Kamis, 30 Juli 2015


 CERITA MALAM





ini cerita malam hari .....
kadang aku suka bertanya ?apa sebenernya yang terjadi ? ketika semua sudah pernah terjadi tapi perasaan ini tetap terjadi .
aku bingung... bagaimana seharusanya aku ? tidak ada kata salah dengan apa yang terlahir .tapi ketika semua yang terjadi selalu membuat mu menangis disitu letak nya . 

kadang juga aku berfiir ...
apa hanya aku saja yang merasakan ini? banyak sekali yang ingin ku tuangkan pada saat malam
tapi entah menapa diri ini pun tak kuat ketika melihat cermin dan berbicara pada diri ini.
mengeluh dan terus membiarkan air mata jatuh mungkin hal yang seharus nya aku pilih tap tentu saja aku punya perasaan yang sangan sensitif jika mengenai dia (nama yang tak boleh di sebut).

ntah dia tercipta dari apa ? tercipta untuk siapa ? yang jelas aku benar benar di buat bingung oleh nya.
dia yang tau siapa aku(selain tuhan yang menciptakan ku )dan tentu saja mengenal aku lebih jauh.
hingga terlalu jauh.
aku pernah berfikir bahwa dia hanya selembar kertas putih yang sanga mulus atau kayu coklat nan mengkilat.. tapi di balik itu semua dia akan rapuh serapuh rapuhnya.

seperti yang sekarang kita jalanin. sudah lama kita mengenal tapi menurut dia aku hanya tong yang kosong.aku sempat memberontak.aku selalu berusaha membela diri ku. karna aku pikir pengorbanan ku slama ini tidak salah. ternyataa apa yang dia tunjukan itu membuat ku sadar dan banyak blajar .
tapi taukah kalian ...dia juga yang membuat ku blajar dari sebuat kesakitan.

banyak sekali penghianatan dia... begitu juga aku .. karna aku kesal dan dendam padanya.
tapi setelah aku tau bahwa apa yang aku lakukan itu semakin membuatku sama sepeti dia. dia yang tak pernah melihat aku ada.aku tau ini  hanyalah cooretan yang tak bergunua untuk dibaca. tapi taukah bahwa ketika aku menulis ini aku sedang ingin mencurahkan waktu ku untuk mengenang nya. 

to be continue...

Senin, 20 Juli 2015

The Kane Chronicles 2 : THE THRONE OF FIRE


































SINOPSIS BUKU - The Kane Chronicles 2 : THE THRONE OF FIRE

Pertarungan melawan Kekacauan terus berlanjut. Sejak Dewa-Dewa Mesir terlepas ke dunia modern, Carter dan Sadie Kane terlibat banyak masalah. Dan kini, Dewa Apophis, musuh mereka yang paling berbahaya, akan segera bangkit. Satu-satunya cara untuk menghentikan Apophis adalah dengan membangkitkan Ra. Masalahnya, tidak ada yang tahu di mana Ra. Bukan hanya itu, untuk membangkitkan Ra mereka juga harus menemukan tiga gulungan dari Kitab Ra dan mempelajari mantra yang tepat untuk bisa membacanya.

Narasi Sadie dan Carter Kane, humor-humor unik ala mereka dan petualangan ke seluruh dunia akan membuat kalian tenggelam dalam Petualangan Kane bersaudara yang  sensasional.  

1.CARTER
BERSENANG SENANG DENGAN LEDAKAN TIDAK TERDUGA
DENGAN CARTER DI SINI. Begini, kami tidak punya waktu untuk perkenala lebar. Aku hams menyampaikan cerita ini dengan cepat ,atau kita semua akan mati. Jika kau belum mendengar rekaman kami yang pertama yaa…. senang bertemu denganmu; begini, dewa-dewa Mesir sebenarnya berkeliaran di dunia modern; sekelompok penyihir bernama Dewan Kehidupan berusaha menghentikan mereka; membenci Sadie dan aku; dan seekor ular raksasa ingin matahari serta menghancurkan dunia ini. [Aw! Untuk apa itu?] Sadie bare raja menonjokku. Dia bilang aku bakal membuat terlalu ketakutan. Aku harus menahan diri, tenang, dan mulai dari awal. Baiklah. Namun, kalau aku boleh jujur, kurasa memang sudah seharusnya kau merasa takut. Rekaman ini akan menyampaikan padamu apa yang sesungguhnya telah terjadi dan apa yang menyebabkan semua persoalan itu. Kau bakal mendengar banyak orang berkata buruk
tentang kami, tapi bukan kami yang menyebabkan semua kematian itu. Sementara soal ular, itu juga bukan salah kami. Ya, bukan benar-benar salah kami. Semua penyihir di dunia ini harus bersatu. Itu satu-satunya kesempatan kita. Jadi, berikut ini adalah ceritanya. Putuskan sendiri. Semuanya bermula ketika kami memicu kebakaran di Brooklyn.
Pekerjaan itu seharusnya sederhana: menyelinap masuk ke dalam Museum Brooklyn, meminjam artefak Mesir tertentu, dan meninggalkantempat  itu tanpa tertangkap. Bukan, ini bukan perampokan. Kami pasti akan mengembalikan artefak  itu. Namum, kurasa kami memang terlihat mencurigakan: empat anak  berpakaian ninja di atas atap museum. Oh, dan seekor haliun, yang juga berpakaian ninja. Jelas-jelas mencurigakan. Hal pertama yang kami lakukan adalah mengirim murid kami, Jaz dan Walt, untuk membuka jendela samping, sementara Khufu, Sadie, dan aku memeriksa kubah kaca di bagian tengah atap, yang seharusnya akan menjadi jalan keluar kami. Jalan keluar kami tidak terlihat sangat bagus. Saat itu sudah larut malam, dan museum seharusnya sudah tutup. Namun, ternyata kubah kaca itu bersinar terang. Di dalamnya, dua belas meter di bawah, ratusan orang yang mengenakan tuksedo dan gaun malam berkumpul dan menari dalam sebuah ballroom(Ballroom: ruangan besar di dalam sebuah gedung yang biasa digunakan untuk mengadakan acara formal. Dulu ballroom digunakan untuk menyelenggarakan pesta dansa, tapi sekarang ballroom digunakan untuk acara-acara lain selain pesta dansa. —peny )seukuran hanggar pesawat. Sebuah orkestra bermain, tapi dengan angin menderu di telingaku dan gigi bergemeletuk, aku tak bisa mendengar suara musiknya. Aku menggigil kedinginan dalam balutan piama linenku.
Penyihir seyogianya mengenakan kain linen karena bahan itu tidak mengganggu sihir, yang barangkali merupakan kebiasaan yang tepat jika diterapkan di gurun Mesir, tempat suhu dingin dan hujan jarang melanda. Di Brooklyn, pada bulan Maret — penggunaan linen sepertinya kurang tepat. Adik perempuanku, Sadie, tampaknya tidak terganggu  oleh hawa dingin. Dia sedang membuka kunci kubah seraaya  bersenandung mengikuti sesuatu dari iPod-nya. Mak sudku yang benar saja—siapa sih yang mendengarkan iPod sambil museum? Dia memakai pakaian yang sama sepertiku dengan tambahan  combat boots. Rambut pirangnya bersemburat merah—sangat  cocok untuk misi penyelinapan. Dengan mata biru dan warna kulit yang terang, dia sama sekali tidak mirip denganku, sesuatu yang bukan masalah menurut kami. Selalu menyenangkan rasanya .punya pilihan untuk menyangkal bahwa gadis sinting di sebelahku ini adalah saudara perempuanku. "Katamu museumnya kosong," aku mengeluh. Sadie tidak mendengar suaraku sampai aku menarik earbud iPodnya dan mengulang pertanyaanku. "Ya, museumnya memang seharusnya kosong." Sadie akan menyangkal ini, tapi setelah tinggal di Amerika Serikat selama tiga bulan terakhir, dia mulai kehilangan aksen Inggrisnya. "Menurut situs Web-nya, museum tutup pukul lima. Bagaimana aku bisa tahu bakal ada pesta pernikahan di sini?" Pesta pernikahan? Aku menjenguk ke bawah dan melihat bahwa Sadie benar. Beberapa wanita mengenakan gaun pengiring pengantin berwarna peach. Di salah satu meja terdapat sebuah kue tumpuk warna putih yang berukuran sangat besar. Dua kelompok tamu yang terpisah telah mengangkat mempelai wanita dan mempelai pria ke atas kursi dan membawa mereka melintasi ruangan sementara teman-teman mereka berputar sambil menari
dan bertepuk tangan di sekeliling mereka. Semua itu mengesankan bohwa sebentar lagi akan terjadi tabrakan keras antar perabot. Khufu mengetuk kaca. Bahkan dengan pakaian hitam, sulit haginya untuk membaur dalam bayang-bayang dengan bulunya yang keemasan, belum lagi pantat dan hidungnya yang berwarna pelangi. "Aghl." geramnya. Karena dia adalah babun, itu bisa berarti apa saja dan Lihat, ada makanan di bawah sana, sampai Kaca ini kotor atau Hei, orang-orang itu melakukan hal bodoh dengan kursi-kursi itu. "Khufu benar," Sadie menerjemahkan, "kita bakal kesulitan menyelinap keluar dari pesta itu. Barangkali jika kita pura-pura menjadi km pemeliharaan—" "Tentu saja," tukasku, Empat anak akan lewat dengan membawa patung seberat tiga ton. Cuma hendak menerbangkan patung melewati atap. Jangan hiraukan kami.'" Sadie memutar bola matanya. Dia mengeluarkan tongkat sihirnya—sebatang gading melengkung yang dihiasi ukiran gambar-gambar monster—dan mengarahkannya pada bagian dasar kubah. Sebuah hieroglif, tulisan Mesir kuno, menyala, dan gembok terakhir meletup terbuka. "Well, jika kita tidak akan menggunakan ini sebagai jalan keluar," kata Sadie, "untuk apa aku membukanya? Tak bisakah kita keluar dari tempat kita masuk—melalui jendela samping?" "Sudah kubilang. Patung itu besar sekali. Tidak akan muat melewati jendela samping. Ditambah lagi, perangkap—" "Coba lagi besok malam, kalau begitu?" Tanyanya. Aku menggelengkan kepala. "Besok semua benda pameran di sini akan dikemas dan dikirim keluar negeri untuk tur." mengangkat alis dengan caranya yang menjengkelkan. " pika seseorang memberi kita lebih banyak informasi sebelumnya bahwa kita harus mencuri patung ini—"
"Lupakan saja." Aku tahu ke mana percakapan ini mengarah, dan tidak ada gunanya jika Sadie dan aku berdebat di atas atap sepanjang malam. Dia benar, tentu saja. Aku tidak banyak memberinya banyak informasi. Namun, hei—sumberku tidaklah terlalu   bisa diandalkan. Setelah berminggu-minggu meminta bantuan akhirnya aku mendapat petunjuk dari temanku, Horus si dewa perang  berwujud elang, yang berbicara dalam mimpiku: oh omong, artefak yang selama ini kau cari-cari? Yang mungkin  menyimpan kunci untuk menyelamatkan planet ini? Artefak itu sudah berada di dekat sini di Museum Brooklyn selam30 tahun terakhir, tetapi besok artefak itu akan berangkat, ke eropa  Jadi, sebaiknya kau bergegas! Kau punya waktu 5 hari untk  mencari tahu cara menggunakannya, atau kita semua akan mati. Semoga berhasil! Aku bisa saja meneriakinya karena tidak memberitahu ku lebih  cepat, tapi tidak akan ada bedanya. Dewa hanya bicara ketika  mereka sudah siap, dan mereka tidak punya pemahaman yang baik mengenai waktu manusia. Aku tahu hal ini karena Hornus pernah menempati sebagian ruang di kepalaku beberapa bulan silam. Aku masih memiliki sebagian kebiasaan antisosialnya – seperti  dorongan sesekali untuk berburu hewan pengerat kecil herhnlii atau menantang orang untuk bertarung sampai mati. "Mari kita bertahan dengan rencana semula," kata Sadie, "masuk lewat jendela samping, mencari patung itu, dan menerbangkannya keluar melalui ruang dansa. Akan kita pikirkan bagaimana cara menangani pesta pernikahannya ketika kita sudah sampai sejauh itu. Mungkin menciptakan pengalih perhatian." Aku mengerutkan kening. "Pengalih perhatian?" "Carter, kau terlalu khawatir," kata Sadie, "semuanya akan lancar-lancar saja. Kecuali kau punya gagasan lain?" Masalahnya adalah—aku tidak punya gagasan lain. Kau pasti mengira sihir membuat berbagai hal menjadi mudah. Sebenarnya, sihir biasanya malah membuat berbagai hal
.bertambah rumit .selalu ada sejuta alasan mengapa mantra ini atau ,itu tidak  dalam situasi tertentu. Atau ada sihir lain yang menghalangimu —seperti mantra perlindungan pada museum ini. Kami tidak yakin siapa yang memasangnya. Mungkin salah ..eorang staf museum adalah penyihir yang menyamar, sesuatu yang bukan tidak lazim. Ayah kami sendiri menggunakan gelar doktornya dalam bidang Egyptology sebagai penyamaran untuk mendapatkan akses ke berbagai artefak. Selain itu, Museum Brooklyn memiliki koleksi gulungan naskah sihir Mesir terbesar di dunia. Itulah sebabnya paman kami, Amos, menempatkan markasnya di Brooklyn. Banyak sekali penyihir yang mungkin punya alasan untuk memasang jebakan dan melindungi isi museum yang berharga. Apa pun kasusnya, pada pintu dan jendela museum itu ada beberapa kutukan yang mengerikan. Kami tak bisa membuka portal sihir ke dekat artefak itu, juga tak bisa menggunakan shabti pengambil kami—patung tanah hat ajaib yang melayani kami di perpustakaan kami—untuk meminjam artefak yang kami perlukan itu. Kami terpaksa masuk dan keluar dengan cara yang sulit, dan jika kami melakukan kesalahan, talc ada yang tahu kutukan macam apa yang akan kami lepaskan: monster penjaga, wabah penyakit, kebakaran, keledai yang meledak (jangan tertawa, kutukan itu sangat mengerikan). Satu-satunya jalan keluar yang tidak dipasangi perangkap adalah kubah di bagian atas ruang dansa. Tampaknya si penjaga museum tidak khawatir ada pencuri yang akan melayangkan artefak keluar dari bukaan setinggi dua belas meter di udara. Ataumungkin  sebenarnya ada perangkap di kubah itu, dan perangkap disembunyikan dengan sangat baik sehingga tidak terlihat kami. Apa pun itu, kami tetap harus mencoba. Hanya malam ini kesempatan kami untuk mencuri—maaf, meminjam—artefak
itu. Setelah itu kami punya waktu lima hari untuk mencari tahu bagaimana cara menggunakannya. Aku suka sekali pada tenggat waktu. "Jadi, kita lanjutkan saja dan berimprovisasi'" Tanya Sadie. Aku menatap ke bawah ke arah pesta perikahan itu .berharap kami tidak akan menghancurkan malam istimewa ., mereka .Kurasa begitu." "Bagus," kata Sadie, "Khufu, tetap di sini dan berjagalah. Buka kubah jika kau melihat kami datang, ya?" "Argh!" jawab si babun. Tengkukku terasa gatal. Aku punya perasaan pencurian ini tidak akan berlangsung mulus. "Ayo," kataku pada Sadie, "mari kita lihat bagaimana keadaan Jaz dan Walt." Kami turun ke langkan di luar lantai ketiga yang memuat koleksi artefak-artefak dari Mesir. Jaz dan Walt telah melakukan tugas mereka dengan sempurna. Mereka telah membungkus empat patung Putra-Putra Horus di sekitar pinggiran jendela dengan lakban dan menggambar hieroglif di kaca untuk menetralkan kutukan dan sistem alarm manusia. Saat Sadie dan aku mendarat di sebelah mereka, mereka tampaknya sedang berbincang-bincang dengan serius. Jaz memegangi tangan Walt. Itu membuatku terkejut, tetapi Sadie lebih terkejut lagi. Dia mengeluarkan suara memekik seperti seekor tikus yang terinjak. [Oh, ya, kau memang melakukannya. Aku kan ada di sang] Mengapa Sadie peduli? Oke, persis setelah tahun bars, ketika aku dan Sadie mengirim suar azimat djed kami untuk menarik anak-anak yang memiliki potensi sihir ke markas kami, Jaz dan Walt adalah yang pertama merespons. Mereka berlatih dengan kami selama tujuh minggu, lebih lama daripada anak-anak lain. Jadi, kami mengenal mereka dengan cukup baik.
Jaz adalah seorang pemandu sorak dari Nashville. Namanya adalah kependekan dari Jasmine, tetapi jangan pernah memannggilnya dengan nama itu kecuali kau ingin diubah menjadi semak-semak. Dia cantik, tipe pemandu sorak yang cantik dan berambut pirang—bukan benar-benar tipeku—tetapi kita pasti menyukainya karena dia baik pada semua orang dan selalu siap membantu. Dia juga punya bakat sihir penyembuh. Jadi, dia adalah orang yang sangat tepat untuk diajak pergi kalau-kalau ada masalah, yang selalu menimpaku dan Sadie pada sekitar sembilan puluh sembilan persen kesempatan. Malam ini dia menutupi rambutnya dengan bandana hitam. Di ptindaknya terselempang tas penyihirnya, yang dihiasi lambang Dewi Smga, Sekhmet. dia ham saja mengatakan kepada Walt, "Akan kita lihat nanti," ketika Sadie dan aku meluncur turun ke sebelah mereka. Walt tampak male. Walt itu hmm, bagaimana, ya, aku harus menggambarkan Walt? [Tidak, terima kasih Sadie. Aku tidak akan menggambarkan Walt sebagai cowok seksi. Tunggu giliranmu] Walt berusia empat belas tahun, sama denganku, tetapi dia cukup tinggi untuk menjadi pemain depan tim olahraga universitas. Dia punya potongan tubuh yang pas untuk itu—ramping dan berotot—dan kaki cowok itu besar sekali. Kulitnya secokelat biji kopi, sedikit lebih gelap daripada kulitku, dan rambutnya cepak sehingga terlihat seperti bayangan di kulit kepalanya. Meskipun udara dingin, dia mengenakan kaus tanpa lengan berwarna hitam dan celana pendek untuk olahraga—bukan pakaian standar penyihir—tetapi tak ada yang mempertanyakan Walt. Dia adalah murid kami yang pertama datang, jauh-jauh dari Seattle, dan cowok itu adalah seorang sau—pembuat jimat—alamiah. Dia mengenakan serenceng kalung rantai emas berjimat sihir yang dia buat sendiri.
Pokoknya, aku yakin Sadie cerriburu pada Jaz dan menyukai Walt, meskipun Sadie tidak akan pernah mengakuinya karena dia menghabiskan beberapa bulan terakhir ini untuk meratapi cowok lain—dewa sebenarnya—yang dia taksir. [Ya, baiklah, Sadie. Aku akan berhenti untuk saat ininamun, kulihat kau tidak menyangkalnya.] Ketika kami menyela pembicaraan mereka, Walt cepat cepat  melepaskan tangan Jaz dan menjauh. Mata Sadie memandangi mereka berdua bergantian, berusaha memahami apa yg terjadi. Walt berdeham. "Jendela sudah siap." "Bagus sekali." Sadie menatap Jaz. "Apa maksudmu “akan  kita lihat nanti'?" Jaz membuka dan menutup mulutnya seperti seeker yang berusaha bernapas. Walt yang menjawab untuk Jaz: "Itu lho. Kitab Ra. Kami akan  melihatnya nanti." "Ya!" timpal Jaz. "Kitab Ra." Aku tabu mereka berbohong, tetapi kurasa bukan urusanku  jika mereka saling menyukai. Kami tidak punya waktu untuk drama. "Oke," ujarku sebelum Sadie sempat meminta penjelasan  lebih lanjut, "mari kita mulai bersenang-senang." Jendela berayun membuka dengan mudah. Tidak ada ledakan sihir. Tidak ada alarm. Aku mengembuskan napas lega dan melangkah memasuki ruangan yang khusus memamerkan artefak-artefak dari Mesir, sambil bertanya-tanya dalam hati apa mungkin entah bagaimana kami bisa melakukan misi ini dengan sukses.Artefak-artefak Mesir membangkitkan segala macam kenangan. Hingga tahun lalu, kuhabiskan sebagian besar hidupku untuk berpergian keliling dunia bersama ayahku sementara dia
mendatangi museum demi museum, memberi kuliah mengenai Mesir Kuno. Itu sebelum aku tabu dia adalah penyihir—sebelum dia membebaskan segerombolan dewa, dan hidup kami menjadi runyam. Sekarang aku tak bisa melihat karya seni Mesir tanpa merasakan m lath ikatan batin dengan benda-benda itu. Aku menggigil ketika kami melewati patung Horus—Dewa Berkepala Elang yang menghuni tubuhku Natal silam. Kami berjalan melewati sebuah sarkofagus, dan aku ingat bagaimana Set, si Dewa yang Jahat, mengurung ayah kami dalam sebuah peti mati emas di British Museum. Di mana-mana ada gambar Osiris, Dewa Orang Mati yang memiliki kulit berwarna biru, dan aku teringat bagaimana Ayah telah mengorbankan diri untuk menjadi tubuh perantara Osiris yang baru. Saat ini, di suatu tempat di alam sihir Duat, ayah kami adalah raja dunia bawah itu. Aku bahkan tidak dapat menggambarkan betapa aneh rasanya melihat lukisan berusia lima ribu tahun berisi sesosok dewa Mesir berkulit biru dan berpikir, "Yap, itu ayahku." Semua artefak itu terlihat seperti kenang-kenangan keluarga: sebatang tongkat sihir persis seperti punya Sadie, gambar serpopards(Serpopards: monster ular-macan tutul, salah satu monster yang pernah berta-rung dengan Carter dan Sadie di buku sebelumnya. —peny) yang pernah menyerang kami, sebuah halaman dari Kitab Orang Mati yang menampilkan iblis-iblis yang pernah kami temui secara langsung. Kemudian ada pula shabti, patung-patung sihir kecil yang seharusnya bisa hidup ketika dipanggil. Beberapa bulan lalu, aku jatuh cinta pada seorang gadis bernama Zia Rashid, yang ternyata adalah shabti. Jatuh cinta untuk pertama kalinya sudah cukup sulit. Akan tetapi, ketika gadis yang kita sukai ternyata adalah keramik dan  
hancur berkeping-keping di depan mata kita —ya, itu memberi makna baru pada ungkapan "hancur hatiku." Kami berhasil melewati ruangan pertamamelintas di bawah sebuah mural zodiak bergaya Mesir yang berukunin di langit-langit. Bisa kudengar perayaan berlangsung di ruang mama di koridor sebelah kanan kami. Suara musik dan tawa menggema di seluruh bangunan itu. Di ruangan Mesir yang kedua, kami berhenti di depan hiasan batu seukuran pintu garasi. Gambar sesosok monster sedang menginjak beberapa manusia terpahat di permukaan  "Apa itu seekor griffin?" Tanya Jaz. Aku mengangguk. "Versi Mesirnya, ya." Hewan itu memiliki tubuh singa dan kepala elang, tetapi sayap-sayapnya tidak seperti sebagian besar gambar griffin yang biasa kau lihat. Sebagai ganti sayap burung, sayap monster ini terentang di sepanjang bagian atas punggungnya—panjang, horizontal, dan dipenuhi bulu kaku yang berdiri tegak seperti sikat baja. Jika monster tersebut bisa terbang dengan benda itu, kurasa past gerakannya seperti sayap kupu-kupu. Hiasan itu dulu dicat. Bisa kulihat bintik-bintik warna merah dan emas pada bulu makhluk itu, tetapi bahkan tanpa warna, si Griffin tampak mengerikan, terlihat sangat hidup. Matanya yang seperti manik-manik seolah mengikutiku. "Griffin adalah penjaga," ujarku, mengingat sesuatu yang pernah disampaikan Ayah kepadaku, "mereka menjaga harta karuh dan benda-benda berharga lain." "Hebat," kata Sadie. "Jadi, maksudmu mereka menyerang ... oh, pencuri, misalnya, yang membobol museum dan rnencuri artefak?" "Itu cuma hiasan dinding," kataku. Tetapi aku tidak yakin perkataanku membuat semua orang merasa lebih baik. Inti Sihir Mesir adalah mengubah kata-kata dan gambar menjadi kenyataan. "Di sana." Walt menunjuk ke seberang ruangan. "Itu, kan?"
Kami mengitari Griffin tadi dan berjalan ke sebuah patung yang berada di bagian tengah ruangan. Patung dewa itu menjulang dengan tinggi sekitar dua setengah meter. Dia terpahat dan batu hitam dan berpenampilan khas Mesir: telanjang dada, hanya memakai kilt (Kilt: rok pendek ala Mesir —peny 4 Jentera: alas berbentuk lingkaran yang mempunyai sumbu dan bisa diputar. Bi-asanya pembuat tembikar meletakkan tanah liat di atas jentera yang berputar dan membentuknya di sana. —peny )dan sandal. Dia memiliki wajah seekor domba jantan dan tanduk yang sebagian telah patah seiring berlalunya abad. Di kepalanya terdapat mahkota berbentuk Frisbee—sebuah cakram matahari, yang terjalin dari beberapa ular. Di depannya berdirilah sesosok manusia yang jauh lebih kecil. Dewa itu sedang mengulurkan kedua tangan di atas kepala si manusia, seolah-olah tengah memberkatinya. Sadie menyipitkan mata memandangi prasasti hieroglif yang ada. Sejak dia menjadi tubuh perantara bagi roh Isis, sang Dewi Sihir, Sadie memiliki kemampuan misterius untuk membaca hieroglif. "KNM," dia membaca. "Itu dibaca Khnum, kurasa. Berima dengan Ka-boom?" "Ya," aku setuju, "ini patung yang kita perlukan. Kata Horus, patung ini menyimpan rahasia untuk menemukan Kitab Ra." Sayangnya, Horus tidak terlalu rinci dalam memberi keterangan. Setelah kini kami menemukan patungnya, aku sama sekali tak tahu bagaimana benda ini bisa membantu kami. Aku memeriksa sekilas hieroglifnya, berharap mendapat petunjuk. "Siapa manusia kecil di depannya itu?" Tanya Walt, "seorang anak?" Jaz menjentikkan jari. "Bukan, aku ingat inil Khnum menciptakan manusia di atas jentera4 pembuat tembikar. Aku
bertaruh itulah yang dilakukannya di sini—membentuk manusia dari tanah hat." Jaz menatapku untuk mendapat persetujuan. Sebenarnya, aku sendiri lupa cerita itu. Sadie dan aku seharusnya mei ijadi guru, tetapi Jaz-lah yang seringkali mengingat lebih liva Int daripada aku. "Ya, bagus," ujarku, "manusia dari tanah liat " Sadie mengerutkan kening ke arah kepala dornba Khnum "Agak mirip dengan tokoh kartun lama ... Bullwinkle, nukan?bisa saja ini Dewa Rusa." "Dia bukan Dewa Rusa," bantahku. "Jika kita mencari Kitab Ra," katanya, "dan Ra adalah Dewa Matahari, mengapa kita mencari rusa?" Sadie bisa bersikap menjengkelkan. Apakah aku sudah mengatakan itu? "Khnum adalah salah satu aspek dari Dewa Matahari," jelasku, "Ra memiliki tiga kepribadian yang berbeda. Dia adalah Khepri, Dewa Scarab di pagi hari, Ra di siang hari, dan Khnum, dewa berkepala domba jantan, saat matahari terbenam, ketika dia masuk ke dunia bawah tanah." "Itu membingungkan," kata Jaz. "Tidak terlalu," timpal Sadie, "Carter memiliki tiga kepribadian yang berbeda. Dia berubah dari Zombie di pagi hari menjadi siput di sore hari lalu menjadi—" "Sadie," tukasku, "tutup mulutmu." Walt menggaruk-garuk dagunya. "Kurasa Sadie benar. Itu terlihat seperti rusa." "Terima kasih," kata Sadie. Walt tersenyum setengah hati, tetapi dia masih terlihat memikirkan sesuatu, seolah-olah ada pikiran yang mengganggunya. Aku memergoki Jaz tengah mengamati Walt dengan ekspresi khawatir, dan aku bertanya-tanya, kira-kira apa yang mereka bicarakan tadi.
"Cukup soal rusa," kataku, "kita harus membawa patung ini ke rumah Brooklyn. Patung ini menyimpan sejenis petunjuk—" "Tapi bagaimana cara kita menemukannya?" tanya Walt, "kau juga belum memberi tahu kami mengapa kita sangat memerlukan Kitab Ra itu." Aku bimbang. Banyak hal yang belum kami sampaikan kepada murid-murid kami, bahkan Walt dan Jaz—seperti bagaimana dunia mungkin akan berakhir dalam waktu lima hari. Hal semacam itu bisa mengganggu pelajaran. "Akan kujelaskan setelah kita kembali," aku berjanji, "sekarang, mari kita pikirkan bagaimana cara memindahkan patung ini." Jaz mengerutkan alis. "Kurasa benda itu tidak akan muat di tasku." "Oh, khawatir sekali sih," kata Sadie, "begini, kita pasang mantra apung pada patung itu. Kita ciptakan pengalih perhatian besar-besaran untuk mengosongkan ballroom—" "Tunggu." Walt mencondongkan badan ke depan dan mengamati sosok manusia yang berukuran lebih kecil. Pria kecil itu tengah tersenyum, seolah-olah diciptakan dari tanah hat itu amat sangat menyenangkan. "Dia mengenakan jimat. Jimat scarab." "Itu lambang yang umum," ujarku. "Ya ...." Walt meraba koleksi jimatnya sendiri. "Tapi scarab adalah lambang kelahiran kembali Ra, bukan? Dan patung ini menggambarkan Khnum tengah menciptakan kehidupan baru. Mungkin kita tidak memerlukan seluruh patung. Mungkin petunjuknya adalah—" "Ahl" Sadie mengeluarkan tongkat sihirnya. "Brilian." Aku sudah hendak berkata, "Sadie, janganl." tetapi tentu saja itu tidak akan ada gunanya. Sadie tak pernah mendengarkanku. Dia mengetuk jimat si Manusia Kecil. Kedua tangan Khnum bersinar. Kepala patung yang lebih kecil membuka menjadi empat bagian seperti bagian atas tempat peluncuran peluru kendali,
dan sebuah gulungan papirus yang kekuningan menyembul dari lehernya. "Voila," ucap Sadie dengan bangga. Dia menyelipkan tongkat sihirnya ke dalam tas memegang gulungan papirus itu persis saat aku berteriak, mungkin dipasangi perangkap!" Seperti yang sudah kubilang, Sadie tak pernah mendengarkan. Begitu dia merenggut gulungan papirus itu dari patung ,seisi ruangan bergemuruh. Muncul retakan pada lemari-lemari yang terbuat dari kaca. Sadie memekik saat api berkobar pada gulungan papirus Ali tangannya. Nyala api itu sepertinya tidak melalap papirus a tau melukai Sadie, tetapi ketika Sadie berusaha melepaskan diri dari kobaran api tersebut, api gaib yang berwarna putih itu meloncat ke lemari pajang terdekat dan melesat ke sekeliling ruangan seolah-olah mengikuti jalur bensin. Api itu menjilati jendela-jendela, dan hieroglif berwarna putih menyala di kaca jendela-jendela itu, mungin memicu sekumpulan penangkal dan kutukan pelindung. Kemudian api gaib itu bergerak bergelombang melewati hiasan besar di pintu masuk ruangan. Lempengan batu itu bergetar hebat. Aku tak bisa melihat pahatan di sisi sebaliknya, tetapi aku mendengar suara lengkingan parau—seperti seekor burung beo yang sangat besar dan sangat murka. Walt mengambil tongkat dari punggungnya. Sadie mengayun-ayunkan gulungan papirus yang menyala-nyala tadi seolah-olah benda tersebut menempel di tangannya. "Lepaskan benda ini darikul. Ini benar-benar bukan salahkur "Engg ...." Jaz mengeluarkan tongkat sihirnya. "Suara apa itu?" Perasaanku sangat tidak enak. "Kurasa," ujarku, "Sadie barn saja menemukan sesuatu yang bisa dijadikan pengalih perhatian." 




2.CARTER
KAMI MENJINAKAN SEEKOR BURUNG KOLIBRI SEBERAT TIGA SETENGAH TON


BEBERAPA BULAN LALU, SITUASI TENTU berbeda. Sadie bisa mengucapkan satu kata saja dan memunculkan ledakan berskala militer. Aku bisa membungkus diri dengan avatar perang sihir, dan nyaris tak ada yang sanggup mengalahkanku. Namun, itu ketika kami masih sepenuhnya bergabung dengan dewa dan dewi—Horus bergabung denganku, Isis bergabung dengan Sadie. Kami telah melepas kekuatan itu karena sangat berbahaya. Sampai kami mampu mengendalikan kekuatan kami sendiri dengan lebih baik, menyediakan tubuh perantara untuk dihuni dewa-dewa Mesir bisa membuat kami menjadi gila atau membuat kami terbakar dalam arti yang sesunggguhnya. Sekarang yang kami miliki hanyalah sihir kami yang terbatas. Itu menyulitkan kami melakukan hal-hal penting—seperti bertahan hidup ketika sesosok monster menjadi hidup dan ingin membunuh kami. Griffin itu bergerak hingga kami bisa melihat seluruh tubuhnya. Makhluk itu berukuran dua kali singa biasa, bulunya yang emas kemerahan tertutupi debu batu kapur. Ekornya dihiasi bulu-bulu runcing yang tampak sekeras dan setajam belati. Dengan
sekali kibasan, ekor itu meremukkan lempengan hate tempatnya berasal. Kedua sayapnya yang kaku dan tajam sekarang menegak di punggungnya. Ketika si Griffin bergerak, keduaa  sayap itu mengepak-ngepak sedemikian cepat sampai-sampai menjaadi kabur  dan mengeluarkan suara dengungan seperti sayap hummingbird(Hummingbird: semacam burung kolibri —penerj ) yang terbesar dan tergarang di dunia. Si Griffin memakukan matanya yang lapar pada Sadie. NyaLl api berwarna putih masih menyelubungi tangan Sadie bcsci gulungan papirus itu, dan si Griffin tampaknya menganggap hal itu sebagai semacam tantangan. Aku sudah sering mendcligal suara pekikan elang—hei, aku sendiri pernah menjadi elang sat(' atau dua kali—tetapi ketika makhluk ini membuka paruhnya, Ia mengeluarkan lengkingan yang membuat jendela bergetar dan bulu kudukku meremang. "Sadie," kataku, "jatuhkan gulungan papirus itu." "Halo? Benda ini menempel di tangankul." dia memprotes, "dan aku tengah terbakar? Aku sudah bilang belum?" Cercahan api gaib itu kini menyala-nyala di seluruh jendela dan artefak. Gulungan papirus tersebut tampaknya memicu semua simpanan sihir Mesir di ruangan itu, dan aku cukup yakin itu adalah sesuatu yang buruk. Walt dan Jaz berdiri mematung karena syok. Kurasa aku tak bisa menyalahkan mereka. Ini adalah monster pertama mereka. Si Griffin maju satu langkah menuju saudara perempuanku. Aku berdiri di sebelah Sadie dengan bahu saling menempel dan melakukan satu trik sihir yang masih kumiliki. Aku meraih ke dalam Duat dan mengambil pedangku dari udara kosong—sebuah khopesh Mesir dengan mata pisau yang sangat tajam dan berbentuk kait.
Sadie terlihat cukup konyol dengan tangan dan gulungan papirus yang terbakar, dia seperti Patung Liberty yang terlalu bersemangat, tetapi dengan tangannya yang bebas Sadie berhasil memanggil senjatanya yang paling berbahaya—sebatang tongkat sepanjang satu setengah meter yang dihiasi ukiran hieroglif. Sadie bertanya, "Ada tips untuk melawan griffin?" "Hindari bagian-bagian yang tajam?" tebakku. "Britian. Terima kasih untuk sarannya." "Walt," seruku, "periksa jendela-jendela itu. Lihat apakah kau bisa mem bukanya." "Tapi jendela-jendela itu dipasangi kutukan." "Ya," sahutku, "dan jika kita mencoba keluar melalui ballroom, griffin itu akan memangsa kita sebelum kita sampai di sana." "Aku akan memeriksa jendela." "Jaz" panggilku, "bantu Walt." "Tanda di kaca itu," gumam Jaz, "aku—aku penah melihatnya—" "Lakukan sajal" kataku. Griffin itu menyerbu, sayap-sayapnya mendengung seperti gergaji mesin. Sadie melemparkan tongkat panjangnya dan benda itu berubah menjadi seekor macan di udara, melabrak griffin dengan cakar terhunus. Si Griffin tidak terkesan. Ia menghantam si Macan ke samping, kemudian menyerang dengan kecepatan luar biasa, ia membuka paruhnya dengan amat sangat lebar. HAP. Si Griffin menelan dan beserdawa, si Macan pun lenyap. "Itu tongkat favoritkur jerit Sadie. Si Griffin mengalihkan pandangannya ke arahku. Aku menggenggam pedangku erat-erat. Mata pedangnya mulai bersinar. Aku berharap aku masih bisa mendengar suara Horns di kepalaku, mendorongku untuk maju. Memiliki Dewa Perang pribadi mempermudah kita untuk melakukan hal-hal tolol dengan penuh keberanian. "Walt!" teriakku, "bagaimana dengan jendelanyar
"Ini sedang kucoba," katanya. "T-tunggu," kata Jaz gugup, "itu lambang Sekhmet. Walt, berhenti!" Lalu banyak hal terjadi secara bersamaan. Walt membuka jendela, dan segelombang api putih menderu melewatinya, merobohkannya ke lantai. Jaz berlari ke sisi Walt. Si Griffin mendadak kehilangan minat padaku. Seperti predator mana saja yang baik, ia fokus pada target yang bergerak—Jaz—dan menyerbu ke arahnya. Aku berlari mengejarnya. Namun, alih-alih melahap tt‘iii:i teman kami, si Griffin meluncur langsung melewati Walt serta Jai dan menghantam jendela. Jaz menarik Walt dari situ sementara si Griffin menggila, memukul-mukul dan menggigiti nyala api putih. Makhluk itu berusaha menyerang api putihnya. Si Griffin menggigiti udara kosong. Ia berputar, menabrak lemari pajang berisi shabti. Ekornya menghantam sebuah sarkofagus hingga hancur berantakan. Aku tidak yakin apa yang merasukiku, tetapi aku berteriak, "Berhenti!" Si Griffin diam mematung. Ia berputar ke arahku, menggaok dengan jengkel. Selapis api putih melesat pergi dan menyala di sudut ruangan, nyaris seolah-olah berkumpul kembali. Kemudian aku melihat api-api lain berdatangan, membentuk nyala yang samar-samar berwujud seperti manusia. Salah satu bentuk itu menatap persis ke arahku, dan, tidak salah lagi, aku merasakan pancaran kebencian. "Carter, terus alihkan perhatiannya." Sadie tampaknya tidak memperhatikan bentuk-bentuk api itu. Kedua matanya masih terpancang pada si Griffin saat dia mengeluarkan seutas benang ikat dan sakunya. "Kalau saja aku bisa cukup dekat—" "Sadie, tunggu." Aku berusaha memahami apa yang terjadi. Walt terkapar dan menggigil. Kedua matanya bersinar putih,
seolah-olah api itu telah merasuk ke dalam dirinya. Jaz berlutut di atasnya, menggumamkan mantra penyembuhan. "RAAAWKI" si Griffin meraung sedih seolah meminta izin—seolah-olah mematuhi perintahku untuk berhenti, tetapi tidak menyukainya. Bentuk nyala api itu semakin terang, semakin padat. Aku menghitung ada tujuh sosok yang menyala, pelan-pelan mem-bentuk tangan dan kaki. Tujuh sosok ... Jaz tadi mengatakan sesuatu mengenai lambang Sekhmet. Rasa takut menghinggapiku saat aku menyadari kutukan macam apa yang sebenarnya melindungi museum itu. Pelepasan griffin itu hanyalah kebetulan. Ia bukan masalah yang sebenarnya. Sadie melemparkan benang ikatnya. "Tunggul." teriakku, tetapi terlambat. Benang sihir itu melecut udara, memanjang menjadi seutas tali tambang saat melesat menuju griffin. Si Griffin berkaok-kaok marah dan melompat mengikuti sosok-sosok api itu. Makhluk api tersebut berhamburan, dan permainan kejar-kejaran sampai mati pun berlangsung. Si Griffin melesat ke sekitar ruangan, sayapnya mendesing. Lemari-lemari pajang pecah. Alarm manusia meraung. Aku meneriaki si Griffin supaya berhenti, tetapi kali ini sia-sia saja. Dari sudut mataku, kulihat Jaz ambruk, mungkin akibat kelelahan akibat merapal mantra penyembuhannya. "Sadie!" teriakku, "bantu, dial" Sadie berlari ke sisi Jaz. Aku mengejar si Griffin. Aku mungkin terlihat benar-benar dungu dalam balutan piama hitamku dan membawa pedang yang bersinar-sinar, tersandung-sandung artefak rusak dan meneriakkan perintah pada seekor kucing-kolibri raksasa. Persis ketika aku mengira situasi tidak mungkin lebih buruk lagi, setengah lusin tamu pesta datang untuk melihat ada
ribut-ribut apa. Mulut mereka ternganga. Seorang wanita yang mengenakan gaun berwarna peach menj erit. Tujuh makhluk api berwarna putih itu melesat melewati tamu-tamu pernikahan, yang langsung pingsan. Api terus menyala, berbelok menuju ballroom. Si Griffin terbang mengejar mereka. Aku menengok ke arah Sadie, yang sedang berlutut di clek a t Jaz dan Walt. "Bagaimana keadaan mereka?" "Walt sudah hampir sadar," katanya, "tapi Jaz masih pingsan." "Ikuti aku kalau kau bisa. Kurasa aku bisa mengendalikan griffin itu." "Carter, apa kau gila? Teman-teman kita terluka dan ada gulungan kertas terbakar yang menempel di tanganku. Jendelanya sudah terbuka. Bantu aku mengeluarkan Jaz dan Walt dari sinil" Dia ada benarnya. Ini mungkin satu-satunya kesempatan kami untuk mengeluarkan teman-teman kami dalam keadaan hidup. Namun, aku sekarang sudah tahu apa ketujuh api itu, dan aku tahu bahwa jika aku tidak mengejarnya, banyak orang tidak bersalah yang akan terluka. Aku mengutuk dalam bahasa Mesir—memaki, bukan mengutuk betulan—dan berlari memasuki pesta perkawinan. Ruang dansa utama itu kacau-balau. Tamu-tamu berlarian ke segala arah, menjerit-jerit dan menumbangkan meja-meja. Seorang pria yang mengenakan tuksedo jatuh menimpa kue pengantin dan merangkak ke sana kemari dengan hiasan kue berupa sepasang pengantin yang menempel di pantatnya. Seorang pemain musik berusaha lari dengan sebuah drum kecil di kakinya. Api-api putih itu sudah cukup memadat sehingga aku bisa melihat bentuk mereka—semacam perpaduan antara hewan sejenis anjing dan manusia, dengan lengan panjang dan kaki bengkok. Api-api itu menyala seperti gas yang sangat panas saat mereka melesat melewati ballroom, mengitari pilar-pilar yang mengelilingi lantai dansa. Salah satu api itu langsung menuju seorang pengiring mempelai wanita. Mata wanita itu berubah
menjadi seputih susu, dan dia ambruk ke lantai, menggigil dan terbatuk-batuk. Aku sendiri rasanya ingin menggulung din menjadi bola. Aku tidak tahu mantra yang bisa melawan hal-hal seperti ini, dan jika salah satu api itu menyentuhku Tiba-tiba saja si Griffin menukik turun entah dari mana, ditempel ditempel oleh tali sihir Sadie, yang masih berusaha menjeratnya. Si Griffin melahap salah satu makhluk api itu dalam sekali terlan dan terus  terbang. Kepulan asap tipis keluar dari hiking tetapi selain itu, memakan api putih sepertinya tidak mengusiknya. "Hei!" teriakku. Terlambat, aku menyadari kesalahanku. Si Griffin berpaling ke arahku, cukup memperlambatnya sehingga tali ajaib Sadie melilit kedua kaki belakangnya. "SQUAWWWK" Si Griffin menghantam sebuah meja prasmanan. Tali itu memanjang, membelit tubuh si monster sementara sayap griffin yang berkecepatan tinggi meremukkan meja, lantai, dan piring-piring berisi sandwich, seperti serutan kayu yang lepas kendali. Para tamu pesta pernikahan mulai meninggalkan ballroom. Sebagian besar lari menuju lift, tetapi puluhan tamu tidak sadarkan din atau menggigil tanpa kendali, mata mereka bersinar putih. Yang lain terperangkap di bawah gundukan puing-puing. Alarm meraung-raung, dan api-api putih itu—yang sekarang tinggal enam—masih benar-benar tidak terkendali. Aku berlari menuju griffin, yang sedang berguling ke sana kemari, berusaha menggigiti tali tanpa hasil. "Tenanglahl." aku berteriak. "Biarkan aku membantumu, bodohl " "FRIKK!." Ekor griffin itu mengayun di atas kepalaku dan nyaris saja memenggal leherku. Aku menarik napas dalam-dalam. Aku lebih sering berperan sebagai penyihir perang. Aku tak pernah mahir menggunakan
mantra hieroglif, tetapi aku menudingkan pedangku ke arah monster itu dan berkata: "Ha-tep." Sebuah hieroglif berwarna hijau—simbol untuk Tenanglah—menyala di udara, persis di ujung mata pedangku.
Griffin itu berhenti menggelepar. Kepakan sayapnya melambat. Hiruk-pikuk dan jeritan masih memenuhi ruang dansa, tetapi aku berusaha tetap tenang saat mendekati monster tersebut. "Kau mengenaliku, bukan?" Kuulurkan tanganku, dan sebuah simbol lain menyala di atas telapak tanganku—simbol yang selalu bisa kupanggil, Mata Horns.
"Kau adalah hewan suci Horns, kan? Itu sebabnya kau mematuhiku." Griffin itu mengedip-ngedipkan mata ke arah lambang Dewa Perang itu. Ia menegakkan bulu-bulu di lehernya dan berkaok mengeluh, menggeliat-geliut di bawah tali yang perlahan membelit tubuhnya. "Ya, aku tahu," ujarku. "Saudara perempuanku itu memang payah. Tunggu sebentar. Akan kulepaskan ikatanmu." Dan suatu tempat di belakangku, Sadie berteriak, "Carter?" Aku berbalik dan melihat dia beserta Walt terhuyung-huyung ke arahku, setengah menggendong Jaz di antara mereka. Sadie masih menampilkan gaya Patung Liberty-nya, dengan memegang gulungan papirus yang berkobar-kobar di satu tangan. Walt sudah
dapat berdiri dan kedua matanya tidak lagi bersinar-sinar tetapi Jaz terkulai seolah-olah seluruh tulang dalam tubuhnya telah berubah menjadi agar-agar. Mereka berkelit dari sesosok roh api serta beberapa tamu pernikahan yang menjadi gila dan entah bagaimana berhasil melintasi ruang dansa. Walt memandangi si Griffin. "Bagaimana kau bisa mene-nangkannya?" "Griffin adalah pelayan Horus," jelasku, "mereka menarik kereta perang Horus dalam pertempuran. Kurasa makhluk in mengenali hubunganku dengan Horus." Si Griffin memekik tidak sabar dan mengibas-ngibaskan ekornya, merobohkan sebuah tiang batu. "Tidak terlalu tenang," Sadie memperhatikan. Dia melirik sekilas ke atas pada kubah kaca, dua belas meter di atas sana, tempat sosok kecil Khufu melambai-lambai ke arah kami dengan panik. "Kita hams mengeluarkan Jaz dari sini sekarang juga," kata Sadie. "Aku baik-baik saja," Jaz berkata dengan suara lirih. "Tidak, kau tidak baik-baik saja," kata Walt. "Carter dia mengeluarkan roh itu dari dalam diriku, tapi tindakan itu nyaris menewaskannya. Roh itu semacam roh penyakit—" "Sesosok Bau," ujarku. "Roh jahat. Ketujuh roh ini disebut—" "Panah Sekhmet," sambung Jaz, membenarkan ketakutanku. "Mereka adalah roh wabah penyakit, yang terlahir dari sang dewi. Aku bisa menghentikan mereka." "Kau boleh beristirahat," kata Sadie. "Benar," timpalku, "Sadie, lepaskan tali ini dari si Griffin lalu—" "Tidak ada waktu." Jaz berkata. Bau itu menjadi semakin besar dan terang. Semakin banyak tamu yang berjatuhan saat roh-roh itu melesat di sekeliling ruangan tanpa mendapat perlawanan.
"Mereka akan mati jika aku tidak menghentikan Bau itu," kata Jaz, "aku bisa menyalurkan kekuatan Sekhmet dan memaksa roh tersebut kembali ke Duat. Aku dilatih untuk itu." Aku bimbang. Jaz tak pernah mencoba mantra sehebat itu . Dia sudah lemah karena menyembuhkan Walt. Namun, dia memang dilatih untuk mengatasi kondisi ini. Mungkin tampak aneh para penyembuh mempelajari jalan Sekhmet, tetapi memngingat Sekhmet adalah Dewi Kehancuran, wabah, dan kela memang masuk akal bila para penyembuh juga belajar cara untuk mengatasi semua atribut Sekhmet—termasuk Bau. Lagi pula, bahkan bila aku membebaskan si Griffin, aku tidy k seratus persen yakin bisa mengendalikannya. Mungkin makhluk itu malah menjadi terlalu bersemangat dan mulai melahap kami semua, bukan roh-roh tersebut. Di luar, sirene polisi terdengar semakin nyaring. Waktu kami sudah hampir habis. "Kita tidak punya pilihan," Jaz bersikeras. Dia menarik tongkat sihirnya dan kemudian—membuat saudara perempuanku terkaget-kaget—memberi Walt ciuman di pipi. "Semua akan baik-baik saja, Walt. Jangan menyerah." Jaz mengambil benda lain dari tas penyihirnya—sebuah patung Jilin—dan menekannya ke tangan saudara perempuanku yang bebas. "Kau akan membutuhkan ini dalam waktu dekat, Sadie. Maaf aku tak bisa membantumu lagi. Kau akan tahu apa yang harus dilakukan bila waktunya tiba." Kurasa aku tak pernah melihat Sadie begitu kehilangan kata-kata. Jaz berlari ke tengah-tengah ballroom dan menyentuhkan tongkat sihirnya ke lantai, menggambar lingkaran perlindungan di sekitar kakinya. Dari tasnya, dia mengeluarkan sebuah patung Sekhmet berukuran kecil, Dewi Pelindungnya, dan mengangkat benda itu tinggi-tinggi.
Dia mulai merapal mantra. Cahaya merah berpijar di sekitarnya. Sulur-sulur energi menyebar dari lingkaran itu, memenuhi ruangan seperti ranting-ranting pohon. Sulur-sulur itu mulai berputar, mulanya perlahan lalu mulai bertambah cepat sampai aliran sihir itu menarik Bau, memaksa mereka terbang ke arah yang sama, menghela mereka ke tengah. Roh-roh itu meraung, berusaha melawan mantra tersebut. Jaz terhuyung, tetapi dia tetap melanjutkan rapalannya,wajahnya dipenuhi bintik-bintik keringat. "Tak bisakah kita membantunya?" Tanya Walt. "RAAAWK!" si Griffin memekik, yang barangkali berarti haloooo? Aku masih di sini! Sekarang suara sirene terdengar seperti berada tepat di luar gedung. Di koridor dekat lift, seseorang berteriak dengan sebuah megafon, memerintahkan gelombang terakhir tamu pesta pernik a Ran untuk keluar dari bangunan—seolah-olah mereka perlu dorongan untuk melakukannya. Polisi telah tiba, dan jika kami tertangkap, situasi ini akan sulit dijelaskan. "Sadie," ujarku, "bersiaplah untuk menghilangkan tali yang melilit si Griffin. Walt, kau masih punya jimat kapal?" "Ji—? Ya, tapi tidak ada air." "Pokoknya panggil saja kapal Aku merogoh ke dalam saku dan menemukan benang sihir milikku sendiri. Kuucapkan mantra dan tiba-tiba saj a aku tengah memegang seutas tambang dengan panjang sekitar enam meter. Aku membuat simpul longgar di bagian tengah, seperti sehelai dasi yang berukuran sangat besar, dan dengan hati-hati mendekati si Griffin. "Aku hanya akan menaruh ini di lehermu," ujarku, "jangan panik." "FRIIIK" sahut si Griffin. Aku melangkah mendekatinya, menyadari betapa cepat paruh itu bisa menggigitku jika ia ingin, tetapi aku berhasil menyimpul tambang itu di sekitar leher si Griffin.
Kemudian terjadilah sesuatu yang tidak semestinya. Waktu melambat. Sulur-sulur Mantra Jaz yang berputar dan berwarna merah bergerak sangat perlahan, seakan-akan udara berubah menjadi sirup. Jeritan dan sirene mereda menjadi suara raungan di kejauhan. Kau tidak akan berhasil, desis sebuah suara. Aku berpaling dan mendapati diriku berhadapan dengan sesosok Bau. Bau itu melayang-layang di udara beberapa sentimeter dariku, sosoknya yang putih dan menyala-nyala nyaris mewujud. Ia seolah sedang tersenyum, dan aku berani bersumpah aku pernah melihat wajah itu sebelumnya. Kekacauan terlalu kuat, Bocah, katanya. Dunia berputar di luar kendalimu. Hentikan pencarianmu! "Diaml" gumamku, tetapi jantungku berdegup kencang. Kau tidak akan pernah menemukan gadis itu, ejek roh itu. Dia tidur di Tempat Pasir Merah, tetapi dia akan mati di sana jika kau meneruskan pencarianmu yang sia-sia. Rasanya seolah ada tarantula yang merayapi punggungku. Roh itu sedang bicara mengenai Zia Rashid—sosok Zia yang sebenarnya, yang telah kucari sejak Natal. "Tidak," sahutku, "kau adalah iblis. Penipu." Kau lebih tahu dari itu, Bocah. Kita pernah bertemu sebelum ini. "Diam! " Aku memanggil Mata Horns, dan roh itu mendesis. Waktu kembali bergerak normal. Sulur-sulur merah mantra Jaz membungkus Bau itu dan ia tersedot ke pusaran sambil berteriak-teriak. Sepertinya tak ada orang lain yang memperhatikan apa yang telah terjadi. Sadie sedang bertahan, memukul-mukul Bau dengan gulungan papirusnya yang menyala setiap kali mereka mendekat. Walt meletakkan jimat kapalnya di
kata perintah. Dalam hitungan detik, seperti mainan spons yang mengembang jika kena air, jimat itu membesar menjadi Perahu Buluh Mesir berukuran penuh, tergeletak di sepanjang puing-puing meja prasmanan. Dengan tangan gemetar, aku mengambil kedua ujung dasi baru si Griffin dan mengikatkan salah satu ujungnya ke haluan kapal dan satu lagi  ujung buritan. "carter!lihat ! panggil Sadie. Aku berbalik tepat pada waktunya untuk melihat kilasan cahaya merah yang menyilaukan. Seluruh pusaran itu menyurut ke dalam, mengisap keenam Bau ke dalam Lingkaran Jaz. Cahaya pun padam. Jaz pingsan, tongkat sihir dan patung Sekhmet-nya luluh lantak menjadi debu di tangannya. Kami berlari menghampirinya. Pakaian Jaz mengepulkan asap. Aku tak tahu apakah dia masih bernapas atau tidak. "Bawa dia masuk ke kapal," kataku, "kita harus keluar dari sini." Aku mendengar gerutuan kecil nun jauh di atas. Khufu telah membuka kubah. Dia memberi isyarat dengan panik saat lampu sorot menyapu langit di atasnya. Museum itu mungkin sudah dikepung oleh kendaraan-kendaraan yang dirancang untuk mengatasi keadaan darurat. Di seluruh penjuru ruang dansa, tamu-tamu yang terkena kutukan mulai sadar kembali. Jaz telah menyelamatkan mereka, tetapi setinggi apa harga yang harus dibayarnya? Kami membopong Jaz menuju kapal dan masuk ke dalamnya. "Berpeganganlah erat-erat," aku memperingatkan, "benda ini tidak seimbang. Jika terbalik—" "Hei!" Suara pria yang berat berteriak di belakang kami. "Apa yang kalian—Heil Berhenti!" "Sadie, tali, sekarangl" perintahku. Sadie menjentikkan jari, dan tali yang menjerat griffin pun lenyap. "NAIK1." teriakku, "KE ATAS!"
"FRIIIK1" Si Griffin mempercepat kepakan sayapnya. Kami tersentak ke udara, perahu itu terguncang-guncang ,dan meleset langsung menuju kubah yang terbuka. Si griffin seperti nyaris  tak menyadari kalau ia membawa kami. Ia melayang begitu cepat, sehingga Khufu harus melakukan lompatan terbang supaya  bisa naik ke atas perahu. Aku menariknya ke dalam perahu dan kami berpegangan mati-matian, berusaha agar tidaki terbalik “agh!”Khufu mengeluh. "Ya," aku menyepakati, "ternyata begitu susah melakukan pekerjaan yang seharusnya mudah." Namun, kami adalah keluarga Kane. Hari ini bisa dibilang hari lel mudah yang akan kami alami selama beberapa waktu. Entah bagaimana, griffin kami tahu arah yang tepat. Dia  menjerit penuh kemenangan dan membubung tinggi memasuki malam yang dingin berhujan. Saat kami terbang menuju rumah Ikami, gulungan papirus Sadie menyala lebih terang. Ketika aku menatap ke bawah, api-api putih gaib menyala di setiap bubungan atap di Brooklyn. Aku mulai bertanya-tanya apa persisnya yang telah kami curi—apakah itu memang benda yang benar, atau apakah benda Iitu akan memperrumit masalah kami. Apa pun itu, aku punya perasaan bahwa akhirnya kami sudah terlalu jauh memaksakan keberuntungan kami. [] 


