUN WATERLOO(KAMI MINTA MAAF SOAL BABUN RAKSASANYA)
JARINGAN KERETA BAWAH TANAH LONDON memiliki akustik yang
indah. Bunyi-bunyian menggema di sepanjang terowongan. Jadi, saat kami turun,
aku bisa mendengar suara kereta melesat, musisi bermain untuk mendapatkan uang
receh, dan tentu saja raungan dewa babun pembunuh yang haus darah saat dia
meremukkan pintu putar di belakang kami. Dengan segala ancaman terorisme dan
keamanan yang ditingkatkan, kita mungkin mengharapkan ada beberapa polisi
bersiaga, tetapi sayangnya bukan pada saat seperti ini, bukan di stasiun yang
relatif kecil ini. Sirene meraung dari jalanan di atas, tetapi kami pasti sudah
lama mati atau lenyap pada saat bantuan itu tiba. Dan jika polisi mencoba
menembak Babi ketika dia merasuki tubuh kakek—tidak. Kupaksakan diriku untuk
tidak berpikir tentang itu. Anubis menyarankan agar kami menggunakan jalur
kereta bawah tanah. Dan jika terpaksa bertempur, aku sebaiknya mencari
jembatan. Aku harus bertahan dengan rencana itu. Tidak banyak pilihan kereta di
Canary Wharf. Untungnya, Jubilee Line, jalur kereta bawah tanah menuju London
tengah
dan timur, datang tepat waktu. Kami berhasil sampai ke
peron, melompat naik ke gerbong terakhir saat pintu-pintu tengah menutup, dan
menyurukkan diri ke sebuah bangku. Kereta bergerak tiba-tiba memasuki
terowongan yang gelap. Di belakang kami, aku tidak melihat ada tanda-tanda Babi
atau Nekhbet yang mengejar kami. "Sadie Kane," Emma terengah-engah,
"tolong, maukah kau mengatakan pada kami apa yang sedang terjadi?"
Teman-temanku yang malang. Aku tak pernah ingin menjerumuskan mereka ke dalam
masalah sebesar ini, bahkan ketika kami terkunci di ruang ganti anak lelaki di
sekolah. (Ceritanya panjang, melibatkan taruhan lima poundsterling, celana
Dylan Quinn, dan seekor tupai. Mungkin akan kuceritakan nanti) Kaki Emma penuh
goresan dan melepuh karena berlari telanjang kaki. Jumper pink-nya terlihat
seperti bulu anjing pudel yang hancur, dan beberapa butir berlian imitasi
hilang dari kacamatanya. Wajah Liz semerah hari valentine. Dia telah melepas
jaket denimnya, sesuatu yang tak pernah dia lakukan, karena dia selalu
kedinginan. Atasannya yang berwarna putih penuh bercak-bercak keringat. Kedua
lengannya bebintik-bintik sangat banyak, sampai mengingatkanku pada kulit
konstelasi Nut, si Dewi Langit. Di antara mereka berdua, Emma yang terlihat
lebih jengkel, dia menunggu penjelasanku. Liz tampak ketakutan, mulutnya
bergerak-gerak seperti ingin bicara, tetapi sepertinya dia kehilangan pita
suara. Kukira dia akan berkomentar mengenai dewa-dewa haus darah yang mengejar
kami, tetapi ketika akhirnya bisa bersuara, dia berkata, "Cowok itu
menciummul" Serahkan pada Liz soal membuat prioritas yang benar.
"Akan kujelaskan nanti," janjiku, "aku tahu aku teman yang buruk
karena menyeret kalian berdua ke dalam masalah ini. Tapi tolong, beri aku waktu
sebentar. Aku perlu berkonsentrasi." "Berkonsentrasi pada apa?"
desak Emma.
"Hus, Emma!" omel Liz, "dia mints dibiarkan
berkonsentrasi." Aku memejamkan mata, berusaha menenangkan sarafku. Itu
tidak mudah, terutama dengan adanya penonton. Namun, tanpa perbekalanku, aku
tak bisa membela diri, lagi pula kecil kemungkinan aku akan mendapat kesempatan
lain untuk mengambilnya. Aku berpikir: Kau bisa melakukannya, Sadie, Hanya
meraih ke dimensi lain. Hanya membuat sebuah sobekan pada jaring realitas. Aku
mengulurkan tangan. Tidak terjadi apa-apa. Aku mencoba lagi, dan tanganku
menghilang ke dalam Duat. Liz memekik, Untungnya, aku tidak kehilangan
konsentrasi (atau kehilangan tangan). Jari-jemariku menggenggam tali tas
sihirku, dan aku menariknya. Mata Emma
melebar. "Itu hebat sekali. Bagaimana kau melakukannya?" Sebenarnya, aku juga
penasaran mengenai hal yang Salim Mengingat situasi yang ada, aku tidak percaya
aku berhatiiI melakukannya hanya pada percobaan kedua. "Itu ehm
sihir," ujarku. Teman-temanku memandangiku, takjub sekaligus ketakutan,
dan besarnya masalah yang kuhadapi mendadak menghantamku. Setahun lalu, jika
Liz, Emma, dan aku menaiki kereta ini, pasti itu ke Funland atau ke bioskop.
Kami mungkin sedang tertawa mendengar nada dering konyol di ponsel Liz atau
melihat foto-foto anak-anak perempuan yang kami benci di sekolah yang
diubah-ubah Emma dengan photoshop. Hal paling berbahaya dalam hidupku dulu
adalah masakan Nenek dan kemarahan Kakek ketika dia melihat nilai-nilaiku
semester itu. Sekarang Kakek adalah babun raksasa. Nenek adalah burung bangkai
jahat. Teman-temanku memandangiku seolah-olah aku terjatuh dari planet lain,
sesuatu yang tidak terlalu jauh dari kenyataan.
Bahkan dengan perbekalan sihir di tangan, aku sama sekali
tidak tahu apa yang hams kulakukan. Aku tidak lagi memiliki kekuatan penuh
Isis. Jika aku mencoba melawan Babi dan Nekhbet, aku mungkin akan melukai
kakek-nenekku dan sangat mungkin menyebabkan diriku sendiri terbunuh. Namun,
jika aku tidak menghentikan mereka, siapa yang akan melakukannya? Dirasuki oleh
dewa akan membuat tubuh manusia perantara hancur pada akhirnya. Itu hampir
terjadi pada Paman Amos, yang merupakan penyihir penuh dan tahu cara membela
diri. Kakek dan Nenek sudah tua, lemah, dan tidak tahu menahu soal sihir.
Mereka tidak punya banyak waktu. Keputusasaan—yang jauh lebih buruk daripada
sayap si Dewi Burung Bangkai—melandaku. Aku tidak menyadari bahwa aku sedang
menangis sampai Liz meletakkan tangannya di atas pundakku. "Sadie sayang,
kami minta maaf. Hanya saja itu agak aneh. Kau tahu kan? Ceritakan pada kami
ada masalah apa. Biarkan kami membantu." Aku menarik napas gemetaran. Aku
sangat merindukan teman-temanku. Aku selalu menganggap mereka agak aneh, tetapi
mereka sekarang tampak sangat normal, menyenangkan—bagian dari dunia yang bukan
lagi milikku. Mereka berdua mencoba terlihat berani, tetapi aku tahu dalam hati
mereka juga ketakutan. Aku sungguh berharap bisa meninggalkan mereka,
menyembunyikan mereka, menjaga mereka dari marabahaya, tetapi aku ingat yang dikatakan
Nekhbet: Mereka akan menjadi hidangan pembuka yang enak. Anubis
memperingatkanku bahwa Dewi Burung Bangkai itu akan memburu teman-temanku dan
melukai mereka sekadar untuk membuatku lemah. Setidaknya jika mereka bersamaku,
aku bisa mencoba melindungi mereka. Aku tidak ingin menjungkirbalikkan hidup
mereka sebagaimana hidupku sendiri yang telah jungkir balik, tetapi aku
berutang kejujuran pada mereka. "Ini akan terdengar gila," aku
memperingatkan.
Aku memberi mereka versi sesingkat mungkin I iirngapa aku
meninggalkan London, bagaimana dewa-dewa Mesir lepas dan memasuki dunia ini,
bagaimana aku menemukan garis keturunn ku sebagai penyihir. Kuceritakan pada mereka
mengenai pertempuran kami melawan Set,
kebangkitan Apophis, dan gagasan gila kami untuk membangunkan Dewa Ra. Dua stasiun
berlalu, tetapi rasanya sungguh menyenankan bisa menceritakan hal itu kepada
teman-temanku sehingga ku lebih suka melupakan waktu. Setelah aku selesai, Liz
dan Emma saling berpandangan, tidak diragukan lagi tengah bertanya-tanya
bagaimana cara menyampaikan kepadaku dengan halus bahwa aku ini sinting.
"Aku tahu ini terkesan mustahil," kataku, "tapi—"
"Sadie, kami percaya padamu," kata Emma. Aku mengerjap-ngerjapkan
mata. "Benarkah?" "Tentu saja." Wajah Liz memerah, seperti
ketika dia habis naik roller coaster beberapa kali. "Aku tak pernah
mendengarmu bicara begitu serius mengenai apa pun. Kau—kau telah berubah."
"Itu cuma karena aku sekarang adalah penyihir, dan dan aku tidak percaya
betapa bodoh kata itu terdengar." "Lebih dari itu." Emma
mengamati wajahku seolah-olah aku berubah menjadi sesuatu yang sangat
menakutkan. "Kau tampak lebih tua. Lebih dewasa." Suaranya dihiasi
nada sedih, dan kusadari aku dan teman-temanku semakin jauh. Seolah-olah kami
berdiri di sisi jurang yang berbeda. Dan aku tahu dengan kepastian yang
menyedihkan, jurang itu sudah terlalu lebar untuk bisa kulompati kembali.
"Pacarmu luar biasa," tambah Liz, barangkali untuk membuatku ceria.
"Dia bukan ...," aku berhenti. Tidak mungkin memenangkan perdebatan
dengan Liz. Lagi pula, aku begitu bingung mengenai si jakal sialan Anubis itu,
sampai aku tidak tahu hams mulai dari mana.
Kereta melambat. Aku melihat papan nama Stasiun Waterloo.
"Oh, Tuhan," ujarku, "aku berniat turun di jembatan London. Aku
perlu jembatan." "Tidak bisakah kita kembali ke stasiun
sebelumnya?" Tanya Liz. Sebuah raungan dari terowongan di belakang kami
menjawab pertanyaan itu. Saat menengok ke belakang, kulihat sosok besar dengan
bulu perak berkilauan berlari melompat-lompat di sepanjang jalur kereta.
Kakinya menyentuh rel ketiga, dan bunga api pun beterbangan, tetapi si Dewa
Babun terus melaju dengan langkah berat, tidak terganggu. Saat kereta mengerem,
Babi mulai menyusul kami. "Kita tidal. mungkin kembali," kataku,
"kita harus pergi ke Jembatan Waterloo." "Itu hampir satu
kilometer dari stasiun?" Liz memprotes, "bagaimana bila makhluk itu
menangkap kita?" Aku menggeledah tasku dan mengeluarkan tongkat baruku.
Seketika tongkat itu memanjang ke ukuran penuh, ujungnya yang berukir singa menyorotkan
sinar keemasan. "Kalau begitu kurasa kita hams bertempur."
Haruskah aku menggambarkan Stasiun Waterloo sebelum dan
sesudah kami menghancurkannya? Ruang depan stasiun itu terbuka dan sangat
besar. Lantai pualamnya licin mengilat, banyak sekali terdapat toko dan trios,
sementara langit-langitnya yang terbuat dari kaca dan besi cukup tinggi
sehingga helikopter bisa terbang berputar-putar di dalamnya dengan nyaman. Arus
manusia mengalir keluar masuk, berbaur, berpisah, dan kadang-kadang bertabrakan
ketika mereka bergerak menuju berbagai eskalator dan peron. Ketika aku masih
kecil, bangunan stasiun itu agak menyeramkan bagiku. Aku khawatir lampu raksasa
bergaya Victoria yang tergantung di langit-langit akan jatuh dan menimpaku.
Suara
petugas yang membacakan pengumuman terlalu nyaring. (Aku
lebih suka menjadi yang paling ribut di lingkunganku, terima kasih banyak.)
Gerombolan para penumpang harian yang tongah berdiri terpaku di bawah papan
keberangkatan, kereta, mengingatkanku pada segerombolan orang di film i
zombie—yang, tentu saja, seharusnya tidak kutontoli anak kecil, tetapi aku
selalu lebih cepat dewasa daripada teman sebayaku. Bagaimanapun juga,
teman-temanku dan aku tengah berlari kencang melewati stasiun utama, mendesak-desak
orang menuju pintu keluar terdekat,
ketika tangga di belakang kami meledak. Kerumunan orang berhamburan saat Babi
naik dari reruntuhan, Para pebisnis berteriak, menjatuhkan koper-koper mereka
dan berlari menyelamatkan diri. Liz, Emma, dan aku menempel di camping trios Paperchase
supaya tidak terinjak-injak sekelompok wisatawan yang berteriak-teriak dalam
Bahasa Itali. Babi meraung. Bulunya dipenuhi debu dan jelaga akibat berlari
melewati terowongan. Kardigan kakek tercabik-cabik di lengannya, tetapi yang
ajaib, kacamatanya masih bertengger di kepalanya. Babun itu mengendus-endus
udara, barangkali mencoba untuk membaui aromaku. Kemudian sebuah bayangan gelap
melintas di atas. "Ke mana kau akan pergi, Sadie Kane?" Nekhbet
memekik. Dia melayang melintasi stasiun, menukik ke arah kerumunan orang yang
sudah panik. "Apakah kau akan melawan dengan cara melarikan diri? Kau
tidak pantas dihormatir Suara tenang seorang petugas pemberi pengumuman
menggema di seluruh stasiun: "Kereta pukul 8.02 menuju Basingstoke akan
tiba di peron nomor tiga." "ROOOAR!." Babi memukul sebuah patung
perunggu seorang pria terkenal yang malang dan membuat kepala patung itu copot.
Seorang polisi berlari maju, sambil membawa pistol. Sebelum aku bisa berteriak
padanya agar berhenti, dia melepaskan tembakan
ke arah Babi. Liz dan Emma menjerit bersama-lama. Peluru itu
memantul dari bulu Babi seolah-olah bulunya terbuat dari titanium, dan
menghancurkan papan nama McDonald di dekat situ. Si petugas polisi langsung
pingsan. Aku tak pernah melihat begitu banyak orang keluar dari sebuah stasiun
secepat ini. Aku mempertimbangkan untuk mengikuti mereka, tetapi memutuskan
bahwa hal itu terlalu berbahaya. Aku tak bisa membiarkan dewa-dewa gila ini
membunuh banyak orang tidak bersalah hanya karena aku ada di antara mereka.
Lagipula jika kami mencoba ikut berduyun-duyun menyelamatkan diri, kami hanya
akan tergencet atau remuk terinjak-injak. "Sadie, lihatl." Liz
menunjuk ke atas, dan Emma memekik. Nekhbet melayang menuju balok langit-langit
dan bertengger di sana bersama burung-burung merpati. Dia menatap marah ke arah
kami dan berteriak kepada Babi, "Dia di sini, Sayangl Di sinil"
"Kuharap dia tutup mulut," gumamku. "Isis bodoh telah memilihmul
" Nekhbet melengking, "aku akan menyantap isi perutmul "
"ROOOAR!" timpal Babi, memberi persetujuan dengan penuh semangat.
"Kereta pukul 8.14 menuju Brighton tertunda," kata pemberi
pengumuman, "kami minta maaf atas ketidaknyamanan Anda." Babi telah
melihat kami sekarang. Kedua matanya menyala-nyala penuh amarah purba. Aku juga
melihat sedikit unsur kakek dalam ekspresinya. Cara dia mengerutkan alis dan
mendongakkan dagu—persis seperti kakek ketika marah kepada televisi dan
meneriaki pemain rugbi. Melihat ekspresi itu kepada si Dewa Babun nyaris
membuat keberanianku hilang. Aku tidak akan mati di sini. Aku tidak akan
membiarkan kedua dewa memuakkan itu menyakiti teman-temanku atau menghancurkan
kakek-nenekku. Babi bergerak lambat ke arah kami. Setelah sekarang menemukan
kami, dia tidak tampak terburu-buru hendak
membunuh kami. Dia mengangkat kepalanya dan mengeluarkan
suara mengaum yang dalam ke kiri dan ke kanan, seolah-olah berseru, memanggil
teman-temannya untuk makan nmlam. Jari-jemari Emma mencengkeram lenganku. Liz
merengek, " Sadie… ...?" Sebagian besar orang sudah keluar sekarang.
Tidak ada polisi lain yang terlihat.
Mungkin mereka sudah melarikan diri, atau mungkin mereka semua tengah menuju Canary
Wharf, tidak bahwa masalahnya sekarang
berada di sini. "Kita tidak akan mati," Aku berjanji kepada
teman-temank "Emma, pegang tongkatku." "Apamu—Oh, baiklah."
Dia menerima tongkat itu dengan hati-hati seolah-olah aku memberinya sebuah
peluncur roket, yang kurasa memang mungkin-mungkin saja bisa dilakukan dengan
mantra yang tepat. "Liz," aku memberi perintah, "awasi babun
itu." "Awasi babun," ulangnya, "agak sulit mengabaikan
babun itu." Aku menggeledah tas sihirku, dengan sangat buru-buru melakukan
inventarisasi. Tongkat sihir bagus untuk pertahanan, tetapi melawan dua dewa
sekaligus aku perlu lebih dari itu. Anak-anak Horns, kapur ajaib—ini bukan
tempat untuk menggambar lingkaran perlindungan. Aku hams pergi ke jembatan. Aku
perlu mengulur waktu agar bisa keluar dari stasiun ini. "Sadie ...,"
Liz memperingatkan. Babi telah melompat ke atas atap toko Body Shop. Dia
meraung, dan babun-babun yang lebih kecil mulai bermunculan dari segala
penjuru—memanjat di atas kepala para penumpang, berayun turun dari balok
penopang, muncul dari tangga dan toko-toko. Ada puluhan babun, semuanya
mengenakan baju kaos basket berwarna hitam dan perak. Apakah basket adalah
semacam olah raga babun internasional? Hingga hari ini, aku agak suka kepada
babun. Babun-babun yang pernah kutemui sebelumnya, seperti Khufu dan
teman-temannya yang ramah, adalah hewan-hewan suci Thoth, dewa
ilmu pengetahuan. Mereka biasanya bijaksana dan suka
membantu. Namun, kuduga pasukan babun Babi termasuk jenis yang sama sekali
berbeda. Mereka semua memiliki bulu berwarna merah darah, mata liar, dan taring
yang pasti membuat seekor harimau gigi pedang merasa rendah diri. Mereka mulai
mendekat, menggeram seraya bersiap-siap menyerang. Kukeluarkan sebalok lilin
dari tasku—tidak ada waktu untuk membuat shabti. Dua jimat tyet, tanda suci
Isis—ah, itu mungkin berguna. Kemudian aku menemukan sebuah botol kaca
bersumbat yang sudah lama kulupakan. Di dalamnya ada semacam lumpur keruh:
percobaan pertamaku membuat ramuan. Benda itu sudah berada di dasar tasku lama
sekali karena aku tak pernah cukup putus asa untuk mencobanya. Kukocok-kocok
ramuan itu. Cairan itu memijarkan cahaya hijau pucat. Serpihan-serpihan sampah
berputar-putar di dalamnya. Aku membuka sumbatnya. Cairan itu berbau lebih
busuk daripada Nekhbet. "Apa itu?" tanya Liz.
"Menjijikkan," jawabku, "gulungan animasi diblender dengan
minyak, air, dan beberapa bahan rahasia. Hasilnya agak menggumpal,
sayangnya." "Animasi?" tanya Emma, "kau akan memanggil
tokoh kartun?" "Itu pasti bagus sekali," aku mengakui,
"tapi ini lebih berbahaya. Jika aku melakukannya dengan benar, aku bisa
menyerap sihir dalam jumlah besar tanpa kehabisan tenaga." "Dan jika
kau salah melakukannya?" tanya Liz. Aku memberi mereka masing-masing
sebuah jimat Isis. "Pegang ini. Kalau aku bilang Lani, larilah mencari
tempat pemberhentian taksi. Jangan berhenti." "Sadie," Emma
memprotes, "apa-apaan—" Sebelum sempat kehilangan nyali, akumenenggak
ramuan itu.