3.SADIE
TUKANG ES KRIM JAHAT MERENCANAKAN KEMATIAN KAMI 

SUNGGUH ANEH, BETAPA MUDAH KAU bisa lupa bahwa tanganmu sedang terbakar. Oh, maaf. Sadie di sini. Kau tidak berpikir aku akan mem-biarkan kakakku mengoceh selamanya, kan? Yang benar saja, tidak seorang pun pantas mendapat kutukan seberat itu. Kami tiba kembali di Rumah Brooklyn, dan semua orang mengerumuniku karena tanganku menempel pada gulungan papirus yang menyala-nyala. "Aku baik-baik saja!" aku bersikeras, "rawat saja Jaz!" Sejujurnya, aku menghargai sedikit perhatian sesekali, tetapi saat ini aku bukan orang yang paling butuh diperhatikan. Kami mendarat di atas atap rumah besar, bangunan itu sendiri merupakan tontonan yang aneh—sebuah kubus lima lantai yang terbuat dari besi dan batu kapur, seperti persilangan antara kuil Mesir dan museum seni, bertengger di atas sebuah gudang telantar di area tepi laut Brooklyn. Belum lagi rumah besar ini memancarkan sihir dan tidak terlihat oleh mata manusia biasa. Di bawah kami, seluruh Brooklyn tengah terbakar. Gulungan sihirku yang menyebalkan telah meninggalkanbidang luas api gaib
D i seluruh wilayah itu saat kami terbang dari museum. Tidak ada yang benar-benar terbakar, dan api itu tidaklah panas, tetapi tetap Baja kami menimbulkan kepanikan yang cukup besar. Sirene-sirene meraung. Orang-orang memenuhi jalanan, ternganga melihat bubungan atap yang menyala-nyala. Helikopter berputar-putar dengan lampu sorot. Kalau itu belum cukup menarik, lihatlah kakakku yang sedang mengurusi seekor griffin, berusaha melepas tali yang meng-hubungkan perahu nelayan dengan leher makhluk itu dan menjaga agar si Griffin tidak memakan murid-murid kami. Kemudian ada Jaz, sumber kekhawatiran kami yang sesu guhnya. Kami yakin dia masih bernapas, tetapi dia sepertinya berada dalam semacam kondisi koma. Ketika kami membuka matanya, kedua mata itu bersinar putih—yang biasanya bukan pertanda baik. Saat mengendarai perahu, Khufu mencoba menerapkan beberapa sihir babunnya yang terkenal pada Jaz—menepuk-nepuk dahi Jaz, mengeluarkan suara-suara kasar, dan berusaha memasukkan permen jeli ke dalam mulut Jaz. Aku yakin Khufu mengira dirinya tengah membantu, tetapi hal itu tidak banyak memperbaiki kondisi Jaz. Sekarang Walt tengah merawat Jaz. Dia mengangkat tubuh Jaz dengan lemah lembut dan meletakkannya di atas sebuah usungan, menyelimuti dan membelai rambut Jaz sementara murid-murid lain berkumpul di sekelilingnya. Dan itu tidak masalah. Benar-benar tidak masalah. Aku sama sekali tidak tertarik pada betapa tampan wajah Walt di bawah cahaya bulan, atau kedua lengannya yang berotot dalam balutan kaos tanpa lengan, atau fakta bahwa dia sedang memegangi tangan Jaz, atau Maaf. Aku melantur. Aku menghempaskan diri di sudut atap yang jauh, merasa benar-benar kelelahan. Tangan kananku gatal karena memegangi
gulungan papirus sedemikian lama. Nyala api sihir itu menggelitik jari-jariku. Aku meraba-raba saku kiriku dan mengeluarkan patung Jilin kecil yang diberikan Jaz kepadaku. Benda itu adalah salah satu patung penyem huh milik. Jaz, yang digunakan untuk mengusir penya kit atau kutukan. Secara umum, patung Jilin memang tidak dibuat mirip dengan seseorang, tetapi Jaz telah mencurahkan waktunya untuk patung yang ini. Patung ini jelas dimaksudkan untuk menyembuhkan satu orang tertentu, yang berarti patung itu punya kekuatan lebih dan kemungkinan besar disimpan untuk situasi hidup-atau-mati. Aku mengenali rambut keriting patung itu, garis-garis wajahnya, pedang yang menempel di tangannya. Jaz bahkan menuliskan nama patung itu dengan huruf hieroglif di dadanya: CARTER. Kau akan memerlukan ini dalam waktu dekat, kata Jaz kepadaku. Sepanjang pengetahuanku, Jaz bukan peramal. Dia tak bisa melihat masa depan. Jadi, apa yang dimaksud olehnya? Bagaimana aku bisa tahu kapan aku hams menggunakan patung ini? Sambil memandangi Carter mini tersebut, aku punya perasaan buruk bahwa nyawa kakakku secara harfiah diletakkan di tanganku. "Apa kau baik-baik saja?" Tanya sebuah suara wanita. Cepat-cepat aku menyimpan patung itu. Sahabat lamaku, Bast, menjulang di atasku. Dengan senyum tipis dan mata kuningnya yang berkilat-kilat, dia bisa jadi sedang khawatir atau justru merasa geli. Sulit untuk memprediksikan segala sesuatu yang berkaitan dengan sang Dewi Kucing. Rambut hitamnya diikat ke belakang membentuk ekor kuda. Dia mengenakan baju terusan ketat ala pesenam yang berpola kulit macan tutul, seolah-olah dia hendak berjungkir balik ke belakang. Sejauh pengetahuanku, itu memang mungkin saja dilakukannya. Seperti tadi kubilang, sulit memprediksikan segala sesuatu yang berkaitan dengan sang Dewi Kucing.

"Aku baik-baik saja," dustaku, "cuma ini " kugoyangkan .1liganku yang menyala-nyala ke sana kemari tanpa daya. "Mmm." Gulungan papirus itu sepertinya membuat Bast tidak nyman. "Coba kulihat apa yang bisa kulakukan." Dia berlutut di sampingku dan mulai merapal mantra.Aku berpikir betapa ganjil rasanya dimantrai oleh mantan binatang peliharaanku. Selama bertahun-tahun, Bast menyamar  sebagai I kucingku, Muffin. Aku bahkan tidak menyadari ada sosok  Dewi tidur di atas bantalku pada malam hari. Kemudian setelah ayah kami melepaskan segerombol dewa-dewi di british  Museum, Bast memperkenalkan diri. Dia telah mengawasiku selama enam tahun, katanya pada kami,  sejak orangtua kami membebaskannya dari sebuah sel di Duat, tempat dia dikirirn untuk bertarung melawan ular kekacauan, Apophis, untuk selama-lamanya. Panjang ceritanya, tetapi ibuku meramalkan bahwa Apophis akhirnya pasti lepas dari penjara, yang pada dasarnya berarti kiamat. Jika Bast terus bertempur melawan Apophis sendirian, dia akan binasa. Namun, jika Bast dibebaskan, ibuku percaya dia bisa memainkan peran penting dalam pertempuran yang akan datang melawan Kekacauan. Jadi, orangtuaku membebaskan Bast sebelum Apophis membinasakannya. Ibuku meninggal dunia saat membuka, kemudian cepat-cepat menutup, penjara Apophis. Jadi, sudah sewajarnya Bast merasa berutang budi pada orangtua kami. Sejak itu Bast pun menjadi pelindungku. Sekarang dia juga menjadi pengawal, teman seperjalanan, dan kadang-kadang koki pribadi bagi Carter dan aku (petunjuk: jika dia menawarimu Friskies du Jour, tolak saja.) Namun, aku masih merindukan Muffin. Kadang-kadang aku hams melawan dorongan untuk menggaruk bagian belakang telinga Bast dan memberinya cemilan, meskipun aku senang dia tidak lagi mencoba tidur di atas bantalku pada malam hari. Pasti itu rasanya agak aneh.
kehidupan lamaku, teman-temanku Liz dan Emma, dan terutama segala sesuatu mengenai Inggris, aku tak bisa menyangkal bahwa kamarku di Brooklyn jauh lebih mewah. Balkon pribadi ku menghadap langsung ke East River. Aku memiliki ranjang super besar yang nyaman, kamar mandi pribadi, dan lemari seukuran kamar berisi baju-baju bare yang seolah tak ada habisnya , mereka muncul secara ajaib dalam keadaan bersih sesuai kebutuhan . Pada lemari laci terpasang kulkas yang berisi mmin Favoritku Ribena, yang diimpor dari Inggris, serta cokelat dingin (ya, anak perempuan memang hams memanjakan diri). Sistem pengeras suaranya benar-benar mutakhir, dan dinding-dindingnya dibuat kedap suara dengan sihir sehingga aku bisa memainkan musik sekeras yang kumau tanpa mengkhawatirkan saudara lelakiku yang kuno di kamar sebelah. Di atas lemari laci itu bertenggerlah salah satu di antara sedikit benda yang kubawa dari kamarku di London: sebuah alat perekam kaset usang yang diberikan oleh kakek-nenekku bertahun-tahun silam. Benda itu memang sudah sangat ketinggalan zaman, tetapi aku masih menyimpannya karena alasan sentimental. Bagaimanapun juga, Carter dan aku merekam petualangan kami di Piramida Merah dengan benda itu. Kupasang iPodku di dudukannya dan melihat-lihat daftar laguku. Aku memilih kumpulan lagu lama berlabel SEDIH, karena seperti itulah perasaanku. Album 19 dari Adele mulai mengalun. Ya Tuhan, aku belum mendengar album itu sejak Tanpa terduga, aku mulai menitikkan air mata. Aku mendengarkan kumpulan lagu ini pada malam Natal, ketika Ayah dan Carter menjemputku untuk pergi ke British Museum—malam ketika hidup kami bembah selamanya. Adele bernyanyi seolah-olah ada orang yang telah merobek jantungnya. Dia terns saja melagukan tentang cowok yang dia taksir, bertanya-tanya apa yang hams dia lakukan agar cowok itu
menginginkannya. Aku bisa bersimpati pada hal itu. Namun, Natal silam, lagu itu membuatku memikirkan keluargaku juga: ibuku, yang meninggal ketika aku masih sangat kecil, dan ayahku  serta Carter, yang berkeliling dunia bersama-sama, meninggalkan ku di London dengan kakek-nenekku, dan tampaknya tidak  membutuhkanku dalam hidup mereka. Tentu saja aku tabu situasinya lebih rumit daripada itu.ada  perebutan perwalian yang sengit, yang melibatkan pengaacara dan serangan spatula, dan Ayah dulu juga ingin memisahkan II dengan Carter agar kami tidak saling menyerang dengan sihir sama lain sebelum kami bisa mengendalikan kekuatan kami. Daft, ya, kami semua menjadi lebih dekat sejak itu. Ayahku kembali memasuki hidupku, bahkan meskipun dia adalah Dewa Dunia Bawah sekarang. Sementara mengenai ibuku ya, aku pernah bertemu hantunya. Kurasa itu cukup berarti. Tetap saja, musik itu membawa kembali semua rasa sakit dan kemarahan yang kurasakan saat Natal. Kurasa aku belum sepenuhnya mengenyahkan semua perasaan itu, seperti yang kukira Jemariku mengambang di atas tanda fast-forward, tetapi kuputuskan untuk membiarkan lagu itu mengalun. Aku melempar barang-barangku ke laci lemari—gulungan papirus, Carter mini yang terbuat dari lilin, tas sihir, dan tongkat sihirku. Aku mencari tongkatku, kemudian teringat bahwa aku tidak memilikinya lagi. Si Griffin telah menelannya. "Dasar otak burung," gerutuku. Aku mulai berganti pakaian tidur. Bagian dalam pintu lemariku penuh dengan foto-foto, sebagian besar fotoku dan teman-temanku di sekolah tahun lalu. Ada foto Liz, Emma, dan aku dengan berbagai ekspresi dalam bilik foto di Piccadily. Kami tampak begitu muda dan menggelikan. Aku tidak percaya bahwa besok aku akan bertemu mereka untuk pertama kalinya selama berbulan-bulan. Kakek dan
Nenek mengundangku berkunjung ke apartemen mereka, dan aku berencana pergi keluar hanya bersama teman-temanku—setidaknya, begitulah rencananya sebelum Carter memberitahuku tentang rencana "lima hari untuk menyelamatkan dunia". Sekarang, siapa yang tahu apa yang bakal terjadi? Hanya ada dua gambar tanpa Liz dan Emma yang menghiasi pintu lemari pakaianku. Salah satunya menampilkan Carter dan aku bersama Paman Amos pada hari dia berangkat ke Mesir untuk hmm, apa istilahnya ketika seseorang pergi untuk dirawat setelah dirasuki dewa jahat? Bukan berlibur, kurasa. Gambar terakhir adalah lukisan Anubis. Barangkali kalian pernah melihatnya: sosok berkepala jakal (Jakal: semacam serigala atau anjing—peny )Dewa Pemakaman, kematian, dan sebagainya. Dia ada di mana-mana dalam kesenian Mesir—memimpin jiwa-jiwa yang telah mati memasuki Aula Penghakiman, berlutut di dekat timbangan kosmis, menimbang sebuah hati dan membandingkannya dengan berat bulu kebenaran. Mengapa aku punya gambarnya? [Baiklah, Carter. Aku akan mengakuinya, walaupun itu hanya untuk membuatmu diam.] Aku sedilcit naksir pada Anubis. Aku tahu hal itu terdengar begitu menggelikan, seorang gadis modern jatuh cinta pada lelaki berkepala jakal berusia lima ribu tahun, tetapi bukan itu yang kulihat ketika menatap gambarnya. Aku mengingat Anubis sebagaimana dia muncul di New Orleans ketika kami bertemu muka—seorang cowok berusia sekitar enam belas tahun, dalam balutan pakaian kulit dan denim, dengan rambut hitam kusut dan mata sewarna cokelat leleh yang murung, tetapi indah. Benar-benar bukan cowok berkepala jakal. Tetap menggelikan, aku tahu. Dia adalah dewa. Kami sama sekali tidak memiliki persamaan. Aku belum mendengar kabarnya
sejak petualangan kami di Piramida Merah, dan itu seharusnya tidak mengejutkanku. Meskipun dia tampak tertarik padaku saat itu dan bahkan mungkin memberikan beberapa isyarat Tidak, jelas aku hanya mengkhayalkan hal itu. Tujuh minggu terakhir ini, sejak Walt Stone tiba di Rumah Brooklyn, kukira aku akan bisa melupakan Anubis. saj a, Walt adalah muridku, dan aku tidak seharusnya mengangp,Apilv:i sebagai calon pacar, tetapi aku cukup yakin ada ketertarikaii antara kami ketika kami berjumpa pertama kali. Namun, sekat Ali r„ Walt sepertinya menjauh. Dia bertingkah begitu penuh rallasm, selalu tampak merasa sangat bersalah dan mulai dekat dengan Jaz Hidupku menyedihkan. Aku mengenakan baju tidurku sementara Adele terus menyanyi. Apakah isi semua lagunya adalah tentang tidak diperhatikan oleh cowok? Tiba-tiba aku merasa hal itu sangat mengganggu. Aku mematikan iPodku dan menjatuhkan diri ke tempat tidur. Sayangnya, begitu aku tertidur, malamku bertambah buruk.
Di Rumah Brooklyn, kami tidur dengan segala macam jimat sihir untuk menangkal mimpi-mimpi buruk, roh-roh yang mengganggu, dan dorongan yang terkadang menghampiri jiwa kami untuk berkeliaran. Aku bahkan punya bantal sihir untuk memastikan jiwaku—atau bahkan  jika kalian ingin tahu bahasa Mesirnya—tetap tertambat ke tubuhku. Namun, itu bukan sistem yang sempurna. Sering kali bisa kurasakan suatu kekuatan dari luar menarik-narik pikiranku, berusaha mendapatkan perhatianku. Atau jiwaku memberi tahu bahwa ada tempat lain yang bisa didatangi, ada suatu tempat penting yang ingin ditunjukkannya kepadaku. Aku langsung merasakan sensasi semacam itu begitu jatuh tertidur. Bayangkan hal itu seperti sebuah panggilan telepon, otakku memberiku pilihan untuk menerima atau menolak.
Biasanya, yang terbaik adalah menolak, terutama ketika otakku melaporkan nomor yang tidak dikenal. Namun, kadang-kadang telepon itu penting. Lagi pula besok adalah ulang tahunku. Barangkali Ayah dan Ibu berusaha menghubungikti dad Dunia Bawah. Kubayangkan mereka berada di Aula Pen gha k iinan, ayahku duduk di atas singgasana sebagai Dewa Osiris yang berkulit biru, sementara ibuku dalam jubah putih gaihnya. Mere ka mungkin memakai topi pesta dari kertas dim nu nyanyikan lagu "Happy Birthday" sementara Ammit si Pent a ngsa, monster peliharaan mereka yang amat kecil, melompat-lompat dan menyalak-nyalak. Atau mungkin, hanya mungkin, Anubis-lah yang menelepon. Hai, ehm, kupikir kau mungkin ingin menghadiri sebuah pemakaman atau semacamnya? Ya itu hanyalah sebuah kemungkinan. Jadi, aku menerima telepon itu. Kubiarkan jiwaku pergi ke tempat yang ingin diperlihatkannya padaku, dan ba-ku melayang di atas ragaku. Jika kalian belum pernah mencoba petualangan ba, aku tidak akan merekomendasikannya—kecuali tentu saja kalian ingin berubah menjadi hantu ayam dan mengarungi arus Duat tanpa terkontrol. Ba biasanya tidak kasat mata bagi orang lain, dan itu bagus, karena ba berbentuk sesosok burung raksasa dengan kepala kita sebagai pengganti kepala burung. Pada suatu ketika, aku pernah bisa mengubah bentuk ba-ku menjadi sesuatu yang tidak sememalukan itu, tetapi sejak Isis meninggalkan kepalaku, aku tidak lagi memiliki kemampuan itu. Sekarang saat lepas landas, aku terjebak dalam wujud ayam yang biasa. Pintu-pintu balkon terayun membuka. Angin magis menyapuku memasuki malam. Lampu-lampu New York mengabur dan memudar, dan kudapati diriku berada di sebuah ruangan
bawah tanah yang terasa tidak acing: Aula Zaman, di dalam markas utama Dewan Kehidupan di bawah kota Kairo. Ruangan itu begitu panjang, sehingga bisa dijadikan tempat pertandingan maraton. Di bagian tengah ada k a r nil h i rn yang berkilauan seperti sungai. Di antara tiang-tiang di kedua sisi , tirai cahaya berkelap-kelip—menampilkan gambar –gambar  holografis dari sejarah Mesir yang panjang. Cahaya berubah-rubah warna sehingga merefleksikan era-era yang berbeda, dari kilau  putih Masa Dewa-Dewa sampai cahaya merah tua zaman modern  Atapnya bahkan lebih tinggi daripada ruang dansa di Museum Brooklyn, area luas itu diterangi oleh nyala orb(Orb: lingkaran cahaya— peny ) dan simbol-simbol hieroglif yang melayang-layang. Kesannya seperti ada yang telali meledakkan beberapa kilogram sereal anak-anak di ruang tan pa gravitasi, semua keping manis beraneka warna itu melayang dan bertabrakan dalam gerak lambat. Aku melayang ke ujung ruangan, persis di atas panggung yang berisi Singgasana Firaun. Itu adalah tempat duduk kehormatan, yang kosong sejak jatuhnya kerajaan Mesir, tetapi pada anak tangga di bawahnya duduklah Ketua Lector, pemimpin Nome Pertama, ketua Dewan Kehidupan, dan penyihir yang paling tidak kusukai: Michel Desjardins. Aku tak pernah melihat Si Tuan Menyenangkan itu sejak penyerangan kami ke Piramida Merah, dan aku terkejut melihat betapa cepatnya dia menua. Dia barn menjadi Ketua Lector beberapa bulan silam, tetapi rambut hitam licin dan janggut bercabangnya sekarang sudah dihiasi warna abu-abu. Dia bersandar dengan letih pada tongkatnya, seolah-olah mantel kulit macan tutul Ketua Lector yang tersampir di bahunya seberat timbal. Aku tak bisa bilang bahwa aku merasa kasihan padanya. Kami tidak berpisah sebagai teman. Kami memang menggabungkan
kekuatan (kurang lebih) untuk mengalahkan Set, tetapi dia masih menganggap kami penyihir berandal yang berbahaya. Dia memperingatkan kami bahwa jika kami terus mempelajari jalan dewa-dewa (yang memang kami lakukan) dia akan membinasakan kami begitu kami bertemu lagi dengannya. Itu membuat kami tidak terlalu bersemangat mengundangnya mampir untuk minum teh. Wajah Desjardins cekung dan kurus kering, tetapi kedua matanya masih berkilat-kilat jahat. Dia mengamati gambar-gambar berwarna merah darah  pada tirai cahaya seolah sedang menunggu sesuatu. "Est-il-alle?" Dia bertanya, yang berdasarkan pelajaran Bahasa Prancisku di sekolah aku merasa artinya adalah "Apakah dia sudah pergi?" Atau mungkin "Apakah kau sudah memperbaiki pulau itu?" Baiklah mungkin yang pertama. Sejenak, aku khawatir dia sedang berbicara padaku. Kemudian dari balik singgasana, sebuah suara parau menjawab, "Ya, Tuanku." Seorang pria melangkah keluar dari bayang-bayang. Dia sepenuhnya dibalut pakaian berwarna putih—setelan, syal, bahkan kacamata hitamnya pun berbingkai putih. Pikiran pertamaku adalah: Ya Tuhan, dia adalah seorang tukang es krim yang jahat. Senyumnya menyenangkan dan wajahnya yang tembam dibingkai rambut ikal kelabu. Aku bisa saja salah menganggapnya sebagai sosok yang tidak berbahaya, bahkan ramah—sampai dia melepas kacamatanya. Kedua matanya rusak. Kuakui aku agak gampang jijik soal mata. Video operasi retina? Aku akan lari keluar ruangan. Bahkan bayangan mengenai lensa kontak saja membuatku ngeri. Namun, mata pria berpakaian putih itu terlihat seolah telah disiram dengan air keras, kemudian dicakar kucing berkali-kali. Kelopak matanya berupa kumpulan jaringan luka yang tidak menutup dengan benar. Alisnya terbakar habis dan dihiasi bekas
goresan yang dalam. Kulit di atas tulang pipinya berupa lapisan bilur merah, dan matanya sendiri terdiri dari kombinasi warnah merah darah dan putih susu yang begitu mengerikan sampai-sampai aku tidak percaya dia bisa melihat. Dia menarik napas, mengeluarkan bunyi ngik-ngik parah, sampai membuat dadaku ikut sakit. Berkilauan di bajunya  sebuah kalung perak dengan jimat berbentuk ular. "Dia menggunakan portal beberapa saat yang lalu, tuanku “Pria itu berkata dengan suara serak. "Akhirnya, dia pergijuga ..” Suaranya semengerikan matanya. Jika dia memang pernah  disiram air keras, sebagian pasti masuk ke paru-parunya. Namur,  pria itu tetap tersenyum, tampak tenang dan bahagia dalam  kemeja putihnya yang rapi seolah-olah dia tidak sabar menjual es krim kepada anak-anak kecil yang baik. Dia mendekati Desjardins, yang masih memandangi tirai cahaya. Si tukang es krim mengikuti arah tatapannya. Aku melakukan hal yang sama dan menyadari apa yang sedang dilihat oleh Ketua Lector. Pada tiang terakhir, persis di sebelah singgasana, cahayanya berubah. Warna kemerahan zaman modern tengah menggelap menjadi warna ungu tua, seperti warna memar. Pada kunjungan pertamaku ke Aula Zaman, aku diberi tahu bahwa ruangan itu memanjang seiring tahun berlalu, dan sekarang aku bisa melihat hal itu terjadi. Lantai dan dinding beriak seperti fatamorgana, memanjang dengan amat perlahan, dan cercah cahaya ungu pun ikut melebar. "Ah," ujar si Tukang Es Krim, "menjadi lebih jelas sekarang." "Sebuah zaman baru," gumam Desjardins. "Zaman yang lebih kelam. Warna cahaya belum berubah selama seribu tahun, Vladimir." Seorang tukang es krim jahat bernama Vladimir? Baiklah, kalau begitu.

"Ini gara-gara keluarga Kane, tentu saja," sahut Vladimir. "Anda seharusnya membunuh yang tertua saat dia berada dalarn kekuasaan kita." Bulu-bulu ba-ku menegak. Kusadari mereka tengah membicarakan Paman Amos. "Tidak," sanggah Desjardins. "Dia berada dalam perlindungan kita. Semi la yang ingin berobat hams diberi perlindungan—bahkan Kane." Vladimir menarik napas dalam-dalam, yang terdengar seperti bunyi pengisap debu yang tersumbat. "Tapi tentunya karena sekarang dia sudah pergi, kita harus bertindak. Anda mendengar kabar dari Brooklyn, Tuan. Anak-anak itu telah menemukan gulungan pertama. Jika mereka menemukan dua gulungan lain—" "Alm tahu, Vladimir." "Mereka mempermalukan Dewan Kehidupan di Arizona. Mereka berdamai dengan Set alih-alih membinasakannya. Dan sekarang mereka mencari Kitab Ra. Jika Anda mengizinkan saya membereskan mereka—" Bagian atas tongkat Desjardin menyemburkan api ungu. "Siapa yang Ketua Lector di sini?" Dia menuntut jawaban. Raut wajah Vladimir yang menyenangkan menjadi goyah. "Anda, Tuanku." "Dan aku akan membereskan keluarga Kane pada waktunya, tetapi Apophis adalah ancaman terbesar kita. Kita harus mengerahkan seluruh kekuatan kita untuk mengendalikan ular itu. Jika ada kemungkinan keluarga Kane bisa membantu kita memulihkan ketenangan—" "Tapi Ketua Lector," Vladimir menyela. Nada suaranya mengandung intensitas baru—suatu desakan yang nyaris magis. "Keluarga Kane adalah bagian dari persoalan kita. Mereka telah mengacaukan keseimbangan Ma'at dengan membangkitkan dewa-dewa. Mereka mengajarkan sihir tularang. Sekarang mereka hendak membangkitkan Ra, yang sudah tidak berkuasa
sejak permulaan Mesir. Mereka akan menjerumuskan seluruh I, uiia ke dalam huru-hara. Ini hanya akan menguntungkan pihak acauan." Desjardins mengedipkan mata beberapa kali, seolah bingung . "Barangkali kau benar. Aku aku hams memikirkan Hl ini ." Vladimir membungkukkan badan. "Baiklah, tindakan mengumpulkan pasukan kita dan menunggu perint:III Ant LI untuk menghancurkan Rumah Brooklyn." "Menghancurkan ...." Desjardins mengerutkan ken ing. Ya, kau akan menunggu perintahku. Aku akan memilih waktu penyerangannya, Vladimir." "Bagus sekali, Tuanku. Dan bagaimana jika anak-anak Kane mencari kedua gulungan lain untuk membangunkan Ra? Yang satu di luar jangkauan mereka, tentu saja, tetapi yang satunya lagi—" 'Akan kuserahkan hal itu padamu. Jagalah gulungan itu sebaik-baiknya." Kedua mata Vladimir menjadi lebih mengerikan lagi ketika dia sedang bersemangat—basah dan berkilat-kilat di balik kelopak mata yang rusak itu. Kedua mata itu mengingatkanku pada hidangan sarapan kegemaran Kakek: dua butir telur setengah matang dengan saus Tabasco. [Ya, maaf kalau itu menjijikkan, Carter. Bagaimanapun juga, seharusnya kau tidak mencoba makan ketika aku sedang bercerital] "Tuanku sungguh bijaksana," kata Vladimir. "Anak-anak itu akan mencari kedua gulungan itu, Tuanku. Mereka tidak punya pilihan lain. Jika mereka meninggalkan benteng mereka dan memasuki wilayah kekuasaanku—" "Bukankah sudah kubilang kita akan menyingkirkan mereka?" Tukas Desjardins ketus. "Sekarang tinggalkan aku. Aku hams berpikir." Vladimir mengundurkan diri ke dalam bayang-bayang. Untuk seseorang yang berpakaian serba putih, dia berhasil menghilang dengan cukup baik.



Desjardins mengalihkan kembali perhatiannya pada tirai cahaya yang berpendar-pendar. "Sebuah zaman baru renungnya, "zaman kegelapan Ba-ku berputar memasuki arus Duat, melesat kembali ke tubuhku yang sedan;  tiditr. "Sadie?" Sebuah stiara berkata. Aku te r( R luk tentenipat tidur, jantungku berdentam-dentam. Cahaya kclabti NO hari mcmenuhi jendela. Duduk di ujung tempat (Rim Paman Amos?" Aku tergagap. Dia tersenyum. "Selamat ulang tahun, Sayang. Maaf kalau aku membuatmu takut. Kau tidak menyahut saat aku mengetuk pintu. Aku khawatir." Dia terlihat sudah benar-benar pulih dan berpenampilan semodis biasanya. Dia mengenakan kacamata berbingkai kawat, topi pendek, dan kemeja wol dari Itali berwarna hitam yang membuatnya tidak terlihat terlalu pendek dan gempal. Rambut panjangnya dikepang ketat dan dihiasi batu-batu hitam yang gemerlapan—batu obsidian, barangkali. Dia bisa dikira sebagai musisi jaz (yang memang pekerjaannya) atau pimpinan mafia Afrika Amerika (yang bukan pekerjaannya). Aku sudah hendak bertanya, "Bagaimana—?" Lantas apa yang kulihat di Aula Zaman—implikasi dari apa yang kulihat—meresap ke dalam benakku. "Segalanya baik-baik saja," kata Amos. "Aku baru kembali dari Mesir." Aku berusaha menelan ludah. Napasku nyaris sama beratnya dengan napas pria yang mengerikan itu, Vladimir. "Begitu juga aku, Amos. Segalanya sama sekali tidak baik-baik saja. Mereka akan datang untuk membinasakan kita."[] 


4.SADIE
UNDANGAN ULANG TAHU KE ARMAGEDON(Armageddon: disebut-sebut sebagai perang terakhir antara Keteraturan mela-wan Kekacauan—peny 9 Sihir Simpati, juga dikenal sebagai sihir meniru - (imitative magic), adalah jenis sihir berasaskan peniruan atau ("rupa") seumpama dengannya—wikipedia )

SETELAH MENCERITAKAN PENGLIHATANKU YANG MENGERIKAN, hanya ada satu hal yang harus dilakukan: makan Magi dengan selayaknya. Amos tampak terguncang, tetapi dia bersikeras agar kami i nenunda pembahasan masalah itu sampai kami mengumpulkan seluruh Nome Kedua Puluh Satu (sebutan cabang Dewan Kehidupan kami). Dia berjanji akan menemuiku di beranda dua puluh menit lagi. Setelah dia pergi, aku mandi dan menimbang-nimbang apa yang akan kukenakan. Biasanya, aku mengajar Sihir Simpati9 pada hari Senin, yang mengharuskanku mengenakan pakaian penyihir yang terbuat dari kain linen. Namun, hari ulang tahunku sudah seharusnya merupakan hari liburku. Melihat situasinya, aku ragu Amos, Carter, dan Bast akan mengizinkanku pergi ke London, tetapi kuputuskan untuk berpikir positif. Aku mengenakan jin robek-robek, combat boots-ku, atasan 
Tanpa lengan, dan jaket kulit- tidak baik unruk sihir, tetapi aku sedang merasa ngin memberontak .
Ku jejalkan tongkat sihir dan patung carter mini kedalam tas perbekalan sihirku. Aku sudah hendak menyelempangkan nya ake pada hari ulang tahun ku.
Akumenarik napas dalam dalam dan berkonsentrasi untuk membuka ruanga di duat. Aku benci mengakuinya ,tetapi aku payah dalam melakukan sihir ini.benar benar tidak adikklcarter bias mengambil berbagai benda dari udara kosong dalam sekejap, sementara aku biasanya memerlukan liama atau sepuluh menit konsentrasi penuh,dan bahkan setelah itu upaya tersebut mrmbuatku merasa mual.seringkali ,lebih mudah untuk tetapmembawa tas itu di bahuku .namun jika aku pergi bersama teman teman ku ,aku tidak ingin meninggalkan di sini.

Akhirnya ,udara berpendar saat duar menuruti kehendakku .ku lemparkan task u kedepan ,dan benda itu pun menghilang . bagus sekali –dengan anggapan aku tahu cara mengambilnya nanti
Aku mengambil gulunga yang kami curi dari Bullwinkle tadi malam dan menuju kelantai bawah.

Karna semua orang sedang sarapan ,rumah besar itu menjadi hening,tidak seperti biasanya .5 tingkat balkon menghadap ke aula besar .jadi, biasanya tempat itu riuh rendah dan penuh kesibukan; tetapi aku ingat betapa lengan   tempat ini ketikaa carter dan aku pertamakalii tiba natal salaam.
Sebagai besar hiaasan di aula  masi samma :patung thoth berukuran raksasa di tengah    ruangan ,kolekssi senjata dan alat music jazz milik amoss di sepanjang didnding ,karpet kulit ular  seukuraan garasi di depan perapian .namun kita bias tahubahwa ada 20 penyihir muda yang sekarang tinggal disaana . aneka ragam remot control ,ipad ,bungkus makanan ringan  dan patung patung shabtiaa berserakaan dimeja .seseorang yang berkaki besr-mungkin Julian- telah meninggalkan sepatu olahraganya yang berlumur lumpur di tangga .lalu salah seorang murid kami –kuduga felix- telah menyihir perapian menjadi negri ajaib antartika , lengkap degan salju dan seekot penguin hidup .felix memang sangat menyukai penguin .

Sapu dan lap pel sihir melesat kesana kemari dalam rumah, berusaha membersihkan rumah.akuharus sampai menundukan kepala supaya tidak kena lap kaarna alaaasan tertentu ,lap itu mengira rambut ku merupakan sesuatu di dalam rumah yang harus di tanganni.
[tidak usah berkomentar,carter]
Seperti yang sudah ku duga ,semua orang berkumpullll di bearanda ,yang berfungisi sebagai ruang makan kamu serta habitat sang buaya albino.philip dari makedonia berkecipak dengan riang di kolam nua ,melompat menjemput irisan bacon setiap kali seseorang murid melemparkan pada buaya nya tersebut .pagi itu dingin dan berhijan ,tetapi api dalam perapian sihir terus membuat kami tetap hangat
Aku menyambaar sebuah pain au chocolat dan secangkir the dari meja  lalu di adukk kemudiam aku menyadari bahwa yang lain tidak sedang makan  ,mereka memandangi ku
Di ujung mejaa ,amost dan bast tampak muram.di sebrang ku ,carter belum menyentuh piringnya  yang berisi wafel ,sesuatu yang sangaaat tidak seperti dia.dia di sebelah kanan ku .kursi jaz kosong (amos member tahu ku bahwa  jaaz masih di ruang perawatan, belum ada perubahan).di sebelah kiriku duduklah walt tampak sekeren biasanyaa   , tetapi aku berussaha sebisa ku untuk mengabaikannyaa
Murid murud yang lain tampak berbeda dalam berbagai kondisi terguncang .mereka terdiri  berbagai aneka ragam anak
berbagai usia dari seluruh penjuru dunia. Beberapa murid lebih tua daripada Carter dan aku—bahkan cukup tua untuk masuk universitas—yang sebenarnya sangat cocok untuk menjaga anak-anak yang lebih muda, tetapi selalu membuatku merasa sedikit tidak nyaman ketika mencoba bertindak sebagai guru mereka. Sebagian besar anak yang lain berusia antara sepuluh hingga lima belas tahun. Felix berusia sembilan tahun. Ada Julian dari Boston, Alyssa dari Carolina, Sean dari Dublin, dan Cleo dari Rio de Janeiro (ya, aku tahu, Cleo dari Rio, tetapi aku tidak mengarang-ngarangnyal.). Kesamaan kami semua: darah para firaun. Kami semua memiliki garis keturunan kerajaan Mesir, yang memberi kami kemampuan alamiah untuk melakukan sihir dan menampung kekuatan para dewa. Satu-satunya yang tidak tampak terpengaruh oleh suasana muram itu adalah Khufu. Untuk alasan-alasan yang tak pernah benar-benar kami pahami, babun kami itu hanya menyantap makanan yang diakhiri dengan huruf 0. Baru-baru ini dia menemukan Jell-0, yang dia anggap sebagai zat ajaib. Kurasa huruf 0 besar membuat segala sesuatu terasa lebih enak. Sekarang dia memakan hampir semua hal yang terbungkus dalam gelatin itu—buah, kacang, serangga, hewan-hewan kecil. Saat ini dia tengah membenamkan wajah di dalam gundukan merah hidangan sarapan yang bergetar dan mengeluarkan bunyi-bunyian tidak sopan saat dia menggali gundukan itu untuk mencari anggur. Yang lain memandangiku, seolah-olah menunggu penjelasan. "Pagi," gumamku. "Hari yang indah. Ada penguin di perapian, jika ada yang tertarik." "Sadie," kata Amos dengan lembut, "sampaikan pada semua orang apa yang telah kau ceritakan padaku." Kuteguk sedikit teh untuk menenangkan sarafku. Lalu kucoba untuk tidak terdengar ketakutan saat menceritakan kunjunganku ke Aula Zaman.
Setelah aku selesai, bunyi yang terdengar hanyalah api yang retih di tungku dan Philip dari Makedonia yang berkecipak di kolam. Akhirnya si Sembilan Tahun Felix menanyaknya apa yang ada di benak , ." semua orang: "Kalau begitu, apakah kita semua ka mati? "Tidak." Amos mencondongkan tubuh ke depan " jelas tidak. Anak-anak, aku tahu aku barn tiba. Aku nyaris tak kertemu sebagian besar di antara kalian, tetapi aku berjanji kami  melakukan segala yang kami mampu untuk kalian. Rumah ini dilindungi dengan beberapa lapis perlindungan . Ada seorang dewi besar yang berada di pihak kalian—" memberi isyarat ke arah Bast, yang tengah membuka sekaleng ikati tuna dengan jari-jemarinya—"dan keluarga Kane yang melindungi kalian. Carter dan Sadie lebih kuat dari yang mungkin kalian sadari, dan aku pernah bertempur melawan Michel Desjardins sebelumnya, jika memang hal itu harus terjadi." Mengingat segala masalah yang kami hadapi Natal lalu, pidato Amos terasa tidak terlalu optimis, tetapi para murid tampaklega. masih beili: mereka sudah cukup positif akan menyerang kita." Amos mengerutkan alis. "Barangkali, tapi aku "Jika memang hal itu hams terjadi?" Tanya Alyssa, 'Pertn percaya Desjardins sampai menyetujui langkah sebodoh itu. Apophis-lah musuh yang sebenarnya, dan Desjardins tahu itu. Dia seharusnya sadar bahwa dia memerlukan segala bantuan yang bisa dia dapatkan. Kecuali ...." Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Apa pun yang dia pikirkan, tampaknya hal itu sangat mengganggunya. "Bagaimanapun juga, jika Desjardins memutuskan untuk menyerbu kita, dia akan merencanakannya dengan cermat. Dia tahu rumah ini tidak akan jatuh dengan mudah. Dia tidak boleh sampai dipermalukan oleh keluarga Kane lagi. Dia akan
mengkaji masalah ini mempertimbangkan dan mengumpulkan pasukannya. Dia perlu waktu beberapa hari
untuk bersiap-siap—waktu yang seharusnya dia gunakan untuk menghentikan Apophis." Walt mengangkat jari telunjuknya. Aku tidak tahu ada apa dengan Walt, tetapi dia memiliki semacam daya tarik yang menyedot perhatian kelompok ketika dia hendak berbicara. Bahkan Khufu mendongak untuk menatapnya dari gundukan. Jell- o. "Jika Desjardins memang menyerang kita," kata Walt, "persiapannya pasti sudah matang, bersama penyihir-penyihir yang jauh lebih berpengalaman daripada kita. Bisakah dia menerobos pertahanan kita?" Amos menatap pintu kaca geser, mungkin mengingat terakhir kali pertahanan kami diterobos. Hasilnya tidak bagus. "Kita harus memastikan hal itu tidak terjadi," katanya. "Desjardins tahu apa yang sedang kita upayakan, dan tahu kita hanya punya waktu lima hari—ya, empat hari sekarang. Menurut penglihatan Sadie, Desjardins mengetahui rencana kita dan akan mencoba menghalanginya karena dia memiliki keyakinan yang keliru bahwa kita bekerja di pihak Kekacauan. Namun, jika kita berhasil, kita punya daya tawar untuk membuat Desjardins mundur." Cleo mengangkat tangannya. "Engg kami tidak tahu rencananya. Empat hari untuk melakukan apa?" Amos memberi isyarat ke arah Carter, mempersilakan Carter menjelaskan. Aku tidak keberatan. Sejujurnya, aku merasa rencana itu sedikit gila. Kakakku menegakkan duduknya. Aku harus memberinya pujian. Selama beberapa bulan terakhir, dia menampakkan kemajuan dalam hal meniru remaja normal. Setelah enam tahun hanya belajar di rumah dan berkelana bersama Ayah, Carter benar-benar tidak tahu apa-apa. Dia berpakaian seperti seorang eksekutif yunior, dengan kemeja putih rapi dan celana pantalon. Sekarang setidaknya dia sudah terbiasa mengenakan jins dan
kaus , kadang-kadang jaket bertudung. Dia membiarkan rambut ikalnya memanjang dan agak kusut—yang terlihat jauh lebih balk. Jika terus membuat kemajuan, cowok itu bahkan mungkin bisa mendapatkan pacar suatu hari nanti. [Apa? Jangan menyikutku. Itu pujianl] "Kita akan membangkitkan Dewa Ra," kata carter seolah-olah itu  semudah mengambil kudapan dari lemari es. Para murid saling berpandangan. Carter tidak terkenal suka  bercanda, tetapi mereka pasti bertanya-tanya apakah dia membuat lelucon. "Maksudmu Dewa Matahari," kata Felix, "mantan raja I" dewa." Carter mengangguk. "Kalian semua tahu ceritanya. Ribuan tahun silam, Ra menjadi pikun dan mengundurkan diri ke langit, meninggalkan Osiris yang mengambil alih tampuk kekuasaan. Kemudian Osiris digulingkan oleh Set. Kemudian Flowsmengalahkan Set dan menjadi firaun. Kemudian—" Aku berdeham. "Versi singkatnya saja." Flows Carter melemparkan tatapan jengkel padaku. "IntinYa, Ra adalah raja para dewa yang pertama dan paling kuat. Kauai yakin Ra masih hidup. Dia hanya tertidur di suatu tempat nun
jauh di lubuk Duat. Jika kita bisa membangunkannya—" "Tapi jika dia pensiun karena pikun," kata Walt, "bukankah itu berarti dia sudah sangat, sangat pikun sekarang?" Aku sudah menanyakan hal yang sama ketika Carter pertama kali memberitahukan gagasan itu padaku. Kami benar-benar tidak memerlukan dewa yang teramat sangat kuat tetapi tak bisa mengingat namanya sendiri, berbau seperti orang jompo, dan mengiler saat tidur. Lagi pula, bagaimana mungkin makhluk yang tak bisa mati bisa pikun? Tak ada yang dapat memberiku jawaban memuaskan. Amos dan Carter menatap Bast, langkah yang mast* akal, karena dialah satu-satunya dewi Mesir yang hadir.

Bast mengerutkan dahi ke arah tuna kalengan yang tidak tersentuh. "Ra adalah Dewa Matahari. Pada zaman dahulu kala, dia menua seiring hari menua, kemudian berlayar melalui Duat dengan kapalnya setiap malam dan terlahir kembali bersama terbitnya matahari setiap pagi." "Tapi matahari tidak terlahir kembali," selaku, "itu cuma rotasi bumi—" "Sadie," Bast memperingatkan. Ya, ya. Mitos dan rains sama-sama benar—sekadar versi yang berbeda dari realitas yang sama, bla, bla, bla. Aku sudah pernah mendengar ceramah itu seratus kali, dan aku tidak ingin mendengarnya lagi. Bast menunjuk ke arah gulungan itu, yang kuletakkan di sebelah cangkir tehku. "Ketika Ra berhenti melakukan perjalanan malamnya, siklus itu terputus, dan Ra menghilang ke dalam senjakala abadi—setidaknya, begitulah yang kami duga. Namun, jika kita bisa menemukannya di dalam Duat—dan itu adalah pengandaian yang besar—mungkin saja dia bisa dibawa kembali dan terlahir lagi dengan sihir yang tepat. Kitab Ra menjelaskan bagaimana hal ini bisa dilakukan. Para pendeta Ra menciptakan kitab ini di zaman kuno dan merahasiakannya, memecahnya menjadi tiga bagian, untuk digunakan hanya jika dunia akan kiamat." "Jika dunia akan kiamat?" Tanya Cleo, "maksudmu Apophis benar-benar akan akan menelan matahari?" Walt memandangku. "Apakah itu mungkin? Dalam ceritamu mengenai Piramida Merah, kau bilang Apophis berada di balik rencana Set untuk menghancurkan Amerika Utara. Dia mencoba menimbulkan teramat banyak kekacauan supaya dia bisa keluar dari penjaranya." Aku menggigil, mengingat penampakan yang sempat terlihat pada langit di atas Washington D.C.—seekor ular raksasa yang
"Apophislah masalah sesungguhnya," aku menyepakati. Kami pernah menghentikannya satu kali, tapi penjaranya makin melemah. Jika dia berhasil meloloskan diri—" "Dia pasti berhasil," sambar Carter. "Empat hari lagi. Kecuali kita bisa menghentikannya. Jika dia lobos, dia akan menghancurkan peradaban—segala sesuatu yang pernah dibangun oleh manusia sejak permulaan Mesir." Kata-kata Carter membuat gelombang rasa ngeri yang merambat melalui meja sarapan. Carter dan aku sudah bicara empat mata mengenai tenggat empat hari itu, tentu saja. Horns dan Isis sama-sama pernah membicarakannya dengan kami. Namun, dulu hal itu terlihat lebih seperti kemungkinan mengerikan ketimbang kepastian mutlak. Kini, Carter terdengar yakin. Aku mengamati wajahnya dan menyadari dia telah melihat sesuatu tadi malam—mungkin penglihatan yang bahkan lebih menakutkan daripada penglihatanku. Ekspresinya mengatakan, Tidak di sini, akan kuceritakan nanti. Bast menancapkan kuku ke meja makan. Apa pun rahasia Carter, dia pasti mengetahuinya. Di ujung meja, Felix menghitung jarinya. "Mengapa empat hari? Apa yang begitu istimewa dengan engg, tanggal dua puluh satu Maret?" "Ekuinoks("Ekuinoks: saat matahari melintasi ekuator sehingga siang dan malam bagi tern-pat-tempat di lintang 0 derajat sama panjang; saat busur slang dan busur malam matahari sama panjang bagi semua tempat di bumi, diperkirakan terjadi pada tanggal 21 Maret dan 23 September—KBBI ) musim semi," jelas Bast. "Waktu yang sangat kuat untuk sihir. Waktu siang dan malam sama panjang, yang berarti kekuatan Kekacauan dan Ma'at bisa dengan mudah saling menjatuhkan. Itu waktu yang tepat untuk membangunkan Ra. Malah, itu satu-satunya kesempatan kita sampai ekuinoks musim



gugur, enam bulan dari sekarang. Tapi kita tak bisa menunggu selama itu." "Karena sayangnya," tambah Amos, "ekuinoks juga merupakan waktu yang sempurna bagi Apophis untuk melepaskan diri dari penjaranya dan menyerbu dunia manusia. Kalian boleh yakin bahwa dia memiliki kaki-tangan yang sedang mengusahakan hal itu sekarang. Menurut sumber-sumber kami di kalangan dews, Apophis akan berhasil, dan itulah sebabnya kita harus membangunkan Ra terlebih dulu." sudah mendengar semua ini sebelumnya, tetapi membicarakannya secara terbuka, di depan semua murid kami, dan melihat  mimik terguncang pada wajah-wajah mereka, membuat semuanya menjadi terasa jauh lebih menakutkan dan nyata. Aku berdeham. "Benar Jadi, ketika Apophis keluar dari penjara, dia akan berusaha menghancurkan Ma'at, tatanan jagat raya. Dia akan menelan matahari, menjebloskan seisi dunia dalam kegelapan abadi, dan bila tidak begitu, membuat kita menghadapi hari yang sangat berat." "Itulah sebabnya kita memerlukan Ra." Amos mengubah nada suaranya, membuat suaranya terdengar tenang dan meyakinkan bagi para murid kami. Dia memancarkan ketenangan sedemikian rupa, sampai-sampai aku pun merasa ketakutanku berkurang. Aku bertanya-tanya apakah ini semacam sihir, ataukah dia sekadar lebih pandai menjelaskan tentang kiamat ketimbang aku. "Ra adalah musuh bebuyutan Apophis," lanjut Amos. "Ra adalah Penguasa Keteraturan, sementara Apophis adalah Penguasa Kekacauan. Sejak permulaan zaman, kedua kekuatan ini terlibat dalam pertempuran abadi untuk saling menghancurkan. Jika Apophis kembali, kita harus memastikan Ra ada di pihak kita untuk menandinginya. Hanya dengan begitu kita punya peluang." "Peluang?" kata Walt. "Dengan asumsi kita bisa menemukan Ra lalu membangunkannya, dan seisi Dewan Kehidupan tidak membinasakan kita terlebih dulu."
Amos mengangguk. "Tapi jika kita bisa membangunkan Ra, itu merupakan prestasi yang jauh lebih besar daripada prestasi yang pernah dicapai penyihir mana pun. Itu akan membuat Desjardins berpikir dua kali. Sang Ketua Lector ... ya, sepertinya dia sedang tidak berpikir jernih, tapi dia bukan orang bodoh. Dia menyadari bahaya kemunculan Apophis. Kita harus meyakinkannya bahwa  kita berada di pihak yang sama, bahwa jalan dewa-dewi adalah  satu-satunya jalan untuk mengalahkan Apophis. Aku lebihmemilih ini  daripada melawannya." Secara pribadi, aku ingin menonjok muka Desjardins dan membakar janggutnya, tetapi kurasa Amos ada benarnya. Cleo, anak yang malang itu, menjadi sehijau kodok. Dia jauh-jauh datang dari Brasil ke Brooklyn untuk mempelajari jalan Thoth, Dewa Pengetahuan, dan kami sudah menetapkannya sebagai calon pustakawan kami, tetapi ketika bahaya yang harus dihadapi nyata, (Ian bukan hanya berada di halaman buku ya, perutnya memang agak lemah. Kuharap dia bisa mencapai tepian teras jika dia perlu memuntahkan isi perutnya. "Gu—gulungan itu," akhirnya dia berhasil berbicara, "kau bilang ada dua bagian lagi?" Kuambil gulungan itu. Dalam cahaya siang, benda itu tampak lebih rentan—rapuh, kuning, dan mudah hancur. Jari-jariku y,Inetar. Bisa kurasakan sihir mendengung dalam papirus itu pert arus listrik bertegangan rendah. Kurasakan hasrat yang igat besar untuk membukanya. Aku mulai membuka silinder itu. Carter menegang. Amos berkata, "Sadie ..." Jelas mereka mengira Brooklyn akan terbakar lagi, tetapi tidak crjadi apa-apa. Kubentangkan gulungan papirus itu dan kudapati I ).ihwa benda itu ditulisi coretan tidak bermakna—bukan hieroglif, htikan bahasa apa pun yang bisa kukenali. Bagian tepian papirus itu tidak rata, seolah-olah habis disobek.

"Kubayangkan bagian-bagian itu merupakan satu kesatuan," ujarku. "Hanya bisa dibaca setelah ketiganya digabungkan." Carter tampak terkesan. Namun, sejujurnya, aku mengetahui beberapa hal. Pada petualangan terakhir kami, aku membaca sebuah gulungan papirus untuk mengenyahkan Set, dan cara kerjanya hampir sama. Khufu mendongak dari Jell-O. "Aghl" Dia meletakkan tiga butir anggur lengket di atas meja. "Benar sekali," Bast menyetujui. "Seperti yang disampaikan Khufu, ketiga bagian kitab itu merepresentasikan tiga aspek Ra—pagi, siang, dan malam. Gulungan di sana itu adalah waktu Khnum. Kalian harus menemukan dua bagian lainnya sekarang." Bagaimana Khufu bisa memasukkan semua itu ke dalam satu gerutuan saja, aku tidak tahu, tetapi aku berharap aku bisa mempelajari semua mata pelajaran dari guru babun. Aku pasti bisa menyelesaikan sekolah lanjutan tingkat pertama dan tingkat atas dalam waktu seminggu. "Jadi, kedua anggur yang lain," kataku, "maksudku, kedua gulungan yang lain ... menurut penglihatanku tadi malam, tidak akan mudah ditemukan." Amos mengangguk. "Bagian yang pertama hilang ribuan tahun silam. Bagian tengahnya berada dalam kepemilikan Dewan Kehidupan. Benda itu sudah dipindah berkali-kali, dan selalu dijaga dengan ketat. Berdasarkan penglihatanmu, menurutku gulungan itu sekarang berada di tangan Vladimir Menshikov." "Si Tukang Es Krim," tebakku. "Siapa dia?" Amos menelusuri sesuatu di meja dengan jarinya—barangkali suatu hieroglif perlindungan. "Penyihir paling kuat nomor tiga di dunia. Dia juga salah satu pendukung terkuat Desjardins. Dia memimpin Nome Kedelapan Belas, di Rusia."
Bast mendesis. Sebagai kucing, dia cukup mahir melakukan "Vlad si Bengek(ii Bengek: asma. Dinamakan Vlad si Bengek karena ketika sedang kambuh, pengi-dap asma mengeluarkan suara dari tenggorokannya ketika bernapas, mirip suara yang dikeluarkan Vladimir Menshikov—peny ) . Dia punya reputasi jahat." Aku ingat matanya yang rusak dan suaranya yang serak. "Aria uig terjadi pada wajahnya?" Bast sudah hendak menjawab, tetapi Amos menukasnya  "Pokoknya dia cukup berbahaya," dia memperingat kali " bakat  utama Vlad adalah membungkam penyihir-penyihir yang tidak taat  aturan." "Maksudmu dia itu pembunuh?" tanyaku, "hebat sekali. Dan Desjardins  baru saja memberinya izin untuk memburu Carter dan aku  jika kami meninggalkan Brooklyn." "Yang memang harus kalian lakukan nanti," kata Bast, "jika kalian  ingin mencari bagian lain Kitab Ra. Kalian hanya punya waktu empat hari." "Ya," gumamku, "kau boleh bilang begitu. Kau akan menemani kami, kan?" Bast menunduk, menatap tuna kalengannya. "Sadie ...." Nada suaranya terdengar merana. "Carter dan aku lidah bicara dan ya, harus ada yang memeriksa penjara Apophis. Kita harus tahu apa yang terjadi, bagaimana kondisi penjara itu, dan apakah ada cara untuk mencegah bobolnya penjara itu. Hal itu membutuhkan pemeriksaan langsung." Aku tidak percaya aku mendengar ini. "Kau akan kembali ke sana? Setelah segala yang dilakukan orangtuaku untuk membebaskanmu?" "Aku hanya akan mendekati penjara itu dari luar," Bast berjanji. "Aku akan berhati-hati. Bagaimanapun juga aku ini makhluk yang mahir menyelinap. Lagi pula, hanya aku yang tahu bagaimana




menemukan selnya, dan bagian Duat yang itu mematikan bagi manusia fana. Aku—aku hams melakukan ini." Suaranya bergetar. Dia pernah mengatakan padaku bahwa kucing bukanlah hewan pemberani, tetapi kembali ke penjara lamanya sepertinya merupakan perbuatan yang cukup berani. "Aku tidak akan meninggalkan kalian tanpa penjagaan," dia berjanji. "Aku punya teman. Dia seharusnya tiba dari Duat besok. Aku sudah memintanya untuk mencari dan melindungi kalian." "Teman?" Tanyaku. Bast gelisah. "Ya semacam itulah." Itu tidak terdengar menjanjikan. Aku menatap pakaian jalan-jalanku. Rasa masam memenuhi mulutku. Carter dan aku hams melangsungkan perburuan lagi dan kecil kemungkinan kami bisa kembali dalam keadaan hidup. Satu tanggung jawab lagi di pundakku, sebuah tuntutan tidak masuk akal lagi agar aku mengorbankan hidupku untuk menyelamatkan dunia. Selamat ulang tahun untukku. Khufu besendawa dan mendorong piring kosongnya menjauh. Dia memamerkan taringnya yang bernoda Jell-O seolah hendak mengatakan Ya, sudah diputuskan! Sarapan yang enak! "Aku akan berkemas," kata Carter. "Kita bisa berangkat satu jam lagi." "Tidak," ujarku. Aku tidak yakin siapa yang lebih terkejut—aku atau kakak lelakiku itu. "Tidak?" Tanya Carter. "Ini hari ulang tahunku," kataku, yang mungkin membuatku terdengar seperti berandal kecil berusia tujuh tahun—tetapi saat itu aku tidak peduli. Para murid terpana. Beberapa orang menggumamkan ucapan selamat. Khufu menawariku mangkuk Jell-O-nya yang sudah kosong sebagai hadiah. Dengan setengah hati Felix mulai
menyanyikan "Selamat Ulang Tahun," tetapi tidak ada yang ikut bernyanyi. Jadi, dia berhenti. " Bast bilang temannya barn datang besok," lanjut ku. "Amos it tang Desjardins perlu waktu untuk mempersiapkan serangan apa pun yang diniatkannya. Lagi pula, aku aku sudah lama sekal  merncanakan perjalanan ke London ini. Kurasa aku bisa libur 1 hari saja sebelum dunia kiamat." Yang lain memandangiku. Apakah aku egois? Baiklah, memang  Tidak bertanggung jawab? Mungkin. Jadi, mengapa aku merasa Nangat ingin mempertahankan keputusanku? Barangkali ini mengagetkan kalian, tetapi aku tidak suka tlik endalikan. Carter mendiktekan apa yang harus kami lakukan, tetaipi seperti biasa dia belum memberitahukan semuanya padaku. diajelas telah berkonsultasi dengan Amos dan Bast dan membuat .strategi. Mereka bertiga telah memutuskan apa yang terbaik tanpa mau repot-repot bertanya padaku. Satu-satunya teman yang selalu menemaniku, Bast, akan meninggalkanku untuk menempuh misi yang amat sangat berbahaya. Sementara aku akan terjebak bersama kakakku pada hari ulang tahunku, melacak satu lagi gulungan sihir yang mungkin membakarku atau lebih buruk dari itu. Maaf. Aku tidak akan pergi sekarang. Jika aku akan mati, maka itu bisa menunggu hingga besok pagi. Raut wajah Carter separuh marah, separuh tidak percaya. Biasanya, kami berusaha menjaga kesopanan di depan murid-murid kami. Sekarang aku mempermalukannya. Dia selalu mengeluhkan betapa aku terburu-buru melakukan segala sesuatu tanpa berpikir. Tadi malam dia jengkel padaku karena mengambil gulungan itu, dan kuduga di sudut benaknya dia menyalahkanku atas kacaunya situasi—atas terlukanya Jaz. Jelaslah dia melihat hal ini sebagai satu lagi contoh sifatku yang sembrono. Aku sudah siap menghadapi pertengkaran hebat, tetapi Amos menengahi.



"Sadie, pergi ke London itu berbahaya." Dia mengangkat tangannya sebelum aku sempat memprotes. "Tapi, jika kau harus melakukannya ...." Dia menarik napas dalam-dalam, seola h-olah tidak menyukai apa yang hendak dikatakannya. "... mal a setidak nya berjanjilah kau akan berhati-hati. Aku ragu Viz d Menshikov sudah punya rencana untuk melawan kita dalam waktu sesingkat itu. Kau seharusnya baik-baik saja selama tidak menggunakan sihir, jangan melakukan apa pun yang menarik perhatian." 'Amos!" Carter memprotes. Amos membungkamnya dengan tatapan tegas. "Sementai a Sadie pergi, kita bisa mulai membuat rencana. Besok pagi, kalian berdua bisa memulai pencarian. Aku akan mengambil alih tugas mengajar murid-murid kita, dan mengatur pertahanan Rumah Brooklyn." Aku bisa melihat di mata Amos bahwa dia tidak ingin aku pergi. Itu tindakan yang bodoh, berbahaya, dan gegabah—dengan kata lain, itu tindakan yang sangat Sadie. Namun, bisa kurasakan simpatinya terhadap kondisiku. Aku ingat betapa Amos terlihat rapuh setelah Set menguasai tubuhnya Natal silam. Ketika dia pergi ke Nome Pertama untuk berobat, aku tahu dia merasa bersalah meninggalkan kami berdua saja. Namun, demikian, itu adalah pilihan yang benar demi kesehatan jiwanya. Di antara semua orang, Amos-lah yang tahu seperti apa rasanya memiliki kebutuhan untuk pergi. Jika aku tetap di sini, jika aku langsung berangkat melakukan pencarian tanpa meluangkan waktu untuk bernapas, aku merasa bisa-bisa aku akan meledak. Lagi pula, aku merasa lebih baik karena mengetahui bahwa Amos akan menggantikan kami di Rumah Brooklyn. Lega rasanya menyerahkan tugas mengajarku untuk sementara waktu. Sejujurnya, aku ini guru yang buruk. Aku benar-benar tidak punya kesabaran untuk itu. [Oh, diamlah, Carter. Kau tidak seharusnya setuju denganku.

"Terima kasih, Amos," aku berhasil berbicara. Dia berdiri, dengan jelas mengisyaratkan bahwa pertemuan Iudah selesai. "Kurasa itu sudah cukup untuk satu pagi," katanya  "Yang paling utama adalah kalian semua harus melanjutkan latihan dan jangan  berputus asa. Kita butuh kalian dalam kondisi puncak  mempertahankan Rumah Brooklyn. Kita pasti menang. Dengan  dewa-dewa di pihak kita, Ma'at akan  mengalahkan  seperti biasanya." Para murid masih tampak risau, tetapi mereka berdiri dan mulai membersihkan alat makan mereka. Carter melemparkan 1 lagi tatapan geram, kemudian berderap masuk dengan march. Itu adalah masalah Carter. Aku bertekad tidak akan merasa bersalah. Aku tidak mau ulang tahunku berantakan. Meski begitu, scat memandangi tehku yang telah dingin dan pain au chocolat-ku yg  tidak tersentuh, aku dilanda perasaan tidak enak bahwa aku mungkin tidak akan duduk di depan meja ini lagi.
Satu jam kemudian aku siap untuk berangkat ke London. Aku telah memilih tongkat baru dari gudang senjata dan menyimpannya di Duat bersama perbekalanku yang lain. Kutinggalkan gulungan sihir Bullwinkle bersama Carter, yang bahkan tidak mau bicara denganku, kemudian menjenguk Jaz di ruang perawatan dan mendapatinya masih berada dalam keadaan koma. Sehelai waslap yang telah dimantrai menjaga dahinya agar tetap dingin. Hieroglif penyembuhan melayang-layang di sekitar tempat tidurnya, tetapi dia masih tampak begitu rapuh. Tanpa senyumnya yang biasa, Jaz terlihat seperti sosok yang berbeda. Aku duduk di sebelahnya dan menggenggam tangannya. Hatiku terasa seberat bola bowling. Jaz telah mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi kami. Dia telah menghadapi segerombolan Bau hanya berbekal beberapa minggu latihan. Dia telah menyedot
energi dewi pelindungnya, Sekhmet, persis seperti yang kami ajarkan padanya, dan upaya itu nyaris membunuhnya. Apa yang kukorbankan akhir-akhir ini? Aku malah merajuk karena mungkin  tak bisa menghadiri pesta ulang tahunku. "aku sangat  menyesal, Jaz." Aku tahu dia tidak bisa mendengarku  tetapi suaraku bergetar. "Hanya saja aku aku bisa gila jika tidak pergi dari sini. Kami pernah harus menyelamatkan dunia satu kali, dan sekarang aku harus melakukannya lagi ...." Aku membayangkan apa yang akan dikatakan Jaz—jelas sesuatu yang menenangkan: Itu bukan salahmu, Sadie. Kau berhak mendapatkan waktu beberapa jam. Itu hanya membuatku merasa lebih buruk. Seharusnya aku tak pernah mengizinkan Jaz membahayakan dirinya sendiri. Enam tahun silam, ibuku meninggal karena menyalurkan terlalu banyak sihir. Dia terbakar saat menutup gerbang menuju penjara Apophis. Aku tahu itu, tetapi aku tetap membiarkan Jaz, yang jauh lebih tidak berpengalaman, untuk mempertaruhkan nyawanya supaya kami bisa selamat. Seperti yang kubilang tadi aku ini guru yang buruk. Akhirnya aku tidak tahan lagi. Kuremas tangan Jaz, kudoakan semoga dia cepat sembuh, dan kutinggalkan ruang perawatan itu. Aku naik ke atap, tempat kami menyimpan relik untuk membuka portal—sebuah patung Sphinx yang berasal dari puing-puing Heliopolis. Aku menjadi tegang ketika melihat Carter di ujung seberang atap, tengah memberi makan Griffin dengan segunduk daging kalkun panggang. Sejak tadi malam, Carter telah membangun kandang yang cukup bagus untuk monster itu. Jadi, kurasa makhluk itu akan tinggal bersama kami. Setidaknya si Griffin akan membuat burung-burung merpati tidak berani hinggap ke atap. Aku nyaris berharap Carter akan mengabaikanku. Aku sedang tidak ingin berdebat. Namun, ketika melihatku, dia mengerutkan
dahi, mengelap lemak daging kalkun dari tangannya, dan me-langkah menghampiriku. Kutabahkan diriku untuk menerima omelan. Ternyata dia hanya bergumam, "Hati-hati. Aku punya hadiah clang tahun untukmu, tapi aku akan menunggusampai ….kau kembali." Dia tidak menambahkan kata-kata "dalam keadaan masih  bernyawa" , tetapi rasanya aku mendengar itu dalam nada  bicaranya. "Dengar, Carter—" "Pergilah saja," katanya. "Berdebat tidak akan ada gunanya bagi kita." Aku tidak yakin apakah harus merasa bersalah atau marah, api kurasa dia ada benarnya. Pengalaman kami dengan hari ulang tahun tidaklah bagus. Salah satu kenangan paling awalku adalah bertengkar dengan Carter di hari ulang tahun keenamku, dan kue ulang tahunku meledak gara-gara energi magis yang kami timbulkan. Barangkali, mengingat hal itu, seharusnya aku langsung wrgi saja sendiri. Namun, aku tak bisa melakukan itu. "Aku minta maaf," semburku. "Aku tahu kau menyalahkanku karena  mengambil gulungan itu tadi malam, dan karena Jaz terluka, tapi aku merasa seolah diriku akan hancur—" "Bukan cuma kau yang merasa begitu," katanya. Sesuatu mulai terasa mengganjal di tenggorokanku. Aku begitu khawatir Carter marah padaku, sampai-sampai aku tidak memperhatikan nada bicaranya. Dia terdengar benar-benar merana. "Ada apa?" Tanyaku, "apa yang terjadi?" Dia mengusap tangannya yang berminyak ke celananya. "Kemarin di museum ... salah satu roh itu—salah satu dari mereka bicara padaku."



Dia menceritakan padaku mengenai pertemuannya yang ganjil dengan Bau api itu, bagaimana waktu seolah melambat dan Bau itu memperingatkan Carter bahwa pencarian kami akan gagal. "Dia bilang ...," suara Carter pecah. "Dia bilang Zia tengah tertidur di Tempat Pasir Merah, entah tempat macam apa itu. Dia bilang jika aku tidak menghentikan pencarian ini dan menyelamatkannya, Zia akan mati." "Carter," ujarku hati-hati, "apakah Bau ini menyebut nama Zia?" "Tidak, sih "Mungkinkah maksudnya orang lain?" "Tidak, aku yakin. Maksudnya adalah Zia." Aku berusaha menahan lidah. Jujur, aku berusaha. Namun, topik Zia Rashid telah menjadi obsesi yang tidak sehat bagi saudaraku itu. "Carter, aku tidak bermaksud tidak bersimpati," ujarku, "Tapi beberapa bulan terakhir kau terus melihat pesan mengenai Zia di mana-mana. Dua minggu lalu, kau mengira dia mengirimimu pesan darurat di dalam kentang tumbukmu." "Bentuknya huruf Terukir persis di dalam kentang1" Aku mengangkat kedua tangan. "Baiklah. Dan mimpimu tadi malam?" Kedua bahunya menegang. "Apa maksudmu?" "Oh, ayolah. Waktu sarapan, kau bilang Apophis akan lepas dari penjaranya pada saat ekuinoks. Kau terdengar sangat yakin, seolah-olah kau sudah melihat buktinya. Kau sudah bicara dengan Bast dan meyakinkannya untuk memeriksa penjara Apophis. Apa pun yang kau lihat pastilah sangat buruk." "Aku entahlah. Aku tidak yakin." "Oh begitu." Kejengkelanku memuncak. Jadi, Carter tidak ingin memberitahuku. Kami kembali saling berahasia? Baiklah. "Akan kita lanjutkan nanti, kalau begitu," ujarku. "Sampai jumpa nanti malam."
"Kau tidak percaya padaku," kata Carter. "Mengenai Zia." "Kau juga tidak memercayaiku. Jadi, kita seri." Kami saling menatap dengan marah. Kemudian Carter rbalik dan melangkah dengan kesal ke arah si Griffin. Aku nyaris memanggilnya agar kembali. Aku tidak bermaksud semarah  itu padanya. Di lain pihak, meminta maaf bukanlah lebihanku, dan Carter juga agak keras kepala. Aku beralih ke Sphinx dan memanggil pintu gerbang. Aku lidah cukup mahir melakukannya, bila aku boleh menilai diriku . Seketika itu juga pasir berbentuk corong berpilin munul  di hadapanku, dan aku melompat melewatinya. Sedetik kemudian, aku terguling keluar di Cleopatra's Needle di tepi Sungai Thames. Enam tahun silam, ibuku meninggal di sini. Ini bukan monumen Mesir favoritku. Namun, monumen itu adalah portal sihir yang paling dekat dengan apartemen Kakek dan Nenek. Untungnya, cuaca sedang jelek dan tidak ada orang di sekitar situ. Jadi, aku menyapu pasir dari pakaianku dan menuju ke ,,tasiun bawah tanah. Tiga puluh menit kemudian, aku sudah berdiri di undakan di depan apartemen kakek-nenekku. Aneh sekali rasanya berada di rumah? Aku bahkan tidak yakin aku bisa menyebutnya sebagai rumah lagi. Berbulan-bulan aku merindukan London—jalanan kota yang akrab, toko-toko favoritku, teman-temanku, kamar lamaku. Aku bahkan merindukan cuacanya yang suram. Namun, kini segalanya tampak begitu berbeda, begitu asing. Dengan gugup, aku mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Aku yakin mereka sedang menantikan kedatanganku. Aku mengetuk lagi. Barangkali mereka sedang bersembunyi, menungguku masuk. Kubayangkan kakek-nenekku, Liz, dan Emma berjongkok di balik perabotan, siap melompat dan berteriak "Kejutan!
Hmm Kakek dan Nenek berjongkok dan melompat. Sama sekali tidak mungkin. Aku meraih kunci dan membuka pintu. Ruang tamu gelap dan kosong. Lampu di tangga mati, sesuatu yang tak pernah diperbolehkan oleh Nenek. Dia benar-benar takut jatuh dari tangga. Bahkan televisi Kakek tidak menyala. Ini tidak benar. Kakek selalu menyetel pertandingan rugbi, walaupun dia tidak sedang menontonnnya. Aku mengendus-endus udara. Pukul enam petang waktu London, tetapi tidak ada bau biskuit dipanggang dari dapur. Nenek seharusnya memanggang setidaknya seloyang biskuit untuk minum teh. Itu sudah tradisi. Kukeluarkan ponselku untuk menelepon Liz dan Emma, tetapi ponselku mati. Aku yakin aku sudah mengisi baterainya. Benakku baru saja mulai memproses sebuah pikiran—aku berada dalam bahaya—ketika pintu depan terbanting tertutup di belakangku. Aku berputar, rneraih tongkat sihirku, yang ternyata tidak kubawa. Di atasku, di puncak ruang tangga yang gelap, sebuah suara yang jelas-jelas bukan suara manusia mendesis, "Selamat datang kembali di rumah, Sadie Kane." [] 