Di atas, Nekhbet terkekeh. "Menyerahlahl Kau tidak akan
mampu melawan kami!" Bayangan sayapnya seperti membentang di seluruh ruang
terbuka stasiun itu, membuat penumpang terakhir melarikan diri dengan panik dan
memandangiku penuh ketakutan.Aku tahu ini hanya mantra, tetapi meski demikian,
godaan untuk menerima saja kematian kilat nyaris tidak tertahankan. Perhatian
beberapa ekor babun teralihkan oleh bau makanan dan mereka menjarah McDonald's. Beberapa babun
lain mengejar kondektur kereta,
memukulinya dengan gulungan majalah fesy Sayangnya, sebagian besar babun masih
terfokus kepada kami. Mereka membentuk lingkaran longgar di sekitar kios
Paperchase. Dari pos komandonya di atas Body Shop, Babi meraung—perintah yang
gamblang untuk menyerang. Kemudian ramuan itu menghantam ususku. Sihir mengalir
ke sekujur tubuhku. Mulutku terasa seperti habis menelan seekor bangkai katak,
tetapi sekarang aku mengerti mengapa ramuan sangat populer di kalangan penyihir
kuno. Mantra animasi itu, yang untuk menulisnya aku butuh waktu berhari-hari
dan biasanya perlu waktu setidaknya satu jam untuk merapalkannya, sekarang
menggelenyar dalam aliran darahku. Kekuatan menyerbu ke ujung-ujung jariku.
Satu-satunya masalahku adalah menyalurkan sihir itu, memastikan sihir tidak
membakarku hingga hancur. Aku memanggil Isis dengan segenap kemampuanku,
menyedot kekuatannya untuk membantuku membentuk mantra sihir. Kubayangkan apa
yang kuinginkan, dan kata berkekuatan yang tepat langsung muncul di benakku: Lindungi.
N'dah. Kulepaskan sihir itu. Sebuah hieroglif emas terbakar di depanku:
Gelombang cahaya emas bergelombang ke sekujur ruang terbuka
stasiun. Pasukan babun bimbang. Babi nyaris terjatuh dari atas atap Body Shop.
Bahkan Nekhbet menguak dan terhuyung-huyung di atas balok penopang
langit-langit. Di seluruh penjuru stasiun, benda-benda mati mulai bergerak. Tas
ransel dan koper tiba-tiba mulai terbang. Rak-rak majalah, permen karet,
permen, aneka minuman dingin melesat keluar dari took-toko dan menyerang
pasukan babun. Kepala perunggu patung yang terpenggal tadi melesat entah dari
mana dan menghantam dada Babi , membuatnya terjungkal ke belakang dan
menembus atap Body Shop. Tornado koran
Financial Times yang berwarna merah muda terbang berputar ke arah
langit-langit. Koran-koran itu mengerubungi Nekhbet, yang terhuyung-huyung, tak
bisa melihat dan terjatuh dari tempatnya bertengger sambil melengking nyaring.
Sekujur tubuhnya diselubungi warna merah muda dan hitam. "Lari!" Aku
memberi aba-aba kepada teman-temanku. Kami melesat menuju pintu keluar,
meliuk-liuk melewati babun-babun yang terlalu sibuk untuk menghentikan kami.
Salah seekor babun tengah digebuki oleh setengah lusin botol air bersoda. Babun
yang lain sedang menangkis sebuah koper dan beberapa ponsel Blackberry yang
melakukan kamikaze. Babi berusaha bangkit, tetapi pusaran produk Body Shop
menyerbu di sekelilingnya—losion, busa gambas kering, dan sampo memukulinya,
menyemproti matanya, dan berusaha memberinya perawatan tubuh ekstrem. Dia
meraung marah, tergelincir dan jatuh kembali ke toko yang hancur lebur itu. Aku
ragu jampi-jampiku akan menimbulkan kerusakan permanen pada dewa-dewa itu,
tetapi dengan sedikit keberuntungan, mantra itu akan membuat mereka sibuk
selama beberapa menit. Liz, Emma, dan aku berhasil keluar dari stasiun. Dengan
mengungsinya seisi stasiun, aku tidak terlalu berharap ada taksi di tempat
antreannya, dan tepian jalan memang kosong. Aku pasrah
Harus berlari sampai
Jembatan Waterloo, meskippun emma tidak memakai sepatu, dan ramuan tadi
membuatku ingin muntah . "Lihatr kata Liz. "Oh, bagus sekali,
Sadie," kata Emma. "Apa?" Tanyaku, "apa yang telah
kulakukan?" Kemudian aku melihat sopir itu—seorang pria yang luar biasa
pendek dan kumal berdiri di ujung jalan mobil dalam balutan setelan berwarna
hitam, memegang plakat yang bertuliskan KANE Kurasa teman-temanku mengira aku
telah memanggil nya dengan sihir. Sebelum aku bisa memberitahukan yang
sebenartml, Emma berkata, "Ayo!." dan mereka berlari kecil menuju
pria pendek itu. Aku tidak punya pilihan selain mengikuti. Aku teringat
perkataan Anubis soal menyuruh "sopirku" menjemput. Kurasa pasti
orang inilah yang dimaksud, tetapi semakin kami dekat, semakin aku tidak
bersemangat menemuinya. Tingginya separuh tinggiku, tubuhnya lebih gempal
ketimbang pamanku Amos, dan lebih jelek daripada semua orang di planet ini. Raut
wajahnya jelas-jelas seperti manusia purba. Di bawah alis lebatnya yang hanya
sebelah, salah satu matanya lebih besar daripada yang lain. Janggutnya terlihat
seperti sering dipakai untuk menggosok panci berminyak. Kulitnya dihiasi
bilur-bilur merah, dan rambutnya terlihat seperti sarang burung yang habis
dibakar lalu diinj ak-injak. Ketika melihatku, dia mengerutkan kening dengan
marah, yang sama sekali tidak memperbaiki penampilannya. "Akhirnyar
Aksennya Amerika. Dia beserdawa ke dalam kepalan tangannya, dan bau kare yang
menguar nyaris membuatku pingsan. "Teman Bast? Sadie Kane?" "Em
mungkin." Kuputuskan untuk bicara serius dengan Bast mengenai pilihan
temannya. "Omong-omong, ada dua dewa yang berusaha membunuh kami." Pria
kecil berkutil itu berdecak-decak, jelas tidak terkesan. "Kalau begitu
kurasa kalian ingin jembatan."
Dia berbalik menuju tepi jalan dan berteriak, "BOO!"
Sebuah mobil limusin Mercedes hitam muncul entah dari mana, seolah-olah keluar
karena ditakut-takuti. Si sopir melirik ke arahku dan mengangkat alis.
"Kenapa? Masuklahl"
Aku tidak pernah naik limusin sebelumnya. Kuharap sebagian
besar limusin lebih nyaman daripada yang kami naiki. Tempat duduk bagian
belakangnya diseraki wadah-wadah kare dari restoran, kertas pembungkus
fish-and-chips, kantong-kantong keripik, dan beraneka kaus kaki kotor. Meskipun
begitu, Emma, Liz, dan aku berdesak-desakan di belakang, karena kami semua
tidak berani duduk di depan. Kalian mungkin mengira aku gila mau naik mobil
dengan orang asing. Kalian benar tentu saja. Namun, Bast telah menjanjikan
bantuan buat kami dan Anubis memberitahuku bahwa akan ada sopir. Fakta bahwa
bantuan yang dijanjikan kepada kami adalah seorang pria bertubuh kecil yang
memiliki higienitas buruk dan limusin sihir tidak terlalu mengagetkanku. Aku
sudah pernah melihat hal-hal yang lebih aneh. Selain itu, aku tidak punya
banyak pilihan. Ramuan itu telah memudar pengaruhnya, dan rasa lelah akibat
melepaskan sihir sebesar itu membuat kepalaku terasa ringan dan kakiku goyah.
Aku tidak yakin bisa berjalan ke jembatan Waterloo tanpa semaput. Si sopir
menginjak gas dan meluncur keluar dari stasiun. Polisi telah mengepung stasiun,
tetapi limusin kami meliuk-liuk di sekitar barikade, melewati sekelompok mobil
van BBC serta segerombolan penonton, dan tidak seorang pun memperhatikan kami.
Sang sopir mulai menyiulkan serangkaian nada yang terdengar seperti lagu Randy
Newman "Short People (Orang-Orang Pendek)." Kepalanya nyaris tidak
mencapai sandaran kepala. Yang bisa
kulihat hanyalah segumpal rambut kotor dan sepasang tangan
berbulu pada kemudi. Pada pelindung matahari tertempel selembar kartu identitas
yang memuat fotonya—ya, semacam foto.
Foto di ambil jarak yang sangat dekat, hanya menampilkan sebatang hidung yang tidak masuk fokus dan mulut yang menmkkan, seolah
sedang berusaha memakan kameranya. Kartu
itu bertuliskan Pengemudi Anda adalah BES. "Kau Bes, betul?" Tanyaku.
"Betul, " jawabnya. "Mobilmu berantakan betul," Liz
menggumam. "Kalau ada satu orang lagi yang mengatakan betul," gerutu
Emma, "aku akan muntah." "Apakah kau ini Mr. Bes?" Tanyaku,
berusaha mencocokkan namanya dengan mitologi Mesir. Aku cukup yakin mereka
tidak punya dewa sopir. "Lord Bes? Bes yang Teramat Pendek?"
"Cuma Bes," gerutunya, "satu s. Dan bukan, itu BUKAN nama perempuan.
Panggil aku Bessie, maka aku terpaksa membunuhmu. Sementara soal pendek, aku
ini dewa orang cebol. Jadi, apa yang kau harapkan? Oh, ada air botolan di
belakang sana bila kalian haus." Aku menatap ke bawah. Menggelinding di
bawah kakiku dua botol air setengah kosong. Ada bekas lipstik pada tutup salah
satu botol itu. Yang lain terlihat seperti habis digerogoti. "Tidak
haus," Aku memutuskan. Liz dan Emma menggumamkan persetujuan. Aku terkejut
mereka tidak terserang katatonia setelah peristiwa malam ini, tetapi
bagaimanapun juga, mereka teman-teman baikku. Aku tidak bergaul dengan
cewek-cewek yang tidak punya nyali, kan? Bahkan sebelum menemukan sihir, perlu
ketahanan yang kuat dan sejumlah besar kemampuan menyesuaikan diri untuk
menjadi temanku. [Kau tidak boleh berkomentar, Carter.]
Kendaraan-kendaraan polisi memblokir jembatan Waterloo,
tetapi Bes meliuk-liuk melewatinya, melompati trotoar, dan terus melaju.
Polisi-polisi itu bahkan tidak berkedip. "Apa kita tidak kasat mata?"
Tanyaku. "Bagi sebagian besar manusia." Bes beserdawa. "Mereka
itu cukup dungu, ya? Dengan pengecualian orang-orang yang ada di sini, dan
lain-lain." "Kau benar-benar dewa?" Tanya Liz.
"Besar," kata Bes, "aku ini tokoh besar di dunia para
dewa." "Dewa orang cebol yang besar," Emma terkagum-kagum,
"maksudmu seperti kurcaci cebol di cerita Putih Salju, atau—"
"Semua orang cebol." Bes mengayunkan kedua tangannya melebar, yang
membuatku agak cemas karena dia melepas kedua tangannya dari kemudi.
"Orang Mesir itu pintar. Mereka menghormati orang-orang yang terlahir
tidak biasa. Orang cebol dianggap sangat magis. Jadi, ya, aku adalah dewa
orang-orang cebol." Liz berdeham. "Bukankah ada istilah lebih sopan
yang seharusnya kita gunakan sekarang ini? Seperti orang kecil, atau orang
dengan keterbatasan tinggi, atau—" "Aku tidak akan menyebut diriku
sebagai dewa orang-orang dengan keterbatasan tinggi," Bes menggerutu,
"aku ini ceboll Nah, kita sudah sampai, tepat pada waktunya." Dia
memutar mobil hingga berhenti di tengah jembatan. Saat melihat ke belakang, aku
hampir mengeluarkan isi perutku. Sosok hitam bersayap tengah berputar-putar di
atas tepian sungai. Di ujung jembatan, Babi sedang menangani barikade dengan
caranya sendiri. Dia melemparkan mobil-mobil polisi ke dalam Sungai Thames
sementara para petugas kepolisian berhamburan dan menembakkan senjata mereka,
meskipun peluru tampaknya tidak berefek pada bulu laksana baja milik Dewa Babun
tersebut. "Mengapa kita berhenti?" Tanya Emma.
Bes berdiri di atas tempat duduknya dan meregangkan badan,
sesuatu yang bisa dilakukannya dengan cukup mudah. "Ini sungai,"
katanya, "tempat yang bagus untuk bertarung melawan dewa-dewa, jika aku
boleh berkata begitu. Segala kekuatan alam yang mengalir di bawah kaki ini
membuat kami kesulitan untuk tetap bertahan di dunia manusia." Saat
memandanginya dengan lebih cermat, aku bisa melihat apa maksudnya. Wajah Bes
berpendar-pendar seperti Sebuah gumpalan terbentuk di tenggorokanku. Inilah
saat penentuan. Aku merasa mual gara-gara ramuan dan rasa takut . Aku sama sekali
tidak yakin aku punya cukup sihir untuk melawan kedua dewa ini. Namun, aku
tidak punya pilihan. "Liz, Emma," ujarku, "kita akan
keluar." "Ke luar?" Liz mengerang. Emma menelan ludah. "Apa
kau yakin—" "Aku tabu kalian takut," ujarku, " kalian harus
melakukan persis seperti yang kukatakan." Mereka mengangguk ragu dan
membuka pintu mobil. Anak-anak malang. Lagi-lagi aku berharap tidak usah
melibatkan mereka, tetapi sejujurnya, setelah melihat kakek-nenekku kerasukan,
aku tidak sanggup membiarkan teman-temanku lepas dari pengawasanku. Bes menahan
dorongan untuk menguap. "Butuh bantuanku?" "Engg ..." Babi
tengah berjalan dengan langkah-langkah berat ke arah kami. Nekhbet
berputar-putar di atasnya, memekikkan perintah. Jika sungai memang memengaruhi
mereka, mereka tidak menunjukkannya. Aku tak bisa melihat bagaimana dewa orang
cebol bisa melawan kedua dewa ini, tetapi aku berkata, "Ya. Aku perlu
bantuan." "Baik." Bes menggemeretakkan buku-buku jarinya.
"Kalau begitu keluarlah."
"Apa?" "Aku tak bisa berganti pakaian
sementara kau berada di dalam mobil, kan? Aku hams mengenakan kostum
jelekku." "Kostum jelek?" "Sane" Si cebol memerintah,
"aku akan keluar sebentar lagi." Tak perlu disuruh-suruh lagi. Tidak
seorang pun di antara kami ingin melihat lebih banyak bagian tubuh Bes
ketimbang yang hams kami lihat. Kami pun keluar, sementara Bes mengunci pintu
di belakang kami. Jendela-jendela mobil diberi lapisan sangat gelap. Jadi, kami
tidak bisa melihat ke dalam. Sejauh yang kutahu, Bes bisa saj a sedang
bersantai-santai, mendengarkan musik sementara kami dibantai. Aku jelas tidak
terlalu banyak berharap pergantian kostum akan mengalahkan Nekhbet dan Babi.
Aku menatap teman-temanku yang ketakutan, kemudian menatap ke arah dua dewa
yang sedang menyerbu ke arah kami. "Kita akan memberikan perlawanan
terakhir di sini." "Oh, tidak, tidak," kata Liz, "aku
benar-benar tidak suka istilah `perlawanan teralchir.'" Aku menggeledah
tasku dan mengeluarkan sebatang kapur serta empat Anak Horus. "Liz letakkan
patung-patung ini di empat mata angin—Utara, Selatan, dan seterusnya. Emma,
ambil kapur ini. Gambarlah lingkaran yang menghubungkan patung-patung itu. Kita
hanya punya waktu beberapa detik." Aku menukar kapur dengan tongkat yang
dipegangnya, kemudian mengalami kilasan déjà vu yang sangat tidak
menye-nangkan. Aku baru saja menyumh teman-temanku bertindak persis seperti Zia
Rashid menyumh-nyuruhku ketika pertama kali kami menghadapi musuh bersama-sama.
Aku tidak ingin menjadi seperti Zia. Di lain pihak, kusadari untuk pertama kalinya
betapa besar keberanian yang tentunya dia miliki untuk menghadapi sesosok dewi
sembari melindungi dua penyihir yang masih hijau. Aku benci mengatakannya,
tetapi itu
memberiku rasa hormat yang baru terhadapnya. Aku berharap
memiliki keberanian seperti dirinya. Aku mengangkat tongkat serta tongkat
sihirku dan berusaha memusatkan pikiran. Waktu seolah melambat. Kukerah kan
selun indraku hingga aku menyadari segala sesuatu di sekelilingku Emma yang sibuk bekerja dengan kapur untuk
menyelesa lingkaran, jantung Liz yang berdebar terlalu cepat. Kaki besar babi yang berdentam-dentam di atas jembatan saat
dia berlari ke aarah kami, sungai Thames
yang mengalir di bawah jembatan, dan arus Duat yang mengalir di sekitarku
dengan sama kuatnya. Bast pernah mengatakan kepadaku bahwa Duat itu seperti
lautan sihir di bawah permukaan dunia manusia. Jika itu benar, maka tempat
ini—jembatan di atas air yang mengalir—adalah laksana arus jet. Sihir mengalir
lebih kuat di sini. Bisa menenggelamkan mereka yang tidak waspada. Bahkan dewa
pun mungkin bisa terbawa arus. Aku berusaha meneguhkan dindengan berkonsentrasi
pada bentangan darat di sekitarku. London adalah kotaku. Dari sini aku bisa
melihat semuanya—Gedung Parlemen, London Eye, bahkan Cleopatra's Needle di
tanggul Victoria, tempat ibuku meninggal. Jika aku gagal sekarang, begitu dekat
dengan tempat ibuku mengeluarkan sihir terakhirnya—Tidak. Aku tidak boleh
membiarkan hal itu terjadi. Babi tinggal semeter lagi ketika Emma selesai
membuat lingkaran. Kusentuhkan tongkatku pada kapur, dan cahaya ke-emasan
berpijar. Si Dewa Babun menghantam bidang kekuatan pelindungku seolah-olah itu
adalah dinding logam. Dia terhuyung-huyung mundur. Nekhbet berbelok menjauh
pada detik terakhir dan terbang mengitari kami, sambil berkaok-kaok frustrasi.
Sayangnya, cahaya lingkaran itu mulai berkedip-kedip. Ibu sudah mengajariku
sejak aku masih sangat kecil: untuk segala tindakan ada reaksi yang sepadan dan
berkebalikan. Itu berlaku baik
untuk sihir maupun sains. Kekuatan serangan Babi membuatku melihat
titik-titik hitam. Jika dia menyerang lagi, aku tidak yakin aku bisa
mempertahankan lingkaran itu. Aku bertanya-tanya apakah aku harus keluar dari
lingkaran, menjadikan diriku sebagai target. Jika aku menyalurkan energi ke
dalam lingkaran terlebih dahulu, lingkaran itu mungkin akan bertahan selama
beberapa waktu, bahkan bila aku mati. Setidaknya teman-temanku akan selamat.
Zia Rashid barangkali berpikiran sama Natal silam ketika dia melangkah keluar
dari lingkarannya untuk melindungi Carter dan aku.. Dia benar-benar berani,
sungguh menyebalkan. 'Apa pun yang akan terjadi padaku," aku berkata
kepada teman-temanku, "tetaplah berada di dalam lingkaran."