5.CARTER
AKU BELAJAR UNTUK MEMBENCI KUMBANG KOTORAN

TERIMA KASIH BANYAK, SADIE. Menyerahkan mik kepadaku ketika kau mencapai bagian yang bagus. Jadi, yeah, Sadie pergi merayakan ulang tahunnya ke London. Dunia akan kiamat dalam waktu empat hari, ada misi pencarian yang harus kami lakukan, dan dia malah pergi untuk berpesta dengan teman-temannya. Benar-benar tahu menempatkan prioritas, ya? Bukannya aku sinis atau apa. Sisi baiknya, Rumah Brooklyn cukup tenang begitu dia pergi, setidaknya sampai ular berkepala tiga muncul. Namun, pertama-tarna sebaiknya aku menceritakan penglihatanku pada kalian. Sadie mengira aku menyembunyikan sesuatu darinya saat sarapan, bukan? Ya, itu ada benarnya. Namun sejujurnya, yang kulihat pada malam sebelumnya membuatku sangat ketakutan sehingga aku tidak ingin membicarakannya, terutama pada hari ulang tahun Sadie. Aku mengalami beberapa hal aneh sejak mulai belajar sihir, tetapi yang ini bisa dianugerahi penghargaan Nobel untuk kategori Hal-Hal Aneh.
Setelah perjalanan kami ke Museum Brooklyn, aku tak bisa tidur. Ketika akhirnya berhasil tidur, aku terbangun dalam tubuh yang lain. Itu bukan perjalanan jiwa atau mimpi. Aku menjadi Horus Sang Pembalas. Aku pernah berbagi tubuh dengan Horns sebelumnya. Dia berada di kepalaku selama hampir satu minggu Natal silam, membisikkan saran-saran, kalau tidak sedang bersikap menyebalkan. Saat pertempuran di Piramida Merah, aku bahkan mengalami penyatuan yang sempurna antara pikiranku dan pikirannya. Aku menjadi apa yang oleh orang Mesir disebut "Mata" dewa—semua kekuatannya berada di bawah kendaliku, ingatan kami berbaur, manusia dan dewa bekerja sebagai satu sosok. Namun, saat itu aku masih berada dalain tubuhku sendiri. Kali ini.situsinya  terbalik. Aku menjadi tamu dalam tubuh horus ,dia sedang  berdiri di haluan sebuah kapal di sungai magis yg berkelok-kelok sepanjang Duat. Penglihatanku setajampenglihatan elang . Di balik kabut, bisa kulihat berbagai bentuk tengah  bergerak-gerak di dalam air—pungung-punggung reptil bersisik Ian sirip-sirip yang berukuran sangat besar. Aku melihat hantu-hantu orang mati hanyut di sepanjang kedua tepiannya. Jauh di atas, langit-langit gua itu berkilau merah, seolah-olah kami tengah berlayar menuruni tenggorokan sesosok makhluk hidup. Kedua lenganku berwarna perunggu dan berotot, dilingkari gelang-gelang emas dan batu lapis lazuli. Aku mengenakan baju zirah kulit untuk berperang, sebatang tombak di satu tangan dan khopesh di tangan yang lain. Aku merasa kuat dan berkuasa seperti ya seperti dewa. Halo, Carter, kata Horns, yang rasanya seperti bicara dengan diri sendiri. "Horns, bagaimana kabarmu?" Aku tidak bilang padanya bahwa aku jengkel karena dia mengganggu tidurku. Aku tak perlu mengatakannya. Aku sedang berbagi pikiran dengannya.
Aku telah menjawab pertanyaanmu, kata Horus. Aku sudah memberi tahu di mana kau bisa menemukan gulungan pertama. Sekarang kau hares melakukan sesuatu untukku. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan kepadamu. Kapal itu tersentak maju. Aku mencengkeram terali pada  Iangkan pengemudi kapal. Saat menengok ke belakang, ,bias kulihat  itu adalah kapal layar seorang firaun, dengan panja ng sekitar  delapan belas meter dan berbentuk seperti kano raksasadi bagian  tengahnya, sebuah tenda usang mengisi mimbar kosong tempat  sebuah singgasana mungkin dulu pernah ada. Pada sebuah tiang  terdapat sehelai layar segi empat yang dulu penuh hiasan, tetapi sekarang memudar dan menggantung dalam keadaan company; camping. Di sisi kiri dan kanan, deretan dayung rusak menjuntai tanpa guna. Kapal itu pasti telah ditelantarkan selama berabad-abad. Tali-temalinya tertutupi sarang laba-laba. Tambang-tambangnya membusuk. Papan-papan kayu di geladak kapal berderit dan berkeriat-keriut saat kecepatan kapal bertambah. Kapal ini sudah tua, seperti Ra, kata Horns. Apakah kau benar-benar ingin membuat kapal ini kembali bekerja? Biar kuperlihatkan padamu ancaman yang akan kau hadapi. Kemudi membelokkan kapal ke dalam arcs. Tiba-tiba saja kami melesat menuju hilir. Aku pernah berlayar di Sungai Malam sebelumnya, tetapi kali ini kami sepertinya berada lebih jauh di dalam Duat. Udaranya lebih dingin, riamnya lebih deras. Kami melompati sebuah air terjun yang terjal dan melayang di udara. Ketika kapal kami menyentuh air lagi, monster-monster mulai menyerang. Wajah-wajah mengerikan muncul—seekor naga laut bermata kucing, seekor buaya berbulu landak, seekor ular berkepala mumi manusia. Setiap kali sesosok monster muncul, kuangkat pedangku dan kutebas mereka, atau kuhunjam dengan tombak agar menjauh dari kapal. Namun, mereka terus berdatangan, berubah bentuk, dan aku tahu jika aku bukan Horns si Pembalas—jika aku
hanyalah Carter Kane yang berusaha menghadapi semua kengerian ini—aku pasti sudah menjadi gila, atau mati, atau keduanya. Setiap malam, seperti inilah perjalanannya, kata Horus. Bukan Ra yang menghalangi makhluk-makhluk Kekacauan. Kami para dewa yang lainlah yang menjaganya supaya tetap aman. Kami menahan Apophis dan antek-anteknya. Kami melompati satu lagi air terjun dan jatuh menukik ke dalam pusaran air. Entah bagaimana, kami tidak terbalik. Kapal itu berputar keluar dari dalam arus dan terapung-apung ke arah pinggiran sungai. Tepian sungai di sini berupa hamparan batu-batu hitam yang berkilauan—atau begitulah dugaanku. Saat kami semakin dekat, kusadari batu-batu itu adalah cangkang serangga—jutaan kulit kumbang yang kering, terhampar hingga kegelapan sejauh yang dapat kulihat. Beberapa ekor kumbang hidup bergerak lambat di antara selongsong yang sudah kosong, sehingga seluruh bentangan darat itu terlihat seperti sedang merayap. Aku bahkan tidak berusaha menggambarkan bau beberapa juta kumbang kotoran yang sudah mati itu. Penjara sang ular, kata Horus. Aku memindai kegelapan mencari sel penjara, rantai, sebuah lubang, atau sesuatu. Yang kulihat hanyalah hamparan kumbang mati tanpa akhir. "Di mana?" Tanyaku. Aku memperlihatkan tempat ini kepadamu dengan cara yang bisa kau pahami, kata Horus. Jika kau berada di sini secara langsung, kau akan terbakar menjadi abu. Jika kau melihat tempat ini seperti wujudnya yang sejati, indra manusiamu yang terbatas akan meleleh. "Bagus sekali," gumamku. "Aku suka sekali bila indra-indraku meleleh."
Kapal itu menyentuh daratan, membangunkan beberapa ekor kumbang yang masih hidup. Seluruh tepian sungai itu tampak seperti sedang menggeliat-geliut. Dulu, semua kumbang scarab ini hidup, ujar Horus, simbol kelahiran kembali Ra setiap hari, yang menahan musuh. Seka ran p. hanya segelintir yang masih tersisa. Sang ular pelan pelan  memakan kumbang-kumbang itu agar dia bisa keluar. "Tunggu, " ujarku. "Maksudmu ...." Di depanku, garis tepian sungai membesar ketika sesunti di bawahnya mendesak ke atas—sebuah sosok yang sangat besar  tengah berjuang untuk membebaskan diri. Kucengkeram pedang dan tombakku; tetapi bahkan dengan segala kekuatan dan keberanian Horns, kudapati diriku gemetaran. Cahaya merah bersinar di bawah kulit-kulit kumbang itu. Selongsong-selongsong itu meretih dan bergeser saat sesuatu di bawahnya mendesak ke permukaan. Di balik lapisan kumbang mati yang makin tipis itu, sebuah lingkaran merah selebar tiga meter menatapku—mata sang ular, penuh kebencian dan lapar, Bahkan dalam wujud dewaku, aku merasakan kekuatan Kekacauan membanjiriku seperti radiasi mematikan, membakarku dari dalam, menggerogoti jiwaku—dan aku percaya apa yang dikatakan Horns. Jika aku di sini dalam tubuhku sendiri, aku pasti akan hangus menjadi abu. "Sebentar lagi ular itu akan bebas." Tenggorokanku seakan tersumbat karena panik. "Horns, ular itu akan keluar—" Ya, jawab Horns. Sebentar lagi Horns memandu tanganku. Aku mengangkat tombak dan I nenghunjamkannya ke dalam mata sang ular. Apophis meraung murka. Tepian sungai bergetar. Kemudian Apophis membenamkan I iri di bawah kulit-kulit kumbang mati, dan cahaya merah pun nemudar. Namun, bukan hari ini, kata Horns. Pada saat ekuinoks, ikatannya akan menjadi cukup rapuh sehingga sang Ular bisa
melepaskan din pada akhirnya. Jadilah avatarku lagi, Carter. Bantu aku memimpin para dewa berperang. Bersama-sama kita mungkin bisa menghentikan kebangkitan Apophis. Namun, jika kau membangunkan Ra dan dia mengambil alih takhta, akankah dia punya kekuatan untuk memimpin? Layakkah kapal ini melayari Duat lagi? "Kalau begitu mengapa kau membantuku menemukan gulungan itu?" Tanyaku, "jika kau tidak ingin Ra dibangunkan—" Kaulah yang harus memilih, kata Horns. Aku percaya padamu, Carter Kane. Apa pun keputusanmu, aku akan mendukungmu. Namun, banyak dewa lain tidak merasakan hal yang sama. Mereka berpikir peluang kita lebih baik bila aku menjadi raja dan jenderal mereka, memimpin mereka berperang melawan sang Ular. Mereka memandang rencanamu untuk membangunkan Ra sebagai sesuatu yang tolol dan berbahaya. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk mencegah pemberontakan terbuka. Aku mungkin tidak mampu mencegah mereka menyerangmu dan berusaha menghalangimu. "Persis seperti yang kami butuhkan," ujarku, "tambahan musuh." Tidak harus seperti itu, kata Horus. Sekarang kau telah melihat musuhmu. Siapa yang menurutmu punya peluang lebih besar untuk melawan Sang Penguasa Kekacauan—Ra atau Horus? Kapal itu bergerak menjauh dari bibir sungai yang gelap. Horns melepaskan ba-ku, dan kesadaranku kembali melayang ke dunia manusia fana seperti balon helium. Sepanjang sisa malam itu, aku bermimpi tentang hamparan scarab mati, dan mata merah yang menatap tajam dari lubuk penjara yang semakin melemah.
Jika aku bertingkah sedikit aneh keesokan paginya, sekarang kau tahu sebabnya. Aku menghabiskan banyak waktu untuk bertanya-tanya, mengapa Horns menunjukkan penglihatan ini padaku. Jawaban
[
gamblangnya: Horns sekarang adalah raja dewa-dewa. Dia tidak ingin Ra kembali untuk menantang kekuasaannya. Dewa cenderung mementingkan diri sendiri. Bahkan ketika membantu, mereka selalu punya motif pribadi. Itu sebabnya kita harus hati-hati dalam memercayai mereka. Di lain pihak, Horns ada benarnya. Lima ribu tahun silam saja, Ra sudah setua itu. Tidak ada yang tahu bagaimana keadaanya  sekarang. Bahkan bila kami berhasil membangunkannya, tidak ada  jaminan dia akan membantu. Jika dia tampak sepayah kapalnya, aku tidak tahu bagaimana Ra bisa mengalahkan Apophis. Horns bertanya padaku siapa yang punya peluang lebih besar melawan Sang Penguasa Kekacauan. Kebenaran yang mengerikan: ketika aku meneliti hatiku, jawabannya adalah tidak seorang pun di antara kami. Bukan para dewa. Bukan para penyihir. Bahkan bukan kami semua walaupun kami semua bekerja sama. Horns ingin menjadi raja dan memimpin para dewa berperang, tetapi musuh ini lebih kuat dari apa pun yang pernah dia hadapi. Apophis setua semesta ini, dan dia hanya takut pada satu musuh: Ra. Membawa kembali Ra mungkin tidak berguna, tetapi naluriku mengatakan bahwa hanya itulah kesempatan kami. Dan terus terang saja, fakta bahwa semua orang tents mengatakan padaku bahwa itu adalah gagasan yang buruk—Bast, Horns, bahkan Sadie—membuatku semakin yakin bahwa itu adalah langkah yang benar. Aku memang agak keras kepala seperti itu. Pilihan yang benar nyaris tidak pernah merupakan pilihan yang mudah, Ayah sering mengatakan ini padaku. Ayah telah menentang seisi Dewan Kehidupan. Dia telah mengorbankan nyawanya sendiri untuk melepaskan para dewa karena dia yakin itulah satu-satunya cara untuk menyelamatkan dunia. Sekarang tiba waktunya bagiku untuk mengambil pilihan yang sulit.
Kita percepat cerita melewati sarapan dan pertengkaranku dengan Sadie. Setelah dia melompat melewati portal, aku berada di atas atap hanya ditemani kawan baruku si Griffin gila. Dia berteriak "FRIIIK!" begitu keras sehingga aku memutuskan untuk m ena ma inya Freak; lagi pula, arti Freak adalah gila, sesuai dengan kepribadiannya. Aku mengira dia akan menghilang tadi malam-entah  melayang pergi atau kembali ke Duat—tetapi dia tampaknya  senang berada di tempat bertenggernya yang baru. Aku menghiasi tempat itu dengan setumpuk koran pagi, yang semuanya menampilkan kepala berita mengenai ledakan gas limbah aneh yang telah melanda Brooklyn tadi malam. Menurut laporan-laporan mereka, gas tersebut memicu kebakaran aneh di area itu, mengakibatkan kerusakan besar di museum, dan membuat sebagian orang menderita mual, pusing, bahkan berhalusinasi melihat seekor burung kolibri seukuran badak. Gas limbah tolol. Aku tengah melemparkan daging kalkun panggang lagi kepada Freak (ya ampun, nafsu makannya besar sekali) ketika Bast muncul di sebelahku. "Biasanya aku suka burung," katanya, "tapi makhluk itu menakutkan." "FRIIIK!" sahut Freak. Dia dan Bast saling mengamati seolah masing-masing sedang mengira-ngira seperti apa rasa satu sama lain untuk makan siang. Bast menghela napas. "Kau tidak akan memeliharanya, kan?" "Ya, dia tidak diikat atau apa," ujarku, "dia bisa pergi kalau mau. Kurasa dia suka di sini." "Bagus sekali," gumam Bast, "satu hal lagi yang mungkin membunuhmu ketika aku pergi." Menurutku, Freak dan aku cukup rukun, tetapi kurasa tak ada satu pun perkataanku yang bisa menenangkan Bast. Dia sudah mengenakan pakaian perjalanan. Di atas baju kulit macan tutul yang biasa dipakainya, dia mengenakan mantel hitam panjang yang diberi sulaman hieroglif pelindung. Ketika
dia bergerak, kain mantel itu berpendar, membuat Bast tampak timbul tenggelam dari penglihatan. "Berhati-hatilah," aku berkata kepadanya. Dia tersenyum. "Aku ini kucing, Carter. Aku bisa menjaga diri. Aku lebih khawatir mengenai dirimu dan Sadie selama aku pergi. Jika penglihatanmu benar dan penjara Apoph sudah sangat rapuh ...? Ya, aku akan kembali secepat mungkin." Tidak banyak yang bisa kukatakan untuk menyahut i itti penglihatanku benar, kami semua berada dalam masalah besar .Aku mungkin tak bisa dihubungi selama beberapa had, Bast, "temanku seharusnya sudah sampai di sini sebelum kau dan Sadie berangkat melakukan pencarian kalian besok. Dia akan memastikan kalian berdua tetap hidup." "Tak bisakah kau setidaknya memberitahukan namanya padaku?" Bast melemparkan tatapan entah geli atau gugup—mungkin keduanya. "Dia agak sulit dijelaskan. Lebih baik kubiarkan dia memperkenalkan dirinya sendiri." Setelah mengatakan itu, Bast mencium keningku. "Jagalah dirimu, Nak." Aku terlalu terpana untuk menanggapi. Kuanggap Bast sebagai pelindung Sadie. Aku hanyalah semacam tambahan. Namun, suaranya mengandung kasih yang sedemikian besar sampai-sampai wajahku mungkin merona. Dia berlari ke tepian atap dan melompat. Aku tidak mengkhawatirkannya, tentu saja. Aku cukup yakin dia bisa mendarat di atas kedua kakinya.
Aku ingin mempertahankan situasi senormal mungkin bagi para murid. Jadi, kujalankan pelajaran pagiku seperti biasa. Aku menamai pelajaran itu Pemecahan Masalah Sihir 101. Para siswa menyebutnya Apa Saja Asal Bisa.
Aku memberi mereka sebuah masalah. Mereka boleh memecahkannya dengan cara apa pun yang mereka mau. Setelah berhasil, mereka boleh pergi. Kurasa ini tidak terlalu mirip sekolah sungguhan, yang mengharuskan kita tetap tinggal hingga akhir hari sekolah bahkan meski kita hanya pura-pura sibuk, tetapi aku tidak pernah mengikuti sekolah sungguhan. Selama bertahun-tahun bersekolah di rumah bersama ayahku, aku belajar berdasarkan kecepatanku sendiri. Setelah menyelesaikan tugas hingga Ayah puas, hari sekolah pun berakhir. Sistem itu berhasil untukku, dan para murid sepertinya juga menyukainya. Aku juga mengira Zia Rashid akan setuju. Pertama kali Sadie dan aku berlatih bersama Zia, dia mengatakan kepada kami bahwa sihir tak bisa dipelajari dari ruang kelas dan buku teks. Kau hams mempelajari sihir dengan mempraktikkannya. Jadi, untuk Pemecahan Masalah Sihir 101, kami menuju ruang latihan dan meledakkan barang-barang. Hari ini ada empat siswa. Para murid yang lain akan pergi meneliti jalan sihir mereka sendiri, berlatih mantra, atau mengerjakan tugas sekolah biasa di bawah bimbingan murid-murid yang sudah duduk di perguruan tinggi. Sebagai pembimbing utama kami yang dewasa, sementara Amos tidak ada, Bast bersikeras agar kami selalu memutakhirkan pengetahuan semua orang dalam bidang-bidang reguler semacam matematika dan membaca, meski kadang kala dia menambahkan mata pelajaran pilihannya sendiri, seperti Mendandani Kucing Tingkat Lanjut, atau Tidur Siang. Sudah ada daftar tunggu murid-murid yang ingin mengikuti pelajaran Tidur Siang. Ruang latihan memenuhi sebagian besar lantai dua. Luasnya kira-kira sama dengan ukuran lapangan basket, dan kami memang menggunakan ruang latihan itu untuk bermain basket di malam hari. Lantainya terbuat dari papan kayu keras, patung-patung dewa berderet menghiasi dinding, dan pada langit-langit lengkungnya
terdapat gambar-gambar orang Mesir Kuno yang tengah berjalan miring seperti biasa. Di dinding batas lapangan, kami menaruh patung Ra yang berkepala elang tegak lurus dengan lantai, setinggi tiga meter, dan mencopot mahkota lingkaran mataharinya agar bisa kami gunakan sebagai keranjang bola basket. Barangkali agak kurang ajar—tetapi hei, jika Ra tidak punya selera humor, itu masalahnya sendiri. Walt sedang menungguku, bersama Julian, Felix, dan Alyssa. Jaz hampir selalu menghadiri sesi ini, tetapi tentu saja Jaz masih koma dan itu adalah masalah yang tidak seorang pun di antara kami tahu cara memecahkannya. Aku berusaha menampilkan wajah gum yang penuh percaya diri. "Baiklah, kawan-kawan. Hari ini kita akan mencoba simulasi pertempuran. Mari kita mulai dengan yang sederhana." Kukeluarkan empat patung shabti dari tasku dan kuletakkan di empat sudut ruangan yang berbeda. Aku menempatkan satu siswa di depan masing-masing shabti. Kemudian kuucapkan kata perintahnya. Keempat patung kecil itu membesar menjadi kesatria Mesir seukuran aslinya yang bersenjatakan pedang dan tameng. Mereka tidak begiturealistis. Kulit mereka terlihat seperti keramik mengilat, dan mereka bergerak lebih lambat daripada manusia sungguhan, tetapi mereka cukup bagus untuk pemula. "Felix?" panggilku, "jangan pakai penguin." "Awl ayolahr Felix percaya bahwa jawaban untuk semua masalah melibatkan penguin, tetapi itu tidak adil bagi burung-burung tersebut, dan aku bosan mengirim pulang hewan-hewan itu. Di suatu tempat di Antartika, serombongan Penguin Magellan rupanya tengah menjalani psikoterapi. "Mulair teriakku, dan pada shabti pun menyerang. Julian, anak kelas tujuh bertubuh besar yang sudah memutuskan mengambil jalan Horus, langsung memasuki medan pertempuran. Dia belum terlalu menguasai cara memanggil avatar
tempur, tetapi dia menyelubungi kepalan tangannya dengan energi keemasan seperti sebuah bola besi penghancur bangunan dan meninju si shabti. Shabti itu melayang mundur menghantam tembok, lalu hancur berantakan. Satu telah tumbang. Alyssa selama ini mempelajari jalan Geb, Dewa Bumi. Tidak seorang pun di Rumah Brooklyn menguasai sihir tanah, tetapi Alyssa jarang memerlukan bantuan. Dia tumbuh di tengah keluarga perajin tembikar di Carolina Utara dan telah bekerja dengan tanah hat sejak masih kecil. Dia menghindari ayunan tangan kikuk si shabti dan menyentuh punggungnya. Sebuah hieroglif menyala pada baju perang shabti yang terbuat dari tanah liat
Sepertinya tak ada sesuatu yang terjadi pada kesatria itu, tetapi ketika ia berbalik untuk menyerang, Alyssa hanya mematung di tempatnya. Aku sudah hendak meneriaki Alyssa agar menghindar, tetapi serangan shabti itu semuanya meleset. Belatinya menghantam lantai, dan si kestaria terhuyung. Ia menyerang lagi, mengayunkan senjatanya setengah lusin kali, tetapi belatinya tak pernah sekali pun menyentuh Alyssa. Akhirnya si kesatria berbalik sambil kebingungan dan terhuyung-huyung ke sudut ruangan, tempat ia menghantamkan kepala ke dinding dan gemetar hingga berhenti. Alyssa meringis ke arahku. "Sa-per," jelasnya, "hieroglif untuk Luputlah." "Hieroglif yang bagus," ujarku. Sementara itu, Felix menemukan solusi nonpenguin. Aku tidak tahu sihir jenis apa yang pada akhirnya akan menjadi
ganaS. Dia mengambil sebuah bola basket dari bangku, menunggu si shabti mengambil langkah, kemudian melambungkan bola itu ke kepala si shabti. Pengaturan waktunya tepat sekali. Si shabti kehilangan keseimbangan dan terjatuh, lengan pedangnya retak. Felix mendekat dan menginjak-injak shabti itu hingga hancur herkeping-keping. Dia menatapku dengan puas. "Kau kan tidak bilang kalau kami harus menggunakan sihir." "Cukup adil." Kucamkan dalam benakku untuk tidak bermain bola basket dengan Felix. Walt-lah yang paling menarik ditonton. Dia adalah seorang sau, pembuat jimat. Jadi, dia cenderung bertempur dengan benda sihir apa pun yang sedang dipegangnya. Aku tak pernah bisa menebak apa yang akan dilakukannya. Sementara mengenai jalan yang diambil, Walt masih belum memutuskan sihir dewa mana yang akan dipelajarinya. Dia adalah peneliti yang baik seperti Thoth, Dewa Pengetahuan. Dia bisa menggunakan gulungan papirus dan ramuan nyaris sebaik Sadie. Jadi, dia bisa saja memilih jalan Isis. Dia bahkan bisa juga mengambil jalan Osiris, karena Walt sangat alamiah dalam menghidupkan berbagai benda mati. Hari ini dia tidak terburu-buru, dia meraba jimat-jimatnya dan mempertimbangkan pilihan-pilihannya. Saat si shabti mendekat, Walt mundur. Jika Walt punya kelemahan, itu adalah kehati-hatiannya. Biasanya dia terlalu lama berpikir sebelum bertindak. Dengan kata lain, dia adalah kebalikan dari Sadie. [Jangan menonjokku, Sadie. Itu benarl] "Ayolah, Walt," panggil Julian, "cepat bunuh saja." "Kau bisa melakukannya," kata Alyssa. Walt meraih salah satu cincinnya. Kemudian dia melangkah mundur dan tersandung kepingan-kepingan shabti Felix yang hancur. Aku berteriak, "Awas!"
Namun, Walt terpeleset dan terjatuh dengan keras. Shabti lawannya bergegas maju, seraya mengayunkan pedangnya. Aku berlari untuk membantu, tetapi aku terlalu jauh. Tangan Walt sudah terangkat secara naluriah untuk menghalangi serangan. Mata pedang keramik yang telah disihir itu hampir setajam logam sungguhan . Benda itu seharusnya melukai Walt dengan cukup parah, tetapi Walt menggenggamnya, dan shabti itu pun ber geming. Di bawah jari-jari Walt, mata pedang itu berubah menjadi abu-abu dan dijalari retakan. Warna kelabu menyebar seperti embun beku di sekujur tubuh kesatria itu, dan si shabti pun remuk menjadi setumpuk debu. Walt tercengang. Dia membuka tangannya, yang tidak terluka sedikit pun. "Itu kerenl." kata Felix, "jimat apa itu?" Walt melemparkan tatapan gugup ke arahku dan aku tahu jawabannya. Itu bukan jimat. Walt juga tidak tahu bagaimana dia melakukannya. Itu saja sudah cukup menghebohkan untuk satu hari. Sungguh. Namun, keanehan itu ternyata hanya permulaan. Sebelum kami berdua sempat mengatakan apa-apa, lantai bergetar. Kupikir barangkali sihir Walt menyebar ke bangunan ini, yang pastinya bukan kabar bagus. Atau mungkin seseorang di bawah kami sedang bereksperimen dengan kutukan keledai meledak lagi. Alyssa memekik. "Teman-teman ...." Dia menunjuk pada patung Ra yang menjorok dari dinding, tiga meter di atas kami. Keranjang basket kami hancur. Awalnya aku tidak yakin apa yang sedang kulihat. Patung Ra itu tidak berubah menjadi debu seperti shabti. Benda itu pecah berantakan, jatuh ke lantai dalam bentuk kepingan-kepingan. Kemudian perutku serasa diremas-remas. Kepingan-kepingan itu bukan batu. Patung itu berubah menjadi kulit scarab.
Keping terakhir patung itu rontok, dan tumpukan kulit kumbang kotoran tersebut mulai bergerak. Tiga kepala ular uncul dari bagian tengah tumpukan itu. Aku tak keberatan memberi tahu kalian: aku panik. Kukira penglihatanku mengenai Apophis menjadi kenyata an persis ditempat itu dan saat itu juga. Aku terhuyung mundur begitu tepat sampai menabrak Alyssa. Satu-satunya alasan mengapa aku  tidak kabur dari ruangan itu adalah karena empat siswa scdauE menatapku untuk membantu mereka menenangkan diri. Itu tak mungkin Apophis, kataku pada diriku sendiri. Ular-ular itu bergerak keluar, dan kusadari mereka bukan la h tiga binatang yang berbeda. Hewan itu adalah seekor kobra yang berukuran raksasa dan berkepala tiga. Yang lebih aneh lagi, hewan itu membentangkan sepasang sayap yang menyerupai sayap elang. Tubuh makhluk itu sebesar kakiku. Tingginya nyaris sama dengan tinggiku, tetapi tidak cukup besar untuk menjadi Apophis. Matanya tidak menyala merah. Matanya seperti mata ular biasa, hijau dan menakutkan. Tetap saja dengan ketiga kepala menatap tepat ke arahku, aku tak bisa bilang aku merasa santai. "Carter?" Felix bertanya dengan gugup, "apakah ini bagian dari pelajaran?" Ular itu mendesis selaras dalam tiga bagian. Suaranya seperti berbicara di dalam kepalaku—dan terdengar persis seperti bau yang ada di Museum Brooklyn. Peringatan terakhir untukmu, Carter Kane, kata ular itu. Berikan gulungan itu padaku. Jantungku berhenti berdetak satu kali. Gulungan papirus itu—Sadie memberikannya padaku usai sarapan. Bodohnya aku—seharusnya aku menyimpannya di tempat terkunci, meletakkannya di salah satu ruangan kecil aman di perpustakaan, tetapi benda itu masih berada di dalam tas di bahuku. Kau ini apa? Aku bertanya kepada si ular.
"Carter." Julian mencabut pedangnya. "Haruskah kami menyerang?" Murid-muridku tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka mendengar ular itu atau aku bicara barusan. Alyssa mengangkat kedua tangannya seolah-olah dia siap menangkap bola. Walt memosisikan diri di antara ular dan Felix, sementara Felix mencondongkan badan ke samping untuk mengintip dari balik badan Walt. Serahkan gulungan itu padaku. Ular itu bergelung hendak menyerang, meremukkan kulit-kulit kumbang mati di bawah tubuhnya. Sayapnya membentang sedemikian lebar, sampai-sampai bisa membungkus kami semua. Hentikan pencarianmu, atau aku akan membinasakan gadis yang kau cari, persis sebagaimana aku membinasakan desanya. Aku berusaha menarik pedangku, tetapi kedua lenganku tak mau bergerak. Aku merasa lumpuh, seolah-olah tiga pasang mata itu telah melontarkanku ke dalam kondisi tidak sadarkan diri. Desanya, pikirku. Desa Zia. Ular tak bisa tertawa, tetapi desisan makhluk ini terdengar geli. Kau harus memilih, Carter Kane—gadis itu atau Ra. Hentikan pencarian bodohmu itu, atau tidak lama lagi kau akan menjadi kulit kering seperti kumbang-kumbang Ra. Kemarahan menyelamatkanku. Aku akhirnya berhasil mengatasi kelumpuhanku dan berteriak: "Bunuh!" persis pada saat ular itu membuka mulutnya, menyemburkan tiga lajur api. Aku membuat sebuah tameng sihir berwarna hijau untuk membelokkan api. Julian melemparkan pedangnya seperti melemparkan kapak. Alyssa membuat gerak isyarat dengan tangannya dan tiga buah patung batu terlontar dari dudukannya, melayang ke arah ular tersebut. Walt menembakkan secercah cahaya abu-abu dari tongkat sihirnya. Sementara Felix melepas sepatu kirinya dan melemparkannya ke arah si monster.
Pada saat itu, sungguh tidak enak rasanya menjadi ular tersebut. Pedang Julian memenggal salah satu kepalanya. Sepatu Felix mengenai kepala yang lain. Tembakan tongkat sihir Walt mengubah kepala ketiga menjadi debu. Kemudian patung-patung Alyssa menghantamnya, meremukkan mosnter itu di bawah 1 ton batu. Yang tersisa dari tubuh ular itu kemudian terurai menjadi  pasir  Ruangan itu mendadak sunyi. Keempat muridku memandangiku. Aku meraih ke bawah dan memungut salah satu kulit scarab. "Carter, itu bagian dari pelajaran, kan?" Tanya Felix, "katakan padaku itu bagian dari pelajaran." Aku memikirkan suara ular itu—suara yang sama dengan suara bau di Museum Brooklyn. Kusadari mengapa suara itu terdengar begitu akrab. Aku pernah mendengarnya sebelum ini pada pertempuran di Piramida Merah. "Carter?" Felix terlihat seperti akan menangis. Dia begitu sering membuat masalah sampai aku terkadang lupa dia barn berusia sembilan tahun. "Ya, cuma tes," dustaku. Aku menatap Walt, dan kami mencapai kesepakatan tanpa suara: Kita akan membicarakan hal ini nanti. Namun, pertama-tama, ada orang lain yang harus kutanyai. "Kelas dibubarkan." Aku berlari untuk mencari Amos. []



6.CARTER
TEMPAT MINUM BURUNG NYARIS MEMBUNUH KU
AMOS MEMBOLAK-BALIK KULIT KUMBANG ITU dengan jari-jarinya. "Ular berkepala tiga, katamu." Aku merasa bersalah karena telah menceritakan hal ini padanya. Dia sudah melewati begitu banyak hal sejak Natal. Kemudian akhirnya dia sembuh lalu pulang, dan bum—ada monster menyerbu ruang latihan kami. Namun, aku tidak tahu hams bicara pada siapa lagi. Aku agak menyesal Sadie tidak ada. [Baiklah Sadie, tidak usah terlalu senang. Aku tidak semenyesal itu kok.] "Ya," sahutku, "dengan sayap dan napas pelempar api. Pernah melihat hal semacam itu sebelumnya?" Amos meletakkan kulit kumbang itu di atas meja. Dia menyodok-nyodoknya, seolah berharap benda itu menjadi hidup. Kami hanya berdua di perpustakaan, situasi yang tidak biasa. Sering kali, ruangan bulat besar itu dipenuhi para murid yang berburu gulungan papirus di sepanjang jajaran ceruk kecil, atau mengirim shabti pengambil ke seluruh penjuru dunia untuk mengambil artefak, buku, atau piza. Gambar Geb si Dewa Bumi terlukis di lantai, tubuhnya dihiasi pepohonan dan sungai. Di atas
kami, Dewi Langit dengan kulit penuh bintang, Nut, terhampar di sepanjang langit-langit. Biasanya aku merasa aman di ruangan ini, terlindungi di antara dua dewa yang bersikap ramah pada kami di masa lalu. Namun, sekarang aku terus-menerus melirik pada shabti pengambil yang diletakkan di sekitar perpustakaan dan bertanya-tanya apakah benda itu akan terurai menjadi kulit kumbang atau memutuskan untuk menyerang kami. Akhirnya, Amos mengucapkan sebuah kata perintah: "A'max." Terbakarlah. Sebuah hieroglif kecil berwarna merah menyala di sekujur kulit scarab itu.
Kulit kumbang itu terbakar dan berubah menjadi gundukan kecil abu. "Sepertinya aku ingat sebuah lukisan," kata Amos, "di dalam makam Thutmose III. Lukisan itu menampilkan ular bersayap dan berkepala tiga seperti yang kau gambarkan. Tapi apa artinya ..." Dia menggelengkan kepala. "Ular bisa baik atau jahat dalam legenda Mesir. Hewan itu bisa merupakan musuh Ra, atau pelindungnya." "Yang ini jelas bukan sesosok pelindung," sahutku, "ia meng-inginkan gulungan itu." "Tapi ular itu punya tiga kepala, yang mungkin melambangkan tiga aspek Ra. Ia juga terlahir dari puing-puing patung Ra." "Ular itu bukan berasal dari Ra," aku bersikeras, "mengapa Ra ingin mencegah kita menemukannya? Lagi pula, aku mengenali suara ular itu. Itu suaramu—" aku menahan lidahku. "Maksudku itu suara anak buah Set di Piramida Merah—yang dirasuki oleh Apophis."
Mata Amos menjadi hampa. "Si Wajah Horor." Dia teringat. "Menurutmu Apophis bicara padamu melalui ular ini?" Aku mengangguk. "Kurasa dialah yang memasang perangkap itu di Museum Brooklyn. Dia bicara padaku melalui bau itu. Jika dia begitu kuat hingga bisa menyusup ke dalam rumah ini- “tidaak Carter. Bahkan meski kau benar, itu bukan Apophis sendiri.jika dia  sudah lobos dari penjaranya, itu akan menimbulkan riak di Mat yang begitu kuat sehingga semua penyihir pasti merasakannya .tapi merasuki pikiran anak buahnya, bahkan mengirim antek nya ke  tempat-tempat yang diberi perlindungan untuk pengantar  pesan—itu jauh lebih mudah. Kurasa ular itu tak sampai parah. Ia pasti sudah cukup lemah setelah menerobos pertahanan kita. Kemungkinan besar, ular itu dikirim untuk memperingatkanmu, dan menakutimu." "Ia berhasil," ujarku. Aku tidak bertanya pada Amos bagaimana dia bisa tahu begitu banyak soal kerasukan dan cara-cara Kekacauan. Peristiwa pengambilalihan tubuhnya oleh Set, Dewa Kejahatan, telah memberinya kursus kilat intensif mengenai hal semacam itu. Sekarang dia terlihat sudah kembali normal, tetapi aku tahu dari pengalamanku berbagi pikiran dengan Horus: sekali tubuh kita dihuni oleh dewa—entah dengan sengaja atau tidak—kau tidak akan pernah sama seperti dulu. Kau masih menyimpan kenangannya, bahkan sebagian jejak kekuatan dewa itu. Aku juga melihat warna sihir Amos telah berubah. Dulu warnanya biro. Sekarang ketika dia memanggil hieroglif, sihirnya berkilau merah—warna Set. "Aku akan memperkuat mantra-mantra di sekeliling rumah ini," Dia berjanji. "Sudah waktunya aku meningkatkan keamanan di rumah ini. Akan kupastikan Apophis tak bisa mengirimkan pesan lagi."
Aku mengangguk, tetapi janjinya tidak membuatku merasa  jauh lebih baik. Besok, jika Sadie pulang dengan selamat, kami akan pergi melakukan penyelidikan untuk mencari kedua gulungan  lain dari Kitab Ra. Tentu, kami selamat dari petualangan terakhir kami melawan Set, tetapi Apophis berada pada tingkatan yang sama sekali berbeda. Selain itu kami tidak lagi menjadi tubuh perantara para dewa. Kami hanyalah anak-anak, yang menghadapi penyihir jahat , iblis, monster, roh, dan Sang Penguasa Kekacauan yang abadi. di sisi lain, aku memiliki adik perempuan yang pemarah, pedant„ seekor babun, dan griffin yang mengalami gangguan kepribad la n. Aku tidak terlalu menyukai peluangnya. "Amos," kataku, "bagaimana jika kita salah? Bagaimana jika membangunkan Ra tidak ada gunanya?" Sudah lama sekali aku tidak melihat pamanku itu tersenyum. Dia tidak terlalu mirip ayahku, tetapi ketika tersenyum, dia memiliki kerutan yang sama di sekitar matanya. "Hei, lihat apa yang telah kau capai. Kau dan Sadie telah menemukan kembali jalan sihir yang sudah tidak dipraktikkan lagi selama ribuan tahun. Kau sudah membuat murid-muridmu menguasai lebih banyak hal dalam waktu dua bulan ketimbang yang akan dikuasai sebagian besar murid Nome Pertama dalam waktu dua tahun. Kalian bertempur dengan dewa-dewa. Kalian telah mencapai lebih banyak prestasi dibandingkan penyihir mana pun yang masih hidup—bahkan aku, bahkan Michel Desjardins. Percayai nalurimu. Jika aku ini pejudi, uangku akan selalu kupertaruhkan untukmu dan adikmu." Serasa ada gumpalan di tenggorokanku. Aku sudah tidak pernah mendapat kata-kata pembangkit semangat seperti itu sejak Ayah masih hidup, dan kurasa aku tidak menyadari betapa aku memerlukannya. Sayangnya, mendengar nama Desjardins mengingatkanku bahwa kami punya persoalan lain selain Apophis. Begitu kami
memulai pencarian, seorang tukang sihir Rusia penjual es krim bernama Vlad si Bengek akan mencoba membunuh kami. Dan jika Vlad adalah penyihir terkuat nomor tiga di dunia "Siapa yang kedua?" Tanyaku. Amos mengerutkan kening. "Apa maksudmu?" "Kau bilang orang Rusia ini, Vlad Menshikov, adalah penyihir terkuat ketiga yang masih hidup. Desjardins adalah yang terkuat. Jacli siapa yang kedua? Aku ingin tahu apakah kita harus  mewaspadai musuh lain. gagasan itu sepertinya membuat Amos geli. "Jangan k hawatirkan soal itu. Dan bagaimanapun hubungan kalian di masa la lu dengan Desjardins, aku berani mengatakan bahwa dia bukan benar-benar musuh kita." "Katakan itu kepadanya," gumamku. "Sudah, Carter. Kami sudah bicara beberapa kali ketika aku masih di Nome Pertama. Kukira apa yang telah dicapai olehmu dan Sadie di Piramida Merah sangat mengguncangnya. Dia tahu dia tidak mungkin mengalahkan Set tanpamu. Dia masih tidak setuju denganmu, tetapi jika kita punya waktu lagi, aku mungkin bisa meyakinkannya ...." Hal itu terdengar sama mungkinnya dengan Apophis dan Ra menjadi teman di Facebook, tetapi kuputuskan untuk tidak mengatakan apa-apa. Amos menyapukan tangan di atas permukaan meja dan mengucapkan mantra. Sebuah holograf Ra berwarna merah muncul—replika mini dari patung di ruang latihan. Dewa Matahari itu terlihat seperti Horus: pria berkepala elang. Namun, tidak seperti Horus, Ra mengenakan lingkaran matahari sebagai mahkota dan memegang tongkat gembala—tongkat bengkok yang tampak seperti kait—serta cambuk perang—dua simbol firaun. Dia mengenakan jubah, alih-alih pakaian perang, duduk dengan tenang dan penuh keagungan di atas singgasananya, seolah-olah
senang menyaksikan yang lain bertempur. Sosok dewa itu terlihat aneh dalam warna merah, berkilauan dengan warna kekacauan . "Ada hal lain yang harus kau pertimbangkan ," Amos memperingatkan, "aku tidak mengatakan ini untuk hatimu, tetapi kau bertanya mengapa Ra mungkill menghalangimu membangunkannya. Kitab Ra di pecah –pecah  karena suatu alasan. Kitab itu sengaja dibuat sulit di temukan .jadi, hanya yang layak yang akan berhasil. Kau harus memperkira kan adanya kesulitan dan rintangan dalam pencarianmu.kedua  gulungan yang lain setidaknya sama terlindungnya dengan yang pertama. Kau juga hams bertanya pada dirimu sendiri: Apa yang terjadi jika kau membangunkan dewa yang tidak ingin dibangunkan?" Pintu perpustakaan terbanting membuka, dan aku nyaris terlonjak dari kursiku. Cleo dan tiga gadis lain masuk, sambil mengobrol dan tertawa sementara tangan mereka penuh dengan gulungan papirus. "Ini dia kelas risetku." Amos menjentikkan jari dan holograf Ra pun menghilang. "Kita akan bicara lagi, Carter, mungkin setelah makan siang." Aku mengangguk, meski saat itu aku sudah curiga kami tidak akan sempat merampungkan percakapan kami. Ketika aku menengok dari pintu perpustakaan, Amos sedang menyampaikan salam pembuka pada para murid, seraya menyeka abu kulit scarab dari meja dengan santai.
Aku tiba di kamarku dan menemukan Khufu sedang tidur-tiduran di ranjang, sambil memindah-mindah saluran olahraga. Dia mengenakan kaos Lakers favoritnya, dan menaruh semangkuk Cheetos di perutnya. Sejak para murid berdatangan, Aula Besar menjadi terlalu ramai bagi Khufu untuk menonton TV dengan tenang. Jadi, dia memutuskan untuk menjadi teman sekamarku.
Kurasa itu adalah pujian, tetapi berbagi tempat dengan seekor babun tidaklah mudah. Menurutmu bulu anjing dan kucing sering rontok? Cobalah melepaskan bulu monyet dari pakaianmu. "Apa kabar?" Tanyaku. "Agh!" Bisa di bilang hanya itulah  yang selalu dia ucapkan. "Bagus," kata ku kepadanya "aku mau ke balkon." Di luar, udara masih dingin dan berhujan. Angin dari East River pasti membuat penguin Felix menggigil kedinginan, tetapi aku tidak keberatan. Untuk pertama kalinya sejak hari itu, aku akhirnya bisa sendirian. Sejak murid-murid kami datang ke Rumah Brooklyn, aku merasa seperti selalu berada di atas panggung. Aku harus berlagak percaya diri bahkan ketika aku menyimpan keraguan. Aku tak bisa marah-marah pada siapa pun (ya, kecuali pada Sadie sesekali) dan ketika situasi kacau, aku tak bisa mengeluh terang-terangan. Anak-anak lain telah datang jauh-jauh untuk berlatih bersama kami. Banyak di antara mereka yang bertempur dengan monster atau penyihir dalam perjalanan mereka. Aku tidak bisa mengakui bahwa aku tak tahu apa yang kulakukan, atau bertanya-tanya dengan lantang apakah jalan para dewa ini akan menewaskan kami semua. Aku tak bisa mengatakan, Nah karena sekarang kalian sudah di sini, mungkin ini bukan gagasan yang bagus. Namun, sering kali seperti itulah perasaanku. Dengan adanya Khufu di kamarku, balkon adalah satu-satunya tempat aku bisa bermuram durja seorang difi. Aku menatap ke seberang sungai, ke arah Manhattan. Pemandangannya sangat indah. Ketika Sadie dan aku pertama kali tiba di Rumah Brooklyn, Amos memberi tahu kami bahwa para penyihir berusaha menghindar dari Manhattan. Dia bilang Manhattan punya masalah-masalah lain—apa pun maksudnya. Kadang-kadang ketika aku memandang ke seberang sungai, aku bersumpah aku melihat macam-macam hal. Sadie menertawakanku,
tetapi aku pernah mengira melihat seekor kuda terbang. Mungkin itu hanya ilusi optik yang ditimbulkan oleh perisai sihir di rumah ini, tetapi tetap saja aneh. Aku mengalihkan perhatian ke arah satu-satunya perabotan  di balkon: mangkuk pemantauku. Benda itu terlihat seperti  tempat minum burung—hanya sebuah pinggan perunggu di atas  dudukan batu—tetapi itu adalah benda sihir favorit ku membuatkannya untukku persis setelah dia tiba di sini. Suatu hari, aku mengatakan betapa asyiknya kalau bias mengetahui apa yang sedang berlangsung di nome-nome lain, ( dia membuatkanku mangkuk ini. Aku pernah melihat murid-murid menggunakannya di Nome Pertama, tetapi benda itu selalu terlihat cukup sulit untuk dikuasai. Untungnya, Walt ahli membuat benda sihir. Jika mangkuk pemantauku diibaratkan mobil, maka is adalah mobil Cadillac, dengan setir daya,transmisi otomatis, dan penghangat pantat. Yang harus kulakukan hanyalah mengisinya dengan minyak zaitun yang bersih dan mengucapkan kata perintah. Mangkuk itu akan memperlihatkan apa saja padaku, selama aku bisa nemvisualisasikannya dan yang ingin kulihat tidak ditamengi sihir. Tempat-tempat yang tak pernah kudatangi sulit untuk dilihat. Orang-orang atau tempat-tempat yang pernah kulihat secara langsung atau yang sangat berarti bagiku—hal-hal seperti itu biasanya mudah untuk dilihat. Aku sudah ratusan kali mencari Zia tanpa hasil. Yang kutahu hanyalah: mentor lama Zia, Iskandar, telah menggunakan sihir untuk menidurkannya dan menyembunyikannya di suatu tempat, dia juga menggantikan Zia dengan sesosok shabti untuk mengamankannya, tetapi aku tidak tahu di mana Zia yang asli tertidur. Aku mencoba hal baru. Kusapukan tanganku di atas mangkuk dan kubayangkan Tempat Pasir Merah. Tidak terjadi apa-apa. Aku belum pernah ke sana, tak tahu seperti apa tempat itu selain
kemungkinan bahwa tempat itu berwarna merah dan berpasir. Minyak zaitun hanya memperlihatkan pantulan diriku sendiri. Baiklah. Jadi, aku tak bisa melihat Zia. Aku melakukan hal terbaik nomor dua. Aku berkonsentrasi pada kamar rahasianya di Nome Pertama. Aku baru sekali berada di sana, tetapi aku mengingat setiap detailnya. Di situlah pertama kalinya aku merasa dekat dengan Zia. Permukaan minyak itu beriak dan menjadi pengumpan video magis. Tak ada yang berubah di kamar itu. ajaib masih menyala di atas meja kecil. Dinding-dindingnya dipenuhi foto Zia—foto-foto desa keluarganya di dekat sungai Nil, ibu dan ayahnya, Zia saat masih kecil. Zia pernah bercerita padaku bagaimana ayahnya menemukan sebuah relik Mesir dan secara tidak sengaja melepaskan monster ke desa mereka. Para penyihir datang mengalahkan monster tersebut, tetapi seluruh desa telah hancur. Hanya Zia, yang disembunyikan oleh orangtuanya, yang selamat. Iskandar, Ketua Lector yang lama, membawanya ke Nome Pertama dan melatih Zia. Dia sudah seperti ayah bagi Zia. Kemudian, Natal silam, dewa-dewa dilepaskan di British Museum. Salah satu di antara mereka—Nephthys—telah memilih Zia sebagai tubuh perantaranya. Menjadi "titisan dewa" bisa diganjar dengan hukuman mati di Nome Pertama, entah kita sengaja atau tidak menjadi tubuh perantara roh dewa. Jadi, Iskandar menyembunyikan Zia. Dia mungkin bermaksud membawa Zia kembali setelah membereskan situasi, tetapi dia meninggal dunia sebelum hal itu terjadi. Jadi, Zia yang kukenal adalah replika, tetapi aku hams percaya bahwa si shabti dan Zia yang ash berbagi pikiran. Di mana pun Zia yang ash berada, dia akan mengingatku jika dia bangun. Dia pasti tahu kami memiliki ikatan—mungkin awal dari hubungan yang baik. Aku tak bisa menerima bahwa aku telah jatuh cinta
pada sesosok tembikar. Dan aku jelas tak bisa menerima bahwa menolong Zia berada di luar kemampuanku. Aku berkonsentrasi pada bayangan di dalam minyak. Kuperbesar sebuah foto Zia yang sedang digendong di ayahnya. Dia masih kecil di dalam foto itu, tetapi kau pati bisa menebak bahwa dia akan menjadi cantik setelah besar nanti Rambut hitamnya yang berkilau dipotong pendek, seperti ketika  aku mengenalnya. Kedua matanya berwarna kuning gading cemerlang. Sang fotografer menangkapnya saat sedang tertawa, seraya berusaha menutup mata ayahnya dengan kedua tangan. Senyumnya memancarkan kenakalan yang jenaka. Aku akan membinasakan gadis yang kau can, kata ular berkepala tiga itu, persis sebagaimana aku membinasakan desanya. Aku yakin maksudnya adalah desa Zia. Namun, apa kaftan serangan enam tahun silam dengan kebangkitan Apophis sekarang? Jika itu bukan sekadar kecelakaan acak—jika Apophis memang berniat menghancurkan rumah Zia—lalu apa alasannya? Aku harus menemukan Zia. Ini bukan persoalan pribadi lagi. Entah bagaimana dia terkait dengan pertempuran melawan Apophis nanti. Jika peringatan ular itu benar—jika aku hams memilih antara menemukan Kitab Ra dan menyelamatkan Zia? Ya, aku sudah kehilangan ibuku, ayahku, dan kehidupan lamaku demi menghentikan Apophis. Aku tak mau kehilangan Zia juga. Ketika aku sedang merenungkan sekeras apa Sadie akan menendangku jika dia mendengarku mengatakan itu, seseorang mengetuk pintu kaca balkon. "Hei." Walt berdiri di ambang pintu, sambil memegang tangan Khufu. "Ehm, kuharap kau tidak keberatan. Khufu mengizinkanku masuk." "Aghl" Khufu membenarkan. Dia memimpin Walt keluar, kemudian melompat ke atas pagar terali, tidak menghiraukan jurang setinggi 30 meter yang menuju ke sungai di bawahnya.
"Tidak masalah," ujarku. Aku toh tidak punya pilihan. Khufu sangat menyukai Walt, barangkali karena dia lebih pandai bermain basket daripada aku. Walt iliellgangguk ke arah mangkuk pemantau. "Bagaimana benda itubekerja  dengan baik?" Gamha Lamar Zia masih berpendar-pendar dalam minyak. Kuayunkan tanganku  di atas mangkuk dan mengubahnya menjadi hal lain .karna aku sedang berpikir mengenai Sadie, aku memilih ruang tamu  kakek, dan Nenek.bekerja dengan baik  , kok." Aku kembali menghadap Walt. '" untuk suatu alas an, tubuhnya menegang. Dia menatap-ku seolah aku menyudutkannya. "Apa maksudmu?" "Kejadian didi ruang belajar ular berkepala tiga. Kau pikir apa yang kumaksud? Otot-otot di leher mengendur . "Benar maaf, cuma pagi yang aneh. Apa Amos punva pen jelasan?" Aku bertanya-tanya alga perkataanku yang mengganggunya, tetapi kuputuskan untuk nu nihiarkannya saja. Kuberi tahu dia mengenai percakapanku dengan Amos. Walt biasanya cukup tenang menghadapi berbagai hal.dia  pendengar yang baik. Namun, dia masih tampak waspada, tegang. Ketika aku selesai bicara, dia melangkah ke arah kisi-kisi tempat Khufu bertengger. "Apophis melepaskan makhluk itu di rumah ini? Jika kita tidak menghentikannya—" "Menurut Amos kekuatan ular itu tidak terlalu hebat. Ia ke sini hanya untuk menyampaikan pesan dan menakut-nakuti kita." Walt menggeleng-gelengkan kepala dengan risau. "Ya sekarang is tahu kemampuan kita, kurasa. Ia tahu Felix bisa melempar sepatu dengan sangat keras." Mau tak mau aku tersenyum. "Ya. Hanya saja bukan masalah kemampuan yang kupikirkan. Sinar abu-abu yang kau tembakkan


pada ular itu ….. dan caramu menangani shabti boneka untuk latihan itu, mengubahnya menjadi debu—" "Bagaimana aku melakukannya?" Walt mengangkat bahu  tanpa daya. "Sejujurnya, Carter, aku tidak tahu..aku sudah  memikirkannya terus-menerus, dan itu muncuI secara naluriah. Awalnya kupikir mungkin shabti itu punya semacam mantra  penghancuran diri yang terpasang di dalamnya, dan tanpa aku memicunya. Kadang-kadang aku bisa melakukan itu dengan benda sihir—mengaktifkan atau mematikan mereka." "Tapi itu tidak menjelaskan bagaimana kau melakukannya pada si Ular." "Memang tidak," dia sepakat. Dia tampaknya lebih terusi oleh peristiwa itu daripada aku. Khufu mulai memberi perawatan pada rambut Walt, mencarikan kutu, dan Walt bahkan tidak berusaha menghentikannya. "Walt ...." Aku ragu-ragu, tidak ingin mendesaknya. "Kemam-puan barn ini, mengubah benda-benda menjadi debu—tidak ada hubungannya dengan kau tahu, apa pun yang kau sampaikan pada Jaz waktu itu?" Muncul lagi: raut wajah seperti hewan dalam kurungan. "Aku tahu," lanjutku cepat-cepat, "itu sama sekali bukan urusanku. Tapi akhir-akhir ini kau tampak galau. Jika ada yang bisa kulakukan ...." Walt menatap sungai. Dia tampak begitu sedih, sampai Khufu mengeluarkan bunyi gerutuan dan menepuk-nepuk bahunya. "Terkadang aku bertanya-tanya mengapa aku datang ke sini," kata Walt. "Apa kau bercanda?" Tanyaku, "kau penyihir yang hebat. Salah satu yang terbaikl. Kau punya masa depan di sini." Dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya—salah satu kumbang kering dari ruang latihan. "Terima kasih. Tapi sepertinya waktunya tidak tepat seperti lelucon yang gagal. Situasiku rumit, Carter. Dan masa depan ………entahlah."
Aku punya perasaan dia membicarakan sesuatu di luar tenggat waktu empat hari kami untuk menyelamatkan dunia. "Dengar, kalau ada masalah ...," kataku, "jika ada hubungannya dengan cara  aku dan Sadie mengajar—" tentu saja bukan. Kau hebat. Sementara Sadie—" dia sangat menyukaimu," ujarku, "aku tahu dia kadang terlalu bersemangat melakukan pendekatan. Jika kau ingin dia mundur
[Balklah, Sadie. Mungkin seharusnya aku tidak mengatakan it ti. Namun, kau sangat kentara bila menyukai seseorang. Aku berpikir itu mungkin membuat a nak ini merasa tidak nyaman.] Walt malah tertawa. "Bukan, tidak ada hubungannya dengan Sadie. Aku juga menyukainya. Aku hanya—" "Agh!." Khufu berseru begitu keras, sampai aku terlompat. Babun itu memamerkan taringnya. Aku menoleh dan menyadari bahwa dia menggeram ke arah mangkuk pemantau. Pemandangannya masih ruang tamu Kakek dan Nenek. Namun, saat kuperhatikan lebih cermat, kusadari ada sesuatu yang salah. Lampu dan TV tidak menyala. Sofa terjungkir. Ada rasa seperti logam dalam mulutku. Aku berkonsentrasi, berusaha mengubah gambar sampai bisa melihat pintu depan. Pintu itu hancur berkeping-keping. "Ada masalah apa?" Walt datang ke sampingku. "Apa itu?" "Sadie ...." Kufokuskan seluruh kekuatan batinku untuk menemukannya. Aku sangat mengenalnya sehingga biasanya aku dapat menemukan Sadie seketika, tetapi kali ini minyak itu berubah hitam. Rasa sakit yang tajam menusuk di balik mataku, dan permukaan minyak itu meledakkan nyala api. Walt menarikku mundur sebelum wajahku terbakar. Khufu menyalak dengan khawatir dan menjatuhkan mangkuk itu hingga meluncur ke East River. "Apa yang terjadi?" Walt bertanya, "aku tak pernah melihat sebuah mangkuk melakukan—"


"Portal ke London." Aku terbatuk-batuk, lubang hidungku perih terkena minyak zaitun yang terbakar. "Yang terdekat. Sekarangl" Walt tampaknya mengerti. Raut wajahnya mengeras penuh tekad. "Portal kita masih dalam pendinginan. Kita harus  kembali ke Museum Brooklyn." "Griffin," ujarku. "Ya. Aku juga ikut." Aku berbalik ke arah Khufu. "Beni tahu Amos kami pergi. Sadie dalam masalah. Tak ada waktu untuk menjelaskan." Khufu menggeram dan melompat langsung ke samping balkon—menggunakan lift ekspres untuk turun. Walt dan aku melesat keluar dari kamarku, bergegas menaiki tangga menuju atap.


7.SSADIE
HADIAH DARI COWOK BERKEPAA ANJING

YA, KAU SUDAH CUKUP LAMA bicara, kakak tersayang. Saat kau mengoceh, semua orang membayangkan aku membeku di ambang pintu apartemen Kakek dan Nenek, berteriak "AAAHHH!" Dan fakta bahwa kau serta Walt langsung pergi ke London, mengira aku perlu diselamatkan—dasar laki-lakil Ya, baiklah. Aku memang perlu bantuan. Namun, bukan itu intinya. Kembali ke ceritaku: aku barn saja mendengar ada suara mendesis dari lantai atas: "Selamat datang kembali di rumah, Sadie Kane." Tentu saja, aku tabu ini buruk. Kedua tanganku kesemutan seolah aku bare saja memasukkan jemari ke dalam stop kontak. Aku berusaha memanggil tongkat sihir dan tongkatku, tetapi seperti yang mungkin telah kusinggung sebelumnya, aku payah dalam mengambil barang-barang dari Duat dalam waktu singkat. Aku mengutuk diri karena datang tanpa persiapan—tetapi sungguh, aku tidak mungkin mengenakan piama linen dan membawa-bawa tas sihir untuk jalan-jalan malam hari di kota bersama teman-temanku kan?
Aku mempertimbangkan untuk lari, tetapi Kakek dan Nenek mungkin berada dalam bahaya. Aku tak bisa pergi tanpa me-mastikan mereka baik-baik saja. Tangga berderak. Di bagian puncaknya, kelima sehelai  gaun berwarna hitam muncul, bersama dua kaki bersandall yang tidak  seperti kaki manusia. Jari-jari kakinya berbonggol-bnggol dan  berbulu unggas, dengan kuku yang sangat panjang seperti .cakar burung. Saat perempuan itu turun dan terlihat seutuhnya, mengeluarkan suara mengerang yang sangat tidak sopan. Dia terlihat seperti berusia seratus tahun, bungkuk dan kurus kering. Wajahnya, cuping telinganya, dan lehernya digantungi lipatan-lipatan kulit merah muda yang keriput, seolah-olah dia meleleh di bawah lampu ultraviolet. Hidungnya berbentuk paruh yang menggantung. Kedua matanya berkilat-kilat di dalam rongganya yang amat cekung, dan dia nyaris botak—hanya ada beberapa berkas rambut hitam berminyak seperti rumput liar yang tumbuh di kulit kepalanya yang tidak rata. Namun, pakaiannya benar-benar mewah. Warnanya hitam pekat, halus, dan berukuran besar seperti mantel bulu yang terlalu besar enam ukuran. Saat dia melangkah ke arahku, bahan gaun itu bergerak, dan kusadari bahwa itu bukan bulu binatang biasa. Gaun itu terbuat dari bulu burung berwarna hitam. Kedua tangannya menyembul dari lengan bajunya—jari-jarinya yang seperti cakar memberi isyarat agar aku maju. Senyumnya menampakkan gigi-gigi yang seperti pecahan kaca. Sudahkah aku menyebutkan tentang baunya? Bukan sekadar bau orang tua—bau orang tua yang sudah mati. "Aku telah menunggumu," kata wanita tua itu, "untunglah, aku sangat sabar." Aku menggapai-gapai udara untuk mengambil tongkatku. Tentu saja, aku tidak berhasil. Tanpa Isis di dalam kepalaku, aku tak bisa begitu saja mengucapkan kata-kata berkekuatan lagi. Aku hams mengambil peralatanku. Satu-satunya kesempatanku adalah
mengulur waktu dan berharap aku bisa cukup berkonsentrasi supaya bisa mengakses Duat. "Siapa kau?" tanyaku, "di mana kakek nenekku?" Wanita tua itu mencapai dasar tangga. Dan jarak dua meter, gaun bulu burungnya tampak dihiasi serpihan-serpihan astaga, apakah itu serpihan daging? "Tidakkah kau mengenaliku, Sayang?" Sosoknya berkedip-kedip. Gaunnya berubah menjadi daster bunga-bunga. Sandalnya enjadi selop hijau berbulu halus. Rambutnya ikal kelabu, matanya biru muda dan ekspresinya seperti seekor kelinci yang kaget. Wajah Nenek. "Sadie?" Suaranya terdengar lemah dan bingung. "Nenek " Sosoknya berubah kembali menjadi wanita tua berbaju hitarn, wajah lelehnya yang mengerikan menyeringai jahat. "Ya, sayang. Bagaimanapun juga, dalam keluargamu mengalir darah firaun—tubuh perantara yang sempurna untuk dewa-dewa. Tapi jangan membuatku memaksakan diri. Jantung nenekmu sudah tidak seperti dulu lagi." Seluruh tubuhku mulai gemetar. Aku sudah pernah melihat peristiwa kerasukan sebelumnya, dan selalu menakutkan. Namun, ini—gagasan bahwa seorang wanita tua Mesir mengambil alih tubuh nenekku yang malang—ini mengerikan. Jika dalam tubuhku mengalir darah firaun, maka darah itu pelan-pelan berubah menjadi es. "Jangan ganggu Aku berniat untuk berteriak, tetapi aku takut suaraku lebih menyerupai pekikan ketakutan. "Keluarlah dari tubuhnyal" Wanita tua itu terkekeh. "Oh, aku tak bisa melakukan itu. Begini, Sadie Kane, sebagian dari kami meragukan kekuatanmu." "Sebagian dari siapa—para dewa?" Wajahnya beriak, sekejap berubah menjadi kepala seekor burung yang mengerikan, botak dan merah muda bersisik dengan
paruh panjang dan tajam. Kemudian dia berubah kembali menjadi wanita tua yang menyeringai. Aku sungguh-sungguh berharap dia menetapkan pilihan. "Aku tidak berkeberatan dengan yang kuat, Sadie kane .di , masa lalu, aku bahkan melindungi firaun jika dia dirinya pantas untuk itu. Tapi yang lemah ……..ah, begitu mereka berada di bawah bayangan sayapku, aku tak pernahmelepaskan mereka. Aku menunggu mereka mati. Aku menunggu untuk  memakannya. Dan menurutku, sayangku, kau akan menjadi makananku yang berikutnya." Aku menempelkan punggung ke pintu. "Aku tahu siapa kau," dustaku. Dengan panik aku memeriksa daftar dewa-dewa Mesir dalam benakku, berusaha menempatkan wanita tua itu. Aku masih belum sebaik Carter dalam mengingat nama-nama aneh itu [Bukan, Carter. Itu bukan pujian. Itu hanya berarti kau lebih aneh dariku]. Namun, setelah berminggu-minggu mengajar murid-murid kami, aku mengalami kemajuan. Nama mengandung kekuatan. Jika aku bisa mengetahui nama musuhku, itu langkah pertama yang bagus untuk mengalahkannya. Burung hitam menyeramkan Burung yang makan bangkai Tanpa kunyana, aku benar-benar mengingat sesuatu. "Kau Dewi Burung Bangkai," Aku berkata dengan penuh kemenangan, "nekhbet, kan?" Si wanita tua menggeram. "Nekhbet!" Baiklah, sudah mendekati. "Tapi seharusnya kau ini dewi yang bailer aku memprotes. Si dewi membentangkan kedua lengannya. Kedua lengan itu berubah menjadi sayap—bulu-bulu hitam kusut yang dipenuhi dengungan lalat dan menguarkan aroma kematian. "Burung bangkai itu sangat baik, Sadie Kane. Kami menyingkirkan mereka yang sakit-sakitan dan lemah. Kami mengitari mereka hingga mereka mati, kemudian memakan bangkai mereka, membersihkan dunia ini dari bau busuk mereka. Di lain pihak, kau hendak membawa
kembali Ra, bangkai Dewa Matahari yang tua dan kisut itu. Kau akan menempatkan seorang firaun lemah di atas takhta para dewa. Itu bertentangan dengan kehendak clam? Hanya yang kuat yang semestinya hidup. Yang mati seharusnya menjadi santapan." Napasnya herbau seperti bangkai hewan yang mati tertabrak. Sungguh makhluk yang memuakkan, burung bangkai itu: tidak diragukan lagi burung yang paling menjijikkan. Kurasa mereka memang inemenuhi tujuan mereka, tetapi haruskah mereka begitu berbinyak dan buruk rupa? Tidak bisakah kelinci-kelinci mint berbulu lembut saja yang membersihkan bangkai hewan yang ditabrak? "Baik, " ujarku, "Pertama-tama, keluarlah dari tubuh nenekku. Lalu, jika kau adalah burung bangkai yang baik, akan kubelikan penyegar napas aroma mint." Ini pasti topik yang menyakitkan bagi Nekhbet. Dia menyerangku. Aku menghindar ke samping, berusaha memanjat sofa dan membuatnya terjungkir dalam prosesnya. Nekhbet menyapu koleksi keramik Nenek dari bufet. "Kau akan mati, Sadie Kane!." ujarnya, "aku akan mematuki tulang-belulangmu hingga bersih. Kemudian dewa-dewa yang lain akan melihat bahwa kau tidak pantas diperhatikanl" Aku menunggu serangan lain, tetapi dia hanya memandangiku dengan marah dari balik sofa. Kusadari bahwa burung bangkai biasanya tidak membunuh. Mereka menunggu mangsanya mati. Sayap Nekhbet memenuhi ruangan. Bayangannya menimpaku, menyelimutiku dalam kegelapan. Aku mulai merasa terperangkap, tidak berdaya, seperti seekor hewan kecil yang sakit-sakitan. Kalau aku belum pernah menguji tekadku melawan dewa-dewa sebelumnya, aku mungkin tidak akan mengenali hal ini sebagai sihir desakan tanpa henti di sudut benakku, mendorongku untuk menyerah dalam keputusasaan. Namun, aku sudah berhadapan dengan banyak dewa mengerikan dari dunia bawah tanah. Aku bisa menangani seekor burung tua berminyak.
"Usaha yang bagus," ujarku, "tapi aku tidak akan membaringkan diri lalu mati." Mata Nekhbet berkilat-kilat. "Barangkali perluwaktu beberapa saat, Sayang, tetapi seperti yang telah kukatakan padamu ,aku ini sabar. Jika kau tidak mau menyerah, teman-teman manusimu akan datang tidak lama lagi. Siapa nama mereka—liz dan emma?"Jangan libatkan mereka dalam hal ini" "Ah, mereka akan menjadi hidangan pembuka yang enak.dan  kau bahkan belum menyapa kakekmu tersayang." Darah menderu di telingaku. "Di mana dia?" Desakku. Nekhbet melirik ke arah langit-langit. "Oh, dia akan bergabli nr, tidak lama lagi. Kami burung bangkai senang mengikuti predator besar ke mana-mana, kau tahu, dan menunggunya melakukan pembunuhan." Dan lantai atas kudengar suara dentaman sayup-sayup—seolah-olah sebuah perabot berukuran besar dilemparkan keluar dari jendela. Kakek berteriak, "Tidak! Tida-a-a-a-k!" Kemudian suaranya berubah menjadi raungan seekor hewan liar. "TIDAAAAAHHH!." Sisa keberanian terakhirku meleleh ke dalam combat boots-ku, "A-apa—" "Ya," kata Nekhbet, "Babi sudah bangun." "B-bobby? Kalian punya dewa bernama Bobby?" "B-A-B-I," si Dewi Burung Bangkai menggeram, "kau benar-benar dungu, ya, Sayang?" Plester langit-langit retak akibat beban langkah-langkah kaki yang berat. Sesuatu tengah berjalan dengan langkah berat menuju tangga. "Babi akan membereskanmu," Nekhbet berjanji, "dan nanti akan banyak sisa untukku." "Selamat tinggal," ujarku, dan aku melesat menuju pintu. Nekhbet tidak berusaha menghentikanku. "Perburuanl. Bagus

Aku berhasil menyeberang jalan ketika pintu depan kami meledak. Saat menengok ke belakang, aku melihat sesuatu muncul dari puing-puing dan debu—sosok gelap berbulu yang jauh terlalu besar untuk menjadi kakekku. Aku tidak menunggu agar bisa melihat lebih jelas. Aku bergegas membelok di sudut South Colonnade dan menabrak Liz dan Emma dengan keras. "Sadie?" pekik Liz, menjatuhkan sebuah kado ulang tahun. "Ada apa?" "Tidak ada waktu?" sahut k tis "ayol " "Senang bertemu dengan mit juga," gerutu Emma, "dari mana kau lari terbirit-birit—" Makhluk di belakangku menggerung, cukup dekat sekarang. "Kujelaskan nanti, " ujarku, "kecuali kalian ingin dirobek-robek oleh dewa bernama Bobby, ikuti aku?"
Saat kuingat lagi kejadian itu, aku menyadari betapa payah ulang tahun yang kudapat, tetapi saat itu aku terlalu panik untuk mengasihani diri dengan sepantasnya. Kami lari menyusuri South Colonnade, raungan di belakang kami nyaris teredam oleh keluhan Liz dan Emma. "Sadie!" kata Emma, "apa ini salah satu leluconmu?" Dia sudah sedikit bertambah tinggi, tetapi masih tampak tidak jauh berbeda, dengan kacamatanya yang berkilat-kilat dan kebesaran serta rambut pendek tegak. Dia mengenakan rok mini kulit berwarna hitam, jumper halus berwarna merah muda, dan sepatu tebal menggelikan yang membuatnya tidak terlalu bisa berjalan, apalagi berlari. Siapa penyanyi rock 'n' roll flamboyan tahun '70-an—Elton John? Jika dia punya anak keturunan India, dia mungkin terlihat seperti Emma. "Ini bukan lelucon," kataku meyakinkan, "demi tuhan, lepas sepatumu itu?"

Emma terperangah. "Kau tahu berapa harga sepatu ini?" "Sunggguh, Sadie," Liz menambahi, " kemana kau mau menyeret kami?" Pakaian Liz lebih masuk akal, jins dan sepatu kets berwarna putih, dan jaket denim, tetapi dia dan emma terlihat  sama-sama kehabisan napas. Karena terkepit di bawah lenganya,kado ulang tahunku menjadi sedikit penyok. Liz berambut  merah dengan wajah berbintik-bintik, dan ketika dia malu atau terlalu lelah, wajahnya yang pucat menjadi sangat merah, bintik- bintiknya menghilang. Dalam situasi normal Emma dan aku tentu menggodanya soal itu, tetapi tidak hari ini. Di belakang kami, makhluk itu meraung lagi. Aku menengol, ke belakang, tindakan yang salah. Aku terhuyung berhenti, dan teman-temanku menabrakku. Selama sedetik, aku sempat berpikir, Ya Tuhan, itu Khufu. Namun, Khufu tidak berukuran sebesar beruang grizzly. Dia tidak memiliki bulu perak berkilauan, taring seperti belati pendek, atau sorot haus darah di matanya. Babun yang tengah merusak Canary Wharf itu terlihat seperti akan memakan apa saja, bukan hanya makanan yang diakhiri dengan huruf–O, dan tidak akan kesulitan merobek tubuhku bagian demi bagian. Satu-satunya kabar baik: kesibukan di jalan telah mengalihkan perhatiannya untuk sementara. Mobil-mobil membanting setir untuk menghindari makhluk itu. Para pejalan kaki menjerit dan berlarian. Si babun mulai menjungkirbalikkan taksi-taksi, memecahkan etalase-etalase toko, dan menimbulkan kekacauan luas. Saat dia semakin mendekati kami, aku melihat secarik kain berwarna merah tergantung di lengan kirinya—sisa kardigan favorit kakek. Sementara di dahinya menempel kacamata Kakek. Baru pada saat itulah, keterkejutan menghantamku sepenuhnya. Makhluk itu adalah kakekku, yang tak pernah menggunakan sihir, tak pernah melakukan apa-apa yang mengganggu dewa-dewa Mesir.

Ada saat-saat di mana aku tidak menyukai kakek-nenekku, terutama ketika dia mengatakan hal-hal jelek mengenai ayahku, atau mengabaikan Carter, atau ketika dia membiarkan Amos membawaku pergi Natal silam tanpa perlawanan. Namun, tetap saja mereka telah membesarkanku selama enam tahun. Kakek kerap menaruhku di pangkuannya dan membacakan buku-buku cerita Enid Blyton-nya yang sudah usang ketika aku masih kecil. Sudah tidak terhitung berapa kali dia mengawasiku bermain di taman dan mengajakku ke kebun binatang. Dia membelikanku perniccn mcskipun Nenek tidak memperbolehkan. Dia mungkin pernaraIi, tetapi dia adalah pensiunan tua yang boleh dibilang tidak berbahaya. Dia jelas tidak layak dirasuki seperti ini. Babun itu merenggut pintu sebuah bar dan mengendus-endus masuk. Para pelanggan yang panik memecahkan sebuah jendela dan berlari menyusuri jalanan, masih memegang gelas minuman mereka. Seorang polisi berlari ke arah keributan itu, melihat si babun, kemudian berbalik dan lari ke arah yang berlawanan, sambil berteriak-teriak ke radionya untuk meminta bala bantuan. Ketika berhadapan dengan peristiwa magis, mata manusia cenderung melakukan hubungan pendek, hanya mengirimkan ke otak gambar-gambar yang dapat dipahaminya. Aku tak tahu apa yang menurut orang-orang ini sedang mereka lihat—mungkin seekor hewan kebun binatang yang melarikan diri atau teroris bersenjata yang sedang marah—tetapi mereka tahu mereka hams lari menyelamatkan diri. Aku bertanya-tanya apa yang nanti akan muncul di kamera keamanan London mengenai adegan ini. "Sadie," Liz berkata dengan suara teramat lirih, "apa itu?" "Babi," jawabku, "Dewa Babun keparat. Dia mengambil alih tubuh kakekku. Dan dia ingin membunuh kita." "Pemisi," kata Emma, "apa kau bam saja mengatakan bahwa Dewa Babun ingin membunuh kita?" Babun itu meraung, mengerjap-ngerjapkan mata dan memicing seolah dia lupa apa yang dia lakukan. Mungkin dia mewarisi
kelinglungan kakek dan penglihatan kakek yang buruk. Mungkin dia tidak menyadari kacamatanya berada di atas kepalanya. Dia mengendus-endus tanah, kemudian meraung frustrasi dan memecahkan etalase sebuah toko roti. Aku nyaris yakin kami mendapat sedikit Barangkali kami bisa menyelinap pergi. Kemudian sebuah sosok. hitam melayang di atas kepala, membentangkan kedua sayap hitamnya dan memekik, "Di sinil Di sinil" Bagus sekali. Babun itu punya bantuan udara. "Dua dewa, sebenarnya," Aku memberi tahu teman-temanku, "sekarang, jika tidak ada pertanyaan lagi—lard" Kali ini Liz dan Emma tak perlu dorongan lagi. Emma menendang sepatunya hingga terlepas, Liz membuang kado untukku—sayang sekali—dan kami berpacu menyusuri jalan.
Kami berzig-zag melewati gang-gang, merapat ke tembok untuk menyembunyikan diri setiap kali si Dewi Burung Bangkai menukik di atas kepala. Kudengar Babi meraung terus di belakang kami, membuat berantakan malam banyak orang dan menghancurkan daerah sekitar situ, tetapi dia sepertinya kehilangan bau kami untuk sementara. Kami berhenti sebentar di pertigaan jalan sementara aku menimbang-nimbang hams berlari ke arah mana. Di depan kami berdirilah sebuah gereja kecil, jenis bangunan kuno yang kerap kita temukan di London—bangunan itu terbuat dari batu abad pertengahan nan suram yang terjepit di antara Caffe Nero dan toko bahan kimia dengan papan neon yang menawarkan 3 produk rambut pilihan seharga £1. Gereja itu memiliki lahan permakaman kecil yang dikelilingi pagar berkarat, tetapi aku tidak akan terlalu memperhatikannya jika sebuah suara di dalam lahan itu tidak berbisik, " Sadie. "

Sungguh ajaib jantungku tidak terlompat keluar. Aku berbalik dan mendapati diriku berhadapan muka dengan Anubis. Dia sedang berada dalam wujud manusianya sebagai seorang remaja pria yang berambut gelap berombak dan mats cokelat hangat. Dia mengenakan kaos band Dead Weather dan jins hitam yang sangat cocok untuknya. Liz dan Emma tidak terlalu mampu bersikap tenang di sekitar cowok cakep. Sebenarnya, otak mereka bisa dibilang berhenti berfungsi. Liz terkesiap sambil rnengucapkan kata-kata satu suku kata yang terdengar seperti suara napas orang yang hendak melahirkan, "Oh—ah—hai—si—a—pa?" Emma kehilangan kendali atas kakinya dan menabrakku. Aku melemparkan tatapan tajam pada mereka berdua, lalu berpaling ke arah Anubis. "Sudah waktunya ada orang baik yang muncul," keluhku, "ada babun dan burung bangkai yang mencoba membunuh kami. Tolong, maukah kau mengurusi mereka?" Anubis mengerutkan bibir, dan aku punya perasaan dia tidak datang untuk membawa kabar baik buatku. "Masuklah ke wilayah kekuasaanku," katanya, sambil membuka gerbang permakaman. "Kita perlu bicara, dan kita tidak punya banyak waktu." Emma menubrukku lagi. "Engg, wilayah kekuasanmu?" Liz menelan ludah. "Si—ah—? "Ssst," kataku pada mereka, berusaha tetap tenang, seolah-olah aku biasa menemui cowok keren di permakaman setiap hari. Aku melirik ke jalan dan tidak melihat ada tanda-tanda keberadaan Babi atau Nekhbet, tetapi aku masih bisa mendengar mereka—Dewa Babun itu menggerung, sementara si Dewi Burung Bangkai memekik-mekik dengan suara nenekku (kalau Nenek habis makan kerikil dan menenggak steroid) "Ke arah sini? Ke arah sini!" "Tunggu di sini," kataku pada teman-temanku, dan melangkah memasuki gerbang.
Seketika itu juga, udara berubah menjadi lebih dingin. Kabut naik dari tanah basah. Batu-batu nisan berpendar, dan segala sesuatu di luar pagar menjadi sedikit kabur. Anubis itu saja membuatku merasa kehilangan keseimbangan dalam banyak hal, tetapi aku mengenali efek ini. Kami meluncur memasuki duat- merasakan permakaman itu dalam dua level sekaligus: dunia  Anubis dan duniaku. Dia memanduku ke sebuah sarkofagus yang sudah hancur dan membungkuk ke arah makam tersebut dengan .takzim  "Beatrice, apakah kau keberatan bila kami duduk?" Tidak terjadi apa-apa. Tulisan yang terpahat di sarkofagus itu sudah memudar berabad-abad silam, tetapi kuduga ini adalah tempat peristirahatan terakhir si Beatrice. "Terima kasih." Anubis mempersilakanku duduk, "dia tidak berkeberatan." "Apa yang terjadi jika dia keberatan?" Aku duduk dengan sedikit khawatir. "Nome Kedelapan Belas," kata Anubis. "Maaf?" "Ke sanalah kau harus pergi. Vlad Menshikov menyimpan bagian kedua Kitab Ra di laci teratas mejanya, di markas besarnya di St. Petersburg. Itu jebakan, tentu saja. Dia memang berharap bisa memancingmu. Namun, jika kau menginginkan gulungan itu, kau tidak punya pilihan lain. Kau hams pergi malam ini, sebelum dia punya waktu untuk semakin memperkuat pertahanannya. Dan Sadie, jika dewa-dewa lain tahu aku mengatakan hal ini kepadamu, aku akan terjerumus dalam masalah besar." Aku memandanginya. Kadang-kadang dia bertingkah sangat mirip anak remaja sehingga sulit memercayai bahwa dia sudah berusia ribuan tahun. Kurasa itu gara-gara menjalani hidup terkungkung di Tanah Orang Mati, tidak terpengaruh oleh pergerakan waktu. Anak ini benar-benar perlu lebih sering keluar.


"Kau khawatir terjerumus dalam masalah?" Tanyaku, "Anubis, bukannya aku tak tahu terima kasih, tapi saat ini aku menghadapi masalah yang lebih besar. Dua dewa merasuki kakek-nenekku. Jika kau ingin membantu—" "Sadie, aku tak bisa ikut campur." Dia mengangkat kedua tangan dengan frustrasi. "Sudah kukatakan padamu saat kita pertama kali bertemu, ini bukan tubuhku yang sebenarnya." " S ayang, " gumamku. "Apa?" "Tidak apa-apa. Teruskan." "Aku bisa mewujud di tempat-tempat kematian, seperti pekarangan gereja ini, tapi tidak banyak yang bisa kuperbuat di luar wilayah kekuasaanku. Nah, jika kau sudah mati dan ingin upacara pemakaman yang bagus, aku bisa membantu, tapi—" "Oke, terima kasih." Di suatu tempat dekat situ, si Dewa Babun meraung. Kaca-kaca pecah, dan batu-batu bata hancur. Teman-temanku memanggilku, tetapi suara mereka terdengar lain dan sayup-sayup, seolah-olah aku mendengar mereka dari bawah permukaan air. "Jika aku pergi tanpa teman-temanku," aku bertanya pada Anubis, "apakah dewa-dewa itu akan membiarkan mereka?" Anubis menggelengkan kepala. "Nekhbet memangsa mereka yang lemah. Dia tahu bahwa melukai teman-temanmu akan melemahkanmu. Itu sebabnya dia mengincar kakek-nenekmu. Satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah dengan mengalahkannya. Sementara mengenai Babi, dia merepresentasikan sifat-sifat terkelam kalian para primata: nafsu membunuh, kekuatan tidak terkendali—" "Kami para primata?" Ujarku, "maaf, apakah kau baru saja menyebutku babun?" Anubis mengamatiku dengan semacam ekspresi heran dan kebingungan. "Alm lupa betapa menjengkelkannya kau. Intinya adalah dia akan membunuhmu hanya karena dia suka membunuh."
"Dan kau tak bisa membantuku." Dia melemparkan tatapan menyesal dengan kedua mata cokelat yang indah itu. "Aku sudah memberitahumu mengenai St. Petersburg." Ya Tuhan, dia ganteng, tetapi sangat menyebalkan. "Ya sudah kalau begitu, dewa dari hal-hal yang tidak berguna ujarku, "ada hal lain lagi sebelum aku terbunuh?" Dia mengulurkan tangannya. Sejenis belati aneh dalam genggamannya. Belati itu berbentuk seperti pisau Sweeney Todd: panjang, melengkung, dan amat sangat tajamdi  satu sisi, terbuat dari logam hitam. "Ambillah ini," kata Anubis, "ini akan membantu." "Apakah kau sudah lihat ukuran babun itu? Apa aku harus mencukur rambutnya?" "Ini bukan untuk melawan Babi atau Nekhbet," katanya, "tapi kau akan membutuhkannya sebentar lagi untuk sesuatu yang lebih penting. Ini pisau netjeri, terbuat dari besi meteor. Ini digunakan untuk sebuah upacara yang pernah kuceritakan kepadamu—upacara pembukaan mulut." "Ya, baiklah, jika aku selamat malam ini, aku pasti akan mengambil pisau cukur ini dan membuka mulut seseorang. Terima kasih banyak." Liz menjerit, "Sadie?" Dan balik kabut tanah pemakaman, aku melihat Babi tinggal beberapa blok lagi, berjalan dengan langkah-langkah berat menuju gereja. Dia sudah menemukan kami. "Naiklah kereta bawah tanah," Anubis memberi saran, seraya menarikku berdiri, "ada stasiun setengah blok ke selatan. Mereka tidak akan bisa melacak kalian dengan baik di bawah tanah. Air yang mengalir juga bisa dipakai untuk kabur. Makhluk-makhluk Duat menjadi lemah bila menyeberangi sungai. Jika kau hams bertempur melawan mereka, cari jembatan yang melintasi sungai Thames. Oh, dan aku sudah memberi tahu sopirmu untuk menjemputmu."