"Sadie," kata Emma, "aku tahu nada suara itu. Apa pun yang kau
rencanakan, jangan lakukan." "Kau tidak boleh meninggalkan
kami," Liz memohon. Kemudian dia berteriak kepada Babi dengan suara
melengking: "P-pergi sana, dasar monyet jelek berbusa? Temanku ini tidak
ingin membinasakanmu, tapi—tapi dia akan melakukannyal" Babi menggeram.
Dia memang agak berbusa, berkat serangan Body Shop, dan baunya wangi. Beberapa
busa sampo berbeda warna dan butiran sabun mandi membuat kusut bulu-bulu
peraknya. Nekhbet tidak tampak baik-baik saja. Dia bertengger di atas tiang
lampu di dekat situ, tampak seperti habis dikeroyok oleh seluruh isi gerai
makanan West Cornwall Pasty Company. Serpihan-serpihan daging, keju, dan
kentang bertebaran di mantel bulunya, menjadi saksi bagi pai daging sihir
pemberani yang telah menyerahkan hidupnya yang singkat demi menahan Nekhbet.
Rambut Nekhbet dihiasi garpu-garpu plastik, serbet, dan carikan surat kabar
berwarna merah muda. Dia terlihat sangat ingin mengoyak-ngoyakku.
Satu-satunya kabar baik: anak buah Babi tampaknya tidak
berhasil keluar dari stasiun. Kubayangkan sepasukan babun bertaburan makanan
didorong ke mobil polisi dan diborgol. Bayangan itu agak mengobarkan
semangatku. Nekhbet menggeram. "Kau mengejutkan kami di .stasiun , Sadie
Kane. Kuakui itu prestasi hebat. Dan membawi kc jembatan ini—usaha yang bagus.
Tapi kami tidak selemaIh itu.kau sudah tidak punya kekuatan untuk melawan kami lagi
.jika kau tak bisa mengalahkan kami, kau
takkan bisa membanguilkan Ra "Kalian seharusnya membantuku," ujarku,
"bukannya berusaha menghalangiku." "Uhh!" Babi menggerung.
"Benar," Si Dewi Burung Bangkai menyepakati, "yang kuat bisa
bertahan tanpa bantuan. Yang lemah harus dibunuh dan dimakan. Yang manakah
dirimu, Nak? Jujurlah." Sejujurnya? Aku sudah hendak ambruk. Jembatan ini
seperti berputar-putar di bawahku. Sirene meraung di keclua tepian sungai.
Semakin banyak polisi berdatangan ke barikade, tetapi untuk sementara mereka
tidak berusaha maju. Babi memamerkan taringnya. Dia begitu dekat sampai-sampai
aku bisa mencium aroma bulunya yang bersampo dan bau napasnya yang busuk.
Kemudian aku melihat kacamata Kakek masih menempel di atas kepalanya, dan
seluruh amarahku pun muncul kembali. "Cobs saja," tantangku,
"aku mengikuti jalan Isis. Lawan aku, dan akan kuhancurkan kalian."
Aku berhasil mengangkat tongkatku. Babi melangkah mundur. Nekhbet terhuyung di
atas tiang lampunya. Wujud mereka berpendar sesaat. Sungai memang melemahkan
mereka, megendurkan ikatan mereka dengan dunia manusia seperti gangguan pada
jalur sambungan ponsel. Namun, itu tidak cukup.
Nekhbet pasti melihat keputusasaan di wajahku. Dia adalah
dewi burung bangkai. Dia ahli mencari tahu kapan mangsanya sudah tamat.
"Usaha terakhir yang bagus, Nak," katanya, nyaris dengan nada
menghargai, "tapi kau sudah habis. Babi, serangl" Si Dewa Babun
berdiri dengan bertumpu pada kedua kaki belakangnya. Aku bersiap-siap menyerang
dan melancarkan ledakan energi terakhir—menyedot sumber kehidupanku sendiri dan
berharap bisa membuat dewa-dewa itu menguap. Aku harus memastikan Liz dan Emma
selamat. Kemudian pintu limusin terbuka di belakangku. Bes mengumumkan:
"Tidak seorang pun boleh menyerang siapa-siapal Kecuali aku, tentu
saja." Nekhbet menjerit ketakutan. Aku menoleh untuk melihat apa yang
terjadi. Seketika itu juga, aku berharap bisa mencongkel kedua bola mataku
hingga terlepas dari kepala. Liz mengeluarkan bunyi tercekik. "Ya Tuhan,
tidakl Itu salahr "Aghl" Emma berteriak, dalam bahasa babun yang
sempurna. "Hentikan dia." Bes benar-benar mengenakan kostum jeleknya.
Dia naik ke atas atap limusin dan berdiri di sana, kedua kaki terpancang,
tangan bertolak pinggang, seperti superman—hanya saja, Bes cuma memakai celana
dalam. Bagi yang memiliki jantung lemah, aku tidak akan menceritakan terlalu
banyak detail, Namun, Bes, yang tingginya hanya semeter, tengah memamerkan
tubuhnya yang menjijikkan—perutnya yang gendut, anggota badannya yang berbulu,
kakinya yang jelek, bagian-bagian lembek yang menjijikkan—dan hanya mengenakan
celana renang berwarna biru. Bayangkan orang paling jelek yang pernah kalian
lihat di pantai yang terbuka untuk umum—orang yang seharusnya dilarang memakai
pakaian renang. Bes terlihat lebih buruk daripada itu. Aku tidak yakin harus
berkata apa selain: "Pakai baju, dongl"
Bes terbahak-bahak—jenis tawa yang mengatakan Ha-ha! Aku
luar biasa! "Tidak, sampai mereka pergi," katanya, "atau aku
akan terpaksa menakut-nakuti mereka sampai kembali ke Duat." "Ini
bukan urusanmu, Dewa Ceboll" Nekhbet im, mengalihkan pandangan dari
keburukan Bes. "pergi sana! "Anak-anak ini berada dalam
perlindunganku," bes bersikeras "Aku tidak mengenalmu," ujarku,
"aku bertemu denganmu hari
ini." "Omong kosong. Kau jelas-jelas meminta perlindungan ku "Aku tidak meminta Patroli Celana
Renang." Bes melompat menuruni limusin dan mendarat di depan lingkaranku,
menempatkan diri di antara Babi dan aku. Si cebol bahkan tampak lebih
mengerikan dari belakang. Punggungnya begitu berbulu hingga terlihat seperti
mantel bulu cerpelai. Dan di bagian belakang celana renangnya tertulis
KEBANGGAAN ORANG CEBOL. Bes dan Babi saling mengitari satu sama lain seperti
pegulat. Si Dewa Babun mencoba meninju Bes, tetapi si Cebol gesit. Dia
cepat-cepat menaiki dada Babi dan menanduk hidung babun itu. Babi sempoyongan
ke belakang saat si Cebol tents menghantamnya, menggunakan wajahnya sebagai
senjata mematikan. "Jangan lukai dial" teriakku, "Kakekku ada di
dalam sanal" Babi terkulai diterali. Dia mengerjap-ngerjapkan mata,
berusaha menyeimbangkan diri lagi, tetapi Bes meniupkan napasnya, dan bau kare
pasti sudah sangat keterlaluan. Kedua lutut si babun menekuk. Tubuhnya
berpendar-pendar dan mulai mengecil. Dia ambruk di atas trotoar dan memudar
menjadi pensiunan bertubuh pendek-gemuk dan berambut abu-abu yang mengenakan
kardigan sobek-sobek. "Kakekl" Aku tidak tahan lagi. Kutinggalkan
lingkaran perisai dan berlari ke sampingnya.
"Dia akan baik-baik saja," Bes berjanji. Kemudian
dia berbalik ke arah Dewi Burung Bangkai. "Sekarang giliranmu, Nekhbet.
Pergil" "Aku mencuri tubuh ini dengan jujurl" ratapnya,
"aku suka di sinil" "Kau yang meminta." Bes
menggosok-gosokkan kedua tangannya, menarik napas dalam, dan melakukan sesuatu
yang akan pernah bisa kuhapus dari ingatanku. Jika aku sekadar mengatakan dia
membuat raut wajah tertentu dan berteriak BOO, itu benar secara teknis, tetapi
tidak akan mendekati kengeriannya. Kepalanya membesar. Rahangnya membuka hingga
mulutnya menjadi empat kali lipat lebih lebar. Kedua matanya menonjol seperti
semacam jeruk. Rambutnya berdiri tegak seperti rambut Bast. Dia menggoyangkan
wajahnya dan mengayunkan lidahnya yang hijau berlendir lalu melengkingkan B0001
begitu keras sampai-sampai suaranya bergulung sepanjang Sungai Thames seperti
tembakan meriam. Ledakan keburukrupaan murni ini menerbangkan mantel bulu
Nekhbet dan menguras seluruh warna dari wajah si Dewi Burung Bangkai. Teriakan
itu merontokkan inti diri sang dewi bagaikan sehelai kertas tisu terkena badai.
Yang tersisa hanyalah seorang wanita tua linglung berdaster bunga-bunga, yang
tengah berjongkok di atas tiang lampu. "Oh, ampun ...." Nenek pun
pingsan. Bes melompat dan menangkap Nenek sebelum jatuh ke dalam sungai. Wajah
si cebol kembali normal—ya, setidaknya jelek yang normal—dan dia meletakkan
Nenek dengan hati-hati di atas trotoar di sebelah Kakek. "Terima
kasih," ucapku kepada Bes, "nah, sekarang maukah kau memakai baju?"
Dia melemparkan seringai lebar kepadaku, yang tanpanya hidupku akan baik-baik
saja. "Kau boleh juga, Sadie Kane. Aku mengerti mengapa Bast
menyukaimu."
"Sadie?" Kakekku mengerang, kelopak matanya
bergetar membuka. "Aku di sini, Kek." Kuusap-usap dahinya.
"Bagaimana perasaan Kakek?" "Aku merasakan dorongan aneh untuk
makan buah manna." Matanya jadi juling. "Dan barangkali serangga. Kau
kau menyelamatkan kami?" "Sebenarnya bukan," aku mengaku,
"temanku ini—" "Tentu saja dia yang menyelamatkanmu," tukas
Bes, "cucumu ini pemberani. Penyihir hebat." Kakek memfokuskan
pandangan kepada Bes dan merengut. "Dewa-dewa Mesir sialan dalam pakaian
renang yang sangat terbuka. Inilah sebabnya kami tidak melakukan sihir."
Aku mendesah lega. Kalau Kakek sudah mulai berkeluh-kesah, aku tahu dia akan
baik-baik saja. Nenek masih pingsan, tapi napasnya tampak teratur. Rona di
pipinya sudah kembali. "Kita harus pergi," kata Bes,
"manusia-manusia itu sudah siap menyerbu jembatan." Aku memandang
sekilas ke arah barikade dan melihat apa yang dimaksud Bes. Sebuah tim
penyerang mulai berkumpul—petugas-petugas berkostum anti peluru yang membawa
senapan, peluncur granat, dan barangkali mainan-mainan seru lain yang bisa
membunuh kami. "Liz, Emmal." Aku memanggil, "bantu aku mengurusi
kakekku." Teman-temanku berlari mendekat dan mulai membantu Kakek duduk,
tetapi Bes berkata, "Mereka tak bisa ikut." "Apa?" Desakku,
"tapi kau bilang—" "Mereka manusia biasa," kata Bes,
"mereka tidak seharusnya ikut dalam pencarianmu. Jika kita hendak
mengambil gulungan kedua dari Vlad Menshikov, kita harus berangkat
sekarang." "Kau tahu tentang itu?" Kemudian aku ingat bahwa dia
sudah bicara dengan Anubis.
"Bahaya yang dihadapi kakek-nenek dan teman-temanmu di
sini lebih kecil," kata Bes, "polisi akan menanyai mereka, tapi mereka
tidak akan memandang orang tua dan anak-anak sebagai ancaman." "Kami
bukan anak-anak," Emma menggerutu. "Burung bangkai ...." Nenek
berbisik dalam tidurnya. "Pai daging………..” Kakek battlk-hatuk. "Cebol
ini benar, Sadie. Pergilah. Aku akan bugar kembali sesaat lagi, meski patut
disayangkan pria babun tali tidak meninggalkan sebagian kekuatannya untukku. Sudaah
lama sekali aku tidak merasa sekuat
itu." Kutatap Kakek, Nenek, dan teman-temanku yang kusut masai. Hatiku
terasa seperti ditarik-tarik ke banyak arah, lebih daripada wajah Bes. Aku
sadar si cebol benar: mereka lebih aman di sini menghadapi tim penyerang
daripada pergi bersama kami. Aku juga menyadari bahwa mereka tidak semestinya
ikut dalam perburuan sihir kami. Kakek-nenekku sudah lama memilih untuk tidak
menggunakan kemampuan leluhur mereka. Dan teman-temanku hanyalah manusia
biasa—manusia-manusia biasa yang pemberani, gila, konyol, dan sangat
mengagumkan. Namun, mereka tak bisa pergi ke tempat yang hams kudatangi.
"Sadie, tidak apa-apa." Emma memperbaiki polisi kacamatanya yang
pecah dan berusaha tersenyum. "Kami bisa menangani polisi. Bukan pertama
kalinya kami harus mengobrol sebentar, kan?" 'Akan kami urus kakek dan
nenekmu," Liz berjanji. "Tidak butch diurus," Kakek memprotes.
Kemudian dia terbatuk-batuk. "Pergilah, Sayang. Si Dewa Babun tadi berada
di dalam kepalaku. Aku bisa mengatakan kepadamu—dia berniat membinasakanmu.
Selesaikan pencarianmu sebelum dia mengejarmu lagi. Aku bahkan tak bisa
menghentikannya. Aku tidak bisa ...." Dia menatap marah pada tangan tuanya
yang gemetaran. "Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri. Sekarang,
pergilah!”
"Maafkan aku," aku berkata kepada mereka semua,
"aku tidak bermaksud—" "Maaf?" kata Emma, "Sadie Kane,
itu tadi pesta ulang tahun yang paling keren yang pernah kuhadirn Sekarang,pergilah!
" Dia dan Liz memelukku, dan sebelum aku Bes menggiringku memasuki
Mercedes. Kami berkendara ke utara menuju tanggul Victoria.kami hampir mencapai barikade ketika Bes
melambatkan mobil "Ada apa?" tanyaku, "tak bisakah kita lewat
tanpa terlihat? "Bukan para manusia biasa yang kukhawatirkan." Bes
menunjuk , Semua polisi, reporter, dan penonton di sekitar barikade telah jatuh tertidur. Beberapa personel
militer yang mengena perisai tubuh meringkuk di atas trotoar, memeluk senapan
mereka seakan-akan itu adalah boneka beruang. Berdiri di depan barikade,
menghalangi mobil kami, adalah Carter dan Walt. Tampang mereka acak-acakan dan
napas mereka berat, seolah-olah mereka telah berlari dari Brooklyn ke sini.
Mereka berdua menyiagakan tongkat sihir mereka. Carter melangkah maju,
mengacungkan pedangnya ke kaca depan. "Lepaskan dia!." Carter
berteriak kepada Bes, "atau aku akan menghancurkanmu!" Bes melirik
kepadaku di belakang. "Haruskah aku menakutinya?" "Tidak!"
ujarku. Itu adalah sesuatu yang tak mau kulihat lagi. "Aku akan
menanganinya." Aku melangkah keluar dari limusin. "Halo, teman-teman.
Penentuan waktu yang tepat sekali." Walt dan Carter mengerutkan kening.
"Kau tidak berada dalam bahaya?" Walt bertanya kepadaku. "Tidak
lagi." Carter menurunkan pedangnya dengan enggan. "Maksudmu pria
jelek ini—" "Adalah teman," ujarku, "teman Bast. Dia juga
sopir kita."
Carter tampak bingung sekaligus jengkel dan gelisah, suatu
akhir yang memuaskan untuk pesta ulang tahunku. "Sopir ke mana?"
tanyanya. "Rusia, tentu saj a, " jawabku, "masuklah." []
9.CARTER
KAMI DIAJAK
TUR KELILING OLEH ORANG CEBOL
SEPERTI BIASA, SADIE MELOMPATI BEBERAPA detail penting,
seperti bagaimana Walt dan aku nyaris tewas saat berusaha menemukannya. Tidak
menyenangkan, terbang ke Museum Brooklyn. Kami harus bergelantungan pada seutas
tali di bawah perut si Griffin seperti sepasang Tarzan, menghindari polisi,
petugas gawat darurat, pegawai pemerintah kota, dan beberapa wanita tua yang
mengejar kami dengan payung sambil berteriak, "Itu dia burung kolibrinyal
Bunuhl " Setelah kami berhasil membuka portal, aku ingin membawa Freak
bersama kami, tetapi gerbang yang berupa pusaran pasir agak ya, membuat Freak
ketakutan. Jadi, kami terpaksa meninggalkannya. Ketika kami tiba di London,
monitor-monitor televisi di etalase toko menampilkan rekaman gambar Stasiun
Waterloo—terkait dengan kekacauan aneh di dalam stasiun yang melibatkan
hewan-hewan lepas dan angin topan. Wah, kira-kira siapa ya itu? Kami
menggunakan jimat Walt untuk Shu, Dewa Udara, guna memanggil kumparan angin dan
melompat ke Jembatan Waterloo.
Tentu saja, kami mendarat tepat di tengah-tengah pasukan
anti huru-hara bersenjata lengkap. Untung saja aku ingat mantra penidur. Lalu,
akhirnya, kami siap menyerang dan menyelamatkan Sadie, dan dia berada di dalam
limusin yang disetiri oleh orang cebol buruk rupa yang mengenakan pakaian
renang, dan dia menuduh kami terlambat. Jadi, ketika dia memberi tahu kami
bahwa si cebol akan mengantar kami ke Rusia, aku berpikir
"Terserahlah." Kami pun masuk ke dalam mobil. Limusin itu meluncur
melewati Westminster sementara Sadie, Walt, dan aku bertukar cerita. Setelah mendengar apa yang
dialami Sadie, aku tidak terlalu menyesali hari yang kualami. Mimpi mengenai
Apophis dan ular berkepala tiga di ruang belajar sama sekali tidak terasa
semengerikan dewa-dewa yang mengambil alih tubuh kakek-nenek kami. Aku tidak
pernah terlalu menyukai Kakek dan Nenek, tetapi tetap saja—ih. Aku juga tidak
percaya sopir kami adalah Bes. Ayah dan aku sering menertawakan
gambar-gambarnya di museum—matanya yang menonjol, lidahnya yang bergoyang, dan
tubuhnya yang tidak terlalu tertutup. Konon, dia bisa menakuti hampir segala
sesuatu—arwah, iblis, bahkan dewa-dewa lain—yang menyebabkan rakyat jelata di
Mesir mencintainya. Bes menjaga orang-orang cebol engg, dan itu bukan guyonan
orang cebol. Dalam wujud nyata, dia tampak persis seperti gambarnya, hanya
berwarna, lengkap dengan baunya. "Kami berutang budi kepadamu," kataku,
"jadi, kau teman Bast?" Kedua telinganya memerah. "Ya tentu. Dia
kadang-kadang meminta bantuanku. Aku berusaha membantu." Aku punya
perasaan ada sejarah yang tidak ingin disinggung-singgungnya.
"Ketika Horus bicara denganku," ujarku, "dia
memperingatkan bahwa sebagian dewa mungkin akan mencoba menghalangi kita
membangunkan Ra. Sekarang kurasa kita tahu siapa sama." Sadie mendesah.
"Jika mereka tidak suka rencana kita ,kirim saja SMS marah-marsh. Nekhbet dan Babi nyaris mencabik-cabikku."
Wajah Sadie sedikit hijau. Combat boots-nya berlumuraan , sampo dan Lumpur,
sementara pada bahu jaket kulit favoritenya terdapat noda yang secara
mencurigakan terlihat seperti kotoran burung bangkai. Meski begitu, aku
terkesan dia masih sada! Ramuan itu sulit untuk dibuat dan lebih sulit lagi
digunakan. ada harga yang hares dibayar untuk menyalurkan sihir sebesar itu.