"Sopirku?" "Ya. Dia berencana bare menjemputmu besok, tapi—" Sebuah boks surat Royal Mail berwarna merah melayang di udara dan menghantam bangunan sebelah. Teman-temanku berteriak padaku supaya bergegas. "Pergilah," kata Anubis, "maaf aku tak bisa berbuat lebih banyak. Tapi selamat ulang tahun, Sadie." Dia mencondongkan badan ke depan dan mencium bibirku. Kemudian dia larut dalam kabut dan menghilang. Tanah permakaman itu menjadi normal lagi—bagian dari dunia biasa yang tidak bcrkilauan. Aku schartisnya sangat marah pada Anubis. Menciumku tanpa permisi—berani-beraninyal Tetapi aku hanya berdiri, tak bisa bergerak, menatap sarkofagus Beatrice yang mulai hancur, sampai Emma memekik, "Sadie, ayol." Teman-temanku mencengkeram kedua lenganku, dan aku pun ingat cara berlari. Kami lari menuju stasiun kereta bawah tanah Canary Wharf. Si babun meraung dan menghancurkan kendaraan-kendaraan yang melintas di belakang kami. Di atas kepala kami, Nekhbet memekik, "Di sanal. Bunuh merekal" "Siapa cowok tadi?" desak Emma saat kami masuk ke dalam stasiun. "Ya Tuhan, dia keren sekali." "Seorang dewa," gumamku. Kuselipkan pisau cukur hitam itu ke dalam sakuku dan menuruni eskalator, bibirku masih terasa geli akibat ciuman pertamaku. Dan jika aku menyenandungkan lagu "Happy Birthday" serta tersenyum tolol saat lari menyelamatkan diri—ya, itu bukan urusan siapa-siapa, bukan?[]
8.SADIE
KETERLAMBATAN PARAH DI STASIUN WATERLOO(KAMI MINTA MAAF SOAL BABUN RAKSASANYA)
JARINGAN KERETA BAWAH TANAH LONDON memiliki akustik yang indah. Bunyi-bunyian menggema di sepanjang terowongan. Jadi, saat kami turun, aku bisa mendengar suara kereta melesat, musisi bermain untuk mendapatkan uang receh, dan tentu saja raungan dewa babun pembunuh yang haus darah saat dia meremukkan pintu putar di belakang kami. Dengan segala ancaman terorisme dan keamanan yang ditingkatkan, kita mungkin mengharapkan ada beberapa polisi bersiaga, tetapi sayangnya bukan pada saat seperti ini, bukan di stasiun yang relatif kecil ini. Sirene meraung dari jalanan di atas, tetapi kami pasti sudah lama mati atau lenyap pada saat bantuan itu tiba. Dan jika polisi mencoba menembak Babi ketika dia merasuki tubuh kakek—tidak. Kupaksakan diriku untuk tidak berpikir tentang itu. Anubis menyarankan agar kami menggunakan jalur kereta bawah tanah. Dan jika terpaksa bertempur, aku sebaiknya mencari jembatan. Aku harus bertahan dengan rencana itu. Tidak banyak pilihan kereta di Canary Wharf. Untungnya, Jubilee Line, jalur kereta bawah tanah menuju London tengah
dan timur, datang tepat waktu. Kami berhasil sampai ke peron, melompat naik ke gerbong terakhir saat pintu-pintu tengah menutup, dan menyurukkan diri ke sebuah bangku. Kereta bergerak tiba-tiba memasuki terowongan yang gelap. Di belakang kami, aku tidak melihat ada tanda-tanda Babi atau Nekhbet yang mengejar kami. "Sadie Kane," Emma terengah-engah, "tolong, maukah kau mengatakan pada kami apa yang sedang terjadi?" Teman-temanku yang malang. Aku tak pernah ingin menjerumuskan mereka ke dalam masalah sebesar ini, bahkan ketika kami terkunci di ruang ganti anak lelaki di sekolah. (Ceritanya panjang, melibatkan taruhan lima poundsterling, celana Dylan Quinn, dan seekor tupai. Mungkin akan kuceritakan nanti) Kaki Emma penuh goresan dan melepuh karena berlari telanjang kaki. Jumper pink-nya terlihat seperti bulu anjing pudel yang hancur, dan beberapa butir berlian imitasi hilang dari kacamatanya. Wajah Liz semerah hari valentine. Dia telah melepas jaket denimnya, sesuatu yang tak pernah dia lakukan, karena dia selalu kedinginan. Atasannya yang berwarna putih penuh bercak-bercak keringat. Kedua lengannya bebintik-bintik sangat banyak, sampai mengingatkanku pada kulit konstelasi Nut, si Dewi Langit. Di antara mereka berdua, Emma yang terlihat lebih jengkel, dia menunggu penjelasanku. Liz tampak ketakutan, mulutnya bergerak-gerak seperti ingin bicara, tetapi sepertinya dia kehilangan pita suara. Kukira dia akan berkomentar mengenai dewa-dewa haus darah yang mengejar kami, tetapi ketika akhirnya bisa bersuara, dia berkata, "Cowok itu menciummul" Serahkan pada Liz soal membuat prioritas yang benar. "Akan kujelaskan nanti," janjiku, "aku tahu aku teman yang buruk karena menyeret kalian berdua ke dalam masalah ini. Tapi tolong, beri aku waktu sebentar. Aku perlu berkonsentrasi." "Berkonsentrasi pada apa?" desak Emma.
"Hus, Emma!" omel Liz, "dia mints dibiarkan berkonsentrasi." Aku memejamkan mata, berusaha menenangkan sarafku. Itu tidak mudah, terutama dengan adanya penonton. Namun, tanpa perbekalanku, aku tak bisa membela diri, lagi pula kecil kemungkinan aku akan mendapat kesempatan lain untuk mengambilnya. Aku berpikir: Kau bisa melakukannya, Sadie, Hanya meraih ke dimensi lain. Hanya membuat sebuah sobekan pada jaring realitas. Aku mengulurkan tangan. Tidak terjadi apa-apa. Aku mencoba lagi, dan tanganku menghilang ke dalam Duat. Liz memekik, Untungnya, aku tidak kehilangan konsentrasi (atau kehilangan tangan). Jari-jemariku menggenggam tali tas sihirku, dan aku  menariknya. Mata Emma melebar. "Itu hebat sekali. Bagaimana kau  melakukannya?" Sebenarnya, aku juga penasaran mengenai hal yang Salim Mengingat situasi yang ada, aku tidak percaya aku berhatiiI melakukannya hanya pada percobaan kedua. "Itu ehm sihir," ujarku. Teman-temanku memandangiku, takjub sekaligus ketakutan, dan besarnya masalah yang kuhadapi mendadak menghantamku. Setahun lalu, jika Liz, Emma, dan aku menaiki kereta ini, pasti itu ke Funland atau ke bioskop. Kami mungkin sedang tertawa mendengar nada dering konyol di ponsel Liz atau melihat foto-foto anak-anak perempuan yang kami benci di sekolah yang diubah-ubah Emma dengan photoshop. Hal paling berbahaya dalam hidupku dulu adalah masakan Nenek dan kemarahan Kakek ketika dia melihat nilai-nilaiku semester itu. Sekarang Kakek adalah babun raksasa. Nenek adalah burung bangkai jahat. Teman-temanku memandangiku seolah-olah aku terjatuh dari planet lain, sesuatu yang tidak terlalu jauh dari kenyataan.
Bahkan dengan perbekalan sihir di tangan, aku sama sekali tidak tahu apa yang hams kulakukan. Aku tidak lagi memiliki kekuatan penuh Isis. Jika aku mencoba melawan Babi dan Nekhbet, aku mungkin akan melukai kakek-nenekku dan sangat mungkin menyebabkan diriku sendiri terbunuh. Namun, jika aku tidak menghentikan mereka, siapa yang akan melakukannya? Dirasuki oleh dewa akan membuat tubuh manusia perantara hancur pada akhirnya. Itu hampir terjadi pada Paman Amos, yang merupakan penyihir penuh dan tahu cara membela diri. Kakek dan Nenek sudah tua, lemah, dan tidak tahu menahu soal sihir. Mereka tidak punya banyak waktu. Keputusasaan—yang jauh lebih buruk daripada sayap si Dewi Burung Bangkai—melandaku. Aku tidak menyadari bahwa aku sedang menangis sampai Liz meletakkan tangannya di atas pundakku. "Sadie sayang, kami minta maaf. Hanya saja itu agak aneh. Kau tahu kan? Ceritakan pada kami ada masalah apa. Biarkan kami membantu." Aku menarik napas gemetaran. Aku sangat merindukan teman-temanku. Aku selalu menganggap mereka agak aneh, tetapi mereka sekarang tampak sangat normal, menyenangkan—bagian dari dunia yang bukan lagi milikku. Mereka berdua mencoba terlihat berani, tetapi aku tahu dalam hati mereka juga ketakutan. Aku sungguh berharap bisa meninggalkan mereka, menyembunyikan mereka, menjaga mereka dari marabahaya, tetapi aku ingat yang dikatakan Nekhbet: Mereka akan menjadi hidangan pembuka yang enak. Anubis memperingatkanku bahwa Dewi Burung Bangkai itu akan memburu teman-temanku dan melukai mereka sekadar untuk membuatku lemah. Setidaknya jika mereka bersamaku, aku bisa mencoba melindungi mereka. Aku tidak ingin menjungkirbalikkan hidup mereka sebagaimana hidupku sendiri yang telah jungkir balik, tetapi aku berutang kejujuran pada mereka. "Ini akan terdengar gila," aku memperingatkan.
Aku memberi mereka versi sesingkat mungkin I iirngapa aku meninggalkan London, bagaimana dewa-dewa Mesir lepas dan memasuki dunia ini, bagaimana aku menemukan garis keturunn  ku sebagai penyihir. Kuceritakan pada mereka mengenai pertempuran  kami melawan Set, kebangkitan Apophis, dan gagasan gila kami  untuk membangunkan Dewa Ra. Dua stasiun berlalu, tetapi rasanya sungguh menyenankan bisa menceritakan hal itu kepada teman-temanku sehingga ku lebih suka melupakan waktu. Setelah aku selesai, Liz dan Emma saling berpandangan, tidak diragukan lagi tengah bertanya-tanya bagaimana cara menyampaikan kepadaku dengan halus bahwa aku ini sinting. "Aku tahu ini terkesan mustahil," kataku, "tapi—" "Sadie, kami percaya padamu," kata Emma. Aku mengerjap-ngerjapkan mata. "Benarkah?" "Tentu saja." Wajah Liz memerah, seperti ketika dia habis naik roller coaster beberapa kali. "Aku tak pernah mendengarmu bicara begitu serius mengenai apa pun. Kau—kau telah berubah." "Itu cuma karena aku sekarang adalah penyihir, dan dan aku tidak percaya betapa bodoh kata itu terdengar." "Lebih dari itu." Emma mengamati wajahku seolah-olah aku berubah menjadi sesuatu yang sangat menakutkan. "Kau tampak lebih tua. Lebih dewasa." Suaranya dihiasi nada sedih, dan kusadari aku dan teman-temanku semakin jauh. Seolah-olah kami berdiri di sisi jurang yang berbeda. Dan aku tahu dengan kepastian yang menyedihkan, jurang itu sudah terlalu lebar untuk bisa kulompati kembali. "Pacarmu luar biasa," tambah Liz, barangkali untuk membuatku ceria. "Dia bukan ...," aku berhenti. Tidak mungkin memenangkan perdebatan dengan Liz. Lagi pula, aku begitu bingung mengenai si jakal sialan Anubis itu, sampai aku tidak tahu hams mulai dari mana.
Kereta melambat. Aku melihat papan nama Stasiun Waterloo. "Oh, Tuhan," ujarku, "aku berniat turun di jembatan London. Aku perlu jembatan." "Tidak bisakah kita kembali ke stasiun sebelumnya?" Tanya Liz. Sebuah raungan dari terowongan di belakang kami menjawab pertanyaan itu. Saat menengok ke belakang, kulihat sosok besar dengan bulu perak berkilauan berlari melompat-lompat di sepanjang jalur kereta. Kakinya menyentuh rel ketiga, dan bunga api pun beterbangan, tetapi si Dewa Babun terus melaju dengan langkah berat, tidak terganggu. Saat kereta mengerem, Babi mulai menyusul kami. "Kita tidal. mungkin kembali," kataku, "kita harus pergi ke Jembatan Waterloo." "Itu hampir satu kilometer dari stasiun?" Liz memprotes, "bagaimana bila makhluk itu menangkap kita?" Aku menggeledah tasku dan mengeluarkan tongkat baruku. Seketika tongkat itu memanjang ke ukuran penuh, ujungnya yang berukir singa menyorotkan sinar keemasan. "Kalau begitu kurasa kita hams bertempur."
Haruskah aku menggambarkan Stasiun Waterloo sebelum dan sesudah kami menghancurkannya? Ruang depan stasiun itu terbuka dan sangat besar. Lantai pualamnya licin mengilat, banyak sekali terdapat toko dan trios, sementara langit-langitnya yang terbuat dari kaca dan besi cukup tinggi sehingga helikopter bisa terbang berputar-putar di dalamnya dengan nyaman. Arus manusia mengalir keluar masuk, berbaur, berpisah, dan kadang-kadang bertabrakan ketika mereka bergerak menuju berbagai eskalator dan peron. Ketika aku masih kecil, bangunan stasiun itu agak menyeramkan bagiku. Aku khawatir lampu raksasa bergaya Victoria yang tergantung di langit-langit akan jatuh dan menimpaku. Suara
petugas yang membacakan pengumuman terlalu nyaring. (Aku lebih suka menjadi yang paling ribut di lingkunganku, terima kasih banyak.) Gerombolan para penumpang harian yang tongah berdiri terpaku di bawah papan keberangkatan, kereta, mengingatkanku pada segerombolan orang di film i zombie—yang, tentu saja, seharusnya tidak kutontoli anak kecil, tetapi aku selalu lebih cepat dewasa daripada teman sebayaku. Bagaimanapun juga, teman-temanku dan aku tengah berlari  kencang melewati stasiun utama, mendesak-desak orang menuju  pintu keluar terdekat, ketika tangga di belakang kami meledak. Kerumunan orang berhamburan saat Babi naik dari reruntuhan, Para pebisnis berteriak, menjatuhkan koper-koper mereka dan berlari menyelamatkan diri. Liz, Emma, dan aku menempel di camping trios Paperchase supaya tidak terinjak-injak sekelompok wisatawan yang berteriak-teriak dalam Bahasa Itali. Babi meraung. Bulunya dipenuhi debu dan jelaga akibat berlari melewati terowongan. Kardigan kakek tercabik-cabik di lengannya, tetapi yang ajaib, kacamatanya masih bertengger di kepalanya. Babun itu mengendus-endus udara, barangkali mencoba untuk membaui aromaku. Kemudian sebuah bayangan gelap melintas di atas. "Ke mana kau akan pergi, Sadie Kane?" Nekhbet memekik. Dia melayang melintasi stasiun, menukik ke arah kerumunan orang yang sudah panik. "Apakah kau akan melawan dengan cara melarikan diri? Kau tidak pantas dihormatir Suara tenang seorang petugas pemberi pengumuman menggema di seluruh stasiun: "Kereta pukul 8.02 menuju Basingstoke akan tiba di peron nomor tiga." "ROOOAR!." Babi memukul sebuah patung perunggu seorang pria terkenal yang malang dan membuat kepala patung itu copot. Seorang polisi berlari maju, sambil membawa pistol. Sebelum aku bisa berteriak padanya agar berhenti, dia melepaskan tembakan
ke arah Babi. Liz dan Emma menjerit bersama-lama. Peluru itu memantul dari bulu Babi seolah-olah bulunya terbuat dari titanium, dan menghancurkan papan nama McDonald di dekat situ. Si petugas polisi langsung pingsan. Aku tak pernah melihat begitu banyak orang keluar dari sebuah stasiun secepat ini. Aku mempertimbangkan untuk mengikuti mereka, tetapi memutuskan bahwa hal itu terlalu berbahaya. Aku tak bisa membiarkan dewa-dewa gila ini membunuh banyak orang tidak bersalah hanya karena aku ada di antara mereka. Lagipula jika kami mencoba ikut berduyun-duyun menyelamatkan diri, kami hanya akan tergencet atau remuk terinjak-injak. "Sadie, lihatl." Liz menunjuk ke atas, dan Emma memekik. Nekhbet melayang menuju balok langit-langit dan bertengger di sana bersama burung-burung merpati. Dia menatap marah ke arah kami dan berteriak kepada Babi, "Dia di sini, Sayangl Di sinil" "Kuharap dia tutup mulut," gumamku. "Isis bodoh telah memilihmul " Nekhbet melengking, "aku akan menyantap isi perutmul " "ROOOAR!" timpal Babi, memberi persetujuan dengan penuh semangat. "Kereta pukul 8.14 menuju Brighton tertunda," kata pemberi pengumuman, "kami minta maaf atas ketidaknyamanan Anda." Babi telah melihat kami sekarang. Kedua matanya menyala-nyala penuh amarah purba. Aku juga melihat sedikit unsur kakek dalam ekspresinya. Cara dia mengerutkan alis dan mendongakkan dagu—persis seperti kakek ketika marah kepada televisi dan meneriaki pemain rugbi. Melihat ekspresi itu kepada si Dewa Babun nyaris membuat keberanianku hilang. Aku tidak akan mati di sini. Aku tidak akan membiarkan kedua dewa memuakkan itu menyakiti teman-temanku atau menghancurkan kakek-nenekku. Babi bergerak lambat ke arah kami. Setelah sekarang menemukan kami, dia tidak tampak terburu-buru hendak
membunuh kami. Dia mengangkat kepalanya dan mengeluarkan suara mengaum yang dalam ke kiri dan ke kanan, seolah-olah berseru, memanggil teman-temannya untuk makan nmlam. Jari-jemari Emma mencengkeram lenganku. Liz merengek, " Sadie… ...?" Sebagian besar orang sudah keluar sekarang. Tidak ada polisi  lain yang terlihat. Mungkin mereka sudah melarikan diri, atau  mungkin mereka semua tengah menuju Canary Wharf, tidak  bahwa masalahnya sekarang berada di sini. "Kita tidak akan mati," Aku berjanji kepada teman-temank "Emma, pegang tongkatku." "Apamu—Oh, baiklah." Dia menerima tongkat itu dengan hati-hati seolah-olah aku memberinya sebuah peluncur roket, yang kurasa memang mungkin-mungkin saja bisa dilakukan dengan mantra yang tepat. "Liz," aku memberi perintah, "awasi babun itu." "Awasi babun," ulangnya, "agak sulit mengabaikan babun itu." Aku menggeledah tas sihirku, dengan sangat buru-buru melakukan inventarisasi. Tongkat sihir bagus untuk pertahanan, tetapi melawan dua dewa sekaligus aku perlu lebih dari itu. Anak-anak Horns, kapur ajaib—ini bukan tempat untuk menggambar lingkaran perlindungan. Aku hams pergi ke jembatan. Aku perlu mengulur waktu agar bisa keluar dari stasiun ini. "Sadie ...," Liz memperingatkan. Babi telah melompat ke atas atap toko Body Shop. Dia meraung, dan babun-babun yang lebih kecil mulai bermunculan dari segala penjuru—memanjat di atas kepala para penumpang, berayun turun dari balok penopang, muncul dari tangga dan toko-toko. Ada puluhan babun, semuanya mengenakan baju kaos basket berwarna hitam dan perak. Apakah basket adalah semacam olah raga babun internasional? Hingga hari ini, aku agak suka kepada babun. Babun-babun yang pernah kutemui sebelumnya, seperti Khufu dan teman-temannya yang ramah, adalah hewan-hewan suci Thoth, dewa
ilmu pengetahuan. Mereka biasanya bijaksana dan suka membantu. Namun, kuduga pasukan babun Babi termasuk jenis yang sama sekali berbeda. Mereka semua memiliki bulu berwarna merah darah, mata liar, dan taring yang pasti membuat seekor harimau gigi pedang merasa rendah diri. Mereka mulai mendekat, menggeram seraya bersiap-siap menyerang. Kukeluarkan sebalok lilin dari tasku—tidak ada waktu untuk membuat shabti. Dua jimat tyet, tanda suci Isis—ah, itu mungkin berguna. Kemudian aku menemukan sebuah botol kaca bersumbat yang sudah lama kulupakan. Di dalamnya ada semacam lumpur keruh: percobaan pertamaku membuat ramuan. Benda itu sudah berada di dasar tasku lama sekali karena aku tak pernah cukup putus asa untuk mencobanya. Kukocok-kocok ramuan itu. Cairan itu memijarkan cahaya hijau pucat. Serpihan-serpihan sampah berputar-putar di dalamnya. Aku membuka sumbatnya. Cairan itu berbau lebih busuk daripada Nekhbet. "Apa itu?" tanya Liz. "Menjijikkan," jawabku, "gulungan animasi diblender dengan minyak, air, dan beberapa bahan rahasia. Hasilnya agak menggumpal, sayangnya." "Animasi?" tanya Emma, "kau akan memanggil tokoh kartun?" "Itu pasti bagus sekali," aku mengakui, "tapi ini lebih berbahaya. Jika aku melakukannya dengan benar, aku bisa menyerap sihir dalam jumlah besar tanpa kehabisan tenaga." "Dan jika kau salah melakukannya?" tanya Liz. Aku memberi mereka masing-masing sebuah jimat Isis. "Pegang ini. Kalau aku bilang Lani, larilah mencari tempat pemberhentian taksi. Jangan berhenti." "Sadie," Emma memprotes, "apa-apaan—" Sebelum sempat kehilangan nyali, akumenenggak ramuan itu.
Di atas, Nekhbet terkekeh. "Menyerahlahl Kau tidak akan mampu melawan kami!" Bayangan sayapnya seperti membentang di seluruh ruang terbuka stasiun itu, membuat penumpang terakhir melarikan diri dengan panik dan memandangiku penuh ketakutan.Aku tahu ini hanya mantra, tetapi meski demikian, godaan untuk menerima saja kematian kilat nyaris tidak tertahankan. Perhatian beberapa ekor babun teralihkan oleh bau makanan  dan mereka menjarah McDonald's. Beberapa babun lain mengejar  kondektur kereta, memukulinya dengan gulungan majalah fesy Sayangnya, sebagian besar babun masih terfokus kepada kami. Mereka membentuk lingkaran longgar di sekitar kios Paperchase. Dari pos komandonya di atas Body Shop, Babi meraung—perintah yang gamblang untuk menyerang. Kemudian ramuan itu menghantam ususku. Sihir mengalir ke sekujur tubuhku. Mulutku terasa seperti habis menelan seekor bangkai katak, tetapi sekarang aku mengerti mengapa ramuan sangat populer di kalangan penyihir kuno. Mantra animasi itu, yang untuk menulisnya aku butuh waktu berhari-hari dan biasanya perlu waktu setidaknya satu jam untuk merapalkannya, sekarang menggelenyar dalam aliran darahku. Kekuatan menyerbu ke ujung-ujung jariku. Satu-satunya masalahku adalah menyalurkan sihir itu, memastikan sihir tidak membakarku hingga hancur. Aku memanggil Isis dengan segenap kemampuanku, menyedot kekuatannya untuk membantuku membentuk mantra sihir. Kubayangkan apa yang kuinginkan, dan kata berkekuatan yang tepat langsung muncul di benakku: Lindungi. N'dah. Kulepaskan sihir itu. Sebuah hieroglif emas terbakar di depanku:
Gelombang cahaya emas bergelombang ke sekujur ruang terbuka stasiun. Pasukan babun bimbang. Babi nyaris terjatuh dari atas atap Body Shop. Bahkan Nekhbet menguak dan terhuyung-huyung di atas balok penopang langit-langit. Di seluruh penjuru stasiun, benda-benda mati mulai bergerak. Tas ransel dan koper tiba-tiba mulai terbang. Rak-rak majalah, permen karet, permen, aneka minuman dingin melesat keluar dari took-toko dan menyerang pasukan babun. Kepala perunggu patung yang terpenggal tadi melesat entah dari mana dan menghantam dada Babi , membuatnya terjungkal ke belakang dan menembus  atap Body Shop. Tornado koran Financial Times yang berwarna merah muda terbang berputar ke arah langit-langit. Koran-koran itu mengerubungi Nekhbet, yang terhuyung-huyung, tak bisa melihat dan terjatuh dari tempatnya bertengger sambil melengking nyaring. Sekujur tubuhnya diselubungi warna merah muda dan hitam. "Lari!" Aku memberi aba-aba kepada teman-temanku. Kami melesat menuju pintu keluar, meliuk-liuk melewati babun-babun yang terlalu sibuk untuk menghentikan kami. Salah seekor babun tengah digebuki oleh setengah lusin botol air bersoda. Babun yang lain sedang menangkis sebuah koper dan beberapa ponsel Blackberry yang melakukan kamikaze. Babi berusaha bangkit, tetapi pusaran produk Body Shop menyerbu di sekelilingnya—losion, busa gambas kering, dan sampo memukulinya, menyemproti matanya, dan berusaha memberinya perawatan tubuh ekstrem. Dia meraung marah, tergelincir dan jatuh kembali ke toko yang hancur lebur itu. Aku ragu jampi-jampiku akan menimbulkan kerusakan permanen pada dewa-dewa itu, tetapi dengan sedikit keberuntungan, mantra itu akan membuat mereka sibuk selama beberapa menit. Liz, Emma, dan aku berhasil keluar dari stasiun. Dengan mengungsinya seisi stasiun, aku tidak terlalu berharap ada taksi di tempat antreannya, dan tepian jalan memang kosong. Aku pasrah
Harus  berlari sampai Jembatan Waterloo, meskippun emma tidak memakai sepatu, dan ramuan tadi membuatku ingin muntah . "Lihatr kata Liz. "Oh, bagus sekali, Sadie," kata Emma. "Apa?" Tanyaku, "apa yang telah kulakukan?" Kemudian aku melihat sopir itu—seorang pria yang luar biasa pendek dan kumal berdiri di ujung jalan mobil dalam balutan setelan berwarna hitam, memegang plakat yang bertuliskan KANE Kurasa teman-temanku mengira aku telah memanggil nya dengan sihir. Sebelum aku bisa memberitahukan yang sebenartml, Emma berkata, "Ayo!." dan mereka berlari kecil menuju pria pendek itu. Aku tidak punya pilihan selain mengikuti. Aku teringat perkataan Anubis soal menyuruh "sopirku" menjemput. Kurasa pasti orang inilah yang dimaksud, tetapi semakin kami dekat, semakin aku tidak bersemangat menemuinya. Tingginya separuh tinggiku, tubuhnya lebih gempal ketimbang pamanku Amos, dan lebih jelek daripada semua orang di planet ini. Raut wajahnya jelas-jelas seperti manusia purba. Di bawah alis lebatnya yang hanya sebelah, salah satu matanya lebih besar daripada yang lain. Janggutnya terlihat seperti sering dipakai untuk menggosok panci berminyak. Kulitnya dihiasi bilur-bilur merah, dan rambutnya terlihat seperti sarang burung yang habis dibakar lalu diinj ak-injak. Ketika melihatku, dia mengerutkan kening dengan marah, yang sama sekali tidak memperbaiki penampilannya. "Akhirnyar Aksennya Amerika. Dia beserdawa ke dalam kepalan tangannya, dan bau kare yang menguar nyaris membuatku pingsan. "Teman Bast? Sadie Kane?" "Em mungkin." Kuputuskan untuk bicara serius dengan Bast mengenai pilihan temannya. "Omong-omong, ada dua dewa yang berusaha membunuh kami." Pria kecil berkutil itu berdecak-decak, jelas tidak terkesan. "Kalau begitu kurasa kalian ingin jembatan."
Dia berbalik menuju tepi jalan dan berteriak, "BOO!" Sebuah mobil limusin Mercedes hitam muncul entah dari mana, seolah-olah keluar karena ditakut-takuti. Si sopir melirik ke arahku dan mengangkat alis. "Kenapa? Masuklahl"
Aku tidak pernah naik limusin sebelumnya. Kuharap sebagian besar limusin lebih nyaman daripada yang kami naiki. Tempat duduk bagian belakangnya diseraki wadah-wadah kare dari restoran, kertas pembungkus fish-and-chips, kantong-kantong keripik, dan beraneka kaus kaki kotor. Meskipun begitu, Emma, Liz, dan aku berdesak-desakan di belakang, karena kami semua tidak berani duduk di depan. Kalian mungkin mengira aku gila mau naik mobil dengan orang asing. Kalian benar tentu saja. Namun, Bast telah menjanjikan bantuan buat kami dan Anubis memberitahuku bahwa akan ada sopir. Fakta bahwa bantuan yang dijanjikan kepada kami adalah seorang pria bertubuh kecil yang memiliki higienitas buruk dan limusin sihir tidak terlalu mengagetkanku. Aku sudah pernah melihat hal-hal yang lebih aneh. Selain itu, aku tidak punya banyak pilihan. Ramuan itu telah memudar pengaruhnya, dan rasa lelah akibat melepaskan sihir sebesar itu membuat kepalaku terasa ringan dan kakiku goyah. Aku tidak yakin bisa berjalan ke jembatan Waterloo tanpa semaput. Si sopir menginjak gas dan meluncur keluar dari stasiun. Polisi telah mengepung stasiun, tetapi limusin kami meliuk-liuk di sekitar barikade, melewati sekelompok mobil van BBC serta segerombolan penonton, dan tidak seorang pun memperhatikan kami. Sang sopir mulai menyiulkan serangkaian nada yang terdengar seperti lagu Randy Newman "Short People (Orang-Orang Pendek)." Kepalanya nyaris tidak mencapai sandaran kepala. Yang bisa
kulihat hanyalah segumpal rambut kotor dan sepasang tangan berbulu pada kemudi. Pada pelindung matahari tertempel selembar kartu identitas  yang memuat fotonya—ya, semacam foto. Foto di ambil jarak yang sangat dekat, hanya menampilkan sebatang hidung yang   tidak masuk fokus dan mulut yang menmkkan, seolah  sedang berusaha memakan kameranya. Kartu itu bertuliskan Pengemudi Anda adalah BES. "Kau Bes, betul?" Tanyaku. "Betul, " jawabnya. "Mobilmu berantakan betul," Liz menggumam. "Kalau ada satu orang lagi yang mengatakan betul," gerutu Emma, "aku akan muntah." "Apakah kau ini Mr. Bes?" Tanyaku, berusaha mencocokkan namanya dengan mitologi Mesir. Aku cukup yakin mereka tidak punya dewa sopir. "Lord Bes? Bes yang Teramat Pendek?" "Cuma Bes," gerutunya, "satu s. Dan bukan, itu BUKAN nama perempuan. Panggil aku Bessie, maka aku terpaksa membunuhmu. Sementara soal pendek, aku ini dewa orang cebol. Jadi, apa yang kau harapkan? Oh, ada air botolan di belakang sana bila kalian haus." Aku menatap ke bawah. Menggelinding di bawah kakiku dua botol air setengah kosong. Ada bekas lipstik pada tutup salah satu botol itu. Yang lain terlihat seperti habis digerogoti. "Tidak haus," Aku memutuskan. Liz dan Emma menggumamkan persetujuan. Aku terkejut mereka tidak terserang katatonia setelah peristiwa malam ini, tetapi bagaimanapun juga, mereka teman-teman baikku. Aku tidak bergaul dengan cewek-cewek yang tidak punya nyali, kan? Bahkan sebelum menemukan sihir, perlu ketahanan yang kuat dan sejumlah besar kemampuan menyesuaikan diri untuk menjadi temanku. [Kau tidak boleh berkomentar, Carter.]
Kendaraan-kendaraan polisi memblokir jembatan Waterloo, tetapi Bes meliuk-liuk melewatinya, melompati trotoar, dan terus melaju. Polisi-polisi itu bahkan tidak berkedip. "Apa kita tidak kasat mata?" Tanyaku. "Bagi sebagian besar manusia." Bes beserdawa. "Mereka itu cukup dungu, ya? Dengan pengecualian orang-orang yang ada di sini, dan lain-lain." "Kau benar-benar dewa?" Tanya Liz. "Besar," kata Bes, "aku ini tokoh besar di dunia para dewa." "Dewa orang cebol yang besar," Emma terkagum-kagum, "maksudmu seperti kurcaci cebol di cerita Putih Salju, atau—" "Semua orang cebol." Bes mengayunkan kedua tangannya melebar, yang membuatku agak cemas karena dia melepas kedua tangannya dari kemudi. "Orang Mesir itu pintar. Mereka menghormati orang-orang yang terlahir tidak biasa. Orang cebol dianggap sangat magis. Jadi, ya, aku adalah dewa orang-orang cebol." Liz berdeham. "Bukankah ada istilah lebih sopan yang seharusnya kita gunakan sekarang ini? Seperti orang kecil, atau orang dengan keterbatasan tinggi, atau—" "Aku tidak akan menyebut diriku sebagai dewa orang-orang dengan keterbatasan tinggi," Bes menggerutu, "aku ini ceboll Nah, kita sudah sampai, tepat pada waktunya." Dia memutar mobil hingga berhenti di tengah jembatan. Saat melihat ke belakang, aku hampir mengeluarkan isi perutku. Sosok hitam bersayap tengah berputar-putar di atas tepian sungai. Di ujung jembatan, Babi sedang menangani barikade dengan caranya sendiri. Dia melemparkan mobil-mobil polisi ke dalam Sungai Thames sementara para petugas kepolisian berhamburan dan menembakkan senjata mereka, meskipun peluru tampaknya tidak berefek pada bulu laksana baja milik Dewa Babun tersebut. "Mengapa kita berhenti?" Tanya Emma.
Bes berdiri di atas tempat duduknya dan meregangkan badan, sesuatu yang bisa dilakukannya dengan cukup mudah. "Ini sungai," katanya, "tempat yang bagus untuk bertarung melawan dewa-dewa, jika aku boleh berkata begitu. Segala kekuatan alam yang mengalir di bawah kaki ini membuat kami kesulitan untuk tetap bertahan di dunia manusia." Saat memandanginya dengan lebih cermat, aku bisa melihat apa maksudnya. Wajah Bes berpendar-pendar seperti Sebuah gumpalan terbentuk di tenggorokanku. Inilah saat penentuan. Aku merasa mual gara-gara ramuan dan rasa takut . Aku sama sekali tidak yakin aku punya cukup sihir untuk melawan kedua dewa ini. Namun, aku tidak punya pilihan. "Liz, Emma," ujarku, "kita akan keluar." "Ke luar?" Liz mengerang. Emma menelan ludah. "Apa kau yakin—" "Aku tabu kalian takut," ujarku, " kalian harus melakukan persis seperti yang kukatakan." Mereka mengangguk ragu dan membuka pintu mobil. Anak-anak malang. Lagi-lagi aku berharap tidak usah melibatkan mereka, tetapi sejujurnya, setelah melihat kakek-nenekku kerasukan, aku tidak sanggup membiarkan teman-temanku lepas dari pengawasanku. Bes menahan dorongan untuk menguap. "Butuh bantuanku?" "Engg ..." Babi tengah berjalan dengan langkah-langkah berat ke arah kami. Nekhbet berputar-putar di atasnya, memekikkan perintah. Jika sungai memang memengaruhi mereka, mereka tidak menunjukkannya. Aku tak bisa melihat bagaimana dewa orang cebol bisa melawan kedua dewa ini, tetapi aku berkata, "Ya. Aku perlu bantuan." "Baik." Bes menggemeretakkan buku-buku jarinya. "Kalau begitu keluarlah."
"Apa?" "Aku tak bisa berganti pakaian sementara kau berada di dalam mobil, kan? Aku hams mengenakan kostum jelekku." "Kostum jelek?" "Sane" Si cebol memerintah, "aku akan keluar sebentar lagi." Tak perlu disuruh-suruh lagi. Tidak seorang pun di antara kami ingin melihat lebih banyak bagian tubuh Bes ketimbang yang hams kami lihat. Kami pun keluar, sementara Bes mengunci pintu di belakang kami. Jendela-jendela mobil diberi lapisan sangat gelap. Jadi, kami tidak bisa melihat ke dalam. Sejauh yang kutahu, Bes bisa saj a sedang bersantai-santai, mendengarkan musik sementara kami dibantai. Aku jelas tidak terlalu banyak berharap pergantian kostum akan mengalahkan Nekhbet dan Babi. Aku menatap teman-temanku yang ketakutan, kemudian menatap ke arah dua dewa yang sedang menyerbu ke arah kami. "Kita akan memberikan perlawanan terakhir di sini." "Oh, tidak, tidak," kata Liz, "aku benar-benar tidak suka istilah `perlawanan teralchir.'" Aku menggeledah tasku dan mengeluarkan sebatang kapur serta empat Anak Horus. "Liz letakkan patung-patung ini di empat mata angin—Utara, Selatan, dan seterusnya. Emma, ambil kapur ini. Gambarlah lingkaran yang menghubungkan patung-patung itu. Kita hanya punya waktu beberapa detik." Aku menukar kapur dengan tongkat yang dipegangnya, kemudian mengalami kilasan déjà vu yang sangat tidak menye-nangkan. Aku baru saja menyumh teman-temanku bertindak persis seperti Zia Rashid menyumh-nyuruhku ketika pertama kali kami menghadapi musuh bersama-sama. Aku tidak ingin menjadi seperti Zia. Di lain pihak, kusadari untuk pertama kalinya betapa besar keberanian yang tentunya dia miliki untuk menghadapi sesosok dewi sembari melindungi dua penyihir yang masih hijau. Aku benci mengatakannya, tetapi itu
memberiku rasa hormat yang baru terhadapnya. Aku berharap memiliki keberanian seperti dirinya. Aku mengangkat tongkat serta tongkat sihirku dan berusaha memusatkan pikiran. Waktu seolah melambat. Kukerah kan selun indraku hingga aku menyadari segala sesuatu di sekelilingku  Emma yang sibuk bekerja dengan kapur untuk menyelesa lingkaran, jantung Liz yang berdebar terlalu cepat. Kaki besar babi  yang berdentam-dentam di atas jembatan saat dia berlari ke aarah  kami, sungai Thames yang mengalir di bawah jembatan, dan arus Duat yang mengalir di sekitarku dengan sama kuatnya. Bast pernah mengatakan kepadaku bahwa Duat itu seperti lautan sihir di bawah permukaan dunia manusia. Jika itu benar, maka tempat ini—jembatan di atas air yang mengalir—adalah laksana arus jet. Sihir mengalir lebih kuat di sini. Bisa menenggelamkan mereka yang tidak waspada. Bahkan dewa pun mungkin bisa terbawa arus. Aku berusaha meneguhkan dindengan berkonsentrasi pada bentangan darat di sekitarku. London adalah kotaku. Dari sini aku bisa melihat semuanya—Gedung Parlemen, London Eye, bahkan Cleopatra's Needle di tanggul Victoria, tempat ibuku meninggal. Jika aku gagal sekarang, begitu dekat dengan tempat ibuku mengeluarkan sihir terakhirnya—Tidak. Aku tidak boleh membiarkan hal itu terjadi. Babi tinggal semeter lagi ketika Emma selesai membuat lingkaran. Kusentuhkan tongkatku pada kapur, dan cahaya ke-emasan berpijar. Si Dewa Babun menghantam bidang kekuatan pelindungku seolah-olah itu adalah dinding logam. Dia terhuyung-huyung mundur. Nekhbet berbelok menjauh pada detik terakhir dan terbang mengitari kami, sambil berkaok-kaok frustrasi. Sayangnya, cahaya lingkaran itu mulai berkedip-kedip. Ibu sudah mengajariku sejak aku masih sangat kecil: untuk segala tindakan ada reaksi yang sepadan dan berkebalikan. Itu berlaku baik
untuk sihir maupun sains. Kekuatan serangan Babi membuatku melihat titik-titik hitam. Jika dia menyerang lagi, aku tidak yakin aku bisa mempertahankan lingkaran itu. Aku bertanya-tanya apakah aku harus keluar dari lingkaran, menjadikan diriku sebagai target. Jika aku menyalurkan energi ke dalam lingkaran terlebih dahulu, lingkaran itu mungkin akan bertahan selama beberapa waktu, bahkan bila aku mati. Setidaknya teman-temanku akan selamat. Zia Rashid barangkali berpikiran sama Natal silam ketika dia melangkah keluar dari lingkarannya untuk melindungi Carter dan aku.. Dia benar-benar berani, sungguh menyebalkan. 'Apa pun yang akan terjadi padaku," aku berkata kepada teman-temanku, "tetaplah berada di dalam lingkaran." "Sadie," kata Emma, "aku tahu nada suara itu. Apa pun yang kau rencanakan, jangan lakukan." "Kau tidak boleh meninggalkan kami," Liz memohon. Kemudian dia berteriak kepada Babi dengan suara melengking: "P-pergi sana, dasar monyet jelek berbusa? Temanku ini tidak ingin membinasakanmu, tapi—tapi dia akan melakukannyal" Babi menggeram. Dia memang agak berbusa, berkat serangan Body Shop, dan baunya wangi. Beberapa busa sampo berbeda warna dan butiran sabun mandi membuat kusut bulu-bulu peraknya. Nekhbet tidak tampak baik-baik saja. Dia bertengger di atas tiang lampu di dekat situ, tampak seperti habis dikeroyok oleh seluruh isi gerai makanan West Cornwall Pasty Company. Serpihan-serpihan daging, keju, dan kentang bertebaran di mantel bulunya, menjadi saksi bagi pai daging sihir pemberani yang telah menyerahkan hidupnya yang singkat demi menahan Nekhbet. Rambut Nekhbet dihiasi garpu-garpu plastik, serbet, dan carikan surat kabar berwarna merah muda. Dia terlihat sangat ingin mengoyak-ngoyakku.
Satu-satunya kabar baik: anak buah Babi tampaknya tidak berhasil keluar dari stasiun. Kubayangkan sepasukan babun bertaburan makanan didorong ke mobil polisi dan diborgol. Bayangan itu agak mengobarkan semangatku. Nekhbet menggeram. "Kau mengejutkan kami di .stasiun , Sadie Kane. Kuakui itu prestasi hebat. Dan membawi kc jembatan ini—usaha yang bagus. Tapi kami tidak selemaIh itu.kau sudah tidak punya kekuatan untuk melawan kami lagi .jika kau  tak bisa mengalahkan kami, kau takkan bisa membanguilkan Ra "Kalian seharusnya membantuku," ujarku, "bukannya berusaha menghalangiku." "Uhh!" Babi menggerung. "Benar," Si Dewi Burung Bangkai menyepakati, "yang kuat bisa bertahan tanpa bantuan. Yang lemah harus dibunuh dan dimakan. Yang manakah dirimu, Nak? Jujurlah." Sejujurnya? Aku sudah hendak ambruk. Jembatan ini seperti berputar-putar di bawahku. Sirene meraung di keclua tepian sungai. Semakin banyak polisi berdatangan ke barikade, tetapi untuk sementara mereka tidak berusaha maju. Babi memamerkan taringnya. Dia begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium aroma bulunya yang bersampo dan bau napasnya yang busuk. Kemudian aku melihat kacamata Kakek masih menempel di atas kepalanya, dan seluruh amarahku pun muncul kembali. "Cobs saja," tantangku, "aku mengikuti jalan Isis. Lawan aku, dan akan kuhancurkan kalian." Aku berhasil mengangkat tongkatku. Babi melangkah mundur. Nekhbet terhuyung di atas tiang lampunya. Wujud mereka berpendar sesaat. Sungai memang melemahkan mereka, megendurkan ikatan mereka dengan dunia manusia seperti gangguan pada jalur sambungan ponsel. Namun, itu tidak cukup.
Nekhbet pasti melihat keputusasaan di wajahku. Dia adalah dewi burung bangkai. Dia ahli mencari tahu kapan mangsanya sudah tamat. "Usaha terakhir yang bagus, Nak," katanya, nyaris dengan nada menghargai, "tapi kau sudah habis. Babi, serangl" Si Dewa Babun berdiri dengan bertumpu pada kedua kaki belakangnya. Aku bersiap-siap menyerang dan melancarkan ledakan energi terakhir—menyedot sumber kehidupanku sendiri dan berharap bisa membuat dewa-dewa itu menguap. Aku harus memastikan Liz dan Emma selamat. Kemudian pintu limusin terbuka di belakangku. Bes mengumumkan: "Tidak seorang pun boleh menyerang siapa-siapal Kecuali aku, tentu saja." Nekhbet menjerit ketakutan. Aku menoleh untuk melihat apa yang terjadi. Seketika itu juga, aku berharap bisa mencongkel kedua bola mataku hingga terlepas dari kepala. Liz mengeluarkan bunyi tercekik. "Ya Tuhan, tidakl Itu salahr "Aghl" Emma berteriak, dalam bahasa babun yang sempurna. "Hentikan dia." Bes benar-benar mengenakan kostum jeleknya. Dia naik ke atas atap limusin dan berdiri di sana, kedua kaki terpancang, tangan bertolak pinggang, seperti superman—hanya saja, Bes cuma memakai celana dalam. Bagi yang memiliki jantung lemah, aku tidak akan menceritakan terlalu banyak detail, Namun, Bes, yang tingginya hanya semeter, tengah memamerkan tubuhnya yang menjijikkan—perutnya yang gendut, anggota badannya yang berbulu, kakinya yang jelek, bagian-bagian lembek yang menjijikkan—dan hanya mengenakan celana renang berwarna biru. Bayangkan orang paling jelek yang pernah kalian lihat di pantai yang terbuka untuk umum—orang yang seharusnya dilarang memakai pakaian renang. Bes terlihat lebih buruk daripada itu. Aku tidak yakin harus berkata apa selain: "Pakai baju, dongl"
Bes terbahak-bahak—jenis tawa yang mengatakan Ha-ha! Aku luar biasa! "Tidak, sampai mereka pergi," katanya, "atau aku akan terpaksa menakut-nakuti mereka sampai kembali ke Duat." "Ini bukan urusanmu, Dewa Ceboll" Nekhbet im, mengalihkan pandangan dari keburukan Bes. "pergi sana! "Anak-anak ini berada dalam perlindunganku," bes bersikeras  "Aku tidak mengenalmu," ujarku, "aku bertemu  denganmu hari ini." "Omong kosong. Kau jelas-jelas meminta perlindungan ku  "Aku tidak meminta Patroli Celana Renang." Bes melompat menuruni limusin dan mendarat di depan lingkaranku, menempatkan diri di antara Babi dan aku. Si cebol bahkan tampak lebih mengerikan dari belakang. Punggungnya begitu berbulu hingga terlihat seperti mantel bulu cerpelai. Dan di bagian belakang celana renangnya tertulis KEBANGGAAN ORANG CEBOL. Bes dan Babi saling mengitari satu sama lain seperti pegulat. Si Dewa Babun mencoba meninju Bes, tetapi si Cebol gesit. Dia cepat-cepat menaiki dada Babi dan menanduk hidung babun itu. Babi sempoyongan ke belakang saat si Cebol tents menghantamnya, menggunakan wajahnya sebagai senjata mematikan. "Jangan lukai dial" teriakku, "Kakekku ada di dalam sanal" Babi terkulai diterali. Dia mengerjap-ngerjapkan mata, berusaha menyeimbangkan diri lagi, tetapi Bes meniupkan napasnya, dan bau kare pasti sudah sangat keterlaluan. Kedua lutut si babun menekuk. Tubuhnya berpendar-pendar dan mulai mengecil. Dia ambruk di atas trotoar dan memudar menjadi pensiunan bertubuh pendek-gemuk dan berambut abu-abu yang mengenakan kardigan sobek-sobek. "Kakekl" Aku tidak tahan lagi. Kutinggalkan lingkaran perisai dan berlari ke sampingnya.
"Dia akan baik-baik saja," Bes berjanji. Kemudian dia berbalik ke arah Dewi Burung Bangkai. "Sekarang giliranmu, Nekhbet. Pergil" "Aku mencuri tubuh ini dengan jujurl" ratapnya, "aku suka di sinil" "Kau yang meminta." Bes menggosok-gosokkan kedua tangannya, menarik napas dalam, dan melakukan sesuatu yang akan pernah bisa kuhapus dari ingatanku. Jika aku sekadar mengatakan dia membuat raut wajah tertentu dan berteriak BOO, itu benar secara teknis, tetapi tidak akan mendekati kengeriannya. Kepalanya membesar. Rahangnya membuka hingga mulutnya menjadi empat kali lipat lebih lebar. Kedua matanya menonjol seperti semacam jeruk. Rambutnya berdiri tegak seperti rambut Bast. Dia menggoyangkan wajahnya dan mengayunkan lidahnya yang hijau berlendir lalu melengkingkan B0001 begitu keras sampai-sampai suaranya bergulung sepanjang Sungai Thames seperti tembakan meriam. Ledakan keburukrupaan murni ini menerbangkan mantel bulu Nekhbet dan menguras seluruh warna dari wajah si Dewi Burung Bangkai. Teriakan itu merontokkan inti diri sang dewi bagaikan sehelai kertas tisu terkena badai. Yang tersisa hanyalah seorang wanita tua linglung berdaster bunga-bunga, yang tengah berjongkok di atas tiang lampu. "Oh, ampun ...." Nenek pun pingsan. Bes melompat dan menangkap Nenek sebelum jatuh ke dalam sungai. Wajah si cebol kembali normal—ya, setidaknya jelek yang normal—dan dia meletakkan Nenek dengan hati-hati di atas trotoar di sebelah Kakek. "Terima kasih," ucapku kepada Bes, "nah, sekarang maukah kau memakai baju?" Dia melemparkan seringai lebar kepadaku, yang tanpanya hidupku akan baik-baik saja. "Kau boleh juga, Sadie Kane. Aku mengerti mengapa Bast menyukaimu."
"Sadie?" Kakekku mengerang, kelopak matanya bergetar membuka. "Aku di sini, Kek." Kuusap-usap dahinya. "Bagaimana perasaan Kakek?" "Aku merasakan dorongan aneh untuk makan buah manna." Matanya jadi juling. "Dan barangkali serangga. Kau kau menyelamatkan kami?" "Sebenarnya bukan," aku mengaku, "temanku ini—" "Tentu saja dia yang menyelamatkanmu," tukas Bes, "cucumu ini pemberani. Penyihir hebat." Kakek memfokuskan pandangan kepada Bes dan merengut. "Dewa-dewa Mesir sialan dalam pakaian renang yang sangat terbuka. Inilah sebabnya kami tidak melakukan sihir." Aku mendesah lega. Kalau Kakek sudah mulai berkeluh-kesah, aku tahu dia akan baik-baik saja. Nenek masih pingsan, tapi napasnya tampak teratur. Rona di pipinya sudah kembali. "Kita harus pergi," kata Bes, "manusia-manusia itu sudah siap menyerbu jembatan." Aku memandang sekilas ke arah barikade dan melihat apa yang dimaksud Bes. Sebuah tim penyerang mulai berkumpul—petugas-petugas berkostum anti peluru yang membawa senapan, peluncur granat, dan barangkali mainan-mainan seru lain yang bisa membunuh kami. "Liz, Emmal." Aku memanggil, "bantu aku mengurusi kakekku." Teman-temanku berlari mendekat dan mulai membantu Kakek duduk, tetapi Bes berkata, "Mereka tak bisa ikut." "Apa?" Desakku, "tapi kau bilang—" "Mereka manusia biasa," kata Bes, "mereka tidak seharusnya ikut dalam pencarianmu. Jika kita hendak mengambil gulungan kedua dari Vlad Menshikov, kita harus berangkat sekarang." "Kau tahu tentang itu?" Kemudian aku ingat bahwa dia sudah bicara dengan Anubis.
"Bahaya yang dihadapi kakek-nenek dan teman-temanmu di sini lebih kecil," kata Bes, "polisi akan menanyai mereka, tapi mereka tidak akan memandang orang tua dan anak-anak sebagai ancaman." "Kami bukan anak-anak," Emma menggerutu. "Burung bangkai ...." Nenek berbisik dalam tidurnya. "Pai daging………..” Kakek battlk-hatuk. "Cebol ini benar, Sadie. Pergilah. Aku akan bugar kembali sesaat lagi, meski patut disayangkan pria babun tali tidak meninggalkan sebagian kekuatannya untukku. Sudaah lama  sekali aku tidak merasa sekuat itu." Kutatap Kakek, Nenek, dan teman-temanku yang kusut masai. Hatiku terasa seperti ditarik-tarik ke banyak arah, lebih daripada wajah Bes. Aku sadar si cebol benar: mereka lebih aman di sini menghadapi tim penyerang daripada pergi bersama kami. Aku juga menyadari bahwa mereka tidak semestinya ikut dalam perburuan sihir kami. Kakek-nenekku sudah lama memilih untuk tidak menggunakan kemampuan leluhur mereka. Dan teman-temanku hanyalah manusia biasa—manusia-manusia biasa yang pemberani, gila, konyol, dan sangat mengagumkan. Namun, mereka tak bisa pergi ke tempat yang hams kudatangi. "Sadie, tidak apa-apa." Emma memperbaiki polisi kacamatanya yang pecah dan berusaha tersenyum. "Kami bisa menangani polisi. Bukan pertama kalinya kami harus mengobrol sebentar, kan?" 'Akan kami urus kakek dan nenekmu," Liz berjanji. "Tidak butch diurus," Kakek memprotes. Kemudian dia terbatuk-batuk. "Pergilah, Sayang. Si Dewa Babun tadi berada di dalam kepalaku. Aku bisa mengatakan kepadamu—dia berniat membinasakanmu. Selesaikan pencarianmu sebelum dia mengejarmu lagi. Aku bahkan tak bisa menghentikannya. Aku tidak bisa ...." Dia menatap marah pada tangan tuanya yang gemetaran. "Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri. Sekarang, pergilah!”
"Maafkan aku," aku berkata kepada mereka semua, "aku tidak bermaksud—" "Maaf?" kata Emma, "Sadie Kane, itu tadi pesta ulang tahun yang paling keren yang pernah kuhadirn Sekarang,pergilah! " Dia dan Liz memelukku, dan sebelum aku Bes menggiringku memasuki Mercedes. Kami berkendara ke utara menuju tanggul Victoria.kami  hampir mencapai barikade ketika Bes melambatkan mobil "Ada apa?" tanyaku, "tak bisakah kita lewat tanpa terlihat? "Bukan para manusia biasa yang kukhawatirkan." Bes menunjuk , Semua polisi, reporter, dan penonton di sekitar barikade  telah jatuh tertidur. Beberapa personel militer yang mengena perisai tubuh meringkuk di atas trotoar, memeluk senapan mereka seakan-akan itu adalah boneka beruang. Berdiri di depan barikade, menghalangi mobil kami, adalah Carter dan Walt. Tampang mereka acak-acakan dan napas mereka berat, seolah-olah mereka telah berlari dari Brooklyn ke sini. Mereka berdua menyiagakan tongkat sihir mereka. Carter melangkah maju, mengacungkan pedangnya ke kaca depan. "Lepaskan dia!." Carter berteriak kepada Bes, "atau aku akan menghancurkanmu!" Bes melirik kepadaku di belakang. "Haruskah aku menakutinya?" "Tidak!" ujarku. Itu adalah sesuatu yang tak mau kulihat lagi. "Aku akan menanganinya." Aku melangkah keluar dari limusin. "Halo, teman-teman. Penentuan waktu yang tepat sekali." Walt dan Carter mengerutkan kening. "Kau tidak berada dalam bahaya?" Walt bertanya kepadaku. "Tidak lagi." Carter menurunkan pedangnya dengan enggan. "Maksudmu pria jelek ini—" "Adalah teman," ujarku, "teman Bast. Dia juga sopir kita."
Carter tampak bingung sekaligus jengkel dan gelisah, suatu akhir yang memuaskan untuk pesta ulang tahunku. "Sopir ke mana?" tanyanya. "Rusia, tentu saj a, " jawabku, "masuklah." []
9.CARTER
KAMI DIAJAK TUR KELILING OLEH ORANG CEBOL
SEPERTI BIASA, SADIE MELOMPATI BEBERAPA detail penting, seperti bagaimana Walt dan aku nyaris tewas saat berusaha menemukannya. Tidak menyenangkan, terbang ke Museum Brooklyn. Kami harus bergelantungan pada seutas tali di bawah perut si Griffin seperti sepasang Tarzan, menghindari polisi, petugas gawat darurat, pegawai pemerintah kota, dan beberapa wanita tua yang mengejar kami dengan payung sambil berteriak, "Itu dia burung kolibrinyal Bunuhl " Setelah kami berhasil membuka portal, aku ingin membawa Freak bersama kami, tetapi gerbang yang berupa pusaran pasir agak ya, membuat Freak ketakutan. Jadi, kami terpaksa meninggalkannya. Ketika kami tiba di London, monitor-monitor televisi di etalase toko menampilkan rekaman gambar Stasiun Waterloo—terkait dengan kekacauan aneh di dalam stasiun yang melibatkan hewan-hewan lepas dan angin topan. Wah, kira-kira siapa ya itu? Kami menggunakan jimat Walt untuk Shu, Dewa Udara, guna memanggil kumparan angin dan melompat ke Jembatan Waterloo.
Tentu saja, kami mendarat tepat di tengah-tengah pasukan anti huru-hara bersenjata lengkap. Untung saja aku ingat mantra penidur. Lalu, akhirnya, kami siap menyerang dan menyelamatkan Sadie, dan dia berada di dalam limusin yang disetiri oleh orang cebol buruk rupa yang mengenakan pakaian renang, dan dia menuduh kami terlambat. Jadi, ketika dia memberi tahu kami bahwa si cebol akan mengantar kami ke Rusia, aku berpikir "Terserahlah." Kami pun masuk ke dalam mobil. Limusin itu meluncur melewati Westminster sementara Sadie, Walt, dan aku  bertukar cerita. Setelah mendengar apa yang dialami Sadie, aku tidak terlalu menyesali hari yang kualami. Mimpi mengenai Apophis dan ular berkepala tiga di ruang belajar sama sekali tidak terasa semengerikan dewa-dewa yang mengambil alih tubuh kakek-nenek kami. Aku tidak pernah terlalu menyukai Kakek dan Nenek, tetapi tetap saja—ih. Aku juga tidak percaya sopir kami adalah Bes. Ayah dan aku sering menertawakan gambar-gambarnya di museum—matanya yang menonjol, lidahnya yang bergoyang, dan tubuhnya yang tidak terlalu tertutup. Konon, dia bisa menakuti hampir segala sesuatu—arwah, iblis, bahkan dewa-dewa lain—yang menyebabkan rakyat jelata di Mesir mencintainya. Bes menjaga orang-orang cebol engg, dan itu bukan guyonan orang cebol. Dalam wujud nyata, dia tampak persis seperti gambarnya, hanya berwarna, lengkap dengan baunya. "Kami berutang budi kepadamu," kataku, "jadi, kau teman Bast?" Kedua telinganya memerah. "Ya tentu. Dia kadang-kadang meminta bantuanku. Aku berusaha membantu." Aku punya perasaan ada sejarah yang tidak ingin disinggung-singgungnya.
"Ketika Horus bicara denganku," ujarku, "dia memperingatkan bahwa sebagian dewa mungkin akan mencoba menghalangi kita membangunkan Ra. Sekarang kurasa kita tahu siapa sama." Sadie mendesah. "Jika mereka tidak suka rencana kita ,kirim  saja SMS marah-marsh. Nekhbet dan Babi nyaris mencabik-cabikku." Wajah Sadie sedikit hijau. Combat boots-nya berlumuraan , sampo dan Lumpur, sementara pada bahu jaket kulit favoritenya terdapat noda yang secara mencurigakan terlihat seperti kotoran burung bangkai. Meski begitu, aku terkesan dia masih sada! Ramuan itu sulit untuk dibuat dan lebih sulit lagi digunakan. ada harga yang hares dibayar untuk menyalurkan sihir sebesar itu. "Kau tadi hebat," kataku kepadanya. Sadie menatap jengkel pada pisau hitam di pangkuannya_ pisau upacara yang  diberikan Anubis kepadanya. "Aku pasti sudah mati kalau bukan karena Bes." tidak," kata Bes, "ya, baiklah, mungkin memang begitu. Namun, kau akan mati dengan penuh gaya." Sadie membalik pisau hitam aneh itu seolah-olah dia mungkin menemukan instruksi tertulis pada benda tersebut. "Itu adalah netjeri," aku berkata, "belati ular. Para pendeta menggunakan itu untuk—" hal itu akan mernbantu?" "Tidak tahu," "Upacara pen-ibukaan mulut," sambung Sadie, "tapi bagaimana aku mengakui. "Bes?" "Ritual kematian. Aku mencoba menghindarinya." Aku menatap Walt. Benda sihir adalah keahliannya, tetapi sepertinya dia tidak menaruh perhatian. Sejak Sadie menceritakan pembicaraannya dengan Anubis, Walt menjadi sangat pendiam. Dia duduk di sebelah Sadie, memain-mainkan cincinnya. "Kau baik-baik saja?" Aku bertanya kepadanya. "Ya hanya sedang berpikir." Dia melirik kepada Sadie. "Soal belati netjeri, maksudku."
Sadie menarik-narik rambutnya, seolah dia tengah mencoba menciptakan tirai antara dia dan Walt. Ketegangan di antara mereka berdua begitu pekat, sampai-sampai aku ragu sebilah pisau sihir sekalipun bisa menembus ketegangan itu. "Anubis sialan," gumam Sadie, "aku bisa saja mati, dia sama sekali tidak peduli." Kami berkendara dalam diam selama beberapa saat setelah itu. Akhirnya, Bes membelok ke Jembatan Westminster dan berbalik kein bah menyusuri sungai Thames. Sadie mengerutkan kening. "Ke mana kita pergi? Kita perlu portal. Semua artefak terbaik berada di British Museum." "Ya," ujar Bes, "dan para penyihir lain tahu itu." "Penyihir lain?" tanyaku. "Nak, Dewan Kehidupan punya cabang di seluruh penjuru dunia. London adalah Nome Kesembilan. Dengan segala peristiwa di Waterloo, Nona Sadie bare saja mengirim sinyal api besar yang memberi tahu para pengikut Desjardins: Aku di Sinil Kalian boleh bertaruh mereka sedang memburu kalian sekarang. Mereka pasti menjaga museum kalau-kalau kau lari ke sana. Untungnya, aku tahu tempat lain untuk membuka portal." Digurui oleh seorang cebol. Seharusnya terpikir olehku bahwa ada penyihir-penyihir lain di London. Dewan Kehidupan ada di mana-mana. Di luar perlindungan Rumah Brooklyn, tak ada satu benua pun yang aman bagi kami. Kami meluncur melewati London Selatan. Pemandangan di sepanjang Jalan Camberwell nyaris semuram pikiranku. Deretan apartemen batu bata kumuh dan toko-toko berharga sewa murah menghiasi jalan. Seorang wanita tua membersut ke arah kami dan tempat pemberhentian bus. Di pintu masuk sebuah toko bahan makanan Asda, beberapa pemuda bengis memandangi Mercedes ini seolah ingin mencurinya. Aku penasaran apakah mereka adalah dewa atau penyihir yang menyamar, karena sebagian besar orang tidak melihat mobil ini.
Tak bisa kubayangkan ke mana Bes akan membawa kami. Daerah ini tidak seperti jenis lingkungan tempat kita menemukan banyak artefak Mesir. Akhirnya sebuah taman besar menghampar di sebelah kiri kami: padang-padang hijau berkabut, jalan setapak tiga lajur dan  puing-puing dinding mirip saluran air, yang tertutup tanaman  rambat. Tanahnya melandai ke atas menuju sebuah puncak bukit bermenara radio. Bes melompati tepian aspal dan mengendarai mobil  melintasi rumput, merubuhkan papan bertuliskan DILARANG MENGINJAK RUMPUT. Malam itu mendung dan gerimis. Jadi, tidak banyak orang di sekitar situ. Beberapa pejalan kaki di jalan setapak dekat situ bahkan tak menatap ke arah kami. "Kita mau ke mana?" aku bertanya. "Lihat dan pelajari, Nak," kata Bes. Dipanggil "Nak" oleh seorang pria yang lebih pendek dariku terasa agak mengganggu, tetapi aku menutup mulut. Bes meluncur menaiki bukit. Di dekat puncak bukit terdapat tangga batu selebar kira-kira sembilan meter, dibangun di dalam tepian bukit. Tangga itu sepertinya tidak menuju ke mana-mana. Bes menginjak rem dan kami pun meliuk berhenti. Bukit itu lebih tinggi daripada yang kuduga. Seluruh London terbentang di bawah kami. Kemudian aku menatap tangga itu dengan lebih cermat. Dua Sphinx terbuat dari batu yang sudah lapuk berada di kedua nisi tangga, mengawasi kota London. Masing-masing memiliki panjang sekitar tiga meter dengan tubuh singa dan kepala firaun seperti biasa, tetapi keduanya terlihat benar-benar janggal berada di sebuah taman London seperti ini. "Itu bukan Sphinx sungguhan," ujarku. Bes mendengus. "Tentu saja sungguhan." "Maksudku itu bukan berasal dari Mesir Kuno. Sphinx-sphinx itu tidak cukup tua."
"Dasar pemilih," kata Bes, "ini adalah tangga menuju Istana Kristal. Dulu ruang pameran besar yang terbuat dari kaca dan baja seukuran katedral berada tepat di sini, di atas bukit ini." Sadie mengerutkan kening. "Aku pernah membaca tentang itu di sekolah. Ratu Victoria menyelenggarakan pesta di sini atau semacamnya." "Pesta matt semacamnya?" Bes menggerutu, "itu adalah pameran akbar  tahun 1851. Pertunjukan kekuatan Imperial Inggris, dan sebagainya . Mereka menyediakan manisan apel yang enak." "Kau menghadirinya?" tanyaku. lies mengangkat bahu. "Istana itu terbakar di tahun 1930-an, gara-gara beberapa orang penyihir bodoh—tapi itu lain cerita. Yang tertinggal sekarang hanyalah segelintir relik, seperti tangga dan Sphinx-sphinx ini." "Tangga yang tidak menuju ke mana-mana," ujarku. "Bukan tidak menuju ke mana-mana," Bes membenarkan, "malam ini tangga itu akan membawa kita ke St. Petersburg." Walt duduk tegak. Ketertarikannya pada patung tampaknya telah menyentakkannya dari kemurungan. "Tapi jika Sphinx-sphinx itu tidak berasal dari Mesir," katanya, "bagaimana benda itu bisa membuka portal?" Bes melemparkan cengiran lebar kepadanya. "Tergantung apa yang kau maksud dengan berasal dari Mesir, Nak. Semua kerajaan besar ingin meniru Mesir. Menaruh benda Mesir di sekitar mereka membuat mereka merasa penting, Itu sebabnya ada artefak-artefak Mesir `baru' di Roma, Paris, London—di mana-mana. Obelisk di Washington itu—" "Tolong jangan sebut yang itu," kata Sadie. "Pokoknya," lanjut Bes, "ini masih Sphinx Mesir. Sphinx-sphinx ini dibangun untuk menegaskan hubungan antara Kerajaan Inggris dan Kerajaan Mesir. Jadi, ya, benda-benda ini masih bisa menyalurkan sihir. Terutama jika aku yang menyetir. Dan sekarang ...." Dia menatap Walt. "Mungkin sudah waktunya kau keluar."
Aku terlalu kaget untuk mengatakan apa-apa, tetapi Walt menunduk seolah-olah dia sudah menduga hal ini. "Tunggu sebentar," kata Sadie, "mengapa Walt tidak bisa ikut dengan kita? Dia adalah penyihir. Dia bisa membantu” Ekspresi Bes berubah serius. "Walt, kau belum member tahu  mereka?" "Memberi tahu kami soal apa?" desak Sadie. Walt mencengkeram jimat-jimatnya, seolah-olah mungkin ada  satu jimat yang bisa membantunya menghindari percakapan "Tidak ada apa-apa. Sungguh. Hanya saja ... aku harus membantu  di Rumah Brooklyn. Lagi pula menurut Jaz ...." Walt bimbang, mungkin menyadari bahwa seharusnya dia tidak membawa-bawa nama Jaz. "Ya?" Nada suara Sadie tenang dan membahayakan. "Bagaimana keadaan Jaz?" "Dia dia masih koma," jawab Walt, 'Amos bilang dia mungkin akan bertahan, tapi bukan itu yang ku—" "Bagus," kata Sadie, "aku senang dia akan pulih. Kalau begitu kau harus kembali. Bagus sekali. Pergilah. Anubis bilang kami hams bergegas." Tidak terlalu halus, cara Sadie melontarkan nama Anubis saat itu. Walt terlihat seperti habis ditendang Sadie di bagian dada. Aku tahu Sadie tidak bersikap adil terhadap Walt. Dari percakapanku dengan Walt di Rumah Brooklyn, aku tahu dia menyukai Sadie. Apa pun yang sedang mengganggunya, itu bukan hal romantis apa pun dengan Jaz. Di lain pihak, jika aku mencoba berpihak kepadanya, Sadie pasti menyuruhku untuk tidak ikut campur. Bisa jadi aku malah membuat situasi antara Walt dan Sadie menjadi lebih buruk. "Bukannya aku ingin kembali," Walt berhasil berkata. "Tapi kau tak bisa pergi bersama kami," tukas Bes dengan tegas. Sepertinya aku mendengar kekhawatiran di dalam suaranya, bahkan rasa kasihan. "Pergilah, Nak. Tidak apa-apa."
Walt mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. "Sadie, mengenai ulang tahunmu kau, ehm, barangkali tidak ingin hadiah lagi. Ini bukan pisau sihir, tapi aku membuatnya untukmu." Dia meletakkan seuntai kalung emas ke tangan Sadie. Pada kalung tersebut terdapat sebuah simbol Mesir.
"Itu lubang keranjang basket di atas kepala Ra," ujarku. Walt dan Sadie sama-sama mengerutkan kening ke arahku, dan kusadari barangkali aku membuat momen ini tidak magis lagi untuk mereka. "Maksudku itu simbol yang mengelilingi mahkota surya Ra," ujarku, "lingkaran tanpa akhir, simbol keabadian, kan?" Sadie menelan ludah seolah-olah ramuan magis masih menggelegak di dalam perutnya. "Keabadian?" Walt menghunjamkan tatapan yang jelas-jelas berarti Kumohon berhentilah membantu. "Ya," katanya, "emm, ini disebut shen. Aku hanya berpikir, kau tahu, kau sedang mencari Ra. Dan hal-hal baik, hal-hal penting, seharusnya abadi. Jadi, mungkin itu akan membawa keberuntungan buatmu. Aku berniat memberikannya pagi ini, tapi aku kehilangan nyali." Sadie menatap jimat yang berkilauan di telapak tangannya itu. "Walt, aku tidak—maksudku, terima kasih, tapi—" "Ingatlah saja bahwa aku tidak ingin pergi," katanya, "jika kau memerlukan bantuan, aku siap membantumu." Dia melirik ke arahku dan mengoreksi kata-katanya: "Maksudku kalian berdua, tentu saja." "Tapi sekarang," kata Bes, "kau hams pergi." "Selamat ulang tahun, Sadie," ucap Walt, "dan semoga beruntung."
Dia keluar dari mobil dan tersaruk-saruk menuruni bukit. Kami memandanginya sampai Walt hanya berupa sosok kecil dalam kegelapan. Kemudian dia menghilang ke dalam belukar. "Dua kado perpisahan," gumam Sadie, "dari dua cowok cakep , Aku benci hidupku." Dia memasang kalung emas itu di lehernya dan menventuh simbol shen. Bes memandang ke arah pepohonan tempat Walt menghilang  "Anak yang malang. Lahir dalam keadaan tidak biasa. " "Apa maksudmu?" tanyaku, "mengapa kau begitu ingin walt pergi?" Si cebol mengusap-usap janggutnya yang kasar. "Bukan hakku untuk menjelaskan. Saat ini ada pekerjaan yang harus kita lakukan. Semakin lama kita memberi Menshikov waktu untuk mempersiapkan pertahanannya, akan semakin sulit." Aku belum siap meninggalkan topik itu, tetapi Bes menatapku dengan keras kepala dan aku tahu aku tidak akan mendapat jawaban lagi darinya. Tak ada yang bisa terlihat begitu keras kepala seperti orang cebol. "Jadi, Rusia," ujarku, "dengan bermobil menaiki tangga kosong." "Tepat sekali." Bes menekan pedal gas. Mercedes itu mengacau rumput serta lumpur dan meluncur menaiki tangga. Aku yakin kami akan mencapai puncak tangga dan tidak mendapati apa-apa selain as roda yang rusak, tetapi pada detik terakhir, sebuah portal berupa pusaran pasir membuka di depan kami. Roda-roda mobil kami meninggalkan tanah, dan limusin hitam itu melayang langsung memasuki pusaran.
Kami menghantam trotoar di nisi seberang, membuat sekelompok remaja yang terkejut lari berhamburan. Sadie mengerang dan melepaskan kepalanya dari sandaran kursi. "Tidal( bisakah kita pergi ke mana pun dengan mulus?" tanyanya.
Bes menyalakan wiper mobil dan membersihkan pasir dari kaca depan. Di luar suasana gelap dan bersalju. Bangunan-bangunan batu dari abad kedelapan belas berderet di sepanjang sungai beku yang diterangi lampu-lampu jalan. Di seberang sungai bersinarlah bangunan-bangunan bak dongeng yang lain: kubah-kubah gereja keemasan, istana-istana berwarna putih, dan rumah-rumah besar penuh hiasan yang bercat bim dan hijau telur Paskah. Aku mungkin percaya kami telah mundur melintasi waktu tiga ratus tahun—bila tidak ada mobil, lampu-lampu listrik, dan tentu saja para remaja ( lel tgan tubuh bertindik, rambut dicat, dan memakai jaket kulit I nut nt yang meneriaki kami dalam Bahasa Rusia dan memukul-n tik u I kap mobil Mercedes karena kami nyaris menabrak mereka. "Mereka bisa melihat kita?" tanya Sadie. "orang  Rusia," kata Bes dengan semacam nada kagum yang enggan, "orang-orang yang sangat percaya takhayul. Mereka cenderung melihat sihir apa adanya. Kita hams berhati-hati di sini." "Kau pernah ke sini sebelumnya?" tanyaku. Dia memberiku tatapan ya iyalah, kemudian menunjuk ke kedua sini mobil. Kami mendarat di antara dua Sphinx batu yang berdiri di atas tumpuan, Keduanya terlihat seperti banyak Sphinx lain yang pernah kulihat—kepala manusia bermahkota yang berada di atas tubuh singa—tetapi aku tak pernah melihat Sphinx yang diselimuti salju. "Apakah itu ash?" tanyaku. "Artefak Mesir di wilayah paling utara sebelum kutub utara ditemukan," kata Bes, "dijarah dari Thebes dan dibawa ke sini untuk menghiasi kota kekaisaran Rusia yang baru, St. Petersburg. Seperti tadi kubilang, semua kerajaan baru menginginkan sepotong Mesir." Anak-anak di luar masih berteriak-teriak dan memukuli mobil. Salah seorang di antara mereka menghantamkan botol ke kaca depan kami. "Enggg," kata Sadie, "haruskah kita pindah tempat?"
"Tidak," sahut Bes, "anak-anak muda Rusia selalu nongkrong di sekitar Sphinx. Mereka sudah melakukannya selama ratusan tahun." "Tapi ini sudah tengah malam," kataku, "dan salju turun  " "Apa aku sudah bilang kalau mereka orang Rusia?" Tanya bes, "jangan khawatir, aku akan membereskannya." Dia membuka pintu mobil. Angin sedingin es berhembus ke  dalam Mercedes, tetapi Bes melangkah keluar tanpa mengenaI,. apa-apa kecuali celana renangnya. Anak-anak itu cepat-cepat  melangkah mundur. Aku tak bisa menyalahkan mereka. lies mengatakan sesuatu dalam Bahasa Rusia, ketnudian mengaum seperti singa. Anak-anak itu menjerit dan berlari. Wujud Bes terlihat beriak. Ketika kembali ke dalam mobil, dia sudah mengenakan mantel musim dingin yang hangat, topi dengan pinggiran terbuat dari bulu, dan sarung tangan berbulu lembut. "Lihat?" katanya, "percaya takhayul. Mereka tahu sebaiknya lari menjauhi dewa." "Ya, dewa kecil berbulu yang mengenakan celana renang," Sadie berkomentar, "jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Bes menunjuk ke seberang sungai, ke arah sebuah istana batu berwarna putih dan emas yang gemerlapan. "Itu Hermitage, Pertapaan." "Para pertapa tinggal di sana?" tanya Sadie. "Bukan," tukasku, "aku pernah mendengar tentang tempat itu. Itu dulu Istana Tsar. Sekarang menjadi museum. Koleksi Mesir terbaik di Rusia." "Ayah pernah mengajakmu ke sana, ya?" tanya Sadie. Kukira kami sudah menyelesaikan masalah cemburu-mengenai-berkeliling-dunia-bersama-Ayah, tetapi sesekali hal itu muncul lagi. "Kami tak pernah ke sana." Aku berusaha tidak terdengar membela diri. "Ayah mendapat undangan untuk berbicara di sana satu kali, tapi dia menolak."
Bes terkekeh. "Ayahmu pintar. Penyihir Rusia tidak mudah menerima orang luar. Mereka melindungi wilayah kekuasaan mereka dengan sengit." Sadie menatap ke seberang sungai. "Maksudmu markas besar Nome Kedelapan Belas herada di dalam museum itu?" "Di suatu tempat di sana , " bes membenarkan, "tapi markas itu disembunyikan dengan sihirkaarna  aku tak pernah menemukan pintu masuknya. Bagian yang sedang kalian lihat adalah Istana Musim Dingin, bekas rumah tsar. Ada sekompleks rumah besar lain di belakangnya. Aku pernah iin'ndengar bahwa diperlukan waktu sebelas hari hanya untuk melihat  segala sesuatu yang ada dalam koleksi Pertapaan." "Tapi jika kita tidak membangunkan Ra, dunia akan berakhir empat hari lagi," ujarku. "Tinggal tiga hari sekarang," Sadie mengoreksi, "kalau sudah lewat tengah malam." Aku meringis. "Terima kasih sudah mengingatkan." "Oleh sebab itu, lakukan tur singkat," kata Bes, "mulailah dengan bagian Mesir. Lantai dasar, museum utama." "Kau tidak ikut bersama kami?" tanyaku. "Dia tidak bisa, kan?" tebak Sadie, "seperti Bast tak pernah bisa memasuki rumah Desjardins di Paris. Para penyihir memantrai markas mereka untuk menangkal para dewa. Benar, kan?" Bes membuat wajahnya menjadi lebih jelek lagi. "Aku akan menemani kalian berjalan hingga jembatan, tapi aku tak bisa pergi lebih jauh lagi. Jika aku menyeberangi Sungai Neva dan terlalu dekat dengan Pertapaan, aku akan menyalakan banyak alarm. Kalian hams menyelinap ke dalam entah dengan cara bagaimana—" "Membobol masuk ke dalam museum di malam hari," Sadie menggerutu, "kita pernah sangat beruntung melakukan itu." "—dan menemukan pintu masuk ke Nome Kedelapan Belas. Dan jangan sampai tertangkap hidup-hidup."