"Kau tadi hebat," kataku kepadanya. Sadie menatap jengkel pada pisau
hitam di pangkuannya_ pisau upacara yang
diberikan Anubis kepadanya. "Aku pasti sudah mati kalau bukan
karena Bes." tidak," kata Bes, "ya, baiklah, mungkin memang
begitu. Namun, kau akan mati dengan penuh gaya." Sadie membalik pisau
hitam aneh itu seolah-olah dia mungkin menemukan instruksi tertulis pada benda
tersebut. "Itu adalah netjeri," aku berkata, "belati ular. Para
pendeta menggunakan itu untuk—" hal itu akan mernbantu?" "Tidak
tahu," "Upacara pen-ibukaan mulut," sambung Sadie, "tapi
bagaimana aku mengakui. "Bes?" "Ritual kematian. Aku mencoba
menghindarinya." Aku menatap Walt. Benda sihir adalah keahliannya, tetapi
sepertinya dia tidak menaruh perhatian. Sejak Sadie menceritakan pembicaraannya
dengan Anubis, Walt menjadi sangat pendiam. Dia duduk di sebelah Sadie,
memain-mainkan cincinnya. "Kau baik-baik saja?" Aku bertanya kepadanya.
"Ya hanya sedang berpikir." Dia melirik kepada Sadie. "Soal
belati netjeri, maksudku."
Sadie menarik-narik rambutnya, seolah dia tengah mencoba
menciptakan tirai antara dia dan Walt. Ketegangan di antara mereka berdua
begitu pekat, sampai-sampai aku ragu sebilah pisau sihir sekalipun bisa
menembus ketegangan itu. "Anubis sialan," gumam Sadie, "aku bisa
saja mati, dia sama sekali tidak peduli." Kami berkendara dalam diam
selama beberapa saat setelah itu. Akhirnya, Bes membelok ke Jembatan Westminster
dan berbalik kein bah menyusuri sungai Thames. Sadie mengerutkan kening.
"Ke mana kita pergi? Kita perlu portal. Semua artefak terbaik berada di
British Museum." "Ya," ujar Bes, "dan para penyihir lain
tahu itu." "Penyihir lain?" tanyaku. "Nak, Dewan Kehidupan
punya cabang di seluruh penjuru dunia. London adalah Nome Kesembilan. Dengan
segala peristiwa di Waterloo, Nona Sadie bare saja mengirim sinyal api besar
yang memberi tahu para pengikut Desjardins: Aku di Sinil Kalian boleh bertaruh
mereka sedang memburu kalian sekarang. Mereka pasti menjaga museum kalau-kalau
kau lari ke sana. Untungnya, aku tahu tempat lain untuk membuka portal."
Digurui oleh seorang cebol. Seharusnya terpikir olehku bahwa ada
penyihir-penyihir lain di London. Dewan Kehidupan ada di mana-mana. Di luar
perlindungan Rumah Brooklyn, tak ada satu benua pun yang aman bagi kami. Kami
meluncur melewati London Selatan. Pemandangan di sepanjang Jalan Camberwell
nyaris semuram pikiranku. Deretan apartemen batu bata kumuh dan toko-toko
berharga sewa murah menghiasi jalan. Seorang wanita tua membersut ke arah kami
dan tempat pemberhentian bus. Di pintu masuk sebuah toko bahan makanan Asda,
beberapa pemuda bengis memandangi Mercedes ini seolah ingin mencurinya. Aku
penasaran apakah mereka adalah dewa atau penyihir yang menyamar, karena
sebagian besar orang tidak melihat mobil ini.
Tak bisa kubayangkan ke mana Bes akan membawa kami. Daerah
ini tidak seperti jenis lingkungan tempat kita menemukan banyak artefak Mesir.
Akhirnya sebuah taman besar menghampar di sebelah kiri kami: padang-padang
hijau berkabut, jalan setapak tiga lajur dan puing-puing dinding mirip saluran air, yang
tertutup tanaman rambat. Tanahnya melandai
ke atas menuju sebuah puncak bukit bermenara radio. Bes melompati tepian aspal
dan mengendarai mobil melintasi rumput,
merubuhkan papan bertuliskan DILARANG MENGINJAK RUMPUT. Malam itu mendung dan
gerimis. Jadi, tidak banyak orang di sekitar situ. Beberapa pejalan kaki di
jalan setapak dekat situ bahkan tak menatap ke arah kami. "Kita mau ke mana?"
aku bertanya. "Lihat dan pelajari, Nak," kata Bes. Dipanggil
"Nak" oleh seorang pria yang lebih pendek dariku terasa agak
mengganggu, tetapi aku menutup mulut. Bes meluncur menaiki bukit. Di dekat
puncak bukit terdapat tangga batu selebar kira-kira sembilan meter, dibangun di
dalam tepian bukit. Tangga itu sepertinya tidak menuju ke mana-mana. Bes
menginjak rem dan kami pun meliuk berhenti. Bukit itu lebih tinggi daripada
yang kuduga. Seluruh London terbentang di bawah kami. Kemudian aku menatap tangga
itu dengan lebih cermat. Dua Sphinx terbuat dari batu yang sudah lapuk berada
di kedua nisi tangga, mengawasi kota London. Masing-masing memiliki panjang
sekitar tiga meter dengan tubuh singa dan kepala firaun seperti biasa, tetapi
keduanya terlihat benar-benar janggal berada di sebuah taman London seperti
ini. "Itu bukan Sphinx sungguhan," ujarku. Bes mendengus. "Tentu
saja sungguhan." "Maksudku itu bukan berasal dari Mesir Kuno.
Sphinx-sphinx itu tidak cukup tua."
"Dasar pemilih," kata Bes, "ini adalah tangga
menuju Istana Kristal. Dulu ruang pameran besar yang terbuat dari kaca dan baja
seukuran katedral berada tepat di sini, di atas bukit ini." Sadie
mengerutkan kening. "Aku pernah membaca tentang itu di sekolah. Ratu
Victoria menyelenggarakan pesta di sini atau semacamnya." "Pesta matt
semacamnya?" Bes menggerutu, "itu adalah pameran akbar tahun 1851. Pertunjukan kekuatan Imperial
Inggris, dan sebagainya . Mereka menyediakan manisan apel yang enak."
"Kau menghadirinya?" tanyaku. lies mengangkat bahu. "Istana itu
terbakar di tahun 1930-an, gara-gara beberapa orang penyihir bodoh—tapi itu
lain cerita. Yang tertinggal sekarang hanyalah segelintir relik, seperti tangga
dan Sphinx-sphinx ini." "Tangga yang tidak menuju ke mana-mana,"
ujarku. "Bukan tidak menuju ke mana-mana," Bes membenarkan,
"malam ini tangga itu akan membawa kita ke St. Petersburg." Walt
duduk tegak. Ketertarikannya pada patung tampaknya telah menyentakkannya dari
kemurungan. "Tapi jika Sphinx-sphinx itu tidak berasal dari Mesir,"
katanya, "bagaimana benda itu bisa membuka portal?" Bes melemparkan
cengiran lebar kepadanya. "Tergantung apa yang kau maksud dengan berasal
dari Mesir, Nak. Semua kerajaan besar ingin meniru Mesir. Menaruh benda Mesir
di sekitar mereka membuat mereka merasa penting, Itu sebabnya ada
artefak-artefak Mesir `baru' di Roma, Paris, London—di mana-mana. Obelisk di
Washington itu—" "Tolong jangan sebut yang itu," kata Sadie.
"Pokoknya," lanjut Bes, "ini masih Sphinx Mesir. Sphinx-sphinx ini
dibangun untuk menegaskan hubungan antara Kerajaan Inggris dan Kerajaan Mesir.
Jadi, ya, benda-benda ini masih bisa menyalurkan sihir. Terutama jika aku yang
menyetir. Dan sekarang ...." Dia menatap Walt. "Mungkin sudah
waktunya kau keluar."
Aku terlalu kaget untuk mengatakan apa-apa, tetapi Walt
menunduk seolah-olah dia sudah menduga hal ini. "Tunggu sebentar,"
kata Sadie, "mengapa Walt tidak bisa ikut dengan kita? Dia adalah
penyihir. Dia bisa membantu” Ekspresi Bes berubah serius. "Walt, kau belum
member tahu mereka?" "Memberi
tahu kami soal apa?" desak Sadie. Walt mencengkeram jimat-jimatnya,
seolah-olah mungkin ada satu jimat yang
bisa membantunya menghindari percakapan "Tidak ada apa-apa. Sungguh. Hanya
saja ... aku harus membantu di Rumah
Brooklyn. Lagi pula menurut Jaz ...." Walt bimbang, mungkin menyadari
bahwa seharusnya dia tidak membawa-bawa nama Jaz. "Ya?" Nada suara
Sadie tenang dan membahayakan. "Bagaimana keadaan Jaz?" "Dia dia
masih koma," jawab Walt, 'Amos bilang dia mungkin akan bertahan, tapi
bukan itu yang ku—" "Bagus," kata Sadie, "aku senang dia
akan pulih. Kalau begitu kau harus kembali. Bagus sekali. Pergilah. Anubis
bilang kami hams bergegas." Tidak terlalu halus, cara Sadie melontarkan
nama Anubis saat itu. Walt terlihat seperti habis ditendang Sadie di bagian
dada. Aku tahu Sadie tidak bersikap adil terhadap Walt. Dari percakapanku
dengan Walt di Rumah Brooklyn, aku tahu dia menyukai Sadie. Apa pun yang sedang
mengganggunya, itu bukan hal romantis apa pun dengan Jaz. Di lain pihak, jika
aku mencoba berpihak kepadanya, Sadie pasti menyuruhku untuk tidak ikut campur.
Bisa jadi aku malah membuat situasi antara Walt dan Sadie menjadi lebih buruk.
"Bukannya aku ingin kembali," Walt berhasil berkata. "Tapi kau
tak bisa pergi bersama kami," tukas Bes dengan tegas. Sepertinya aku
mendengar kekhawatiran di dalam suaranya, bahkan rasa kasihan. "Pergilah,
Nak. Tidak apa-apa."
Walt mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. "Sadie,
mengenai ulang tahunmu kau, ehm, barangkali tidak ingin hadiah lagi. Ini bukan
pisau sihir, tapi aku membuatnya untukmu." Dia meletakkan seuntai kalung
emas ke tangan Sadie. Pada kalung tersebut terdapat sebuah simbol Mesir.
"Itu lubang keranjang basket di atas kepala Ra,"
ujarku. Walt dan Sadie sama-sama mengerutkan kening ke arahku, dan kusadari
barangkali aku membuat momen ini tidak magis lagi untuk mereka. "Maksudku
itu simbol yang mengelilingi mahkota surya Ra," ujarku, "lingkaran
tanpa akhir, simbol keabadian, kan?" Sadie menelan ludah seolah-olah
ramuan magis masih menggelegak di dalam perutnya. "Keabadian?" Walt
menghunjamkan tatapan yang jelas-jelas berarti Kumohon berhentilah membantu.
"Ya," katanya, "emm, ini disebut shen. Aku hanya berpikir, kau
tahu, kau sedang mencari Ra. Dan hal-hal baik, hal-hal penting, seharusnya
abadi. Jadi, mungkin itu akan membawa keberuntungan buatmu. Aku berniat
memberikannya pagi ini, tapi aku kehilangan nyali." Sadie menatap jimat
yang berkilauan di telapak tangannya itu. "Walt, aku tidak—maksudku,
terima kasih, tapi—" "Ingatlah saja bahwa aku tidak ingin pergi,"
katanya, "jika kau memerlukan bantuan, aku siap membantumu." Dia
melirik ke arahku dan mengoreksi kata-katanya: "Maksudku kalian berdua,
tentu saja." "Tapi sekarang," kata Bes, "kau hams
pergi." "Selamat ulang tahun, Sadie," ucap Walt, "dan
semoga beruntung."
Dia keluar dari mobil dan tersaruk-saruk menuruni bukit.
Kami memandanginya sampai Walt hanya berupa sosok kecil dalam kegelapan.
Kemudian dia menghilang ke dalam belukar. "Dua kado perpisahan,"
gumam Sadie, "dari dua cowok cakep , Aku benci hidupku." Dia memasang
kalung emas itu di lehernya dan menventuh simbol shen. Bes memandang ke arah
pepohonan tempat Walt menghilang "Anak yang malang. Lahir dalam keadaan
tidak biasa. " "Apa maksudmu?" tanyaku, "mengapa kau begitu
ingin walt pergi?" Si cebol mengusap-usap janggutnya yang kasar.
"Bukan hakku untuk menjelaskan. Saat ini ada pekerjaan yang harus kita
lakukan. Semakin lama kita memberi Menshikov waktu untuk mempersiapkan
pertahanannya, akan semakin sulit." Aku belum siap meninggalkan topik itu,
tetapi Bes menatapku dengan keras kepala dan aku tahu aku tidak akan mendapat
jawaban lagi darinya. Tak ada yang bisa terlihat begitu keras kepala seperti
orang cebol. "Jadi, Rusia," ujarku, "dengan bermobil menaiki
tangga kosong." "Tepat sekali." Bes menekan pedal gas. Mercedes
itu mengacau rumput serta lumpur dan meluncur menaiki tangga. Aku yakin kami
akan mencapai puncak tangga dan tidak mendapati apa-apa selain as roda yang
rusak, tetapi pada detik terakhir, sebuah portal berupa pusaran pasir membuka
di depan kami. Roda-roda mobil kami meninggalkan tanah, dan limusin hitam itu
melayang langsung memasuki pusaran.
Kami menghantam trotoar di nisi seberang, membuat sekelompok
remaja yang terkejut lari berhamburan. Sadie mengerang dan melepaskan kepalanya
dari sandaran kursi. "Tidal( bisakah kita pergi ke mana pun dengan
mulus?" tanyanya.
Bes menyalakan wiper mobil dan membersihkan pasir dari kaca
depan. Di luar suasana gelap dan bersalju. Bangunan-bangunan batu dari abad
kedelapan belas berderet di sepanjang sungai beku yang diterangi lampu-lampu
jalan. Di seberang sungai bersinarlah bangunan-bangunan bak dongeng yang lain:
kubah-kubah gereja keemasan, istana-istana berwarna putih, dan rumah-rumah
besar penuh hiasan yang bercat bim dan hijau telur Paskah. Aku mungkin percaya
kami telah mundur melintasi waktu tiga ratus tahun—bila tidak ada mobil,
lampu-lampu listrik, dan tentu saja para remaja ( lel tgan tubuh bertindik,
rambut dicat, dan memakai jaket kulit I nut nt yang meneriaki kami dalam Bahasa
Rusia dan memukul-n tik u I kap mobil Mercedes karena kami nyaris menabrak
mereka. "Mereka bisa melihat kita?" tanya Sadie. "orang Rusia," kata Bes dengan semacam nada
kagum yang enggan, "orang-orang yang sangat percaya takhayul. Mereka
cenderung melihat sihir apa adanya. Kita hams berhati-hati di sini."
"Kau pernah ke sini sebelumnya?" tanyaku. Dia memberiku tatapan ya
iyalah, kemudian menunjuk ke kedua sini mobil. Kami mendarat di antara dua
Sphinx batu yang berdiri di atas tumpuan, Keduanya terlihat seperti banyak
Sphinx lain yang pernah kulihat—kepala manusia bermahkota yang berada di atas
tubuh singa—tetapi aku tak pernah melihat Sphinx yang diselimuti salju.
"Apakah itu ash?" tanyaku. "Artefak Mesir di wilayah paling
utara sebelum kutub utara ditemukan," kata Bes, "dijarah dari Thebes
dan dibawa ke sini untuk menghiasi kota kekaisaran Rusia yang baru, St.
Petersburg. Seperti tadi kubilang, semua kerajaan baru menginginkan sepotong
Mesir." Anak-anak di luar masih berteriak-teriak dan memukuli mobil. Salah
seorang di antara mereka menghantamkan botol ke kaca depan kami.
"Enggg," kata Sadie, "haruskah kita pindah tempat?"
"Tidak," sahut Bes, "anak-anak muda Rusia
selalu nongkrong di sekitar Sphinx. Mereka sudah melakukannya selama ratusan
tahun." "Tapi ini sudah tengah malam," kataku, "dan salju turun
" "Apa aku sudah bilang kalau
mereka orang Rusia?" Tanya bes, "jangan khawatir, aku akan
membereskannya." Dia membuka pintu mobil. Angin sedingin es berhembus ke dalam Mercedes, tetapi Bes melangkah keluar
tanpa mengenaI,. apa-apa kecuali celana renangnya. Anak-anak itu cepat-cepat melangkah mundur. Aku tak bisa menyalahkan
mereka. lies mengatakan sesuatu dalam Bahasa Rusia, ketnudian mengaum seperti
singa. Anak-anak itu menjerit dan berlari. Wujud Bes terlihat beriak. Ketika
kembali ke dalam mobil, dia sudah mengenakan mantel musim dingin yang hangat,
topi dengan pinggiran terbuat dari bulu, dan sarung tangan berbulu lembut.
"Lihat?" katanya, "percaya takhayul. Mereka tahu sebaiknya lari
menjauhi dewa." "Ya, dewa kecil berbulu yang mengenakan celana renang,"
Sadie berkomentar, "jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Bes
menunjuk ke seberang sungai, ke arah sebuah istana batu berwarna putih dan emas
yang gemerlapan. "Itu Hermitage, Pertapaan." "Para pertapa
tinggal di sana?" tanya Sadie. "Bukan," tukasku, "aku
pernah mendengar tentang tempat itu. Itu dulu Istana Tsar. Sekarang menjadi
museum. Koleksi Mesir terbaik di Rusia." "Ayah pernah mengajakmu ke
sana, ya?" tanya Sadie. Kukira kami sudah menyelesaikan masalah
cemburu-mengenai-berkeliling-dunia-bersama-Ayah, tetapi sesekali hal itu muncul
lagi. "Kami tak pernah ke sana." Aku berusaha tidak terdengar membela
diri. "Ayah mendapat undangan untuk berbicara di sana satu kali, tapi dia
menolak."
Bes terkekeh. "Ayahmu pintar. Penyihir Rusia tidak
mudah menerima orang luar. Mereka melindungi wilayah kekuasaan mereka dengan
sengit." Sadie menatap ke seberang sungai. "Maksudmu markas besar
Nome Kedelapan Belas herada di dalam museum itu?" "Di suatu tempat di
sana , " bes membenarkan, "tapi markas itu disembunyikan dengan sihirkaarna
aku tak pernah menemukan pintu masuknya.
Bagian yang sedang kalian lihat adalah Istana Musim Dingin, bekas rumah tsar.
Ada sekompleks rumah besar lain di belakangnya. Aku pernah iin'ndengar bahwa
diperlukan waktu sebelas hari hanya untuk melihat segala sesuatu yang ada dalam koleksi
Pertapaan." "Tapi jika kita tidak membangunkan Ra, dunia akan
berakhir empat hari lagi," ujarku. "Tinggal tiga hari sekarang,"
Sadie mengoreksi, "kalau sudah lewat tengah malam." Aku meringis.
"Terima kasih sudah mengingatkan." "Oleh sebab itu, lakukan tur
singkat," kata Bes, "mulailah dengan bagian Mesir. Lantai dasar,
museum utama." "Kau tidak ikut bersama kami?" tanyaku. "Dia
tidak bisa, kan?" tebak Sadie, "seperti Bast tak pernah bisa memasuki
rumah Desjardins di Paris. Para penyihir memantrai markas mereka untuk
menangkal para dewa. Benar, kan?" Bes membuat wajahnya menjadi lebih jelek
lagi. "Aku akan menemani kalian berjalan hingga jembatan, tapi aku tak
bisa pergi lebih jauh lagi. Jika aku menyeberangi Sungai Neva dan terlalu dekat
dengan Pertapaan, aku akan menyalakan banyak alarm. Kalian hams menyelinap ke
dalam entah dengan cara bagaimana—" "Membobol masuk ke dalam museum
di malam hari," Sadie menggerutu, "kita pernah sangat beruntung
melakukan itu." "—dan menemukan pintu masuk ke Nome Kedelapan Belas.
Dan jangan sampai tertangkap hidup-hidup."
"Apa maksudmu?" tanyaku, "lebih baik
tertangkap dalam keadaan tidak bernyawa?" Sorot di mata Bes tampak suram.
"Pokoknya percaya saja kepadaku.
Kalian tidak ingin menjadi tawanan menshikov " Bes menjentikkan jari, dan
tiba-tiba saja kami sudah mengenakan parka bulu domba, celana ski, dan
sepatu bot musim dingin. "Ayo,
malishi(Malishi: anak-anak(Rusia)—peny) ,"
katanya, "aku akan mengantar kalian ke Jembatan Dvortsovyy."
Jembatan itu hanya berjarak beberapa meter, tetapi tampak
seola olah lebih jauh. Maret jelas bukan
musim semi di St. Petersburg. Kegelapan, angin, dan saljunya membuatku merasa
lebih seperti berada di Alaska pada bulan Januari. Secara pribadi, aku lebih
suka hari yang papas di gurun Mesir. Meskipun dengan pakaian hangat yang
diciptakan Bes untuk kami, gigiku tak bisa berhenti bergemeletuk. Bes tidak
terburu-buru. Dia terus melambatkan langkah dan memberi kami panduan tur sampai
kukira hidungku akan copot gara-gara radang dingin. Dia bilang kami berada di
Pulau Vasilevsky, di seberang Sungai Neva di pusat St. Petersburg. Dia
menunjukkan beraneka puncak gereja dan monumen, lalu ketika menjadi
bersemangat, dia mulai bicara dalam Bahasa Rusia. "Kau pernah tinggal lama
di sini," kataku. Dia berjalan dalam diam selama beberapa langkah.
"Sebagian besar sudah lama sekali. Itu bukan—" Dia berhenti begitu
mendadak, sampai aku menubruknya. Dia menatap ke seberang jalan pada sebuah
istana besar berdinding kuning terang dan atap berwarna hijau. Menyala di malam
hari
dari balik pusaran salju, istana itu tampak tidak nyata,
seperti gambar-gambar samar di Aula Zaman Nome Pertama. "Istana Pangeran
Menshikov," Bes menggerutu. Suaranya penuh kebencian. Aku nyaris mengira
dia akan meneriakkan BOO pada bangunan itu, tetapi dia hanya mengertakkan gigi.
Sadie memandangiku meminta penjelasan, tetapi aku bukan Wikipedia berjalan
seperti yang tampaknya dia pikir. Aku tahu berbagai hal mengenai Mesir, tetapi
Rusia? Tidak terlalu. "Maksudmu Menshikov seperti nama Vlad si
Bengek?" tanyaku. "Dia salah satu keturunannya." Bes mengerutkan
bibir dengan penuh kebencian . Dia mengucapkan sebuah kata Rusia yang aku berani
bertaruh merupakan makian yang cukup
buruk. "Pada t sekitar tujuh
ratusan, Pangeran Menshikov mengadakan pesta untuk Peter yang Agung—tsar yang
membangun kota ini. Peter sangat menyukai orang-orang cebol. Dia sangat mirip
orang Mesir dalam hal itu. Dia menganggap kami ini membawa keberuntungan. Jadi,
selalu ada beberapa orang cebol dalam istananya. Pokoknya, Menshikov ingin
menghibur tsar tersebut. Jadi, dia berpikir pasti lucu bila menampilkan
pernikahaan orang cebol. Dia memaksa mereka dia memaksa kami berdandan,
pura-pura menikah, dan menari ke sana ke marl. Semua orang besar tertawa,
mencemooh ...." Suaranya memelan. Bes menggambarkan pesta itu seolah baru
terjadi kemarin. Kemudian aku ingat bahwa pria kecil aneh ini adalah dewa. Dia
sudah hidup beribu-ribu tahun. Sadie meletakkan tangan di bahu Bes. "Aku
ikut sedih, Bes. Pasti buruk sekali." Bes merengut. "Para penyihir
Rusia mereka senang menangkap dewa, memanfaatkan kami. Aku masih bisa mendengar
musik pernikahan itu, dan tsar yang tertawa ...." "Bagaimana kau bisa
meloloskan diri?" tanyaku.
Bes menatap marah kepadaku. Jelas aku telah mengajukan
pertanyaan yang salah. "Sudah cukup soal ini." Bes menegakkan
kerahnya. "Kita membuang-buang waktu." Dia terus melangkah maju,
tetapi aku punya perasaan dia tidak benar-benar meninggalkan istana Menshikov. Mendadak
saja dinding-dinding kuning istana yang ceria dan jendela-jendelanya yang terang-benderang tampak menyeramkan
Setelah seratus meter menembus angin yang sangat dingin, kami mencapai
jembatan. Di sisi seberangnya, Istana Musim Dingin berkelip-kelip. "Aku
akan membawa Mercedes ini mengambil jalan memutar yang jauh," kata Bes,
"menyusur ke jembatan berikutnya, dan mengitari bagian selatan Pertapaan.
Lebih kecil kemungkinannya mengungkap keberadaanku kepada para penyihir."
Sekarang kusadari mengapa dia begitu paranoid soal menyalakan alarm. Para
penyihir pernah menangkapnya di St. Petersburg sebelum ini. Aku ingat apa yang
pernah dikatakan Bes kepada kami di dalam mobil: Jangan sampai tertangkap
hidup-hidup. "Bagaimana cara kami mencarimu kalau-kalau kami
berhasil?" tanya Sadie. "Setelah kalian berhasil," kata Bes,
"berpikirlah positif, Nak, atau dunia akan berakhir."
"Benar," Sadie menggigil dalam balutan parkanya. "Positif."
"Alm akan menemui kalian di Nevsky Prospekt, jalanan utama Yang berisi banyak
toko, di selatan Pertapaan. Aku akan berada di Museum Cokelat."
"Museum apa?" tanyaku. "Ya, itu bukan benar-benar museum. Lebih
seperti toko-- tutup kalau sudah malam seperti ini, tapi pemiliknya selalu
membukakan pintu untukku. Mereka punya apa saja yang terbuat dari cokelat—set
permainan catur, singa, kepala Vladimir Lenin—"
“Si Orang Komunis?" tanyaku.
“Ya, Profesor Genius,” kata Bes, “Si Orang Komunis, dalam
wujud cokelat.”
“Jarli, binr kuperjelas," kata Sadie, “kami akan
membobol
masuk kv dalam museum nasional Rusia yang dijaga ketat,
mencari
markas mhasia para penyihir, mencuri gulungan berbahaya,
lalu
melurikzm diri. Sementara itu, kau akan makan cokelat.”
Bus mengangguk serius. “Itu rencana yang bagus. Bisa saja
berhnsil. Jika terjadi sesuatu dan aku tak bisa menemui
kalian
(Ii Museum Cokelat, jalan keluar kita adalah J embatan
Mesir, di
scbelah selatan Sungai Fontanka. Belok saja di-”
“Cukup,” tukas Sadie, “kau akom menemui kami di toko
cokelat itu. Dan kau akan memberiku setas cokelat untuk
dibawa
pulang. Titik. Sekarang, pergilah‘.”
Bes melemparkan senyum miring kepada Sadie. “Kau boleh
juga, Nak.”
Dia berjalan dengan susah payah menuju Mercedes.
Aku menatap Istana Musim Dingin di seberang sungai yang
setengah beku. Entah bagaimana London tidak terasa suram dan
berbahaya lagi.
“Apakah kita berada dalam masalah sebesar yang kupikir?”
tanyaku kepada Sadie.
“Lebih,” jawabnya, “mari kita bobol Istana Tsar.
BAB 10
CARTER
SEORANG
TEMAN LAMA BERWARNA MERAH DATANG BERKUNJUNG
MEMASUKI PERTAPAAN TIDAKLAH SULIT.
Sistem keamanan modern tidak melindunginya dari sihir.
Sadie dan aku harus menggabungkan kekuatan untuk melewati
garis batas luar, tetapi dengan sedikit konsentrasi, tinta
dan
papirus, serta sejumlah energi yang diambil dari teman-teman
dewa kami, Isis dan Horus, kami berhasil melakukan
perjalanan
singkat melewati Duat.
Sesaat sebelumnya kami tengah berdiri di Alun~A1un Istana
yang kosong. Kemudian segalanya menjadi abu-abu dan
berkabut.
Perutku terasa geli seolah aku sedang terjun bebas. Kami
terlepas
dari dunia manusia fana dan melewati gerbang besi serta batu
yang keras, lalu memasuki museum.
Ruangan Mesir berada di lantai dasar, persis seperti yang
disampaikan Bes. Kami masuk kedunia manusia lagi dan
mendapati
diri berada di tengah-tengah koleksi Mesir:
sarkofagus-sarkofagus
dalam lemari kaca, gulungan-gulungan hieroglif,
patung-patung
dewa dan firaun. Tidak jauh berbeda dengan ratusan koleksi
Mesir
lain yang pernah kulihat, tetapi latarnya cukup mengesankan.
Langit~langit berkubah menjulang di atas kami. Lantai
pualamnya
yang licin berpola putih abu-abu, membuat berjalan di
atasnya
serasa seperti berjalan di atas ilusi optik. Aku
bertanya-tanya berapa
banyak ruangan seperti ini di Istana Tsar itu, dan apakah
memang
perlu waktu sebelas hari untuk melihat semuanya. Kuharap Bes
benar bahwa pintu masuk rahasia ke nome itu berada di suatu tempat
dalam ruangan ini. Kami tidak punya waktu sebelas hari untuk mencari. Dalam
waktu kurang dari tujuh puluh dua jam,
Apophis akan bebas.
Aku ingat mata merah yang bercahaya dibawah kulit-kulit kurnbang itu-kekuatan
kekacauan yang begitu dahsyat sampai-sampai bisa melelehkan indra manusia. Tiga
hari lagi, makhluk itu akan terlepas ke dunia.
Sadie memanggil tongkatnya dan mengacungkan benda itu
ke arah kamera keamanan terdekat. Lensa kamera pecah dan
mengeluarkan suara seperti alat pembunuh serangga. Bahkan
dalarn situasi terbaik, teknologi dan sihir tidaklah akur.
Salah
satu mantra termudah di dunia adalah mantra untuk membuat
kerusakan elektronik. Aku hanya harus melihat ponsel dengan
cara yang aneh untuk membuatnya meledak. Dan komputer7
Tidak ada apa-apanya. Kubayangkan Sadie baru saja
mengirirnkan
denyut sihir melalui sistem keamanan yang akan membakar
semua
kamera dan sensor di dalam jaringan.
Meskipun begitu, ada jenis penjagaan lain-penjagaan sihir.
Kukeluarkan sehelai kain linen hitam dan sepasang shabti
lilin
kasar dari dalam tasku. Kubungkus Shabti itu dengan kain dan
kuucapkan kata perintahnya: “I’mun”
Hieroglif untuk Sembunyikan itu berpijar sebentar di kain.
Segurnpal kegelapan mengembang dari bungkusan itu, seperti
160
gummpalan tinta cumi-Cumi. Kegelapan itu membesar sampai
menyelubungi Sadie dan aku dalam gelembung kegelapan yang
transparan. Kami bisa melihat menembus gelembung itu
kuharap, tak ada yang bisa melihat ke dalamnya. Gumpalan itu
tidak akan terlihat oleh siapa pun di luar.
“Kau melakukannya dengan benar kali ini‘." kata Sadie, kapan
kau menguasai mantra ini?”
Wajahku mungkin memerah. Aku terobsesi menguasai mantra tidak
kasat mata selama berbulan-bulan, sejak aku melihat zia menggunakannya di Nome
Pertama.“Sebenarnya aku masih-" secercah bunga api memercik dari selubung
kabut itu seperti panah api mini. “Aku masih belajar menguasainya.
Sadie menghela napas. “Ya . . . lebih baik daripada yang
terakhir
kali. Selubung kabutnya waktu itu terlihat seperti lampu
lava. Dan
yang sebelumnya lagi, ketika baunya seperti telur busuk-”
“Bisakah kita lanjutkan saja?" tanyaku, “dari mana kita
harus
mulai?”
Mata Sadie terpaku pada salah satu pajangan. Dia melangkah
ke arahnya dengan linglung.
“Sadie?” aku mengikutinya ke sebuah nisan batu kapur-
stela-yang berukuran sekitar enam puluh kali sembilan puluh
senti meter. Deskripsi di sebelahnya tertuiis dalarn Bahasa
Rusia
dan Inggris.
“’Dari makam Ipi, si Juru Tulis,’” Aku membacanya keras-
keras. “’Bekerja di Istana Raja Tut.’ Mengapa kau tertarik
oh.”
Bodohnya aku. Gambar di nisan itu menunjukkan almarhum
si juru tulis tengah menghormati Anubis. Setelah bicara
secara
langsung dengan Anubis, Sadie pasti merasa aneh melihatnya
berada di dalam sebuah lukisan pada makam berusia tiga ribu
tahun, terutama ketika Anubis digambarkan dengan kepala
jakal,
dan mengenakan rok.
“Walt menyukaimu.”
Aku tidak tahu mengapa aku menyemburkan kata-kata itu. Ini
bukan waktu atau tempat yang tepat. Aku tahu aku tidak membantu Walt dengan
berpihak kepadanya. Namun, aku mulai merasa kasihan kepada Walt setelah Bes
mengusirnya dari limusin. Anak itu sudah jauh-jauh datang dari London untuk
membantuku menyelamatkan Sadie, tetapi kami malah menurunkannya di Taman Istana
Kristal seperti penumpang yang tidak dikehendaki. Aku agak marah kepada Sadie
karena mendiamkan Walt dan naksir seberat itu kepada Anubis, yang lima ribu
tahun terlalu tua untuknya dan bahkan bukan manusia. Plus, cara Sadie
mengabaikan Walt terlalu jelas mengingatkanku pada cara Zia memperlakukanku
pertama kali. Dan mungkin, jika aku jujur kepada diriku sendiri, aku jugs marah
kepada Sadie karena dia telah memecahkan masalahnya sendiri di London tanpa
memerlukan bantuan kami. Wow. Kedengarannya sangat egois. Namun, kurasa itu
benar. Menakjubkan betapa beragam cara seorang adik perempuan membuat kita
jengkel pada satu waktu. Sadie tidak melepaskan pandangannya dari stela itu.
"Carter, kau sama sekali tidak tahu apa yang kau bicarakan."
"Kau tidak memberi Walt kesempatan," aku bersikeras, "apa pun
yang terjadi kepadanya, itu tak ada hubungannya denganmu." "Sangat
menenangkan, tapi bukan itu—" "Lagi pula, Anubis itu dewa. Kau tidak
benar-benar berpikir—"Carter?" bentak Sadie. Mantra penyelubungku
pasti sensitif terhadap emosi, karena secercah bunga api keemasan mendedas dan
meletup dari selubung kami yang tidak-terlalu-kasat-mata. "Aku memandangi
batu itu bukan karena Anubis." "Bukan?" "Bukan. Dan aku
jelas tidak mau berdebat denganmu mengenai Walt. Berbeda dengan yang mungkin
kau kira, aku tidak menghabiskan semua waktuku untuk memikirkan cowok."
"Hanya sebagian besar waktumu?"
Sadie memutar bola matanya. "Lihatlah nisan itu, otak
udang. Ada garis tepi di sekelilingnya, seperti kosen jendela atau—"
"Pintu," sambungku, "itu pintu palsu. Banyak makam yang memiliki
pinggiran seperti itu. Itu seperti gerbang symbol untuk ba si orang mati, supaya bisa pulang pergi ke
Duat." Sadie mengeluarkan tongkatnya dan menyusuri tepian stelatu.
"Pria ini, Ipi, adalah seorang juru tulis, yang merupakan kata lain untuk penyihir. Dia mungkin saja salah satu
dari kita jaadi?" "Jadi, mungkin itu sebabnya batu ini bercahaya.carter
Bagaimana jika pintu palsu ini tidak palsu?" Aku memandangi stela itu
dengan lebih cermat, tetapi aku tidak melihat cahaya apa pun. Kupikir mungkin
Sadie berhalusinasi akibat kelelahan
atau terlalu banyak ramuan sihir dalam tubuhnya. Kemudian Sadie menyentuhkan’
tongkatnya ke bagian tengah stela dan mengucapkan kata perintah pertama yang kami pelajari
“w’peh" Terbukalah. Sebuah hieroglif keemasan menyala pada batu itu.
Nisan itu menyorotkan cahaya seperti proyektor film.
Tiba-tiba saja, sebuah pintu seukuran normal berpendar-pendar di hadapan
kami—portal segi empat yang menampilkan gambaran samar sebuah ruangan lain.
Kutatap Sadie dengan takjub. "Bagaimana kau bisa melakukan itu?"
tanyaku, "kau tak pernah bisa melakukannya sebelum ini." Sadie
mengangkat bahu seolah-olah itu bukan masalah besar. "Dulu aku belum
berusia tiga belas tahun. Mungkin itu sebabnya."
"Tapi aku sudah empat belas tahunl" Aku memprotes,
"dan aku masih belum bisa melakukan itu." "Anak perempuan dewasa
lebih dulu." Kugertakkan gigiku. Aku benci bulan-bulan musim semi_ Maret,
April, Mei—karena sampai ulang tahunku tiba pada bulan Juni, Sadie bisa
mengklaim hanya setahun lebih muda dariku. Setelah ulang tahun dia selalu bertingkah
menyebalkan, seolah-olah entah bagaimana dia berhasil menyusulku dan menjadi
kakak perempuan ku . Benar-benar mimpi buruk. Sadie menunjuk ke arah pintu yang
bersinar. "Setelah kau, Kaka k sayang. Kaulah yang diselimuti selubung tak
kasat mata yang berkelap-kelip." Schclunl ketenanganku hilang, aku
melangkah memasuki portal itu.
Aku nyaris jatuh dan membuat wajahku patah. Sisi seberang
portal itu adalah sebuah cermin yang tegantung satu setengah meter dari lantai.
Aku menapaki sebilah papan di atas perapian. Kutangkap Sadie saat dia masuk,
tepat waktu untuk mencegahnya terjungkal dari birai. "Trims,"
bisiknya, "ada yang terlalu banyak membaca cerita Alice Through the
Looking Glass." Aku mengira ruangan Mesir tadi sudah menakjubkan, tetapi
ruangan itu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan ruangan ini. Desain-desain
geometris berwarna tembaga berkilauan di langit-langit. Pualam tatahan berwarna
putih dan emas membentuk pola persegi delapan yang besar di lantai. Dengan
diterangi lampu gantung yang menyala-nyala di atas, hiasan kerawang dari benang
emas serta batu putih dan hijau berkilauan sedemikian terang, sampai-sarnpai
mataku sakit. Kemudian kusadari sebagian besar cahaya itu tidak berasal dari
tempat Jilin, melainkan dari penyihir yang sedang merapal
mantra di ujung terjauh ruangan. Punggungnya menghadap kami,
tetapi aku tahu itu adalah Vlad Menshikov. Persis seperti penggambaran Sadie,
dia adalah pria kecil gemuk dengan rambut keriting abu-abu dan kemeja putih.
Dia berdiri di dalam lingkaran perlindungan yang mendenyutkan cahaya hijau
zamrud. Dia mengangkat tongkatnya, dan ujung tongkat menyala seperti api las.
Di sebelah kanannya, persis di luar lingkaran, berdirilah sebuah vas hijau seukuran pria dewasa. Di sebelah kirinya.menggeliat-
geliut dalam kekangan rantai emas, adalah makhluk yang kukenali sebagai iblis.