"Apa maksudmu?" tanyaku, "lebih baik tertangkap dalam keadaan tidak bernyawa?" Sorot di mata Bes tampak suram. "Pokoknya percaya saja  kepadaku. Kalian tidak ingin menjadi tawanan menshikov " Bes menjentikkan jari, dan tiba-tiba saja kami sudah  mengenakan parka bulu domba, celana ski, dan sepatu bot musim  dingin. "Ayo, malishi(Malishi: anak-anak(Rusia)—peny) ," katanya, "aku akan mengantar kalian ke Jembatan Dvortsovyy."
Jembatan itu hanya berjarak beberapa meter, tetapi tampak seola  olah lebih jauh. Maret jelas bukan musim semi di St. Petersburg. Kegelapan, angin, dan saljunya membuatku merasa lebih seperti berada di Alaska pada bulan Januari. Secara pribadi, aku lebih suka hari yang papas di gurun Mesir. Meskipun dengan pakaian hangat yang diciptakan Bes untuk kami, gigiku tak bisa berhenti bergemeletuk. Bes tidak terburu-buru. Dia terus melambatkan langkah dan memberi kami panduan tur sampai kukira hidungku akan copot gara-gara radang dingin. Dia bilang kami berada di Pulau Vasilevsky, di seberang Sungai Neva di pusat St. Petersburg. Dia menunjukkan beraneka puncak gereja dan monumen, lalu ketika menjadi bersemangat, dia mulai bicara dalam Bahasa Rusia. "Kau pernah tinggal lama di sini," kataku. Dia berjalan dalam diam selama beberapa langkah. "Sebagian besar sudah lama sekali. Itu bukan—" Dia berhenti begitu mendadak, sampai aku menubruknya. Dia menatap ke seberang jalan pada sebuah istana besar berdinding kuning terang dan atap berwarna hijau. Menyala di malam hari
dari balik pusaran salju, istana itu tampak tidak nyata, seperti gambar-gambar samar di Aula Zaman Nome Pertama. "Istana Pangeran Menshikov," Bes menggerutu. Suaranya penuh kebencian. Aku nyaris mengira dia akan meneriakkan BOO pada bangunan itu, tetapi dia hanya mengertakkan gigi. Sadie memandangiku meminta penjelasan, tetapi aku bukan Wikipedia berjalan seperti yang tampaknya dia pikir. Aku tahu berbagai hal mengenai Mesir, tetapi Rusia? Tidak terlalu. "Maksudmu Menshikov seperti nama Vlad si Bengek?" tanyaku. "Dia salah satu keturunannya." Bes mengerutkan bibir dengan penuh kebencian . Dia mengucapkan sebuah kata Rusia yang aku berani bertaruh  merupakan makian yang cukup buruk. "Pada t sekitar  tujuh ratusan, Pangeran Menshikov mengadakan pesta untuk Peter yang Agung—tsar yang membangun kota ini. Peter sangat menyukai orang-orang cebol. Dia sangat mirip orang Mesir dalam hal itu. Dia menganggap kami ini membawa keberuntungan. Jadi, selalu ada beberapa orang cebol dalam istananya. Pokoknya, Menshikov ingin menghibur tsar tersebut. Jadi, dia berpikir pasti lucu bila menampilkan pernikahaan orang cebol. Dia memaksa mereka dia memaksa kami berdandan, pura-pura menikah, dan menari ke sana ke marl. Semua orang besar tertawa, mencemooh ...." Suaranya memelan. Bes menggambarkan pesta itu seolah baru terjadi kemarin. Kemudian aku ingat bahwa pria kecil aneh ini adalah dewa. Dia sudah hidup beribu-ribu tahun. Sadie meletakkan tangan di bahu Bes. "Aku ikut sedih, Bes. Pasti buruk sekali." Bes merengut. "Para penyihir Rusia mereka senang menangkap dewa, memanfaatkan kami. Aku masih bisa mendengar musik pernikahan itu, dan tsar yang tertawa ...." "Bagaimana kau bisa meloloskan diri?" tanyaku.



Bes menatap marah kepadaku. Jelas aku telah mengajukan pertanyaan yang salah. "Sudah cukup soal ini." Bes menegakkan kerahnya. "Kita membuang-buang waktu." Dia terus melangkah maju, tetapi aku punya perasaan dia tidak benar-benar meninggalkan istana Menshikov. Mendadak saja dinding-dinding kuning istana yang ceria dan jendela-jendelanya  yang terang-benderang tampak menyeramkan Setelah seratus meter menembus angin yang sangat dingin, kami mencapai jembatan. Di sisi seberangnya, Istana Musim Dingin berkelip-kelip. "Aku akan membawa Mercedes ini mengambil jalan memutar yang jauh," kata Bes, "menyusur ke jembatan berikutnya, dan mengitari bagian selatan Pertapaan. Lebih kecil kemungkinannya mengungkap keberadaanku kepada para penyihir." Sekarang kusadari mengapa dia begitu paranoid soal menyalakan alarm. Para penyihir pernah menangkapnya di St. Petersburg sebelum ini. Aku ingat apa yang pernah dikatakan Bes kepada kami di dalam mobil: Jangan sampai tertangkap hidup-hidup. "Bagaimana cara kami mencarimu kalau-kalau kami berhasil?" tanya Sadie. "Setelah kalian berhasil," kata Bes, "berpikirlah positif, Nak, atau dunia akan berakhir." "Benar," Sadie menggigil dalam balutan parkanya. "Positif." "Alm akan menemui kalian di Nevsky Prospekt, jalanan utama Yang berisi banyak toko, di selatan Pertapaan. Aku akan berada di Museum Cokelat." "Museum apa?" tanyaku. "Ya, itu bukan benar-benar museum. Lebih seperti toko-- tutup kalau sudah malam seperti ini, tapi pemiliknya selalu membukakan pintu untukku. Mereka punya apa saja yang terbuat dari cokelat—set permainan catur, singa, kepala Vladimir Lenin—"

“Si Orang Komunis?" tanyaku.

“Ya, Profesor Genius,” kata Bes, “Si Orang Komunis, dalam
wujud cokelat.”

“Jarli, binr kuperjelas," kata Sadie, “kami akan membobol
masuk kv dalam museum nasional Rusia yang dijaga ketat, mencari
markas mhasia para penyihir, mencuri gulungan berbahaya, lalu
melurikzm diri. Sementara itu, kau akan makan cokelat.”

Bus mengangguk serius. “Itu rencana yang bagus. Bisa saja
berhnsil. Jika terjadi sesuatu dan aku tak bisa menemui kalian
(Ii Museum Cokelat, jalan keluar kita adalah J embatan Mesir, di
scbelah selatan Sungai Fontanka. Belok saja di-”

“Cukup,” tukas Sadie, “kau akom menemui kami di toko
cokelat itu. Dan kau akan memberiku setas cokelat untuk dibawa
pulang. Titik. Sekarang, pergilah‘.”

Bes melemparkan senyum miring kepada Sadie. “Kau boleh
juga, Nak.”

Dia berjalan dengan susah payah menuju Mercedes.

Aku menatap Istana Musim Dingin di seberang sungai yang
setengah beku. Entah bagaimana London tidak terasa suram dan
berbahaya lagi.

“Apakah kita berada dalam masalah sebesar yang kupikir?”
tanyaku kepada Sadie.

“Lebih,” jawabnya, “mari kita bobol Istana Tsar.



BAB 10 CARTER
SEORANG TEMAN LAMA BERWARNA MERAH DATANG BERKUNJUNG
MEMASUKI PERTAPAAN TIDAKLAH SULIT.

Sistem keamanan modern tidak melindunginya dari sihir.
Sadie dan aku harus menggabungkan kekuatan untuk melewati
garis batas luar, tetapi dengan sedikit konsentrasi, tinta dan
papirus, serta sejumlah energi yang diambil dari teman-teman
dewa kami, Isis dan Horus, kami berhasil melakukan perjalanan
singkat melewati Duat.

Sesaat sebelumnya kami tengah berdiri di Alun~A1un Istana
yang kosong. Kemudian segalanya menjadi abu-abu dan berkabut.
Perutku terasa geli seolah aku sedang terjun bebas. Kami terlepas
dari dunia manusia fana dan melewati gerbang besi serta batu
yang keras, lalu memasuki museum.

Ruangan Mesir berada di lantai dasar, persis seperti yang
disampaikan Bes. Kami masuk kedunia manusia lagi dan mendapati
diri berada di tengah-tengah koleksi Mesir: sarkofagus-sarkofagus
dalam lemari kaca, gulungan-gulungan hieroglif, patung-patung
dewa dan firaun. Tidak jauh berbeda dengan ratusan koleksi Mesir
lain yang pernah kulihat, tetapi latarnya cukup mengesankan.
Langit~langit berkubah menjulang di atas kami. Lantai pualamnya
yang licin berpola putih abu-abu, membuat berjalan di atasnya
serasa seperti berjalan di atas ilusi optik. Aku bertanya-tanya berapa
banyak ruangan seperti ini di Istana Tsar itu, dan apakah memang
perlu waktu sebelas hari untuk melihat semuanya. Kuharap Bes
benar bahwa pintu masuk rahasia ke nome itu berada di suatu tempat dalam ruangan ini. Kami tidak punya waktu sebelas hari untuk mencari. Dalam waktu kurang dari tujuh puluh dua jam,

 Apophis akan bebas. Aku ingat mata merah yang bercahaya dibawah kulit-kulit kurnbang itu-kekuatan kekacauan yang begitu dahsyat sampai-sampai bisa melelehkan indra manusia. Tiga hari lagi, makhluk itu akan terlepas ke dunia.
Sadie memanggil tongkatnya dan mengacungkan benda itu
ke arah kamera keamanan terdekat. Lensa kamera pecah dan
mengeluarkan suara seperti alat pembunuh serangga. Bahkan
dalarn situasi terbaik, teknologi dan sihir tidaklah akur. Salah
satu mantra termudah di dunia adalah mantra untuk membuat

kerusakan elektronik. Aku hanya harus melihat ponsel dengan

cara yang aneh untuk membuatnya meledak. Dan komputer7
Tidak ada apa-apanya. Kubayangkan Sadie baru saja mengirirnkan
denyut sihir melalui sistem keamanan yang akan membakar semua

kamera dan sensor di dalam jaringan.

Meskipun begitu, ada jenis penjagaan lain-penjagaan sihir.
Kukeluarkan sehelai kain linen hitam dan sepasang shabti lilin
kasar dari dalam tasku. Kubungkus Shabti itu dengan kain dan

kuucapkan kata perintahnya: “I’mun”


Hieroglif untuk Sembunyikan itu berpijar sebentar di kain.
Segurnpal kegelapan mengembang dari bungkusan itu, seperti

160
gummpalan tinta cumi-Cumi. Kegelapan itu membesar sampai
menyelubungi Sadie dan aku dalam gelembung kegelapan yang
transparan. Kami bisa melihat menembus gelembung itu
kuharap, tak ada yang bisa melihat ke dalamnya. Gumpalan itu tidak akan terlihat oleh siapa pun di luar.
“Kau melakukannya dengan benar kali ini‘." kata Sadie, kapan kau menguasai mantra ini?”
Wajahku mungkin memerah. Aku terobsesi menguasai mantra tidak kasat mata selama berbulan-bulan, sejak aku melihat zia menggunakannya di Nome Pertama.“Sebenarnya aku masih-" secercah bunga api memercik dari selubung kabut itu seperti panah api mini. “Aku masih belajar menguasainya.
Sadie menghela napas. “Ya . . . lebih baik daripada yang terakhir
kali. Selubung kabutnya waktu itu terlihat seperti lampu lava. Dan
yang sebelumnya lagi, ketika baunya seperti telur busuk-”

“Bisakah kita lanjutkan saja?" tanyaku, “dari mana kita harus
mulai?”

Mata Sadie terpaku pada salah satu pajangan. Dia melangkah
ke arahnya dengan linglung.

“Sadie?” aku mengikutinya ke sebuah nisan batu kapur-
stela-yang berukuran sekitar enam puluh kali sembilan puluh
senti meter. Deskripsi di sebelahnya tertuiis dalarn Bahasa Rusia
dan Inggris.

“’Dari makam Ipi, si Juru Tulis,’” Aku membacanya keras-
keras. “’Bekerja di Istana Raja Tut.’ Mengapa kau tertarik oh.”

Bodohnya aku. Gambar di nisan itu menunjukkan almarhum
si juru tulis tengah menghormati Anubis. Setelah bicara secara
langsung dengan Anubis, Sadie pasti merasa aneh melihatnya
berada di dalam sebuah lukisan pada makam berusia tiga ribu
tahun, terutama ketika Anubis digambarkan dengan kepala jakal,
dan mengenakan rok.

“Walt menyukaimu.”

Aku tidak tahu mengapa aku menyemburkan kata-kata itu. Ini bukan waktu atau tempat yang tepat. Aku tahu aku tidak membantu Walt dengan berpihak kepadanya. Namun, aku mulai merasa kasihan kepada Walt setelah Bes mengusirnya dari limusin. Anak itu sudah jauh-jauh datang dari London untuk membantuku menyelamatkan Sadie, tetapi kami malah menurunkannya di Taman Istana Kristal seperti penumpang yang tidak dikehendaki. Aku agak marah kepada Sadie karena mendiamkan Walt dan naksir seberat itu kepada Anubis, yang lima ribu tahun terlalu tua untuknya dan bahkan bukan manusia. Plus, cara Sadie mengabaikan Walt terlalu jelas mengingatkanku pada cara Zia memperlakukanku pertama kali. Dan mungkin, jika aku jujur kepada diriku sendiri, aku jugs marah kepada Sadie karena dia telah memecahkan masalahnya sendiri di London tanpa memerlukan bantuan kami. Wow. Kedengarannya sangat egois. Namun, kurasa itu benar. Menakjubkan betapa beragam cara seorang adik perempuan membuat kita jengkel pada satu waktu. Sadie tidak melepaskan pandangannya dari stela itu. "Carter, kau sama sekali tidak tahu apa yang kau bicarakan." "Kau tidak memberi Walt kesempatan," aku bersikeras, "apa pun yang terjadi kepadanya, itu tak ada hubungannya denganmu." "Sangat menenangkan, tapi bukan itu—" "Lagi pula, Anubis itu dewa. Kau tidak benar-benar berpikir—"Carter?" bentak Sadie. Mantra penyelubungku pasti sensitif terhadap emosi, karena secercah bunga api keemasan mendedas dan meletup dari selubung kami yang tidak-terlalu-kasat-mata. "Aku memandangi batu itu bukan karena Anubis." "Bukan?" "Bukan. Dan aku jelas tidak mau berdebat denganmu mengenai Walt. Berbeda dengan yang mungkin kau kira, aku tidak menghabiskan semua waktuku untuk memikirkan cowok." "Hanya sebagian besar waktumu?"
Sadie memutar bola matanya. "Lihatlah nisan itu, otak udang. Ada garis tepi di sekelilingnya, seperti kosen jendela atau—" "Pintu," sambungku, "itu pintu palsu. Banyak makam yang memiliki pinggiran seperti itu. Itu seperti gerbang symbol untuk  ba si orang mati, supaya bisa pulang pergi ke Duat." Sadie mengeluarkan tongkatnya dan menyusuri tepian stelatu. "Pria ini, Ipi, adalah seorang juru tulis, yang merupakan kata lain  untuk penyihir. Dia mungkin saja salah satu dari kita jaadi?" "Jadi, mungkin itu sebabnya batu ini bercahaya.carter Bagaimana jika pintu palsu ini tidak palsu?" Aku memandangi stela itu dengan lebih cermat, tetapi aku tidak melihat cahaya apa pun. Kupikir mungkin Sadie berhalusinasi  akibat kelelahan atau terlalu banyak ramuan sihir dalam tubuhnya. Kemudian Sadie menyentuhkan’ tongkatnya ke bagian tengah stela dan mengucapkan  kata perintah pertama yang kami pelajari “w’peh" Terbukalah. Sebuah hieroglif keemasan menyala pada batu itu.
Nisan itu menyorotkan cahaya seperti proyektor film. Tiba-tiba saja, sebuah pintu seukuran normal berpendar-pendar di hadapan kami—portal segi empat yang menampilkan gambaran samar sebuah ruangan lain. Kutatap Sadie dengan takjub. "Bagaimana kau bisa melakukan itu?" tanyaku, "kau tak pernah bisa melakukannya sebelum ini." Sadie mengangkat bahu seolah-olah itu bukan masalah besar. "Dulu aku belum berusia tiga belas tahun. Mungkin itu sebabnya."
"Tapi aku sudah empat belas tahunl" Aku memprotes, "dan aku masih belum bisa melakukan itu." "Anak perempuan dewasa lebih dulu." Kugertakkan gigiku. Aku benci bulan-bulan musim semi_ Maret, April, Mei—karena sampai ulang tahunku tiba pada bulan Juni, Sadie bisa mengklaim hanya setahun lebih muda dariku. Setelah  ulang tahun dia selalu bertingkah menyebalkan, seolah-olah entah bagaimana dia berhasil menyusulku dan menjadi kakak perempuan ku . Benar-benar mimpi buruk. Sadie menunjuk ke arah pintu yang bersinar. "Setelah kau, Kaka k sayang. Kaulah yang diselimuti selubung tak kasat mata yang berkelap-kelip." Schclunl ketenanganku hilang, aku melangkah memasuki portal itu.
Aku nyaris jatuh dan membuat wajahku patah. Sisi seberang portal itu adalah sebuah cermin yang tegantung satu setengah meter dari lantai. Aku menapaki sebilah papan di atas perapian. Kutangkap Sadie saat dia masuk, tepat waktu untuk mencegahnya terjungkal dari birai. "Trims," bisiknya, "ada yang terlalu banyak membaca cerita Alice Through the Looking Glass." Aku mengira ruangan Mesir tadi sudah menakjubkan, tetapi ruangan itu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan ruangan ini. Desain-desain geometris berwarna tembaga berkilauan di langit-langit. Pualam tatahan berwarna putih dan emas membentuk pola persegi delapan yang besar di lantai. Dengan diterangi lampu gantung yang menyala-nyala di atas, hiasan kerawang dari benang emas serta batu putih dan hijau berkilauan sedemikian terang, sampai-sarnpai mataku sakit. Kemudian kusadari sebagian besar cahaya itu tidak berasal dari tempat Jilin, melainkan dari penyihir yang sedang merapal
mantra di ujung terjauh ruangan. Punggungnya menghadap kami, tetapi aku tahu itu adalah Vlad Menshikov. Persis seperti penggambaran Sadie, dia adalah pria kecil gemuk dengan rambut keriting abu-abu dan kemeja putih. Dia berdiri di dalam lingkaran perlindungan yang mendenyutkan cahaya hijau zamrud. Dia mengangkat tongkatnya, dan ujung tongkat menyala seperti api las. Di sebelah kanannya, persis di luar lingkaran, berdirilah sebuah vas  hijau seukuran pria dewasa. Di sebelah kirinya.menggeliat- geliut dalam kekangan rantai emas, adalah makhluk yang kukenali sebagai iblis. Iblis itu memiliki tubuh seperti manusia dengan kulit keunguan penuh bulu, tetapi sebagai ganti kepala, sebuah kottek, alat pembuka sumbat botol, menjulur di antara kedua bahunva. "Ampunl" Iblis itu menjerit dengan suara yang parau dan lemah. Jangan bertanya kepadaku bagaimana iblis berkepala kotrek bisa menjerit—tetapi suara itu berkumandang dari pembuka botol itu seolah-olah benda tersebut adalah sebuah garputala raksasa. Vlad Menshikov tents merapal mantra. Vas hijau mendenyut-denyutkan cahaya. Sadie menyikutku dan berbisik, "Lihat." "Ya," aku balas berbisik, "semacam ritual pemanggilan." "Bukan," desis Sadie, "lihat di sana," Dia menunjuk ke sebelah kanan kami. Di sudut ruangan, enam meter dari papan perapian, terdapat sebuah meja kayu mahoni model kuno. Sadie sudah memberitahuku mengenai petunjuk Anubis: Kami harus mencari meja Menshikov. Bagian Kitab Ra yang berikutnya berada di laci atas. Mungkinkah itu benar-benar meja yang dimaksud? Sepertinya terlalu mudah. Sepelan mungkin, Sadie dan aku turun dari papan perapian dan merayap di sepanjang dinding. Aku berdoa semoga selubung tak kasat mata ini tidak akan meletupkan kembang api lagi. Kami sudah setengah jalan menuju meja itu ketika Vlad Menshikov selesai merapal mantra. Dia memukulkan tongkatnya
ke lantai, dan benda itu tegak menancap di sana, ujungnya masih menyala-nyala dengan suhu sejuta derajat. Dia memutar kepalanya sedikit, dan aku melihat kilauan kacamata hitamnya yang berbingkai putih. Dia menggeledah saku-saku mantelnya sementara vas hijau besar itu berpendar-pendar dan si iblis berteriak-teriak dalam keadaan dirantai. "Jangan ribut, Ajal-untuk-Gabus," omel Menshikov. Suaranya bahkan lebih parau daripada yang digambarkan Sadie—seperti seorang perokok berat berbicara dari balik bilah-bilah kipas angin. "Kau tahu aku perlu korban untuk memanggil dewa sebesar itu. Sama sekali bukan persoalan pribadi." Sadie mengerutkan kening dan berujar tanpa suara, Dewa Besar? Kugelengkan kepala, bingung. Dewan Kehidupan tidak mengizinkan manusia memanggil dewa. Itulah alasan utama Desjardins membenci kami. Menshikov seharusnya adalah teman baik Desjardins. Jadi, apa yang sedang dia lakukan, melanggar aturan? "Sakitl" erang iblis malang itu, "sudah melayani Anda selama lima puluh tahun, Tuan. TolonglahF' "Nah, nah," kata Menshikov tanpa selintas pun rasa simpati, "aku harus menggunakan kutukan. Hanya bentuk pemusnahan yang paling menyakitkan yang akan memunculkan cukup energi." Dari saku mantelnya, Menshikov mengeluarkan sebuah alat pembuka sumbat biasa dan potongan keramik yang dipenuhi hieroglif berwarna merah. Dia mengangkat kedua benda tersebut dan mulai merapal mantra lagi: "Kau kuberi nama Ajal-untuk-Sumbat, Pelayan Vladimir, Dia yang Bergerak-gerak di Malam Hari." Saat nama-nama si Iblis diucapkan, rantai sihir tadi mengepulkan asap dan semakin mengencang di seputar tubuh si Iblis. Menshikov memegang pembuka sumbatnya di atas nyala api tongkatnya. Si Iblis menggelepar-gelepar dan meraung. Saat alat
pembuka sumbat yang lebih kecil berubah menjadi merah pangs, tubuh iblis itu mulai mengeluarkan asap. Aku menyaksikannya dengan penuh ketakutan. Akre t tentang sihir simpati, tentu saja. Intinya adalah membuat sesuatu  yang berukuran kecil memengaruhi sesuatu yang berukuran besar dengan mempertautkan keduanya. Semakin mirip keduanya seperti pembuka sumbat botol dengan iblis itu—semakin ditautkan. Boneka voodoo juga bekerja berdasarkan teori yang, sama. Akan tetapi, kutukan adalah hal yang serius. Niatnya adalah menghancurkan sesuatu secara total—menghapuskan keberadaan bentuk fisik dan bahkan namanya. Diperlukan sihir yang serius untuk melakukan mantra semacam itu. Jika dilakukan dengan keliru, kutukan itu bisa menghancurkan si perapal mantra. Namun, jika dilakukan dengan benar, sebagian besar korbannya tidak punya peluang selamat. Manusia biasa, penyihir, hantu, bahkan iblis bisa dihapuskan dari muka bumi ini. Kutukan mungkin tidak menghancurkan kekuatan besar seperti dewa, tetap saja itu seperti meledakkan born nuklir di depan muka mereka. Mereka akan diledakkan dan ditenggelamkan begitu dalam ke lubuk Duat, sehingga mungkin tidak akan pernah kembali. Vlad Menshikov merapal mantra itu seolah dia melakukannya setiap hari. Dia terus merapal seiring melelehnya pembuka sumbat botol, dan iblis tadi ikut meleleh bersamanya. Menshikov menjatuhkan pecahan tembikar ke lantai—hieroglif merah memunculkan semua nama si Iblis yang beragam. Dengan satu kata terakhir yang berkekuatan, Menshikov menginjak pecahan tembikar dan meremukkannya hingga hancur berkeping-keping. Ajal-bagi-Sumbat pun lenyap, lengkap dengan seluruh rantainya. Biasanya aku tidak merasa kasihan kepada makhluk-makhluk dunia bawah, tetapi mau tak mau aku merasa ada yang menyumbat di tenggorokanku. Aku tidak percaya betapa santainya Menshikov

menghabisi pelayannya hanya untuk memperkuat mantra yang lebih besar. Begitu iblis itu lenyap, api di tongkat Menshikov pun padam. Hieroglif-hieroglif menyala di sekitar lingkaran pemanggilan. Botol hijau besar itu bergetar dan sebuah suara menggelegar dari dalamnya, "Halo, Vladimir. Lama tidak jumpa." Sadie menarik napas mendadak. Aku harus menutup mulut Sadie untuk mencegahnya berteriak. Kami berdua mengenal suara itu. Aku ingat betul suara itu dari petualangan kami di Piramida Merah. "Set." Menshikov bahkan tidak tampak letih setelah melakukan pemanggilan. Dia terdengar sangat tenang untuk seseorang yang sedang berbicara dengan Dewa Kejahatan. "Kita perlu bicara." Sadie menyingkirkan tanganku dan berbisik, "Apa dia sudah gila?" "Meja," aku berkata, "gulungan. Keluar dari sini. Sekarang." Sekali ini, Sadie tidak membantah. Dia mulai mengeluarkan perbekalan dari dalam tasnya. Sementara itu botol hijau besar tadi bergoyang-goyang seolah Set sedang berusaha menjungkirkannya. "Vas malakit?" Sang dewa terdengar marah. "Yang benar saja, Vladimir. Kukira kita lebih akrab daripada itu." Tawa Menshikov terdengar seperti orang yang sedang menelan seekor kucing. "Sangat bagus untuk mengekang jiwa-jiwa jahat, ya? Dan ruangan ini mengandung lebih banyak malakit daripada semua tempat lain di bumi ini. Tsarina Alexandra sangat bijaksana membangun ruangan seperti ini untuk ruang tamunya." Botol itu berdenting. "Tapi di sini berbau seperti koin lama, dan terlalu dingin. Pernahkah kau terjebak dalam botol malakit, Vlad? Aku bukan jin. Aku akan lebih banyak bicara jika kita bisa duduk berhadapan muka, barangkali sambil minum teh." "Kukira tidak," kata Menshikov, "sekarang, kau akan menjawab pertanyaan-pertanyaanku."
"Oh, baiklah," sahut Set, "aku suka Brazil untuk Piala Dunia. Aku menyarankan berinvestasi dalam bentuk platinum dan saham usaha kecil. Sementara nomor keberuntunganmu minggu ini adalah 2, 13—" "Bukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu!" bentak Mensinkov. Sadie mengambil segumpal lilin dari tasnya dan bekerja dengan kalap, membuat bentuk hewan. Aku tahu dia hendak mengetes apakah meja itu mengandung pertahanan sihir.dia lebih  mahir dalam mantra jenis itu daripada aku, tetapi aku tidak yakin bagaimana dia akan melakukannya. Sihir Mesir lumayan tidak berbatas. Selalu ada ribuan cara yang berbeda untuk menyelesaikan suatu tugas. Triknya adalah kreatif dengan perbekalan kita dan memilih cara yang tidak akan membuat kita terbunuh. "Kau akan memberitahuku apa yang perlu kuketahui," tuntut Menshikov, "atau botol itu akan menjadi semakin tidak nyaman." "Vladimir yang terhormat." Suara Set dipenuhi rasa geli yang keji. "Yang perlu kau ketahui mungkin sangat berbeda dengan yang ingin kau ketahui. Tidakkah kecelakaan nahas yang kau alami mengajarkan hal itu kepadamu?" Menshikov menyentuh kacamata hitamnya, seolah-olah memastikan benda itu tidak terlepas jatuh. "Kau akan memberitahuku mantra pengikat untuk Apophis," katanya dengan nada tegas, "kemudian kau akan memberitahuku cara menetralkan sihir pada Rumah Brooklyn. Kau mengenal pertahanan Kane lebih baik daripada siapa pun. Begitu aku menghancurkan Kane, tidak akan ada lagi yang menentangku." Ketika makna dan kata-kata Menshikov mulai kusadari, gelombang kemarahan nyaris membuatku tersandung. Kali ini, Sadie yang harus membekap mulutku. "Tenangl" bisik Sadie, "kau akan membuat selubung tak karat mata-mu meletup-letup lagi." Kudorong tangannya menjauh lalu mendesis, "tapi dia ingin membebaskan Apophis?"
"Aku tahu." "Dan menyerang Amos—" "Aku tahu! Jadi, bantu aku mendapatkan gulungan keparat itu dan mari kita keluar dari sini!" Dia meletakkan hewan lilinnya di atas meja—seekor anjing, kukira—dan mulai menuliskan hieroglif di punggung anjing itu dengan gerip(Gerip: anak batu tulis, semacam alat yang digunakan untuk menulis. )" Aku menghela napas gemetar. Sadie memang benar, tetapi tetap saja—Menshikov bicara tentang membebaskan Apophis dan membunuh paman kami. Penyihir macam apa yang membuat perianjian dengan Set? Kecuali Sadie dan aku. Situasi kami berbeda. Tawa Set menggema di dalam vas hijau itu. "Jadi: cara mengikat Apophis clan rahasia Rumah Brooklyn. Hanya itu, Vladimir? Aku penasaran apa pendapat tuanmu Desjardins jika dia mengetahui rencanamu yang sebenarnya, dan teman-teman macam apa yang kau miliki." Menshikov merenggut tongkatnya. Ujung berukir ular itu menyala lagi. "Hati-hati dengan ancamanmu, Hari Iblis." Botol itu bergetar. Di seluruh ruangan, lemari-lemari kaca bergetar. Tempat lilin bergemerencing laksana genta angin seberat tiga ton. Aku melemparkan tatapan panik kepada Sadie. "Apakah dia baru saja—" "Nama rahasia Set," Sadie membenarkan, masih menulisi anjing lilinnya. "Bagaimana—" "Aku tidak tahu, Carter. Sekarang, diamlah." Nama rahasia dewa mengandung berbagai macam kekuatan. Nama itu seharusnya tak bisa diketahui. Untuk mengetahuinya, kita tak bisa sekadar mendengar nama itu disebutkan oleh
sembarang orang. Kita harus mendengarnya langsung dari dewa itu sendiri, atau dari orang yang terdekat di hatinya. Begitu kita mendapatkannya, nama itu memberi kita pengaruh besar terhadap dewa itu. Sadie mengetahui nama rahasia Set pada petualangan kami Natal silam, tetapi bagaimana Menshikov bisa mendapatkannya? Di dalam botol, Set menggeram marah. "Aku benar benar benci nama itu. Mengapa tidak Hari yang Cerah saja! Akin Malaikat Maut Merah yang Keren? Itu cukup bagus. Sudah cukup buruk ketika hanya kau yang mengetahuinya, Vlad. Sekarang aku , juga harus mengkhawatirkan si anak perempuan Kane itu— " "Layani kami," kata Menshikov, "maka keluarga Kane akan dihancurkan. Kau akan menjadi letnan Apophis yang dihormati. Kau bisa membangun kuil lagi, yang bahkan lebih megah daripada Piramida Merah." "Ya, ya," kata Set, "mungkin kau belum menyadari, tetapi aku kurang cocok dengan konsep menjadi orang nomor dua. Sementara Apophis, dia bukan jenis dewa yang tidak keberatan bila ada dewa lain mendapat perhatian." "Kami akan membebaskan Apophis dengan atau tanpa bantuanmu," Menshikov memperingatkan, "pada saat ekuinoks, dia pasti akan bangkit. Tapi jika kau membantu kami mewujudkan hal itu lebih cepat, kau akan diberi ganjaran. Pilihanmu yang lain adalah kutukan. Oh, aku tahu itu tidak akan menghancurkanmu secara total, tapi dengan nama rahasiamu, aku bisa mengirimmu ke dalam jurang tanpa dasar selama beribu-ribu tahun, dan rasanya akan sangat, sangat menyakitkan. Kau kuberi waktu tiga puluh detik untuk memutuskan." Aku menyikut Sadie. "Cepatlah." Sadie mengetuk si anjing lilin, dan Benda itu berubah menjadi hidup. Ia mulai mengendus-endus di sekeliling meja, mencari perangkap sihir.