Iblis itu memiliki tubuh seperti manusia dengan kulit keunguan penuh bulu,
tetapi sebagai ganti kepala, sebuah kottek, alat pembuka sumbat botol, menjulur
di antara kedua bahunva. "Ampunl" Iblis itu menjerit dengan suara
yang parau dan lemah. Jangan bertanya kepadaku bagaimana iblis berkepala kotrek
bisa menjerit—tetapi suara itu berkumandang dari pembuka botol itu seolah-olah
benda tersebut adalah sebuah garputala raksasa. Vlad Menshikov tents merapal
mantra. Vas hijau mendenyut-denyutkan cahaya. Sadie menyikutku dan berbisik,
"Lihat." "Ya," aku balas berbisik, "semacam ritual
pemanggilan." "Bukan," desis Sadie, "lihat di sana,"
Dia menunjuk ke sebelah kanan kami. Di sudut ruangan, enam meter dari papan
perapian, terdapat sebuah meja kayu mahoni model kuno. Sadie sudah
memberitahuku mengenai petunjuk Anubis: Kami harus mencari meja Menshikov.
Bagian Kitab Ra yang berikutnya berada di laci atas. Mungkinkah itu benar-benar
meja yang dimaksud? Sepertinya terlalu mudah. Sepelan mungkin, Sadie dan aku
turun dari papan perapian dan merayap di sepanjang dinding. Aku berdoa semoga
selubung tak kasat mata ini tidak akan meletupkan kembang api lagi. Kami sudah
setengah jalan menuju meja itu ketika Vlad Menshikov selesai merapal mantra.
Dia memukulkan tongkatnya
ke lantai, dan benda itu tegak menancap di sana, ujungnya
masih menyala-nyala dengan suhu sejuta derajat. Dia memutar kepalanya sedikit,
dan aku melihat kilauan kacamata hitamnya yang berbingkai putih. Dia
menggeledah saku-saku mantelnya sementara vas hijau besar itu berpendar-pendar
dan si iblis berteriak-teriak dalam keadaan dirantai. "Jangan ribut,
Ajal-untuk-Gabus," omel Menshikov. Suaranya bahkan lebih parau daripada
yang digambarkan Sadie—seperti seorang perokok berat berbicara dari balik bilah-bilah
kipas angin. "Kau tahu aku perlu korban untuk memanggil dewa sebesar itu.
Sama sekali bukan persoalan pribadi." Sadie mengerutkan kening dan berujar
tanpa suara, Dewa Besar? Kugelengkan kepala, bingung. Dewan Kehidupan tidak
mengizinkan manusia memanggil dewa. Itulah alasan utama Desjardins membenci
kami. Menshikov seharusnya adalah teman baik Desjardins. Jadi, apa yang sedang
dia lakukan, melanggar aturan? "Sakitl" erang iblis malang itu,
"sudah melayani Anda selama lima puluh tahun, Tuan. TolonglahF' "Nah,
nah," kata Menshikov tanpa selintas pun rasa simpati, "aku harus
menggunakan kutukan. Hanya bentuk pemusnahan yang paling menyakitkan yang akan
memunculkan cukup energi." Dari saku mantelnya, Menshikov mengeluarkan
sebuah alat pembuka sumbat biasa dan potongan keramik yang dipenuhi hieroglif
berwarna merah. Dia mengangkat kedua benda tersebut dan mulai merapal mantra
lagi: "Kau kuberi nama Ajal-untuk-Sumbat, Pelayan Vladimir, Dia yang
Bergerak-gerak di Malam Hari." Saat nama-nama si Iblis diucapkan, rantai
sihir tadi mengepulkan asap dan semakin mengencang di seputar tubuh si Iblis.
Menshikov memegang pembuka sumbatnya di atas nyala api tongkatnya. Si Iblis
menggelepar-gelepar dan meraung. Saat alat
pembuka sumbat yang lebih kecil berubah menjadi merah pangs,
tubuh iblis itu mulai mengeluarkan asap. Aku menyaksikannya dengan penuh
ketakutan. Akre t tentang sihir simpati, tentu saja. Intinya adalah membuat
sesuatu yang berukuran kecil memengaruhi
sesuatu yang berukuran besar dengan mempertautkan keduanya. Semakin mirip
keduanya seperti pembuka sumbat botol dengan iblis itu—semakin ditautkan.
Boneka voodoo juga bekerja berdasarkan teori yang, sama. Akan tetapi, kutukan
adalah hal yang serius. Niatnya adalah menghancurkan sesuatu secara
total—menghapuskan keberadaan bentuk fisik dan bahkan namanya. Diperlukan sihir
yang serius untuk melakukan mantra semacam itu. Jika dilakukan dengan keliru,
kutukan itu bisa menghancurkan si perapal mantra. Namun, jika dilakukan dengan
benar, sebagian besar korbannya tidak punya peluang selamat. Manusia biasa,
penyihir, hantu, bahkan iblis bisa dihapuskan dari muka bumi ini. Kutukan
mungkin tidak menghancurkan kekuatan besar seperti dewa, tetap saja itu seperti
meledakkan born nuklir di depan muka mereka. Mereka akan diledakkan dan
ditenggelamkan begitu dalam ke lubuk Duat, sehingga mungkin tidak akan pernah
kembali. Vlad Menshikov merapal mantra itu seolah dia melakukannya setiap hari.
Dia terus merapal seiring melelehnya pembuka sumbat botol, dan iblis tadi ikut
meleleh bersamanya. Menshikov menjatuhkan pecahan tembikar ke lantai—hieroglif
merah memunculkan semua nama si Iblis yang beragam. Dengan satu kata terakhir
yang berkekuatan, Menshikov menginjak pecahan tembikar dan meremukkannya hingga
hancur berkeping-keping. Ajal-bagi-Sumbat pun lenyap, lengkap dengan seluruh
rantainya. Biasanya aku tidak merasa kasihan kepada makhluk-makhluk dunia
bawah, tetapi mau tak mau aku merasa ada yang menyumbat di tenggorokanku. Aku
tidak percaya betapa santainya Menshikov
menghabisi pelayannya hanya untuk memperkuat mantra yang
lebih besar. Begitu iblis itu lenyap, api di tongkat Menshikov pun padam.
Hieroglif-hieroglif menyala di sekitar lingkaran pemanggilan. Botol hijau besar
itu bergetar dan sebuah suara menggelegar dari dalamnya, "Halo, Vladimir.
Lama tidak jumpa." Sadie menarik napas mendadak. Aku harus menutup mulut
Sadie untuk mencegahnya berteriak. Kami berdua mengenal suara itu. Aku ingat
betul suara itu dari petualangan kami di Piramida Merah. "Set."
Menshikov bahkan tidak tampak letih setelah melakukan pemanggilan. Dia
terdengar sangat tenang untuk seseorang yang sedang berbicara dengan Dewa
Kejahatan. "Kita perlu bicara." Sadie menyingkirkan tanganku dan
berbisik, "Apa dia sudah gila?" "Meja," aku berkata,
"gulungan. Keluar dari sini. Sekarang." Sekali ini, Sadie tidak
membantah. Dia mulai mengeluarkan perbekalan dari dalam tasnya. Sementara itu
botol hijau besar tadi bergoyang-goyang seolah Set sedang berusaha
menjungkirkannya. "Vas malakit?" Sang dewa terdengar marah.
"Yang benar saja, Vladimir. Kukira kita lebih akrab daripada itu."
Tawa Menshikov terdengar seperti orang yang sedang menelan seekor kucing.
"Sangat bagus untuk mengekang jiwa-jiwa jahat, ya? Dan ruangan ini
mengandung lebih banyak malakit daripada semua tempat lain di bumi ini. Tsarina
Alexandra sangat bijaksana membangun ruangan seperti ini untuk ruang
tamunya." Botol itu berdenting. "Tapi di sini berbau seperti koin
lama, dan terlalu dingin. Pernahkah kau terjebak dalam botol malakit, Vlad? Aku
bukan jin. Aku akan lebih banyak bicara jika kita bisa duduk berhadapan muka,
barangkali sambil minum teh." "Kukira tidak," kata Menshikov,
"sekarang, kau akan menjawab pertanyaan-pertanyaanku."
"Oh, baiklah," sahut Set, "aku suka Brazil
untuk Piala Dunia. Aku menyarankan berinvestasi dalam bentuk platinum dan saham
usaha kecil. Sementara nomor keberuntunganmu minggu ini adalah 2, 13—"
"Bukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu!" bentak Mensinkov. Sadie
mengambil segumpal lilin dari tasnya dan bekerja dengan kalap, membuat bentuk
hewan. Aku tahu dia hendak mengetes apakah meja itu mengandung pertahanan sihir.dia
lebih mahir dalam mantra jenis itu
daripada aku, tetapi aku tidak yakin bagaimana dia akan melakukannya. Sihir
Mesir lumayan tidak berbatas. Selalu ada ribuan cara yang berbeda untuk menyelesaikan
suatu tugas. Triknya adalah kreatif dengan perbekalan kita dan memilih cara
yang tidak akan membuat kita terbunuh. "Kau akan memberitahuku apa yang
perlu kuketahui," tuntut Menshikov, "atau botol itu akan menjadi
semakin tidak nyaman." "Vladimir yang terhormat." Suara Set
dipenuhi rasa geli yang keji. "Yang perlu kau ketahui mungkin sangat
berbeda dengan yang ingin kau ketahui. Tidakkah kecelakaan nahas yang kau alami
mengajarkan hal itu kepadamu?" Menshikov menyentuh kacamata hitamnya,
seolah-olah memastikan benda itu tidak terlepas jatuh. "Kau akan
memberitahuku mantra pengikat untuk Apophis," katanya dengan nada tegas,
"kemudian kau akan memberitahuku cara menetralkan sihir pada Rumah
Brooklyn. Kau mengenal pertahanan Kane lebih baik daripada siapa pun. Begitu
aku menghancurkan Kane, tidak akan ada lagi yang menentangku." Ketika
makna dan kata-kata Menshikov mulai kusadari, gelombang kemarahan nyaris membuatku
tersandung. Kali ini, Sadie yang harus membekap mulutku. "Tenangl"
bisik Sadie, "kau akan membuat selubung tak karat mata-mu meletup-letup
lagi." Kudorong tangannya menjauh lalu mendesis, "tapi dia ingin
membebaskan Apophis?"
"Aku tahu." "Dan menyerang Amos—"
"Aku tahu! Jadi, bantu aku mendapatkan gulungan keparat itu dan mari kita
keluar dari sini!" Dia meletakkan hewan lilinnya di atas meja—seekor
anjing, kukira—dan mulai menuliskan hieroglif di punggung anjing itu dengan
gerip(Gerip: anak batu tulis, semacam alat yang digunakan untuk menulis. )"
Aku menghela napas gemetar. Sadie memang benar, tetapi tetap saja—Menshikov
bicara tentang membebaskan Apophis dan membunuh paman kami. Penyihir macam apa
yang membuat perianjian dengan Set? Kecuali Sadie dan aku. Situasi kami berbeda.
Tawa Set menggema di dalam vas hijau itu. "Jadi: cara mengikat Apophis
clan rahasia Rumah Brooklyn. Hanya itu, Vladimir? Aku penasaran apa pendapat
tuanmu Desjardins jika dia mengetahui rencanamu yang sebenarnya, dan
teman-teman macam apa yang kau miliki." Menshikov merenggut tongkatnya.
Ujung berukir ular itu menyala lagi. "Hati-hati dengan ancamanmu, Hari
Iblis." Botol itu bergetar. Di seluruh ruangan, lemari-lemari kaca
bergetar. Tempat lilin bergemerencing laksana genta angin seberat tiga ton. Aku
melemparkan tatapan panik kepada Sadie. "Apakah dia baru saja—"
"Nama rahasia Set," Sadie membenarkan, masih menulisi anjing
lilinnya. "Bagaimana—" "Aku tidak tahu, Carter. Sekarang,
diamlah." Nama rahasia dewa mengandung berbagai macam kekuatan. Nama itu
seharusnya tak bisa diketahui. Untuk mengetahuinya, kita tak bisa sekadar
mendengar nama itu disebutkan oleh
sembarang orang. Kita harus mendengarnya langsung dari dewa
itu sendiri, atau dari orang yang terdekat di hatinya. Begitu kita
mendapatkannya, nama itu memberi kita pengaruh besar terhadap dewa itu. Sadie
mengetahui nama rahasia Set pada petualangan kami Natal silam, tetapi bagaimana
Menshikov bisa mendapatkannya? Di dalam botol, Set menggeram marah. "Aku benar
benar benci nama itu. Mengapa tidak Hari yang Cerah saja! Akin Malaikat Maut
Merah yang Keren? Itu cukup bagus. Sudah cukup buruk ketika hanya kau yang
mengetahuinya, Vlad. Sekarang aku , juga harus mengkhawatirkan si anak
perempuan Kane itu— " "Layani kami," kata Menshikov, "maka
keluarga Kane akan dihancurkan. Kau akan menjadi letnan Apophis yang dihormati.
Kau bisa membangun kuil lagi, yang bahkan lebih megah daripada Piramida
Merah." "Ya, ya," kata Set, "mungkin kau belum menyadari,
tetapi aku kurang cocok dengan konsep menjadi orang nomor dua. Sementara
Apophis, dia bukan jenis dewa yang tidak keberatan bila ada dewa lain mendapat
perhatian." "Kami akan membebaskan Apophis dengan atau tanpa
bantuanmu," Menshikov memperingatkan, "pada saat ekuinoks, dia pasti
akan bangkit. Tapi jika kau membantu kami mewujudkan hal itu lebih cepat, kau
akan diberi ganjaran. Pilihanmu yang lain adalah kutukan. Oh, aku tahu itu
tidak akan menghancurkanmu secara total, tapi dengan nama rahasiamu, aku bisa
mengirimmu ke dalam jurang tanpa dasar selama beribu-ribu tahun, dan rasanya
akan sangat, sangat menyakitkan. Kau kuberi waktu tiga puluh detik untuk
memutuskan." Aku menyikut Sadie. "Cepatlah." Sadie mengetuk si
anjing lilin, dan Benda itu berubah menjadi hidup. Ia mulai mengendus-endus di
sekeliling meja, mencari perangkap sihir.
Di dalam botol, Set mendesah. "Ya, Vladimir, kau memang
tahu cara membuat tawaran yang menarik. Pengikatan Apophis katamu? Ya, aku
Nadir ketika Ra melempar Ular itu ke dalam penjara kumbang. Kurasa aku dapat
mengingat bahan-bahan yang dia gunakan untuk membuat ikatan. Sungguh hari yang
hebat waktu itul Aku memakai pakaian merah, kurasa. Pada pesta kemenangan
mereka menyajikan belalang panggang madu yang paling enak—" "Waktumu
tinggal sepuluh detik," kata Menshikov. "Oh, aku akan bekerja sama?
Kuharap kau sudah menyiapkan sebatang pena dan kertas. Daftar bahannya agak
panjang. Mari kita lihat bahan dasar apa yang digunakan Ra? Kotoran kelelawar?
Lalu ada kodok kering, tentu saja. Lalu ...." Set mulai menyebutkan
bahan-bahan dengan cepat, sementara anjing Win Sadie mengendus-endus di sekitar
meja. Akhirnya anjing itu menggeletak di atas pengering tinta dan tidur. Sadie
mengerutkan kening ke arahku. "Tidak ada jebakan." "Ini terlalu
mudah," aku balas berbisik. Sadie membuka laci bagian atas. Gulungan
papirus itu ada di sana, bentuknya persis seperti yang kami temukan di
Brooklyn. Sadie menyelipkan benda itu ke dalam tasnya. Kami sudah setengah
jalan kembali ke perapian ketika Set mengejutkan kami. Dia sedang menyebutkan
daftar bahan-bahan yang tak masuk akal: "Dan kulit ular. Ya, tiga kulit
ular berukuran besar, dengan taburan saus pedas—" Kemudian dia berhenti
mendadak, seolah-olah mendapat pemahaman barn. Dia berbicara dengan suara yang
jauh lebih lantang, berseru ke seberang ruangan. "Bagus juga bila ada
korban persembahanl Mungkin penyihir muda idiot yang tak bisa merapalkan mantra
tak kasat mata dengan benar, seperti CARTER KANE di sebelah sanal"
Aku membeku. Vladimir Menshikov berbalik, dan kepanikanku
menjadi terlalu besar untuk tetap mengontrol selubung tak kasat mata. Setengah
lusin bunga api keemasan meletup dill WHIM!? yang nyaring dan ceria. Menshikov
menatap tepat ke arahku. "Wah, wah ... betapa baik kalian datang sendiri.
Bagus, Set." "Hmm?" Set bertanya tanpa dosa, "apa kita
kedatangan .tamu?' "Set?" geram Sadie, "aku akan menendang ba-mu
itu Jadi, bantu aku?" Suara di dalam botol terkesiap. "Sadie Kane?
Bet menyenangkan1 Sayang aku terperangkap dalam botol ini dan tidak seorang pun
mau melepaskanku." Petunjuknya tidak terlalu samar, tetapi tentunya dia
tidak berpikir kami akan membebaskannya setelah dia membuka penyamaran kami.
Sadie menghadap Menshikov, tongkat sihir dan tongkatnya sudah siap. "Kau
bekerja dengan Apophis. Kau berada di pihak yang salah." Menshikov melepas
kacamatanya. Kedua matanya berupa dua lubang penuh jaringan bekas luka, kulit
yang terbakar, dan kornea yang berkilat-kilat. Percayalah kepadaku, itu adalah
cara yang paling tidak menjijikkan untuk menggambarkannya. "Pihak yang
salah?" tanya Menshikov, "nak, kau sama sekali tidak memahami
kekuatan apa yang tengah bekerja. Lima ribu tahun silam, para pendeta Mesir
meramalkan bagaimana dunia akan berakhir. Ra akan menjadi tua dan letih, lalu
Apophis akan melahapnya dan menjerumuskan dunia ke dalam kegelapan. Kekacauan
akan berkuasa selamanya. Sekarang waktunya telah tibal Kau tak bisa
menghentikannya. Kau hanya bisa memilih apakah akan dihancurkan, atau tunduk
pada kekuatan Kekacauan dan selamat."
"Benar," Set menimpali, "sayang aku
terperangkap dalam botol ini. Kalau tidak aku mungkin bisa ikut memihak dan
membantu seseorang." "Tutup mulutmu, Set," bentak Menshikov,
"tidak ada yang cukup gila untuk memercayaimu. Dan kalian, anak-anak,
kalian jelas bukan ancaman seperti yang kubayangkan."
"Baguslah," ujarku, "jadi, bolehkah kami pergi?" Menshikov
tertawa. "Apakah kalian akan mendatangi Desjardins dan memberitahukan apa
yang kalian dengar kepadanya? Dia tidak akan percaya kepada kalian. Dia akan
mengadili kalian, kemudian mengeksekusi kalian. Tapi aku akan menghindarkan
kalian dari penghinaan itu. Aku akan membunuh kalian saat ini juga."
"Betapa menyenangkanl" kata Set, "andai aku bisa melihatnya, tapi
aku terjebak dalam botol ini." Aku mencoba berpikir. Menshikov masih
berada di dalam lingkaran perlindungan, yang berarti dia punya keuntungan
pertahanan yang sangat besar. Aku tidak yakin apakah aku bisa membobolnya,
meskipun seandainya aku bisa memanggil avatar tempur. Sementara itu, Menshikov
punya cukup waktu menimbang-nimbang berbagai cara untuk menghancurkan kami.
Apakah dia akan meledakkan kami dengan sihir elemen? Mengubah kami menjadi
serangga? Dia melemparkan tongkatnya ke lantai, dan aku menyumpah-nyumpah.
Melemparkan tongkat mungkin terkesan seperti isyarat menyerah, tetapi dalam
sihir Mesir, itu pertanda buruk. Itu biasanya berarti Hei, aku akan memanggil
makhluk besar ganas untuk membunuhmu sementara aku berdiri aman di dalam
lingkaranku dan tertawa Seperti dugaanku, tongkat Menshikov mulai menggeliat
dan bertambah besar. Bagus sekali, pikirku. Lagi-lagi ular.
Namun, ada yang salah dengan ular ini. Sebagai ganti ekor,
ular ini memiliki kepala di kedua ujung tubuhnya. Awalnya kukira kami mendapat
keberuntungan, dan Menshikov telah memanggil monster yang mengidap cacat
genetic langka sejak lahir . Namun, tidak lama kemudian muncullah empat kaki
naga ular itu. Tubuhnya membesar sampai seukuran keda melengkung seperti huruf
U, dengan sisik merah dan hijau serta kepala ular derik di kedua sisi. Makhluk
itu menginga I, pada hewan berkepala dua dalam cerita Doctor dolittle tahu
Pushmi-Pullyu? Hanya saja Doctor Dolittle tidak akan pernah mau bicara dengan
makhluk yang ini, dan kalau pun bicara, makhluk ini barangkali hanya akan
berkata Halo, aku akan memakanmu. Kedua kepalanya menoleh ke arah kami dan mendesis.
"Aku benar-benar sudah terlalu banyak bertemu ular selama seminggu
ini," gumamku. Menshikov tersenyum. "Ah, tapi ular adalah keahlianku,
Carter Kaner Dia menyentuh sebuah liontin perak yang tergantung di
dasinya—jimat yang berbentuk seperti ular. "Dan hewan yang ini adalah
favoritku: Tjesu Heru. Dua mulut kelaparan yang perlu diberi makan. Dua anak
yang menyusahkan. Sempurnal." Sadie dan aku saling memandang. Kami
mengalami momen ketika kami bisa membaca ekspresi satu sama lain dengan tepat.
Kami berdua tahu kami tak bisa mengalahkan Menshikov. Dia akan membiarkan si
Ular Pushmi-Pullyu membuat kami kelelahan, dan jika kami bisa selamat dari itu,
dia akan menghancurkan kami dengan hal lain. Pria ini sudah profesional. Kami
akan mati atau tertangkap, dan Bes sudah memperingatkan kami agar jangan sampai
tertangkap hidup-hidup. Setelah melihat apa yang terjadi pada iblis
Ajal-untuk-Sumbat, aku menganggap serius peringatan Bes. Supaya selamat, kami
hams melakukan sesuatu yang gila—sesuatu yang begitu membahayakan diri kami
sendiri sehingga
tidak akan diduga oleh Menshikov. Kami hams mendapatkan
bantuan dengan segera. "Haruskah aku melakukannya?" tanya Sadie.
"Lakukan Baja," aku menyetujui. Si Tjesu Heru memamerkan taringnya
yang basah menetes-netes. Kau tidak akan menduga makhluk yang tidak punya ekor
bisa bergerak begitu cepat, tetapi makhluk itu melekukkan kedua kepalanya ke a
kami seperti ladam kuda raksasa dan menyerang. Aku menarik, pedangku. Sadie
lebih cepat. Dia menudingkan tongkatnya ke arah botol malakit Set dan mcncrial
Lan perintah favoritnya: "Ha-di?" aku sempat mantranya tidak bekerja.
Sadie belum mencoba mantra penghancur sejak dia memisahkan diri dari Isis. Namun,
persis sebelum monster itu mencapaiku, botol hijau tadi pecah berkeping-keping.
mensikhov berteriak, "Nyet!" kladai pasir meledak di ruangan itu.
Angin yang panas mendorong Sadie dan aku ke perapian. Sebuah dinding pasir
merah menghantam Tjesu Heru dan menerbangkannya ke samping mengenai sebuah
tiang malakit. Vlad Menshikov terledakkan keluar dari lingkaran perlindungannya
dan kepalanya menghantam sebuah meja. Dia ambruk ke lantai, pasir merah
berputar-putar di atasnya sampai seluruh tubuhnya terbenam. Ketika badai
mereda, seososok pria yang mengenakan setelan sutra berwarna merah berdiri di
depan kami. Kulitnya sewarna minuman Kool-Aid rasa ceri, rambut di kepalanya
terpangkas licin, janggutnya berwarna hitam, dan mata hitamnya yang berkilauan
dihiasi celak. Dia terlihat seperti iblis Mesir yang siap menghabiskan malam di
kota. Dia menyeringai dan membentangkan tangannya seperti memberi isyarat
Inilah aku. "Ini lebih baikl Terima kasih, Sadie Kane."
Di sebelah kiri kami, Tjesu Heru mendesis dan
menggelepar-gelepar, berusaha berdiri kembali dengan kakinya. Gundukan pasir
merah yang menutupi Vlad Menshikov mulai bergen . "Lakukan sesuatu, Had
Iblisl" Sadie memerintali. " ingkirkan merekal" Set mengernyit.
"Tak perlu sampai menyebut nama." "Mungkin kau lebih suka
Malaikat Maut Merah yang Kervii.'" tanyaku. Set membuat bentuk bingkai
dengan jari-jarinya, seolaIi membayangkan nama itu tertera pada SIM-nya.
"Ya itu haw is, bukan?" Tjesu Heru terhuyung-huyung bangkit. Monster
itu menggelengkan kedua kepalanya dan menatap tajam ke arah kami, tetapi
tampaknya is tidak menghiraukan Set, meski Set-lah yang membantingnya ke
dinding. "Warnanya bagus, bukan?" tanya Set, "spesimen yang
cantik." "Bunuh sajal" teriakku. Set tampak terperangah.
"Oh, aku tak bisa melakukan itul Aku terlalu suka pada ular. Lagi pula,
DPEM akan menghukumku." "Apem?" tanyaku. "Dewa-dewa untuk
Perlakuan Etis terhadap Monster." "Kau cuma
mengarang-ngarangnyal" aku berteriak. Set menyeringai. "Tetap saja
aku khawatir kalian harus menangani sendiri si Tjesu Heru." Monster itu
mendesis ke arah kami, yang mungkin berarti, Asyikl Aku mengangkat pedangku
untuk mencegahnya mendekat. Gundukan pasir merah bergerak-gerak. Wajah linglung
Menshikov menyembul dari bagian atasnya. Set menjentikkan jari, dan sebuah pot
keramik besar muncul di udara, pecah berkeping-keping di atas kepala si
penyihir. Menshikov melesak lagi ke dalam pasir. "Aku akan tetap di sini
menghibur Vladimir," kata Set. "Tidak bisakah kau mengutuknya, atau
apa?" desak Sadie.
"Oh, andai aku bisal Sayangnya, gerakku terbatas kalau
seseorang memegang nama rahasiaku, terutama ketika mereka telah memberiku
perintah spesifik untuk tidak membunuh mereka." Dia memandang dengan sorot
mata menuduh ke arah Sadie. "Bagaimanapun juga, aku mungkin bisa memberimu
waktu beberapa menit, tapi Vlad akan sangat marah ketika dia sadar nanti. Jadi,
aku akan buru-buru jika menjadi kalian. Semoga berhasil bertahan hidupl Dan
semoga berhasil memakan mereka, Tjesu Hem'!" Aku ingin mencekik Set,
tetapi kami punya masalah yang lcbih besar. Seolah-olah disemangati oleh
kata-kata Set, Tjesu I Ieru menyerbu ke arah kami. Sadie dan aku berlari ke
arah pintu terdekat. Kami berlari melintasi Istana Musim Dingin sementara suara
tawa Set menggema di belakang kami.[]
11
SADIE
CARTER
MELAKUKAN SESUATU YANG LUAR BIASA BODOH
(DAN TAK ADA
SEORANG PUN YANG TERKEJUT)
AKU MENGERTI,
CARTER. SUNGGUH.
Menyuruhku
menceritakan bagian yang paling menyakitkan. Tentu saja, aku tak bisa
menyalahkanmu. Kejadian itu sudah cukup buruk bagiku, tetapi bagimu—ya, aku tak
mau membicarakannya juga.
Kami berada
di Istana Musim Dingin, berlari menyusuri koridor-koridor pualam mengilat yang
tidak dirancang untuk dilewati dengan berlari. Di belakang kami, Tjesu Heru
berkepala dua terpeleset dan menabrak dinding saat ia berusaha membelok di
tikungan, persis seperti yang biasa dilakukan Muffin setiap kali nenek mengepel
lantai. Itulah satu-satunya alasan monster tersebut tidak langsung menangkap
kami.
Karena kami
tadi berteleportasi memasuki Ruang Malakit, aku tidak tahu di mana jalan keluar
terdekat. Aku tidak yakin apakah kami benar-benar berada di dalam Istana Musim
Dingin, atau apakah kantor Menshikov hanyalah semacam kantor palsu yang hanya
ada di dalam Duat. Aku sudah mulai berpikir kami tidak akan pernah keluar
ketika kami membelok di sebuah sudut, menuruni tangga cepat-cepat, dan melihat
satu set pintu kaca dan besi yang mengarah keluar menuju Alun-Alun Istana.
Tjesu Heru
mengikuti persis di belakang kami. Hewan itu tergelincir dan bergulung menuruni
tangga, meremukkan sebuah patung gips seorang tsar yang sial.
Kami tinggal
sepuluh meter lagi dari jalan keluar ketika aku melihat rantai melintang di
pintu.
"Carter,"
kataku dengan tersengal, sambil mengayunkan tangan tidak berdaya ke arah gembok
itu.
Aku benci
mengakui betapa aku merasa lemah. Aku tidak punya tenaga untuk merapal mantra
lagi. Memecahkan vas Set di Ruangan Malakit merupakan saat bersenang-senang
terakhirku, yang merupakan contoh yang baik mengapa kita tidak boleh menggunakan
sihir untuk memecahkan seluruh masalah kita. Mengucapkan Kata Ilahiah untuk
memecah vas itu telah menyedot begitu banyak energi, sampai-sampai aku merasa
seolah baru saja menggali lubang di tengah terik matahari. Mungkin melempar
batu ke makhluk itu akan jauh lebih mudah. Jika aku berhasil selamat malam ini,
kuputuskan untuk menambahkan beberapa butir batu ke dalam tas perlengkapanku.
Jarak kami
tinggal tiga meter lagi ketika Carter menghantamkan tinjunya ke arah pintu.
Mata Horus menyala pada gembok, dan pintu pun meledak terbuka seolah-olah
terhantam oleh kepalan tinju raksasa. Aku belum pernah melihat Carter melakukan
hal semacam itu sejak pertempuran kami di Piramida merah, tetapi aku tidak
punya waktu untuk merasa takjub. Kami melesat ke luar memasuki malam musim
dingin, Tjesu Heru meraung di belakang kami.
Kau pasti
mengira aku gila, tetapi pikiran pertamaku adalah: Ini terlalu mudah.
Meskipun ada
monster mengejar kami dan kami harus berurusan dengan Set (yang akan kucekik
begitu ada kesempatan—bajingan yang suka menikam dari belakang itu'), mau tak
mau aku merasa kami membobol ke dalam tempat paling rahasia Menshikov dan
merebut gulungan nyaris tanpa banyak kesulitan. Di mana perangkap-perangkapnya?
Alarmnya? Kutukan keledai meledaknya? Aku yakin kami telah mencuri gulungan
yang asli. Aku merasakan gelenyar yang sama di jari-jemariku seperti ketika
mengambil gulungan di Museum Brooklyn (tanpa api, untungnya). Jadi, mengapa
gulungan itu tidak dijaga dengan lebih ketat?
Aku sangat
lelah. Aku tertinggal beberapa langkah di belakang Carter, dan itu mungkin
menyelamatkan nyawaku. Aku merasa ada sesuatu yang merayap di kepalaku.
Kurasakan kegelapan di atasku—perasaan yang sangat mengingatkanku pada bayangan
sayap Nekhbet. Aku mendongak dan melihat Tjesu Heru melayang di atas kepala
kami seperti katak betung, mengatur waktu terkamannya agar mendarat—
"Carter,
berhenti!" aku berteriak.
Hal itu lebih
mudah diucapkan ketimbang dilakukan di atas trotoar berlapis es. Aku meluncur
berhenti, tetapi Carter melaju terlalu cepat. Dia terjatuh di atas pantatnya
dan tergelincir, pedangnya meluncur ke samping.
Tjesu Heru
mendarat persis di atasnya. Jika makhluk itu tidak berbentuk U, Carter pasti
sudah tertindih, tetapi makhluk itu melengkung di sekitarnya laksana sebuah
headphone raksasa, satu kepala menatapnya dengan tajam dari kedua sisi.
Bagaimana
bisa sesuatu yang begitu besar melompat begitu jauh? Terlambat, kusadari
seharusnya kami tetap berada di dalam bangunan tempat monster itu lebih sulit
bergerak. Di luar sini, kami tidak punya peluang berlari lebih cepat darinya.
"Carter,"
ujarku, "jangan bergerak sedikit pun."
Carter
membeku dalam posisi kayang. Kedua kepala monster itu meneteskan bisa yang
mendesis dan mengepulkan uap pada batu-batu berlapis es.
"Oil"
teriakku. Karena tidak punya batu, aku mengambil sebongkah patahan es dan
melemparkanya pada Tjesu Heru. Sudah tentu, aku malah mengenai punggung Carter.
Bagaimanapun, aku berhasil menarik perhatian si Tjesu Heru.
Kedua kepala
monster itu menoleh ke arahku, lidah kembarnya bergetar. Langkah pertama telah
dilakukan: mengalihkan perhatian si monster.
Langkah
kedua: mencari cara pintar untuk menjauhkannya dari Carter. Bagian itu agak
lebih sulit bagiku.
Aku sudah
menggunakan satu-satunya ramuanku. Sebagian besar perbekalan sihirku sudah
terpakai. Tongkat dan tongkat sihirku tidak akan banyak berguna bila cadangan
kekuatan sihirku sudah habis terkuras. Pisau dari Anubis? Entah bagaimana aku
ragu ini situasi yang tepat untuk membuka mulut seseorang.
Jimat dari
Walt? Aku sama sekali tidak tahu bagaimana cara menggunakannya.
Untuk
kesejuta kalinya, aku menyesal telah melepaskan roh Isis. Aku bisa memanfaatkan
gudang senjata sihir lengkap seorang dewi. Namun, tentu saja, persis karena
itulah aku harus berpisah dengan Isis. Jenis kekuatan semacam itu memabukkan,
menyebabkan kecanduan dan membahayakan. Bisa dengan cepat menghancurkan hidup
kita.
Namun,
bagaimana jika aku bisa membuat ikatan yang terbatas? Di Ruang Malakit, aku
berhasil merapal mantra ha-di untuk pertama kalinya dalam waktu berbulan-bulan.
Meskipun sulit, itu bukan hal yang mustahil.
Baik, Isis,
pikirku. Ini yang kuperlukan—
Tidak usah
berpikir, Sadie, suaranya balas berbisik nyaris seketika itu juga, mengejutkan.
Sihir dewa-dewi haruslah spontan, seperti bernapas.
Maksudmu...
kuhentikan diriku. Tidak usah berpikir. Ya, seharusnya tidak terlalu sulit.
Kuangkat tongkatku, dan sebuah hieroglif keemasan menyala di udara. Tyet
setinggi satu meter menerangi halaman itu seperti hiasan bintang di pohon
Natal.
Tjesu Heru
menggeram, matanya yang berwarna kuning terpaku pada hieroglif tersebut.
"Tidak
suka, ya?" seruku, "simbol Isis, dasar idiot besar jelek. Sekarang
menjauhlah dari saudaraku!"
Itu
benar-benar hanya gertakan, tentu saja. Aku simbol yang bercahaya itu bisa
melakukan apa pun yang berguna. Namun, kuharap si makhluk ular tidak cukup
cerdas untuk mengetahuinya.
Pelan-pelan,
Carter menyelinap mundur. Dia mencari pedangnya, tetapi benda itu berada
sepuluh meter darinya— terlalu jauh untuk dijangkau.
Kupancangkan
mataku pada monster itu. Kugunakan ujung tongkatku untuk membuat lingkaran
sihir pada salju di sekitarku. Itu tidak akan terlalu melindungi, tetapi lebih
baik daripada tidak ada sama sekali.
"Carter,"
panggilku, "kalau kubilang ayo, larilah kembali ke sini."
"Makhluk
itu terlalu cepat!" ujarnya.
"Aku
akan mencoba meledakkan hieroglif dan menghalangi pandangannya."
Aku masih
yakin rencana itu akan berhasil, tetapi aku tidak sempat mencobanya. Agak jauh
di sebelah kiriku, terdengar bunyi sepatu bot memecah es. Si monster menoleh ke
arah bunyi tersebut.
Seorang pria
muda berlari memasuki cahaya yang memancar dari hieroglif. Dia mengenakan
mantel wol berat dan topi polisi, sambil membawa senapan di tangan, tetapi dia
tidak mungkin jauh lebih tua daripada aku. Dia lumayan terbenam dalam
seragamnya. Ketika melihat monster itu, kedua matanya membelalak. Dia terhuyung
mundur, nyaris menjatuhkan senjatanya.
Dia
meneriakkan sesuatu dalam Bahasa Rusia kepadaku, mungkin, "Mengapa ada
monster berkepala dua tanpa pantat di sana?"
Monster itu
mendesis kepada kami berdua—yang memang bisa dilakukannya karena ia memiliki
dua kepala.
"Itu
monster," jelasku kepada si penjaga. Aku cukup yakin dia tidak paham,
tetapi aku berusaha menjaga agar nada suaraku tidak berubah. "Tetaplah
tenang dan jangan menembak. Aku sedang berusaha menyelamatkan saudaraku."
Si penjaga
menelan ludah. Hanya telinganya yang besar yang menahan topinya. Dia memandangi
monster itu lalu Carter lalu tyet yang menyala di atas kepalaku. Kemudian dia
melakukan sesuatu yang tidak kuduga.
Dia
mengucapkan sebuah kata dalam Bahasa Mesir Kuno: "Heqat—kata perintah yang
selalu kugunakan untuk memanggil tongkatku. Senapannya berubah menjadi tongkat
kayu ek sepanjang dua meter dengan ukiran kepala elang.
Bagus sekali,
pikirku. Si penjaga keamanan diam-diam adalah penyihir.
Dia berbicara
kepadaku dalam Bahasa Rusia—semacam peringatan. Aku mengenali nama Menshikov.
"Biar
kutebak," kataku, "kau ingin aku membawamu menemui pemimpinmu."
Tjesu Heru
membuka dan menutup rahangnya. Dengan cepat makhluk itu kehilangan rasa
takutnya terhadap tyetku yang menyala-nyala. Carter belum cukup jauh untuk bisa
berlari menyelamatkan diri.
"Begini,"
kataku kepada si penjaga, "bosmu Menshikov adalah pengkhianat. Dia
memanggil makhluk ini untuk membunuh kami agar kami tidak membeberkan
rencananya membebaskan Apophis. Tahu Apophis? Ular jahat. Ular yang sangat
jahat! Sekarang, bantulah aku membunuh monster ini atau menjauhlah
dariku!"
Si
penyihir-penjaga tampak ragu-ragu. Dia menunjuk ke arahku dengan gugup.
"Kane." Itu bukan pertanyaan.
"Ya,"
aku membenarkan, "Kane."
Ekspresinya
menampilkan campur aduk emosi—ketakutan, ketidakpercayaan, bahkan mungkin
kekaguman. Aku tidak tahu apa yang telah dia dengar mengenai kami, tetapi
sebelum dia bisa memutuskan apakah akan membantu kami atau melawan kami,
situasi berubah tidak terkendali.
Tjesu Heru
menyerang. Kakakku yang konyol—bukannya berguling menjauh—malah melawan monster
itu.
Dia memiting
leher kanan makhluk tersebut dan berusaha menaiki punggungnya, tetapi Tjesu
Heru membalikkan kepala satunya untuk menyerang.
Apa yang
dipikirkan kakakku itu? Mungkin dia mengira bisa menunggangi makhluk itu.
Mungkin dia berusaha memberiku waktu beberapa detik untuk merapal mantra. Jika
kau menanyakan hal itu sekarang, dia mengklaim tidak ingat kejadian itu sama
sekali. Namun, jika kau bertanya kepadaku, si dungu otak udang itu berusaha
menyelamatkanku, bahkan meski itu berarti mengorbankan dirinya sendiri.
Berani-beraninya!
[Oh, ya,
sekarang kau berusaha memberi penjelasan, Carter. Kupikir kau tidak ingat
bagian inil. Diam sajalah dan biarkan aku yang bercerita.]
Seperti yang
kukatakan tadi, Tjesu Heru menyerang Carter, dan segala sesuatu seolah
melambat. Aku ingat berteriak, mengarahkan tongkatku kepada monster itu. Si
tentara-penyihir meneriakkan sesuatu dalam Bahasa Rusia. Makhluk itu
membenamkan taringnya ke bahu kiri Carter, dan Carter pun ambruk ke tanah.