Di dalam botol, Set mendesah. "Ya, Vladimir, kau memang tahu cara membuat tawaran yang menarik. Pengikatan Apophis katamu? Ya, aku Nadir ketika Ra melempar Ular itu ke dalam penjara kumbang. Kurasa aku dapat mengingat bahan-bahan yang dia gunakan untuk membuat ikatan. Sungguh hari yang hebat waktu itul Aku memakai pakaian merah, kurasa. Pada pesta kemenangan mereka menyajikan belalang panggang madu yang paling enak—" "Waktumu tinggal sepuluh detik," kata Menshikov. "Oh, aku akan bekerja sama? Kuharap kau sudah menyiapkan sebatang pena dan kertas. Daftar bahannya agak panjang. Mari kita lihat bahan dasar apa yang digunakan Ra? Kotoran kelelawar? Lalu ada kodok kering, tentu saja. Lalu ...." Set mulai menyebutkan bahan-bahan dengan cepat, sementara anjing Win Sadie mengendus-endus di sekitar meja. Akhirnya anjing itu menggeletak di atas pengering tinta dan tidur. Sadie mengerutkan kening ke arahku. "Tidak ada jebakan." "Ini terlalu mudah," aku balas berbisik. Sadie membuka laci bagian atas. Gulungan papirus itu ada di sana, bentuknya persis seperti yang kami temukan di Brooklyn. Sadie menyelipkan benda itu ke dalam tasnya. Kami sudah setengah jalan kembali ke perapian ketika Set mengejutkan kami. Dia sedang menyebutkan daftar bahan-bahan yang tak masuk akal: "Dan kulit ular. Ya, tiga kulit ular berukuran besar, dengan taburan saus pedas—" Kemudian dia berhenti mendadak, seolah-olah mendapat pemahaman barn. Dia berbicara dengan suara yang jauh lebih lantang, berseru ke seberang ruangan. "Bagus juga bila ada korban persembahanl Mungkin penyihir muda idiot yang tak bisa merapalkan mantra tak kasat mata dengan benar, seperti CARTER KANE di sebelah sanal"
Aku membeku. Vladimir Menshikov berbalik, dan kepanikanku menjadi terlalu besar untuk tetap mengontrol selubung tak kasat mata. Setengah lusin bunga api keemasan meletup dill WHIM!? yang nyaring dan ceria. Menshikov menatap tepat ke arahku. "Wah, wah ... betapa baik kalian datang sendiri. Bagus, Set." "Hmm?" Set bertanya tanpa dosa, "apa kita kedatangan .tamu?' "Set?" geram Sadie, "aku akan menendang ba-mu itu Jadi, bantu aku?" Suara di dalam botol terkesiap. "Sadie Kane? Bet menyenangkan1 Sayang aku terperangkap dalam botol ini dan tidak seorang pun mau melepaskanku." Petunjuknya tidak terlalu samar, tetapi tentunya dia tidak berpikir kami akan membebaskannya setelah dia membuka penyamaran kami. Sadie menghadap Menshikov, tongkat sihir dan tongkatnya sudah siap. "Kau bekerja dengan Apophis. Kau berada di pihak yang salah." Menshikov melepas kacamatanya. Kedua matanya berupa dua lubang penuh jaringan bekas luka, kulit yang terbakar, dan kornea yang berkilat-kilat. Percayalah kepadaku, itu adalah cara yang paling tidak menjijikkan untuk menggambarkannya. "Pihak yang salah?" tanya Menshikov, "nak, kau sama sekali tidak memahami kekuatan apa yang tengah bekerja. Lima ribu tahun silam, para pendeta Mesir meramalkan bagaimana dunia akan berakhir. Ra akan menjadi tua dan letih, lalu Apophis akan melahapnya dan menjerumuskan dunia ke dalam kegelapan. Kekacauan akan berkuasa selamanya. Sekarang waktunya telah tibal Kau tak bisa menghentikannya. Kau hanya bisa memilih apakah akan dihancurkan, atau tunduk pada kekuatan Kekacauan dan selamat."
"Benar," Set menimpali, "sayang aku terperangkap dalam botol ini. Kalau tidak aku mungkin bisa ikut memihak dan membantu seseorang." "Tutup mulutmu, Set," bentak Menshikov, "tidak ada yang cukup gila untuk memercayaimu. Dan kalian, anak-anak, kalian jelas bukan ancaman seperti yang kubayangkan." "Baguslah," ujarku, "jadi, bolehkah kami pergi?" Menshikov tertawa. "Apakah kalian akan mendatangi Desjardins dan memberitahukan apa yang kalian dengar kepadanya? Dia tidak akan percaya kepada kalian. Dia akan mengadili kalian, kemudian mengeksekusi kalian. Tapi aku akan menghindarkan kalian dari penghinaan itu. Aku akan membunuh kalian saat ini juga." "Betapa menyenangkanl" kata Set, "andai aku bisa melihatnya, tapi aku terjebak dalam botol ini." Aku mencoba berpikir. Menshikov masih berada di dalam lingkaran perlindungan, yang berarti dia punya keuntungan pertahanan yang sangat besar. Aku tidak yakin apakah aku bisa membobolnya, meskipun seandainya aku bisa memanggil avatar tempur. Sementara itu, Menshikov punya cukup waktu menimbang-nimbang berbagai cara untuk menghancurkan kami. Apakah dia akan meledakkan kami dengan sihir elemen? Mengubah kami menjadi serangga? Dia melemparkan tongkatnya ke lantai, dan aku menyumpah-nyumpah. Melemparkan tongkat mungkin terkesan seperti isyarat menyerah, tetapi dalam sihir Mesir, itu pertanda buruk. Itu biasanya berarti Hei, aku akan memanggil makhluk besar ganas untuk membunuhmu sementara aku berdiri aman di dalam lingkaranku dan tertawa Seperti dugaanku, tongkat Menshikov mulai menggeliat dan bertambah besar. Bagus sekali, pikirku. Lagi-lagi ular.
Namun, ada yang salah dengan ular ini. Sebagai ganti ekor, ular ini memiliki kepala di kedua ujung tubuhnya. Awalnya kukira kami mendapat keberuntungan, dan Menshikov telah memanggil monster yang mengidap cacat genetic langka sejak lahir . Namun, tidak lama kemudian muncullah empat kaki naga ular itu. Tubuhnya membesar sampai seukuran keda melengkung seperti huruf U, dengan sisik merah dan hijau serta kepala ular derik di kedua sisi. Makhluk itu menginga I, pada hewan berkepala dua dalam cerita Doctor dolittle tahu Pushmi-Pullyu? Hanya saja Doctor Dolittle tidak akan pernah mau bicara dengan makhluk yang ini, dan kalau pun bicara, makhluk ini barangkali hanya akan berkata Halo, aku akan memakanmu. Kedua kepalanya menoleh ke arah kami dan mendesis. "Aku benar-benar sudah terlalu banyak bertemu ular selama seminggu ini," gumamku. Menshikov tersenyum. "Ah, tapi ular adalah keahlianku, Carter Kaner Dia menyentuh sebuah liontin perak yang tergantung di dasinya—jimat yang berbentuk seperti ular. "Dan hewan yang ini adalah favoritku: Tjesu Heru. Dua mulut kelaparan yang perlu diberi makan. Dua anak yang menyusahkan. Sempurnal." Sadie dan aku saling memandang. Kami mengalami momen ketika kami bisa membaca ekspresi satu sama lain dengan tepat. Kami berdua tahu kami tak bisa mengalahkan Menshikov. Dia akan membiarkan si Ular Pushmi-Pullyu membuat kami kelelahan, dan jika kami bisa selamat dari itu, dia akan menghancurkan kami dengan hal lain. Pria ini sudah profesional. Kami akan mati atau tertangkap, dan Bes sudah memperingatkan kami agar jangan sampai tertangkap hidup-hidup. Setelah melihat apa yang terjadi pada iblis Ajal-untuk-Sumbat, aku menganggap serius peringatan Bes. Supaya selamat, kami hams melakukan sesuatu yang gila—sesuatu yang begitu membahayakan diri kami sendiri sehingga

tidak akan diduga oleh Menshikov. Kami hams mendapatkan bantuan dengan segera. "Haruskah aku melakukannya?" tanya Sadie. "Lakukan Baja," aku menyetujui. Si Tjesu Heru memamerkan taringnya yang basah menetes-netes. Kau tidak akan menduga makhluk yang tidak punya ekor bisa bergerak begitu cepat, tetapi makhluk itu melekukkan kedua kepalanya ke a kami seperti ladam kuda raksasa dan menyerang. Aku menarik, pedangku. Sadie lebih cepat. Dia menudingkan tongkatnya ke arah botol malakit Set dan mcncrial Lan perintah favoritnya: "Ha-di?" aku sempat mantranya tidak bekerja. Sadie belum mencoba mantra penghancur sejak dia memisahkan diri dari Isis. Namun, persis sebelum monster itu mencapaiku, botol hijau tadi pecah berkeping-keping. mensikhov berteriak, "Nyet!" kladai pasir meledak di ruangan itu. Angin yang panas mendorong Sadie dan aku ke perapian. Sebuah dinding pasir merah menghantam Tjesu Heru dan menerbangkannya ke samping mengenai sebuah tiang malakit. Vlad Menshikov terledakkan keluar dari lingkaran perlindungannya dan kepalanya menghantam sebuah meja. Dia ambruk ke lantai, pasir merah berputar-putar di atasnya sampai seluruh tubuhnya terbenam. Ketika badai mereda, seososok pria yang mengenakan setelan sutra berwarna merah berdiri di depan kami. Kulitnya sewarna minuman Kool-Aid rasa ceri, rambut di kepalanya terpangkas licin, janggutnya berwarna hitam, dan mata hitamnya yang berkilauan dihiasi celak. Dia terlihat seperti iblis Mesir yang siap menghabiskan malam di kota. Dia menyeringai dan membentangkan tangannya seperti memberi isyarat Inilah aku. "Ini lebih baikl Terima kasih, Sadie Kane."
Di sebelah kiri kami, Tjesu Heru mendesis dan menggelepar-gelepar, berusaha berdiri kembali dengan kakinya. Gundukan pasir merah yang menutupi Vlad Menshikov mulai bergen . "Lakukan sesuatu, Had Iblisl" Sadie memerintali. " ingkirkan merekal" Set mengernyit. "Tak perlu sampai menyebut nama." "Mungkin kau lebih suka Malaikat Maut Merah yang Kervii.'" tanyaku. Set membuat bentuk bingkai dengan jari-jarinya, seolaIi membayangkan nama itu tertera pada SIM-nya. "Ya itu haw is, bukan?" Tjesu Heru terhuyung-huyung bangkit. Monster itu menggelengkan kedua kepalanya dan menatap tajam ke arah kami, tetapi tampaknya is tidak menghiraukan Set, meski Set-lah yang membantingnya ke dinding. "Warnanya bagus, bukan?" tanya Set, "spesimen yang cantik." "Bunuh sajal" teriakku. Set tampak terperangah. "Oh, aku tak bisa melakukan itul Aku terlalu suka pada ular. Lagi pula, DPEM akan menghukumku." "Apem?" tanyaku. "Dewa-dewa untuk Perlakuan Etis terhadap Monster." "Kau cuma mengarang-ngarangnyal" aku berteriak. Set menyeringai. "Tetap saja aku khawatir kalian harus menangani sendiri si Tjesu Heru." Monster itu mendesis ke arah kami, yang mungkin berarti, Asyikl Aku mengangkat pedangku untuk mencegahnya mendekat. Gundukan pasir merah bergerak-gerak. Wajah linglung Menshikov menyembul dari bagian atasnya. Set menjentikkan jari, dan sebuah pot keramik besar muncul di udara, pecah berkeping-keping di atas kepala si penyihir. Menshikov melesak lagi ke dalam pasir. "Aku akan tetap di sini menghibur Vladimir," kata Set. "Tidak bisakah kau mengutuknya, atau apa?" desak Sadie.
"Oh, andai aku bisal Sayangnya, gerakku terbatas kalau seseorang memegang nama rahasiaku, terutama ketika mereka telah memberiku perintah spesifik untuk tidak membunuh mereka." Dia memandang dengan sorot mata menuduh ke arah Sadie. "Bagaimanapun juga, aku mungkin bisa memberimu waktu beberapa menit, tapi Vlad akan sangat marah ketika dia sadar nanti. Jadi, aku akan buru-buru jika menjadi kalian. Semoga berhasil bertahan hidupl Dan semoga berhasil memakan mereka, Tjesu Hem'!" Aku ingin mencekik Set, tetapi kami punya masalah yang lcbih besar. Seolah-olah disemangati oleh kata-kata Set, Tjesu I Ieru menyerbu ke arah kami. Sadie dan aku berlari ke arah pintu terdekat. Kami berlari melintasi Istana Musim Dingin sementara suara tawa Set menggema di belakang kami.[]
  



11
SADIE

CARTER MELAKUKAN SESUATU YANG LUAR BIASA BODOH
(DAN TAK ADA SEORANG PUN YANG TERKEJUT)

AKU MENGERTI, CARTER. SUNGGUH.

Menyuruhku menceritakan bagian yang paling menyakitkan. Tentu saja, aku tak bisa menyalahkanmu. Kejadian itu sudah cukup buruk bagiku, tetapi bagimu—ya, aku tak mau membicarakannya juga.

Kami berada di Istana Musim Dingin, berlari menyusuri koridor-koridor pualam mengilat yang tidak dirancang untuk dilewati dengan berlari. Di belakang kami, Tjesu Heru berkepala dua terpeleset dan menabrak dinding saat ia berusaha membelok di tikungan, persis seperti yang biasa dilakukan Muffin setiap kali nenek mengepel lantai. Itulah satu-satunya alasan monster tersebut tidak langsung menangkap kami.

Karena kami tadi berteleportasi memasuki Ruang Malakit, aku tidak tahu di mana jalan keluar terdekat. Aku tidak yakin apakah kami benar-benar berada di dalam Istana Musim Dingin, atau apakah kantor Menshikov hanyalah semacam kantor palsu yang hanya ada di dalam Duat. Aku sudah mulai berpikir kami tidak akan pernah keluar ketika kami membelok di sebuah sudut, menuruni tangga cepat-cepat, dan melihat satu set pintu kaca dan besi yang mengarah keluar menuju Alun-Alun Istana.

Tjesu Heru mengikuti persis di belakang kami. Hewan itu tergelincir dan bergulung menuruni tangga, meremukkan sebuah patung gips seorang tsar yang sial.

Kami tinggal sepuluh meter lagi dari jalan keluar ketika aku melihat rantai melintang di pintu.

"Carter," kataku dengan tersengal, sambil mengayunkan tangan tidak berdaya ke arah gembok itu.

Aku benci mengakui betapa aku merasa lemah. Aku tidak punya tenaga untuk merapal mantra lagi. Memecahkan vas Set di Ruangan Malakit merupakan saat bersenang-senang terakhirku, yang merupakan contoh yang baik mengapa kita tidak boleh menggunakan sihir untuk memecahkan seluruh masalah kita. Mengucapkan Kata Ilahiah untuk memecah vas itu telah menyedot begitu banyak energi, sampai-sampai aku merasa seolah baru saja menggali lubang di tengah terik matahari. Mungkin melempar batu ke makhluk itu akan jauh lebih mudah. Jika aku berhasil selamat malam ini, kuputuskan untuk menambahkan beberapa butir batu ke dalam tas perlengkapanku.

Jarak kami tinggal tiga meter lagi ketika Carter menghantamkan tinjunya ke arah pintu. Mata Horus menyala pada gembok, dan pintu pun meledak terbuka seolah-olah terhantam oleh kepalan tinju raksasa. Aku belum pernah melihat Carter melakukan hal semacam itu sejak pertempuran kami di Piramida merah, tetapi aku tidak punya waktu untuk merasa takjub. Kami melesat ke luar memasuki malam musim dingin, Tjesu Heru meraung di belakang kami.

Kau pasti mengira aku gila, tetapi pikiran pertamaku adalah: Ini terlalu mudah.

Meskipun ada monster mengejar kami dan kami harus berurusan dengan Set (yang akan kucekik begitu ada kesempatan—bajingan yang suka menikam dari belakang itu'), mau tak mau aku merasa kami membobol ke dalam tempat paling rahasia Menshikov dan merebut gulungan nyaris tanpa banyak kesulitan. Di mana perangkap-perangkapnya? Alarmnya? Kutukan keledai meledaknya? Aku yakin kami telah mencuri gulungan yang asli. Aku merasakan gelenyar yang sama di jari-jemariku seperti ketika mengambil gulungan di Museum Brooklyn (tanpa api, untungnya). Jadi, mengapa gulungan itu tidak dijaga dengan lebih ketat?

Aku sangat lelah. Aku tertinggal beberapa langkah di belakang Carter, dan itu mungkin menyelamatkan nyawaku. Aku merasa ada sesuatu yang merayap di kepalaku. Kurasakan kegelapan di atasku—perasaan yang sangat mengingatkanku pada bayangan sayap Nekhbet. Aku mendongak dan melihat Tjesu Heru melayang di atas kepala kami seperti katak betung, mengatur waktu terkamannya agar mendarat—

"Carter, berhenti!" aku berteriak.

Hal itu lebih mudah diucapkan ketimbang dilakukan di atas trotoar berlapis es. Aku meluncur berhenti, tetapi Carter melaju terlalu cepat. Dia terjatuh di atas pantatnya dan tergelincir, pedangnya meluncur ke samping.

Tjesu Heru mendarat persis di atasnya. Jika makhluk itu tidak berbentuk U, Carter pasti sudah tertindih, tetapi makhluk itu melengkung di sekitarnya laksana sebuah headphone raksasa, satu kepala menatapnya dengan tajam dari kedua sisi.

Bagaimana bisa sesuatu yang begitu besar melompat begitu jauh? Terlambat, kusadari seharusnya kami tetap berada di dalam bangunan tempat monster itu lebih sulit bergerak. Di luar sini, kami tidak punya peluang berlari lebih cepat darinya.

"Carter," ujarku, "jangan bergerak sedikit pun."

Carter membeku dalam posisi kayang. Kedua kepala monster itu meneteskan bisa yang mendesis dan mengepulkan uap pada batu-batu berlapis es.

"Oil" teriakku. Karena tidak punya batu, aku mengambil sebongkah patahan es dan melemparkanya pada Tjesu Heru. Sudah tentu, aku malah mengenai punggung Carter. Bagaimanapun, aku berhasil menarik perhatian si Tjesu Heru.

Kedua kepala monster itu menoleh ke arahku, lidah kembarnya bergetar. Langkah pertama telah dilakukan: mengalihkan perhatian si monster.

Langkah kedua: mencari cara pintar untuk menjauhkannya dari Carter. Bagian itu agak lebih sulit bagiku.

Aku sudah menggunakan satu-satunya ramuanku. Sebagian besar perbekalan sihirku sudah terpakai. Tongkat dan tongkat sihirku tidak akan banyak berguna bila cadangan kekuatan sihirku sudah habis terkuras. Pisau dari Anubis? Entah bagaimana aku ragu ini situasi yang tepat untuk membuka mulut seseorang.

Jimat dari Walt? Aku sama sekali tidak tahu bagaimana cara menggunakannya.

Untuk kesejuta kalinya, aku menyesal telah melepaskan roh Isis. Aku bisa memanfaatkan gudang senjata sihir lengkap seorang dewi. Namun, tentu saja, persis karena itulah aku harus berpisah dengan Isis. Jenis kekuatan semacam itu memabukkan, menyebabkan kecanduan dan membahayakan. Bisa dengan cepat menghancurkan hidup kita.

Namun, bagaimana jika aku bisa membuat ikatan yang terbatas? Di Ruang Malakit, aku berhasil merapal mantra ha-di untuk pertama kalinya dalam waktu berbulan-bulan. Meskipun sulit, itu bukan hal yang mustahil.

Baik, Isis, pikirku. Ini yang kuperlukan—

Tidak usah berpikir, Sadie, suaranya balas berbisik nyaris seketika itu juga, mengejutkan. Sihir dewa-dewi haruslah spontan, seperti bernapas.

Maksudmu... kuhentikan diriku. Tidak usah berpikir. Ya, seharusnya tidak terlalu sulit. Kuangkat tongkatku, dan sebuah hieroglif keemasan menyala di udara. Tyet setinggi satu meter menerangi halaman itu seperti hiasan bintang di pohon Natal.

Tjesu Heru menggeram, matanya yang berwarna kuning terpaku pada hieroglif tersebut.

"Tidak suka, ya?" seruku, "simbol Isis, dasar idiot besar jelek. Sekarang menjauhlah dari saudaraku!"

Itu benar-benar hanya gertakan, tentu saja. Aku simbol yang bercahaya itu bisa melakukan apa pun yang berguna. Namun, kuharap si makhluk ular tidak cukup cerdas untuk mengetahuinya.

Pelan-pelan, Carter menyelinap mundur. Dia mencari pedangnya, tetapi benda itu berada sepuluh meter darinya— terlalu jauh untuk dijangkau.

Kupancangkan mataku pada monster itu. Kugunakan ujung tongkatku untuk membuat lingkaran sihir pada salju di sekitarku. Itu tidak akan terlalu melindungi, tetapi lebih baik daripada tidak ada sama sekali.

"Carter," panggilku, "kalau kubilang ayo, larilah kembali ke sini."

"Makhluk itu terlalu cepat!" ujarnya.

"Aku akan mencoba meledakkan hieroglif dan menghalangi pandangannya."

Aku masih yakin rencana itu akan berhasil, tetapi aku tidak sempat mencobanya. Agak jauh di sebelah kiriku, terdengar bunyi sepatu bot memecah es. Si monster menoleh ke arah bunyi tersebut.

Seorang pria muda berlari memasuki cahaya yang memancar dari hieroglif. Dia mengenakan mantel wol berat dan topi polisi, sambil membawa senapan di tangan, tetapi dia tidak mungkin jauh lebih tua daripada aku. Dia lumayan terbenam dalam seragamnya. Ketika melihat monster itu, kedua matanya membelalak. Dia terhuyung mundur, nyaris menjatuhkan senjatanya.

Dia meneriakkan sesuatu dalam Bahasa Rusia kepadaku, mungkin, "Mengapa ada monster berkepala dua tanpa pantat di sana?"

Monster itu mendesis kepada kami berdua—yang memang bisa dilakukannya karena ia memiliki dua kepala.

"Itu monster," jelasku kepada si penjaga. Aku cukup yakin dia tidak paham, tetapi aku berusaha menjaga agar nada suaraku tidak berubah. "Tetaplah tenang dan jangan menembak. Aku sedang berusaha menyelamatkan saudaraku."

Si penjaga menelan ludah. Hanya telinganya yang besar yang menahan topinya. Dia memandangi monster itu lalu Carter lalu tyet yang menyala di atas kepalaku. Kemudian dia melakukan sesuatu yang tidak kuduga.

Dia mengucapkan sebuah kata dalam Bahasa Mesir Kuno: "Heqat—kata perintah yang selalu kugunakan untuk memanggil tongkatku. Senapannya berubah menjadi tongkat kayu ek sepanjang dua meter dengan ukiran kepala elang.

Bagus sekali, pikirku. Si penjaga keamanan diam-diam adalah penyihir.

Dia berbicara kepadaku dalam Bahasa Rusia—semacam peringatan. Aku mengenali nama Menshikov.

"Biar kutebak," kataku, "kau ingin aku membawamu menemui pemimpinmu."

Tjesu Heru membuka dan menutup rahangnya. Dengan cepat makhluk itu kehilangan rasa takutnya terhadap tyetku yang menyala-nyala. Carter belum cukup jauh untuk bisa berlari menyelamatkan diri.

"Begini," kataku kepada si penjaga, "bosmu Menshikov adalah pengkhianat. Dia memanggil makhluk ini untuk membunuh kami agar kami tidak membeberkan rencananya membebaskan Apophis. Tahu Apophis? Ular jahat. Ular yang sangat jahat! Sekarang, bantulah aku membunuh monster ini atau menjauhlah dariku!"

Si penyihir-penjaga tampak ragu-ragu. Dia menunjuk ke arahku dengan gugup. "Kane." Itu bukan pertanyaan.

"Ya," aku membenarkan, "Kane."

Ekspresinya menampilkan campur aduk emosi—ketakutan, ketidakpercayaan, bahkan mungkin kekaguman. Aku tidak tahu apa yang telah dia dengar mengenai kami, tetapi sebelum dia bisa memutuskan apakah akan membantu kami atau melawan kami, situasi berubah tidak terkendali.

Tjesu Heru menyerang. Kakakku yang konyol—bukannya berguling menjauh—malah melawan monster itu.

Dia memiting leher kanan makhluk tersebut dan berusaha menaiki punggungnya, tetapi Tjesu Heru membalikkan kepala satunya untuk menyerang.

Apa yang dipikirkan kakakku itu? Mungkin dia mengira bisa menunggangi makhluk itu. Mungkin dia berusaha memberiku waktu beberapa detik untuk merapal mantra. Jika kau menanyakan hal itu sekarang, dia mengklaim tidak ingat kejadian itu sama sekali. Namun, jika kau bertanya kepadaku, si dungu otak udang itu berusaha menyelamatkanku, bahkan meski itu berarti mengorbankan dirinya sendiri. Berani-beraninya!

[Oh, ya, sekarang kau berusaha memberi penjelasan, Carter. Kupikir kau tidak ingat bagian inil. Diam sajalah dan biarkan aku yang bercerita.]

Seperti yang kukatakan tadi, Tjesu Heru menyerang Carter, dan segala sesuatu seolah melambat. Aku ingat berteriak, mengarahkan tongkatku kepada monster itu. Si tentara-penyihir meneriakkan sesuatu dalam Bahasa Rusia. Makhluk itu membenamkan taringnya ke bahu kiri Carter, dan Carter pun ambruk ke tanah.

Aku lupa soal lingkaran daruratku. Aku berlari ke arah Carter, dan tongkatku berpijar. Aku tidak tahu bagaimana aku sanggup mengerahkan kekuatan. Seperti kata Isis, aku tidak berpikir. Aku hanya menyalurkan seluruh amarah dan keterguncanganku ke dalam tongkatku.

Melihat Carter terluka merupakan hinaan terakhir. Kakek-nenekku kerasukan. Teman-temanku diserang, dan ulang tahunku berantakan. Namun, kakakku, itu sudah kelewatan. Tak ada yang boleh melukai kakakku.

Kulepaskan secercah cahaya keemasan yang menghantam monster itu dengan kekuatan semburan pasir. Tjesu Heru hancur berkeping-keping, sampai tak ada yang tersisa selain selajur pasir yang mengepulkan asap dalam salju dan beberapa serpihan tongkat Menshikov yang hancur.

Aku berlari ke samping Carter. Dia menggigil, bola matanya terbalik. Dua luka tusukan di mantelnya mengeluarkan asap.

"Kane," kata pemuda Rusia tadi dengan nada kagum.

Aku mengambil serpihan kayu dan mengangkatnya supaya pemuda tadi melihat. "Bosmu Menshikov YANG melakukan ini. Dia bekerja untuk Apophis. Menshikov: Apophis. Sekarang. KELUARLAH!"

Si penyihir mungkin tidak memahami kata-kataku, tetapi dia menangkap pesannya. Dia berbalik dan lari.

Kupangku kepala Carter. Aku tak bisa mengangkatnya sendirian, tetapi aku harus mengeluarkannya dari sini. Kami berada di wilayah musuh. Aku harus mencari Bes.

Aku berjuang untuk membopong Carter. Kemudian seseorang memegang tangan Carter yang lain dan membantu kami berdiri. Aku mendapati Set menyeringai kepadaku, masih dalam balutan setelan konyol merah, bertaburan puing-puing Malakit. Kacamata putih Menshikov yang rusak terpasang di kepalanya.

"Kau," ujarku, terlalu dipenuhi kebencian untuk melontarkan ancaman kematian yang layak.

"Aku." Set membenarkan dengan ceria. "Mari kita keluarkan saudaramu dari sini. Suasana hati Vladimir sedang tidak bagus."

**DO*SF**

Nevsky Prospekt pasti tempat yang menyenangkan untuk berbelanja jika saat itu bukan dini hari di tengah badai salju, dan jika aku tidak sedang memapah kakak lelakiku yang sedang koma dan keracunan. Jalanan di sana memiliki trotoar yang lebar, sangat cocok untuk jalan-jalan, dipenuhi deretan aneka kafe, gereja, rumah besar, dan butik kelas tinggi yang memikat mata. Dengan semua papan petunjuk berbahasa Rusia, aku tidak tahu bagaimana cara menemukan toko cokelat itu. Aku tak bisa melihat Mercedes hitam Bes di mana pun.

Set menawarkan diri untuk menggendong Carter, tetapi aku tidak mau membiarkan Dewa Kekacauan itu bertanggung jawab penuh atas saudaraku. Jadi, kami menyeret Carter di antara kami. Set mengobrol dengan ceria tentang racun Tjesu Heru: "Tak bisa disembuhkan sama sekali! Mematikan dalam waktu dua belas jam. Barang yang menakjubkan!" Dan tentang perkelahiannya dengan Menshikov: "Enam vas pecah di atas kepalanya, dan dia masih bertahan! Aku iri pada batok kepalanya yang tebal." Dan tentang prospekku hidup cukup lama untuk menemukan Bes: "Oh, tamat sudah riwayatmu, Sayang! Selusin penyihir senior mendatangi Menshikov ketika aku eh, mengambil langkah mundur strategis. Tidak lama lagi mereka akan mengejarmu. Aku bisa saja membinasakan mereka semua, tentu saja, tapi aku tak bisa mengambil risiko Vladimir menggunakan nama rahasiaku lagi. Mungkin dia akan mengalami amnesia dan melupakannya. Lalu kalau kau mati—itu berarti kedua masalah terpecahkan. Oh, maaf, kurasa itu terdengar tidak sensitif. Mari!"

Kepala Carter terkulai. Napasnya terdengar nyaris sama parahnya dengan napas Vlad si Bengek.

Nah, tolong jangan berpikir aku ini bodoh. Tentu saja aku ingat patung lilin Carter mini yang diberikan Jaz kepadaku. Aku sadar dalam keadaan darurat semacam inilah patung itu mungkin berguna. Bagaimana Jaz bisa meramalkan bahwa Carter akan memerlukan pengobatan, aku sama sekali tidak tahu. Namun, mungkin saja patung itu bisa menyedot racun dari tubuh Carter, meski Set mengatakan racun itu tak bisa disembuhkan. Lagi pula, tahu apa Dewa Kejahatan soal pengobatan?

Namun, ada beberapa masalah. Pertama, pengetahuanku mengenai sihir pengobatan sangat sedikit. Aku perlu waktu untuk mengetahui mengetahui mantra yang tepat, dan karena aku hanya punya satu patung lilin, aku tidak boleh salah. Kedua, aku tak bisa melakukan itu sementara dikejar-kejar oleh Menshikov dan pasukan begundal sihir Rusianya, aku juga tak mau mengendurkan kewaspadaan ketika Set berada di dekatku. Aku tak tahu mengapa tiba-tiba dia memutuskan untuk membantu, tetapi semakin cepat aku bisa berpisah dengannya, semakin baik. Aku harus menemukan Bes dan bersembunyi di suatu tempat yang aman—kalau memang ada tempat semacam itu.

Set terus berbicara mengenai cara-cara menarik yang mungkin digunakan para penyihir untuk membunuhku begitu mereka berhasil menyusul kami. Akhirnya aku melihat sebuah jembatan di atas kanal yang membeku. Mercedes hitam terparkir di bagian tengah. Bes menyandar pada kap mobil, sambil menyantap kepingan papan catur cokelat. Di sebelahnya terdapat sebuah kantong plastik besar—semoga berisi lebih banyak cokelat untukku.

Aku berteriak kepadanya, tetapi dia begitu sibuk makan cokelat (yang kurasa bisa kupahami) sehingga tidak melihat kami sampai jarak kami tinggal beberapa meter saja. Kemudian dia mendongak dan melihat Set.

Aku sudah mulai berkata, " Bes, jangan—"

Terlambat. Seperti seekor sigung, Dewa Cebol itu mengaktifkan pertahanan otomatisnya. Kedua matanya membesar. Mulutnya membuka luar biasa lebar. Dia berteriak "BOO!" begitu keras sampai rambutku terbagi dua, dan butiran air beku mencurah deras dari lampu jalan di jembatan itu.

Set sama sekali tidak tampak terganggu.

"Halo, Bes," sapanya, "sungguh, kau tidak terlalu menakutkan dengan lumuran cokelat menghiasi wajahmu."

Bes menatapku dengan marah. "Apa yang dia lakukan di sini?"

"Bukan ideku!" aku membela diri. Kuceritakan kepadanya ringkasan pertemuan kami dengan Menshikov.

"Jadi, Carter terluka," Aku mengakhiri dengan keterangan yang sepertinya agak terlalu jelas. "Kita harus membawanya pergi dari sini."

"Tapi pertama-tama," Set menyela, sambil menunjuk ke arah kantong Museum Cokelat di sebelah Bes, "aku tidak tahan dengan kejutan. Apa yang ada di dalam sana? Kado untukku?"

Bes mengerutkan kening. "Sadie ingin oleh-oleh. Aku membawakannya kepala Lenin."

Set memukul pahanya dengan gembira. "Bes, kejam sekali! Ternyata masih ada harapan untukmu."

"Bukan kepala sungguhan," kata Bes, "yang ini terbuat dari cokelat."

"Oh... sayang sekali. Kalau begitu bolehkah aku meminta sebagian papan caturmu? Aku sangat suka memakan pion."

"Pergilah dari sini, Set!" kata Bes.

"Ya, aku bisa melakukan itu, tapi mengingat teman-teman kita sedang dalam perjalanan, kurasa barangkali sebaiknya kita membuat kesepakatan."

Set menjentikan jarinya, dan sebuah bola cahaya merah muncul di hadapannya. Di dalamnya gambar holografis enam orang pria yang mengenakan seragam keamanan memasuki dua mobil sport berwarna putih. Lampu depan kedua mobil menyala. Mobil-mobil itu membelok melewati sebuah lahan parkir, kemudian melintasi sebuah dinding batu seolah dinding itu terbuat dari asap.

"Kuperkirakan kalian punya waktu dua menit." Set tersenyum, dan bola cahaya itu memudar. "Kau ingat kaki-tangan Menshikov, Bes. Apa kau yakin ingin bertemu mereka lagi?"

Wajah Dewa Cebol itu menjadi kelam. Dia meremukkan sebuah bidak catur yang terbuat dari cokelat putih di tangannya. "Dasar pembohong, licik, pembunuh—"

"Stop?" seruku.

Carter mengerang dalam kondisi tidak sadar akibat racun. Entah dia menjadi semakin berat, atau aku yang semakin lelah memeganginya.

"Kita tidak punya waktu untuk bertengkar," ujarku, "set, apakah kau menawarkan untuk menghentikan para penyihir itu?"

Dia tertawa. "Tidak, tidak. Aku masih berharap mereka akan membunuhmu. Tapi aku menawarkan kepadamu lokasi gulungan Kitab Ra yang terakhir. Itu yang sedang kau buru, bukan?"

Kurasa dia berbohong. Dia biasanya berbohong— jika dia serius....

Aku menatap Bes. "Mungkinkah dia tahu lokasinya?"

Bes menggerutu. "Lebih dari mungkin. Para pendeta Ra memberikan gulungan itu kepadanya untuk dijaga."

"Mengapa mereka melakukan itu?"

Set berusaha terlihat baik. "Ayolah, Sadie. Aku ini tangan kanan Ra yang setia. Jika kau adalah Ra, dan kau tidak ingin diganggu oleh penyihir tua mana pun yang ingin membangunkanmu, tidakkah kau akan memercayakan kunci lokasimu kepada pelayanmu yang paling menakutkan?"

Dia ada benarnya. "Kalau begitu di mana gulungannya?"

"Tidak secepat itu. Aku akan memberikan lokasinya kepadamu, jika kau mengembalikan nama rahasiaku."

"Tidak akan!"

"Sangat sederhana, kok. Katakan saja 'Kukembalikan namamu.' Kau akan melupakan cara yang benar untuk mengucapkannya—"

"Lalu aku tidak punya kekuasaan atasmu! Kau akan membunuhku!"

"Aku berjanji tidak akan melakukan itu."

"Benar. Itu sangat berarti. Bagaimana jika aku menggunakan nama rahasiamu untuk memaksamu memberitahuku?"

Set mengangkat bahu. "Dengan waktu beberapa hari untuk mencari tahu mantra yang tepat, mungkin kau akan berhasil. Sayangnya...." Dia menangkupkan tangan di telinganya. Di kejauhan, terdengar bunyi decitan ban—dua mobil, melaju kencang, semakin mendekat. "Kau tidak punya waktu beberapa hari."

Bes memaki dalam Bahasa Mesir. "Jangan lakukan itu, Nak. Dia tak bisa dipercaya."

"Bisakah kita menemukan gulungan itu tanpa bantuannya?"

"Ya... mungkin. Mungkin tidak. Tidak."

Lampu depan dua mobil membelok ke Nevsky Prospekt, kira-kira setengah kilometer lagi. Kami tidak punya waktu. Aku harus membawa Carter keluar dari sini, tetapi jika Set benar-benar merupakan satu-satunya cara kami untuk menemukan gulungan itu, aku tak bisa melepaskannya begitu saja.

"Baiklah, Set. Tapi aku akan memberimu satu perintah terakhir."

Bes mendesah. "Aku tidak kuat menyaksikan ini. Berikan kakakmu kepadaku. Akan kubawa dia ke mobil."

Si cebol membawa Carter dan memasukkannya ke tempat duduk bagian belakang Mercedes.

Aku terus memandangi Set, berusaha memikirkan satu cara yang tidak terlalu buruk untuk membuat kesepakatan ini. Aku tak bisa sekadar menyuruhnya supaya jangan pernah menyakiti keluargaku. Perjanjian sihir memerlukan pemilihan kata-kata yang cermat, dengan batasan yang jelas, dan tanggal kadaluarsa, kalau tidak seluruh mantra akan batal. "Hari Iblis, kau tidak boleh menyakiti Keluarga Kane. Kau akan menjaga perdamaian dengan kami setidaknya sampai—sampai Ra bangun."

"Atau sampai kau mencoba dan gagal membangunkannya?" Set bertanya dengan tampang tidak berdosa.

"Jika itu terjadi," ujarku, "dunia akan berakhir. Jadi, mengapa tidak? Aku akan melakukan apa yang kau minta mengenai namamu. Sebagai gantinya, kau akan memberitahuku lokasi bagian terakhir Kitab Ra, tanpa tipuan atau muslihat. Kemudian kau akan pergi ke Duat."

Set mempertimbangkan penawaran itu. Dua mobil sport putih tinggal beberapa blok lagi sekarang. Bes menutup pintu tempat duduk Carter dan berlari menghampiriku lagi.

"Kita sepakat," Set menyetujui, "kau akan menemukan gulungan itu di Bahariya. Bes tahu tempat yang kumaksud."

Bes tidak tampak senang. "Tempat itu dijaga dengan ketat. Kita harus menggunakan portal Aleksandria."

"Ya." Set menyeringai. "Semestinya menarik! Berapa lama kau sanggup menahan napas, Sadie Kane?"

"Apa maksudmu?"

"Lupakan saja, lupakan. Nah, aku yakin kau berutang nama rahasia kepadaku."

"Kukembalikan nama rahasiamu," ujarku. Hanya begitu saja, kurasakan sihir itu meninggalkanku. Aku masih mengetahui nama Set: Hari Iblis. Namun, entah bagaimana aku tak bisa mengingat dengan pasti caraku dulu mengatakannya, atau cara kerjanya dalam suatu mantra. Ingatan mengenainya telah terhapus.

Tidak kunyana, Set tidak langsung membunuhku. Dia hanya tersenyum dan melemparkan kacamata Vlad Menshikov ke arahku. "Bagaimanapun juga, aku berharap kau hidup, Sadie Kane. Kau cukup menghibur. Tapi jika mereka membunuhmu, setidaknya nikmati pengalaman itu!"

"Wew, terima kasih."

"Dan hanya karena aku sangat menyukaimu, akan kuberikan sedikit informasi mengenai kakakmu. Katakan kepadanya desa Zia Rashid bernama al-Hamrah Makan."

"Mengapa itu—"

"Selamat jalan-jalan!" Set menghilang dalam gumpalan asap berwarna darah. Satu blok dari situ, dua mobil sport putih meluncur cepat ke arah kami. Seorang penyihir menyembulkan kepala dari atap mobil yang berada di depan dan mengacungkan tongkatnya ke arah kami.

"Waktunya berangkat," kata Bes, "masuklah!"

**DO*SF**

Aku akan mengatakan ini untuk Bes: Dia menyetir seperti orang gila. Dan maksudku dalam arti yang positif. Jalanan berlapis es sama sekali tidak mengganggunya. Begitu pula rambu lalu lintas, trotoar pejalan kaki, atau kanal, yang kami lompati dua kali tanpa repot-repot mencari jembatan. Untungnya, sebagian besar wilayah kota itu kosong pada waktu sepagi itu, kalau tidak, aku yakin kami sudah menggilas entah berapa orang Rusia.

Kami meliuk-liuk melewati pusat kota St. Petersburg sementara dua mobil sport putih mengejar di belakang kami. Aku berusaha memegangi Carter agar tetap pada posisinya di sebelahku di kursi belakang. Matanya setengah terbuka, kornea matanya berwarna hijau mengerikan. Meskipun udara dingin, tubuhnya panas akibat demam. Aku berhasil melepas mantel musim dinginnya dan mendapati bajunya basah kuyup oleh keringat. Di bahunya, luka gigitan itu mengeluarkan cairan seperti... ya, mungkin sebaiknya aku tidak menjelaskan bagian itu.

Aku melirik ke belakang kami. Penyihir di atap mobil membidikkan tongkatnya—bukan tugas yang mudah di tengah kejar-kejaran mobil berkecepatan tinggi—dan sebatang tombak putih melesat dari bagian ujungnya, meluncur cepat ke arah kami seperti sebuah peluru kendali.

"Menunduk!" teriakku, dan mendorong Carter ke arah tempat duduk.

Tombak itu memecahkan jendela belakang dan langsung melayang melewati kaca depan. Jika tinggi Bes normal, kepalanya pasti tertusuk. Kenyataannya, proyektil itu tidak mengenainya.

"Aku ini cebol," gerutunya, "aku tidak menunduk!"

Dia membanting setir ke kanan. Di belakang kami, sebuah etalase toko meledak. Saat menengok ke belakang, aku melihat seluruh dinding toko berubah menjadi setumpuk ular hidup. Para pengejar kami masih terus mendekat.

"Bes, keluar dari sini!" teriakku.

"Aku sedang mengusahakannya, Nak. Jembatan Mesir tinggal sebentar lagi. Sebenarnya jembatan itu dibangun pada tahun seribu delapan ratus, tapi—"

"Aku tidak peduli! Menyetir sajalah!"

Sungguh, menakjubkan betapa banyak pernak-pernik Mesir yang ada di St. Petersburg, dan betapa aku tidak terlalu peduli tentang itu. Dikejar oleh penyihir-penyihir jahat yang melontarkan tombak dan bom ular memang memperjelas prioritas kita.

Cukup kukatakan: Ya, memang ada Jembatan Mesir di atas Sungai Fontanka, mengarah ke selatan dari pusat kota St. Petersburg. Mengapa? Tidak tahu. Tidak peduli. Saat kami melaju menuju jembatan itu, kulihat Sphinx-Sphinx batu berwarna hitam di kedua sisi—Sphinx perempuan dengan mahkota firaun berlapis emas—tetapi satu-satunya yang penting bagiku adalah benda-benda itu bisa memunculkan portal.

Bes meneriakkan sesuatu dalam Bahasa Mesir. Di bagian puncak jembatan, cahaya biru menyorot. Sebuah pusaran pasir muncul.

"Apa maksud Set," tanyaku, "soal menahan napas?"

"Semoga tidak lama," sahut Bes, "kita hanya akan berada sembilan meter di bawah."

"Sembilan meter di bawah air?"

DUAAAR! Mercedes terguling ke samping. Baru setelahnya kusadari bahwa pastilah ada tombak lain yang mengenai roda belakang kami. Kami berputar di atas es dan terlempar, meluncur jungkir-balik memasuki pusaran.

Kepalaku menghantam sesuatu. Aku membuka mata, berjuang mempertahankan kesadaran, tetapi aku tak bisa melihat apa-apa, entah karena aku buta atau kami berada di tengah kegelapan total. Aku mendengar air menetes-netes melalui kara yang pecah akibat tombak, dan atap Mercedes yang renyuk seperti kaleng alumunium.

Aku sempat berpikir: Belum sehari menjadi remaja, aku sudah hendak tenggelam.

Kemudian aku tidak sadarkan diri.[]