Aku lupa soal
lingkaran daruratku. Aku berlari ke arah Carter, dan tongkatku berpijar. Aku
tidak tahu bagaimana aku sanggup mengerahkan kekuatan. Seperti kata Isis, aku
tidak berpikir. Aku hanya menyalurkan seluruh amarah dan keterguncanganku ke
dalam tongkatku.
Melihat
Carter terluka merupakan hinaan terakhir. Kakek-nenekku kerasukan.
Teman-temanku diserang, dan ulang tahunku berantakan. Namun, kakakku, itu sudah
kelewatan. Tak ada yang boleh melukai kakakku.
Kulepaskan
secercah cahaya keemasan yang menghantam monster itu dengan kekuatan semburan
pasir. Tjesu Heru hancur berkeping-keping, sampai tak ada yang tersisa selain
selajur pasir yang mengepulkan asap dalam salju dan beberapa serpihan tongkat
Menshikov yang hancur.
Aku berlari
ke samping Carter. Dia menggigil, bola matanya terbalik. Dua luka tusukan di
mantelnya mengeluarkan asap.
"Kane,"
kata pemuda Rusia tadi dengan nada kagum.
Aku mengambil
serpihan kayu dan mengangkatnya supaya pemuda tadi melihat. "Bosmu
Menshikov YANG melakukan ini. Dia bekerja untuk Apophis. Menshikov: Apophis.
Sekarang. KELUARLAH!"
Si penyihir
mungkin tidak memahami kata-kataku, tetapi dia menangkap pesannya. Dia berbalik
dan lari.
Kupangku
kepala Carter. Aku tak bisa mengangkatnya sendirian, tetapi aku harus
mengeluarkannya dari sini. Kami berada di wilayah musuh. Aku harus mencari Bes.
Aku berjuang
untuk membopong Carter. Kemudian seseorang memegang tangan Carter yang lain dan
membantu kami berdiri. Aku mendapati Set menyeringai kepadaku, masih dalam
balutan setelan konyol merah, bertaburan puing-puing Malakit. Kacamata putih
Menshikov yang rusak terpasang di kepalanya.
"Kau,"
ujarku, terlalu dipenuhi kebencian untuk melontarkan ancaman kematian yang
layak.
"Aku."
Set membenarkan dengan ceria. "Mari kita keluarkan saudaramu dari sini.
Suasana hati Vladimir sedang tidak bagus."
**DO*SF**
Nevsky
Prospekt pasti tempat yang menyenangkan untuk berbelanja jika saat itu bukan
dini hari di tengah badai salju, dan jika aku tidak sedang memapah kakak
lelakiku yang sedang koma dan keracunan. Jalanan di sana memiliki trotoar yang
lebar, sangat cocok untuk jalan-jalan, dipenuhi deretan aneka kafe, gereja,
rumah besar, dan butik kelas tinggi yang memikat mata. Dengan semua papan
petunjuk berbahasa Rusia, aku tidak tahu bagaimana cara menemukan toko cokelat
itu. Aku tak bisa melihat Mercedes hitam Bes di mana pun.
Set
menawarkan diri untuk menggendong Carter, tetapi aku tidak mau membiarkan Dewa
Kekacauan itu bertanggung jawab penuh atas saudaraku. Jadi, kami menyeret
Carter di antara kami. Set mengobrol dengan ceria tentang racun Tjesu Heru:
"Tak bisa disembuhkan sama sekali! Mematikan dalam waktu dua belas jam.
Barang yang menakjubkan!" Dan tentang perkelahiannya dengan Menshikov:
"Enam vas pecah di atas kepalanya, dan dia masih bertahan! Aku iri pada
batok kepalanya yang tebal." Dan tentang prospekku hidup cukup lama untuk
menemukan Bes: "Oh, tamat sudah riwayatmu, Sayang! Selusin penyihir senior
mendatangi Menshikov ketika aku eh, mengambil langkah mundur strategis. Tidak
lama lagi mereka akan mengejarmu. Aku bisa saja membinasakan mereka semua,
tentu saja, tapi aku tak bisa mengambil risiko Vladimir menggunakan nama
rahasiaku lagi. Mungkin dia akan mengalami amnesia dan melupakannya. Lalu kalau
kau mati—itu berarti kedua masalah terpecahkan. Oh, maaf, kurasa itu terdengar
tidak sensitif. Mari!"
Kepala Carter
terkulai. Napasnya terdengar nyaris sama parahnya dengan napas Vlad si Bengek.
Nah, tolong
jangan berpikir aku ini bodoh. Tentu saja aku ingat patung lilin Carter mini
yang diberikan Jaz kepadaku. Aku sadar dalam keadaan darurat semacam inilah
patung itu mungkin berguna. Bagaimana Jaz bisa meramalkan bahwa Carter akan
memerlukan pengobatan, aku sama sekali tidak tahu. Namun, mungkin saja patung
itu bisa menyedot racun dari tubuh Carter, meski Set mengatakan racun itu tak
bisa disembuhkan. Lagi pula, tahu apa Dewa Kejahatan soal pengobatan?
Namun, ada
beberapa masalah. Pertama, pengetahuanku mengenai sihir pengobatan sangat
sedikit. Aku perlu waktu untuk mengetahui mengetahui mantra yang tepat, dan
karena aku hanya punya satu patung lilin, aku tidak boleh salah. Kedua, aku tak
bisa melakukan itu sementara dikejar-kejar oleh Menshikov dan pasukan begundal
sihir Rusianya, aku juga tak mau mengendurkan kewaspadaan ketika Set berada di
dekatku. Aku tak tahu mengapa tiba-tiba dia memutuskan untuk membantu, tetapi
semakin cepat aku bisa berpisah dengannya, semakin baik. Aku harus menemukan
Bes dan bersembunyi di suatu tempat yang aman—kalau memang ada tempat semacam
itu.
Set terus
berbicara mengenai cara-cara menarik yang mungkin digunakan para penyihir untuk
membunuhku begitu mereka berhasil menyusul kami. Akhirnya aku melihat sebuah
jembatan di atas kanal yang membeku. Mercedes hitam terparkir di bagian tengah.
Bes menyandar pada kap mobil, sambil menyantap kepingan papan catur cokelat. Di
sebelahnya terdapat sebuah kantong plastik besar—semoga berisi lebih banyak
cokelat untukku.
Aku berteriak
kepadanya, tetapi dia begitu sibuk makan cokelat (yang kurasa bisa kupahami)
sehingga tidak melihat kami sampai jarak kami tinggal beberapa meter saja.
Kemudian dia mendongak dan melihat Set.
Aku sudah
mulai berkata, " Bes, jangan—"
Terlambat.
Seperti seekor sigung, Dewa Cebol itu mengaktifkan pertahanan otomatisnya.
Kedua matanya membesar. Mulutnya membuka luar biasa lebar. Dia berteriak
"BOO!" begitu keras sampai rambutku terbagi dua, dan butiran air beku
mencurah deras dari lampu jalan di jembatan itu.
Set sama
sekali tidak tampak terganggu.
"Halo,
Bes," sapanya, "sungguh, kau tidak terlalu menakutkan dengan lumuran
cokelat menghiasi wajahmu."
Bes menatapku
dengan marah. "Apa yang dia lakukan di sini?"
"Bukan
ideku!" aku membela diri. Kuceritakan kepadanya ringkasan pertemuan kami
dengan Menshikov.
"Jadi,
Carter terluka," Aku mengakhiri dengan keterangan yang sepertinya agak
terlalu jelas. "Kita harus membawanya pergi dari sini."
"Tapi
pertama-tama," Set menyela, sambil menunjuk ke arah kantong Museum Cokelat
di sebelah Bes, "aku tidak tahan dengan kejutan. Apa yang ada di dalam
sana? Kado untukku?"
Bes
mengerutkan kening. "Sadie ingin oleh-oleh. Aku membawakannya kepala
Lenin."
Set memukul
pahanya dengan gembira. "Bes, kejam sekali! Ternyata masih ada harapan
untukmu."
"Bukan
kepala sungguhan," kata Bes, "yang ini terbuat dari cokelat."
"Oh...
sayang sekali. Kalau begitu bolehkah aku meminta sebagian papan caturmu? Aku
sangat suka memakan pion."
"Pergilah
dari sini, Set!" kata Bes.
"Ya, aku
bisa melakukan itu, tapi mengingat teman-teman kita sedang dalam perjalanan,
kurasa barangkali sebaiknya kita membuat kesepakatan."
Set menjentikan
jarinya, dan sebuah bola cahaya merah muncul di hadapannya. Di dalamnya gambar
holografis enam orang pria yang mengenakan seragam keamanan memasuki dua mobil
sport berwarna putih. Lampu depan kedua mobil menyala. Mobil-mobil itu membelok
melewati sebuah lahan parkir, kemudian melintasi sebuah dinding batu seolah
dinding itu terbuat dari asap.
"Kuperkirakan
kalian punya waktu dua menit." Set tersenyum, dan bola cahaya itu memudar.
"Kau ingat kaki-tangan Menshikov, Bes. Apa kau yakin ingin bertemu mereka
lagi?"
Wajah Dewa
Cebol itu menjadi kelam. Dia meremukkan sebuah bidak catur yang terbuat dari
cokelat putih di tangannya. "Dasar pembohong, licik, pembunuh—"
"Stop?"
seruku.
Carter
mengerang dalam kondisi tidak sadar akibat racun. Entah dia menjadi semakin
berat, atau aku yang semakin lelah memeganginya.
"Kita
tidak punya waktu untuk bertengkar," ujarku, "set, apakah kau
menawarkan untuk menghentikan para penyihir itu?"
Dia tertawa.
"Tidak, tidak. Aku masih berharap mereka akan membunuhmu. Tapi aku menawarkan
kepadamu lokasi gulungan Kitab Ra yang terakhir. Itu yang sedang kau buru,
bukan?"
Kurasa dia
berbohong. Dia biasanya berbohong— jika dia serius....
Aku menatap
Bes. "Mungkinkah dia tahu lokasinya?"
Bes
menggerutu. "Lebih dari mungkin. Para pendeta Ra memberikan gulungan itu
kepadanya untuk dijaga."
"Mengapa
mereka melakukan itu?"
Set berusaha
terlihat baik. "Ayolah, Sadie. Aku ini tangan kanan Ra yang setia. Jika
kau adalah Ra, dan kau tidak ingin diganggu oleh penyihir tua mana pun yang ingin
membangunkanmu, tidakkah kau akan memercayakan kunci lokasimu kepada pelayanmu
yang paling menakutkan?"
Dia ada
benarnya. "Kalau begitu di mana gulungannya?"
"Tidak
secepat itu. Aku akan memberikan lokasinya kepadamu, jika kau mengembalikan
nama rahasiaku."
"Tidak
akan!"
"Sangat
sederhana, kok. Katakan saja 'Kukembalikan namamu.' Kau akan melupakan cara
yang benar untuk mengucapkannya—"
"Lalu
aku tidak punya kekuasaan atasmu! Kau akan membunuhku!"
"Aku
berjanji tidak akan melakukan itu."
"Benar.
Itu sangat berarti. Bagaimana jika aku menggunakan nama rahasiamu untuk
memaksamu memberitahuku?"
Set
mengangkat bahu. "Dengan waktu beberapa hari untuk mencari tahu mantra
yang tepat, mungkin kau akan berhasil. Sayangnya...." Dia menangkupkan
tangan di telinganya. Di kejauhan, terdengar bunyi decitan ban—dua mobil,
melaju kencang, semakin mendekat. "Kau tidak punya waktu beberapa
hari."
Bes memaki
dalam Bahasa Mesir. "Jangan lakukan itu, Nak. Dia tak bisa
dipercaya."
"Bisakah
kita menemukan gulungan itu tanpa bantuannya?"
"Ya...
mungkin. Mungkin tidak. Tidak."
Lampu depan
dua mobil membelok ke Nevsky Prospekt, kira-kira setengah kilometer lagi. Kami
tidak punya waktu. Aku harus membawa Carter keluar dari sini, tetapi jika Set
benar-benar merupakan satu-satunya cara kami untuk menemukan gulungan itu, aku
tak bisa melepaskannya begitu saja.
"Baiklah,
Set. Tapi aku akan memberimu satu perintah terakhir."
Bes mendesah.
"Aku tidak kuat menyaksikan ini. Berikan kakakmu kepadaku. Akan kubawa dia
ke mobil."
Si cebol
membawa Carter dan memasukkannya ke tempat duduk bagian belakang Mercedes.
Aku terus
memandangi Set, berusaha memikirkan satu cara yang tidak terlalu buruk untuk
membuat kesepakatan ini. Aku tak bisa sekadar menyuruhnya supaya jangan pernah
menyakiti keluargaku. Perjanjian sihir memerlukan pemilihan kata-kata yang
cermat, dengan batasan yang jelas, dan tanggal kadaluarsa, kalau tidak seluruh
mantra akan batal. "Hari Iblis, kau tidak boleh menyakiti Keluarga Kane.
Kau akan menjaga perdamaian dengan kami setidaknya sampai—sampai Ra
bangun."
"Atau
sampai kau mencoba dan gagal membangunkannya?" Set bertanya dengan tampang
tidak berdosa.
"Jika
itu terjadi," ujarku, "dunia akan berakhir. Jadi, mengapa tidak? Aku
akan melakukan apa yang kau minta mengenai namamu. Sebagai gantinya, kau akan
memberitahuku lokasi bagian terakhir Kitab Ra, tanpa tipuan atau muslihat.
Kemudian kau akan pergi ke Duat."
Set
mempertimbangkan penawaran itu. Dua mobil sport putih tinggal beberapa blok
lagi sekarang. Bes menutup pintu tempat duduk Carter dan berlari menghampiriku
lagi.
"Kita
sepakat," Set menyetujui, "kau akan menemukan gulungan itu di
Bahariya. Bes tahu tempat yang kumaksud."
Bes tidak
tampak senang. "Tempat itu dijaga dengan ketat. Kita harus menggunakan
portal Aleksandria."
"Ya."
Set menyeringai. "Semestinya menarik! Berapa lama kau sanggup menahan
napas, Sadie Kane?"
"Apa
maksudmu?"
"Lupakan
saja, lupakan. Nah, aku yakin kau berutang nama rahasia kepadaku."
"Kukembalikan
nama rahasiamu," ujarku. Hanya begitu saja, kurasakan sihir itu
meninggalkanku. Aku masih mengetahui nama Set: Hari Iblis. Namun, entah
bagaimana aku tak bisa mengingat dengan pasti caraku dulu mengatakannya, atau
cara kerjanya dalam suatu mantra. Ingatan mengenainya telah terhapus.
Tidak
kunyana, Set tidak langsung membunuhku. Dia hanya tersenyum dan melemparkan
kacamata Vlad Menshikov ke arahku. "Bagaimanapun juga, aku berharap kau
hidup, Sadie Kane. Kau cukup menghibur. Tapi jika mereka membunuhmu, setidaknya
nikmati pengalaman itu!"
"Wew,
terima kasih."
"Dan
hanya karena aku sangat menyukaimu, akan kuberikan sedikit informasi mengenai
kakakmu. Katakan kepadanya desa Zia Rashid bernama al-Hamrah Makan."
"Mengapa
itu—"
"Selamat
jalan-jalan!" Set menghilang dalam gumpalan asap berwarna darah. Satu blok
dari situ, dua mobil sport putih meluncur cepat ke arah kami. Seorang penyihir
menyembulkan kepala dari atap mobil yang berada di depan dan mengacungkan
tongkatnya ke arah kami.
"Waktunya
berangkat," kata Bes, "masuklah!"
**DO*SF**
Aku akan
mengatakan ini untuk Bes: Dia menyetir seperti orang gila. Dan maksudku dalam
arti yang positif. Jalanan berlapis es sama sekali tidak mengganggunya. Begitu
pula rambu lalu lintas, trotoar pejalan kaki, atau kanal, yang kami lompati dua
kali tanpa repot-repot mencari jembatan. Untungnya, sebagian besar wilayah kota
itu kosong pada waktu sepagi itu, kalau tidak, aku yakin kami sudah menggilas
entah berapa orang Rusia.
Kami
meliuk-liuk melewati pusat kota St. Petersburg sementara dua mobil sport putih
mengejar di belakang kami. Aku berusaha memegangi Carter agar tetap pada
posisinya di sebelahku di kursi belakang. Matanya setengah terbuka, kornea
matanya berwarna hijau mengerikan. Meskipun udara dingin, tubuhnya panas akibat
demam. Aku berhasil melepas mantel musim dinginnya dan mendapati bajunya basah
kuyup oleh keringat. Di bahunya, luka gigitan itu mengeluarkan cairan
seperti... ya, mungkin sebaiknya aku tidak menjelaskan bagian itu.
Aku melirik
ke belakang kami. Penyihir di atap mobil membidikkan tongkatnya—bukan tugas
yang mudah di tengah kejar-kejaran mobil berkecepatan tinggi—dan sebatang
tombak putih melesat dari bagian ujungnya, meluncur cepat ke arah kami seperti
sebuah peluru kendali.
"Menunduk!"
teriakku, dan mendorong Carter ke arah tempat duduk.
Tombak itu
memecahkan jendela belakang dan langsung melayang melewati kaca depan. Jika
tinggi Bes normal, kepalanya pasti tertusuk. Kenyataannya, proyektil itu tidak
mengenainya.
"Aku ini
cebol," gerutunya, "aku tidak menunduk!"
Dia
membanting setir ke kanan. Di belakang kami, sebuah etalase toko meledak. Saat
menengok ke belakang, aku melihat seluruh dinding toko berubah menjadi setumpuk
ular hidup. Para pengejar kami masih terus mendekat.
"Bes,
keluar dari sini!" teriakku.
"Aku sedang
mengusahakannya, Nak. Jembatan Mesir tinggal sebentar lagi. Sebenarnya jembatan
itu dibangun pada tahun seribu delapan ratus, tapi—"
"Aku
tidak peduli! Menyetir sajalah!"
Sungguh,
menakjubkan betapa banyak pernak-pernik Mesir yang ada di St. Petersburg, dan
betapa aku tidak terlalu peduli tentang itu. Dikejar oleh penyihir-penyihir
jahat yang melontarkan tombak dan bom ular memang memperjelas prioritas kita.
Cukup
kukatakan: Ya, memang ada Jembatan Mesir di atas Sungai Fontanka, mengarah ke selatan
dari pusat kota St. Petersburg. Mengapa? Tidak tahu. Tidak peduli. Saat kami
melaju menuju jembatan itu, kulihat Sphinx-Sphinx batu berwarna hitam di kedua
sisi—Sphinx perempuan dengan mahkota firaun berlapis emas—tetapi satu-satunya
yang penting bagiku adalah benda-benda itu bisa memunculkan portal.
Bes
meneriakkan sesuatu dalam Bahasa Mesir. Di bagian puncak jembatan, cahaya biru
menyorot. Sebuah pusaran pasir muncul.
"Apa
maksud Set," tanyaku, "soal menahan napas?"
"Semoga
tidak lama," sahut Bes, "kita hanya akan berada sembilan meter di
bawah."
"Sembilan
meter di bawah air?"
DUAAAR!
Mercedes terguling ke samping. Baru setelahnya kusadari bahwa pastilah ada
tombak lain yang mengenai roda belakang kami. Kami berputar di atas es dan
terlempar, meluncur jungkir-balik memasuki pusaran.
Kepalaku
menghantam sesuatu. Aku membuka mata, berjuang mempertahankan kesadaran, tetapi
aku tak bisa melihat apa-apa, entah karena aku buta atau kami berada di tengah
kegelapan total. Aku mendengar air menetes-netes melalui kara yang pecah akibat
tombak, dan atap Mercedes yang renyuk seperti kaleng alumunium.
Aku sempat
berpikir: Belum sehari menjadi remaja, aku sudah hendak tenggelam.
Kemudian aku
tidak sadarkan diri.[]
|
Langganan:
Postingan (Atom)

